Puisi
Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto

Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto

AKU TAHU

Akhirnya apakah aku harus pasrah dalam rayuan malaikat maut?

: “Tak perlu kau bertanya-tanya lagi!” bisiknya dengan bengis

“Sebentar, biar kucari catatan-catatan harian yang tercecer di kamar tidurku!”

Aku tahu kalender cuma bilangan ganjil dan genap
dan arah hanya dua, lurus atau belok
nasib pun cuma dua, meninggalkan atau ditinggalkan

Aku tahu jarum jam tak pernah berjalan mundur
laju detiknya selalu mendorong-dorong ke arah peti gelap
yang di dalamnya cuma koper-koper doa yang usang.

2020

WAJAH LANGIT OMPONG

Malam tanpa bulan
langit ompong tanpa gigi abu-abu
pohon-pohon berjalan menuju kelam
gagak dan burung hantu berlomba menjerit-jerit

Ruh-ruh kita berlompatan dengan riuh
berlomba berlari menuju perempatan-perempatan
melesat belingsatan melejit di ujung-ujung dahan
gonggong anjing memburunya sampai jauh di ujung sepi

Tak ada kapal yang datang
tak ada mercusuar yang menyala
tak ada syahbandar berdiri di dermaga
air laut memantulkan wajah langit ompong
sibuk mengisap ruh-ruh yang berlompatan

2019

RIWAYAT

Setiap kisah selalu mengundang dikenang
pun riwayat ini seperti biografi tubuh
melayang-layang di ombak-ombak riuh
sambil meneriakkan nama-nama.

masa lalu kelak menjadi sulur-sulur
merambati bilangan-bilangan dan susuri ramalan-ramalan

percayalah, tak hanya kecewa dan muram
yang sering menyapa atau harapan yang sekejap padam
namun, juga ruang-ruang pesta dan musik memesona
dan kita menuang anggur dalam piala lantas berdansa
menari seperti kaum sufi yang mencari teka-teki
: mengapa cinta tak dapat diurai dengan cium dan kata-kata?

Setiap kisah selalu mengundang untuk dikenang
segenap riwayat adalah biografi tubuh yang disumpali jejak sedih maupun gembira
pun setiap gagap dan bodoh yang berulang gagal menghafal dan mengkhatam kitab

riwayat panjang ini adalah perjalanan musafir yang tersaruk-saruk dengan cemas
sekaligus harapan-harapan yang sekejap menjadi berbait-bait puisi
: mencatat semuanya jadi kitab dongeng legenda cinta para darwis yang majnun! 

2020

INGATAN

Ingatan itu datang, menjulur seperti hantu
membuatnya tiba-tiba meluncur menuju baka

bulir-bulir pasir berhamburan di setiap ujung jalan
di sana diam-diam mengintai musuh atau kekasih yang khianat
memaksanya berjaga dan waspada dengan telanjang dada

di ujung jalan khianat itu sempat dicumbunya
sebelum kemudian jari-jari yang halus itu merogoh jantungnya
dan menyorongnya ke dalam rebusan air panas di panci berkarat

Ingatan itu menyentaknya dari mimpi-mimpi panjang
membuatnya takjub, linglung, girang sekaligus sekarat
memilin-milin sumbu usia di sulur-sulur kepalanya
berakhir pada hitungan paling senyap berjalan mundur

Ingatan itu menjadikan wajahnya ganjil dikerikiti rengat
jasad telanjang yang tak lagi liat menolak tiang-tiang roboh
dan jembatan-jembatan menyempit

duh, ingatan-ingatan itu menelikung
memaksanya telanjang sempurna kembali ke jalan pulang

2020

PEMAKAMAN

Dunia akan tamat, ya, dunia bergegas menuju tamat. Bakal susut melebihi segala keriput.
Khayalan-khayalan membadai menuju jalan surga atau ambang neraka. Mereka, kita, kami pun berjalan oleng seperti pelaut renta yang mabuk disetir syak wasangka.

: Duh, gelap dan badai pekat. Mereka, kami dan kita sesat ke dalam kelam. Menuju ruang-ruang lengang yang hampa. Dari lengang menuju hampa. Dari hampa bolak-balik ke lengang.

Kita, kami dan mereka gontai beku dalam terowong hampa. Lengang yang khianat dan pengap. Kesadaran sampai titik beku. Marah dan putus asa terbakar di pusar api. Semua pergi, beringsut makin dalam ke kelam. Lengang dan hampa di mana-mana, tanpa peta dan rambu-rambu. Mengingsut-ingsut beku menyetubuhi hampa. Para penyair, baik yang salon maupun oposan, politikus-politikus, baik asli dan dadakan, kritikus nyinyir dan jadi-jadian, insiyur, kaisar, raja-raja, segenap tiran, buruh dan saudagar semua antre menuju kelam dengan kitab di tangan. Punggung terbongkok-bongko

Kun, gelaplah langit tanpa matahari dan bulan. Segala catatan, daftar menu, buku alamat, buku petunjuk, kitab-kitab wingit terbakar jadi abu dan pelan-pelan disedot debu. Segenap tindakan dan perkataan hilang tujuan. Kita semua, kami semua, mereka semua beringsut oleng menuju bukit-bukit pemakaman sunyi.

