Feature
Wong Asiu dan Ang Tong Hay, Gong Xi Fat Cai

Wong Asiu dan Ang Tong Hay, Gong Xi Fat Cai

Wong Asiu dan Ang Tong Hay, di manakah kalian kini? Sudah sejak lama sebenarnya saya merindukan kalian. Bukan karena pada 12 Februari 2021, bertepatan dengan Tahun Baru Cina, Imlek, buat kalian. Akan tetapi, kenangan itu yang tak terhapus di benak saya.

Agutus 1980. Sore hari. Jalan Pejagalan Raya No. 51. SMP Negeri 32 Jakarta. Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Saya memasuki kelas itu. Kelas satu.

Kelas 1E atau 1.5. Ya di kelas itu saya mulai mengenal namamu. Wong Asiu, murid perempuan, tinggal di Jembatan Lima, Kelurahan Jembatan Lima Kecamatan Tambora di Jakarta Barat.. Ang Tong Hay, murid laki-laki, tinggal di Pengukiran, Kelurahan Pekojan juga di Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Nama kalian tersua di buku absen.

Tak Ada Perbedaan
Tak ada perbedaan bagi saya buat melayani kalian. Kalian adalah makhluk Allah. Meskipun kalian bukan pribumi asli, pikiran dan perasaan lugu saya melihat kalian sebagai bunga-bunga yang nanti akan semakin mekar dan menghiasi taman kehidupan ini. Yang harus senantiasa disiram dengan kasih sayang.

Mungkin kalian masih ingat ketika saya mengajarkan imbuhan “bersemedikepeter”, menulis kalimat aktif dan kalimat pasif, menulis paragraf, membaca puisi “Hidup Baru” karya A. Hasjmi, mmbaca cepen, menulis pantun, dan menulis surat. Mungkin kalian juga masih ingat bagaimana saya mengajarkan pasal-pasal dalam UUD 1945 melalui lagu “Samama Preunaslim” yang berbentuk jembatan keledai itu.

Meski saat itu Imlek belum menjadi hari libur nasional, kalian pada saat Imlek tak masuk sekolah. Saya tak menjumpai kalian di kelas. Ke manakah kalian? Apakah sakit? Ataukah ada keperluan keluarga? Ketika saya mengabsen, saya tak menemukan kalian di kelas.

Namun, kami — para guru — memakluminya. Rupanya kalian sedang merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarga. Ya, kami para guru memahaminya karena pada saat itu kalian tengah merayakan momentum yang kalian nantikan dan tunggu-tunggu. Sangat menyenangkan dan membahagiakan tentunya.

Kue Keranjang
Kue keranjang. Ya kue keranjang itu kalian berikan sebagai kenangan. Itu membuat saya tak dapat melupakan kalian. Kalian kini tentu sudah menjadi orang tua. Yang harus bertanggung jawab menghidupi dan membina keluarga.

Saya tahu, selain kue keranjang, kalian pasti sangat mengharapkan pemberian angpao dari orang tua kalian. Keluarga kalian juga juga sudah mempersiapkan buah jeruk dan ikan bandeng. Pertunjukan barongsai  pasti juga sangat ditunggu-tunggu.

Sekolah kita berlokasi di kawasan niaga. Setelah menyeberangi Kali Jelakeng, saya tiba di Pasar Pagi. Dengan berjalan kaki saya  bisa mencapai Jalan Asemka yang mengilhami  Remy Sylado menulis puisi mbeling “Dua Jembatan: Merabeu & Asemka”. 

Jika saya menurutkan langkah kaki, saya bisa menyusuri kawasan Pancoran dan Glodok yang sangat terkenal itu. Pada saat Imlek kawasan ini semarak dengan pernak-pernik Imlek. Sebagai kawasan Pecinan di Kota Tua, daerah ini tentu sangat ramai jika Tahun Baru China tiba. Lampion berwarna merah tergantung di setiap toko.