2020

SYAHWAT KUASA

Mengambang di antara serpihan-serpihan waktu: kita hanyalah gerombolan manusia purba yang dikepung dan diburu makhluk asing dan teknologi jalang. Kita pun hunus belati, tak hanya untuk menikam alam namun juga untuk saling tikam saudara sendiri, maka setiap orang curiga dan waspada di bilik-bilik masing-masing. Menghitung bilangan-bilangan hampa. Mengeja abjad-abjad semrawut yang berhamburan menuju detik wasangka.

Gigir tebing curam itu, lorong-lorong jalan raya, perempatan, gang-gang sempit menjadi sarang para hantu. genderuwo. tetekan. banaspati. Melotot-lotot dan menetes-neteskan liurnya memburu kita serupa belenggu beban utang yang dicatatkan para rentenir menggelayuti leher-leher. Pasrah dipenggal.

Waspada di bilik-bilik terkunci. Bukan untuk ritual pengakuan dosa. Namun kesedihan sebuah akhir senjakala masa depan yang digerus dan digerogoti oleh syahwat kuasa yang kejam, rakus dan ganas. Olala, kita menuju sekarat. Mustahil membangkitkan kembali sabda-sabda suci!

2020

SUARA LAIN

Mimpi buruk melindap bersama datangnya cahaya dini. Khianat yang sempurna. Licik, licin hingga cerdik. “Kita ternyata menuju punah!” bisikmu gelisah dan tergesa.

Sejarah mengarus dan berayun-ayun pergi. Segenap manusia akan selesai dikubur dalam jurang-jurang  berapi. Kita telanjur terengah-engah, lengah kompromi pada takdir, pasrah pada nalar yang mencekik pelan-pelan. Syahdu dan penuh rasa hormat pada setiap rasa sakit.

Tertinggal hanyalah yang paling lembut melampaui hasrat khusyuk bercumbu. Itulah kenangan! Warisan tinggalan leluhur yang menggetarkan. Lahir melalui mulut-mulut penyair tragis: itulah suara yang lain!.

Mendengar gumamnya adalah menyimak waktu yang sekejap berlalu namun datang kembali dalam frase dan kata.

2020

PASIR PESING

ia tak pernah tahu muasal ia datang: tempat itu tak pernah ia ingat dengan sempurna. tak pernah berani menduga-duga ancer-ancernya. yang ia tahu: tiba-tiba lahir dan muncrat dari pasir pesing. lantas bersama pasir pesing itu pula, ia dibuncang dan dihempaskan pada sebentang jazirah yang lapang dan tandus. ingatan yang alpa dan rabun tak bisa menebak kapan mulainya, kapan usai. tak bisa menebak bermula dari ganjil atau berakhir di bilangan genap.

Oh, ya. ia samar-samar mengingat pernah melihat sebuah taman penuh sesak perempuan melambainya dan memberi kecupan-kecupan yang panjang: ayolah, masuklah lagi lebih  dalam.mandilah dan bercumbu suka sepuasnya!

begitu indah. begitu syahdu segenap peluk cumbu itu, sebelum angin membadai dan mengguncang pasir dan menerbangkannya ke tempat ini. mungkin pesisir sarang segala pasir pesing. penuh para pemabuk yang memukul botol minumnya berdenting-denting sambil memutar-mutar tubuhnya serupa gasing, jubahnya yang abu-abu mengembang seperti cendawan mekrok di musim penghujan. jarinya menunjuk-nunjuk langit dan tangannya yang lain bersedekap sambil bersyi’ir: akulah aku si majnun itu. yang sakit karena merindu, duh.duh.duh

sekejap ia ingat silsilah itu. lantas tersenyum. dipeluknya para pemabuk itu. dengan lembut dikecupnya kening-keningnya dan berseru : salam. salam. salam!

ia pun ingat segala taman itu, pasir pesing yang berguncang. keheningan yang menyeruak. gemetar ia berucap: aku tahu mengapa engkau antarkan aku ke pasir ini, duh.

2020

HARI BAIK UNTUK SEGALA ROH

Waktu selalu tumbuh untuk menuju layu. Maka, ia terjaga
sebelum sempat memilah mimpi
: ini hari baik buat segala roh yang mengembara
 dari satu lubang pohon ke lubang pohon lainnya!
Lubang yang digunakannya mengintip jalan panjang. Jalan pulang, jalan pergi,
rambu-rambu untuk menafsir-naksir huruf dan bilangan.

: Hai, sebut namamu! Pilih ganjil atau genap. Konsonan atau vokal
untuk menandai segala peluk yang kau reguk lantas tinggalkan.
Ini jalan lurus. Ini jalan riuh .Jangan menoleh atau mencatat apa pun!

Ia pun selamanya terjaga tanpa sempat tidur. Ia melihat dunia sebenarnya
penuh syak dan resah yang berdebar berdenyut seperti gembur ubur-ubur
lunak yang sekarat di panggang pesisir di rubung semut

Ia tak bisa menunjuk arah apapun juga. Kecuali pada asap-asap membumbung
mengusung roh-roh yang blingsatan berterbangan melesat di setiap wuwung,
ranting yang meruncing tanpa daun, batang-batang yang melapuk
alpa pada dahan dan daunnya : itulah waktu!

Ia berseru seraya berlari lintang-pukang ke tikungan sungai-sungai
Seperti batu yang menggelinding ke sana kemari, saling tindih-menindih.
: siapa yang sanggup bertahan? Sungai ini arusnya begitu aneh. Seperti berbau tuba.
anyir dan kecut, padahal ia berhasrat sekali membilas tubuh dan kelaminnya.

2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.