Perayaan Terpenting
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penangggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh  pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam Tahun Baru Imlek merupakan malam pergantian tahun

Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru dan penyulutan kembang api 

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas.  Di daratan Tiongkok  dan negara-negara lain, Tahun Baru Imlek juga dirayakan dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Sing Cung Kyi Hi
Sekarang, saya membayangkan kalian sebagai bocah atau anak baru gede (ABG) yang harus bergaul dengan Pak Guru yang selisih usianya tak seberapa. Tentu ada kata dan perbuatan saya yang mungkin menyakiti hati kalian ketika saya mengajar kalian. Maafkan saya, Wong Asiu dan Ang Tong Hay!

Di tahun yang baru ini semoga kebahagiaan, kedamaian, dan ketenteraman, senantiasa bertahta di dalam jiwa dan hatimu. Kesejahteraan juga semoga selalu berlabuh di dalam mahligai rumah tanggamu. Hidup semakin bermakna untuk meninggikan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan. Hidup kian berarti bagi sesama dan makhluk di dunia ini. Gong Xi Fat Cai.

Sebuah puisi saya ciptakan untuk kalian. Mudah-mudahan  berkenan. 

SING CUNG KYI HI 

Berharap hujan melimpah ruah
Pada musim semi yang basah
Di awal musim tanam tahun ini
Bawa keberuntungan mendaki

Leleh peluh kian jadi menderas
Di bawah terik mentari melepas
Kerja senantiasa tanpa ragu
Seiring datangnya tahun baru

Sing Cung Kyi Hi untuk kawanku
Selamat merayakan musim baru
Gong Xi Fat Cai bagimu kukirim
Rezeki membuncah di awal musim

Cibinong, Januari 2020

Pandemi Covid-19
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi dan situasi di Wuhan, China, pada saat pandemi atau wabah corona mulai merebak pada awal-awal tahun 2020,  seperti kota mati atau kota hantu. Jalan-jalan lengang. Toko-toko dan kantor-kantor tutup. Sekolah dan kampus juga tutup karena pelajar dan mahasiswanya diliburkan. Akses transportasi umum seperti pesawat terbang, kereta api, dan bus tidak ada.

Orang-orang dilarang bepergian. Mereka tak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Hanya melakukan apa saja di dalam kamar. Mereka bertahan di kompleks perumahan, asrama, atau apartemen tempat mereka tinggal.Tentu saja mereka tak pernah melepas masker yang menutup hidung dan mulutnya. Mereka harus mematuhi aturan lock down yang diberlakukan pemerintah China.

Dengan harap-harap cemas mereka menunggu datangnya juru selamat. Setelah lebih kurang setahun wabah corona atau pandemi Covid-19 meneror warga dunia, vaksin anti Covid-19 yang ditunggu-tunggu kelahirannya, datang juga. Pemerintah China pun telah menemukan dan mengedarkan vaksin ini ke berbagai negara yang memerlukannya, termasuk Republik ini.

Sementara itu, sudah jutaan orang di seantero bumi menjadi korban wabah corona. Tak pandang bulu, baik rakyat maupun pejabat terpapar corona. Bahkan para dokter dan tenaga paramedis juga meninggal dunia karenanya. Apa boleh buat. Hingga akhirnya kita cuma bisa menunggu berakhirya wabah corona. Pandemi Covid-19 telah mengharu biru dan menjadi momok bagi warga dunia di lebih dari 200 negara.

Tak terkecuali negeri ini ikut terdampak pandemi Covid-19. Ketika Imlek tiba pada tahun 2020, warga etnis Tionghoa tak dapat merayakannya dengan sangat meriah dan berlebihan karena wabah corona telah menjelajah di Indonesia. Sekarang, ketika pandemi Covid-19 masih mencengekeram negeri ini, warga etnis Tionghoa tentu akan merayakan Imlek pada 12 Februari 2021 dengan sederhana. Selain itu, mereka juga layak memperhatikan dan menerapkan  ptotokol kesehatan dengan konsisten dan konsekuen.

Selamat Tahun Baru China, 12 Februari 2021. Selamat Imlek.

Gong Xi Fat Chai. Cibinong, 4 Februari 2021


Penulis:

Syukur Budiardjo, Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Kontributor sejumlah antologi puisi. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang MenungguLelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Strategi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018). Akun Facebook, Instagram, dan Youtube menggunakan nama Sukur Budiharjo. Email budiharjosukur@gmail.com.Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *