Pojok Literasi
Geliat Jamaah Literasi Tuban

Geliat Jamaah Literasi Tuban

Kantong-katong literasi bidang penulisan begitu tumbuh subur di mana-mana. Masing-masing daerah bergerak oleh keyakinannya bahwa literasi harus ditumbuhkan. Alasannya cukup sederhana. Investasi ilmu pengetahun melalui gerakan literasi dianggapnya berumur panjang. Tesis utamanya selalu berangkat dari keyakinan bahwa melalui literasi, sumber daya manusia (SDM) dapat dibangun. Melalui keterbangunan SDM, sebuah wilayah akan berkembang menjadi berilmu, beradab, dan berkemakmuran.

Pikiran di atas tentu saja jamak sebagai pikiran para pejabat wilayah. Kebijakan yang muncul kemudian adalah masing-masing daerah hendak secara idealis membangun kota literasi. Lahirlah kemudian impian Jawa Timur Kota Literasi, Sidoarjo Kota Literasi, Malang Kota Literasi, dan seterusnya. Impian dan idealisasi kelembagaan birokrasi ini tidak akan pernah terealisasi dan kuat manakala komunitas di masing-masing wilayah tidak secara realistis bergerak.

Gerakan komunitas itu kini secara mudah dapat berakselerasi dengan penggunaan media informasi teknologi. Maka, kawan-kawan penggerak literasi, kepenulisan, serta pegiat sastra kini membuka portal online yang menampung berbagai macam ide gagasan warga literasi dalam mempublikasikan karyanya. Langkah Mas Tejo dan kawan-kawan di Ponorogo dengan membuka lensasastra.id ini adalah bagian penting dalam sejarah peradaban pemikiran anak bangsa. Dari sana Mas tejo, berharap semua kreator individu, komunitas, serta para pengarang terwadahi karyanya. Bagaimana dengan literasi Tuban?

Jejaring: Komunitas-Penulis-Penerbit
Dari sekian banyak kota, Tuban secara formal belum dinyatakan sebagai kabupaten atau kota literasi. Di sisi yang lain, komunitas di sana secara istikamah dalam dua tiga tahun terakhir begitu bersemangat berdiskusi dan  menjalin komunikasi. Mereka terus mengasah pikir gelisahnya seraya intens berdiskusi dan melakukan kajian-kajian kebudayaan. Lebih dari itu, komunitas-komunias  itu memiliki proyek berkelanjutan untuk penerbitan buku.

Di Tuban dapat dicatat terdapat banyak ‘jamaah penggerak literasi’. Mereka pada  garis depan perjuangan pemikiran itu adalah: Gerakan Tuban Menulis (GTM), Sastra Malam Minggu (SMM), Kanal Buku Bergerak, Kostra Unirow, Sanggar Caraka,

Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT), Pusat Belajar Guru (PBG), Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Tuban, Kali Kening, Dewan Kesenian Tuban (DKT),  serta individu-individu yang secara istikamah berproses kreatif.

Derap jamaah literasi Tuban di atas dapat dicatat pula banyak bergiat dalam dunia produksi karya. GTM yang dimotori Mas Mutolibin dalam masa pandemi ini telah menerbitkan “Corona dengan Segala Ceritanya”. Buku yang berisi esai 22 penulis terpilih ini berkontribusi atas problem pandemi akhir-akhir ini. GTM sebelumnya juga menerbitkan buku-buku serupa yang ber-ruh mengembalikan kejayaan Tuban dan menghidupkan pikiran-pikiran besar tokoh Ranggalawe sebagai tokoh inspirator warga Tuban.

Sastra Malam Minggu (SMM) bergerak dalam dunia diskusi setiap malam Minggu di tempat yang berpindah-pindah. SMM  dimotori cerpenis Umar Faiq dan pegiat sastra Tuban Khumaidi atau Mas Komet. Mereka beridealisasi  hendak menyinkronkan budaya ngopi dan budaya literasi generasi muda. Mas Komet kini juga telah menulis di media lokal Radar Bojonegoro.   

Kanal Buku Bergerak yang dimotori Mas Edi Eka Setiawan menawarkan perjuangan literasi dalam bentuk video di kanal Youtobe. Konten yang dibangun adalah laporan isi buku yag diceritakan oleh seorang tokoh. Cara berliterasi ini sangat ampuh di tengah khalayak pembaca buku yang enggan menyelesaikan pembacaan buku secara menyeluruh. Dengan menyaksikan konten ini, pemirsa akan memiliki pengetahuan terhadap buku yang diceritakan. 

Kostra Unirow  merupakan perkumpulan mahasiswa Universitas Ranggalawe  Tuban yang dulu IKIP PGRI Tuban yang bergiat dalam kepenulisan, kesastraan, dan keteateran. Kostra dibesarkan oleh Almarhum Mas Suhariadi, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Murid-murid Mas Suhariadi yang militan meneruskan perjuangan gurunya dan kini membesarkan Kostra. Apalagi, Mas Suantoko—mahasiswa anak kandung ideologi Mas Suhariadi—kini menjadi dosen di sana dan menduduki jabatan pembantu rektor bidang kemahasiswaan. Dari Kostra, Tuban hendak menawarkan tradisi sastra kampus.

Sanggar Caraka berkiprah dalam kerja sosial mengajak anak-anak gemar membaca. Sanggar milik Mbak Hiday Nur bertempat di Jalan Manalagi, Perbon, Tuban kota ini, memiliki jaringan yang kuat secara nasional. Mbak Hiday sendiri seorang pendidik, akademisi, dan pengarang. Novel Mbak Hiday yang baru terbit “Pohon Nira Bengkok di Belakang Rumahmu” sempat dibedah secara virtual akhir Desember lalu  dalam skala luas yang melibatkan pengamat sastra nasional.

Kiprah Sanggar Caraka begitu akseleratif. Hal ini didukung secara infrastruktur oleh pemrakarsanya yang memiliki jaringan lintas pegiat literasi skala nasional. Apalagi Mbak Hiday pernah berkesempatan memeroleh beasiswa dari lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP) dan melakukan riset ke Belanda berkait ‘”Serat Bonang”.   Mbak Hiday dalam dunia kepengarangan   mengawali debut  kepenulisannya melalui jaringan komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Di Tuban banyak penulis perempuan yang aktif berproses melalui besutan FLP.

Selain Mbak Hiday, kiprah Sanggar Caraka juga didukung rekan Mbak Hiday. Rosita namanya. Rosita dapat dipandang sebagai penulis dan ilustrator Tuban yang memiliki harapan berkembang cukup besar. Ibu rumah tangga yang sempat kuliah di Semarang yang kini bermukim di Tuban ini baru saja melahirkan novel bergaya feminis. Judulnya “Hana”.

Tampaknya denyut semangat literasi wanita Tuban, selain dua nama di atas, dapat pula disebut nama Sriyatni. Tahun 2018,  dia bersama kawan-kawan guru di Tuban mendirikan organisasi bernama Ikatan Guru Penulis Tuban (IGPT). Sambutan hangat dari para guru datang. Dalam perjalanannya hingga kini, IGPT istikamah memiliki proyek berkelanjutan: menerbitkan buku. Catatan yang ada, IGPT selama setahun terakhir telah melahirkan antologi puisi “Kerakap Tumbuh di Batu-Batu”, kumpulan cerpen “Goresan Sang Dwija”, kumplan cerita anak “Dongeng dari Negeri Paradiso, dan kumpulan guritan “Gita Ing Pasisir Kutha Tuwa”. Proyek penerbitan guritan para guru itu juga bekerja bareng antara IGPT dengan DKT.

DKT sebagai organ kesenian  kepanjangan tangan pemerintah daerah telah memerankan tugasnya memberi energi bagi komunitas-komunitas literasi di Tuban. Dalam kepemimpinan Mas Joko Wahono, DKT telah mengakomodikasi gagasan-gagasan seniman Tuban. Dalam tiga tahun terakhir DKT, telah mempu mengakomodasi gagasan penulis, penari, pelukis, pemusik, dalang, kesenian rakyat,  dan seniman lain bagi tumbuh kembangnya kesenian dan iklim literasi di Tuban.

Dalam struktur kelembagaan, Pusat Belajar Guru (PBG) Tuban dalam satu tahun terakhir juga cukup berkiprah menyemarakkan iklim literasi Tuban. Organisasi di bawah Dinas Pendidikan ini berhasil menggandeng Exxon Mobile dalam upaya melatih guru menulis dan menerbitkan karyanya. Di penghujung tahun 2019, PBG berhasil menerbitkan 29  judul buku karya guru atas dukungan dana Exxon Mobile.

Langkah lejit PBG ini memeroleh apresiasi  Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban. Dinas Pendidikan bahkan merancang Mei tahun 2020 nanti kabarnya akan menggelar pameran buku bertepatan Hari Pendidikan Nasional. Kabarnya pameran ini melibatkan seribu judul buku yang ditulis oleh penulis Tuban. Utamanya para guru. Untuk sampai sana, di bulan Januari ini dilakukan pelatihan menulis buku bagi guru SD. Dalam obrolan santai dengan Kepala Dinas Pendidikan, Bapak Nur Khamid, nantinya ada kebijakan satu lembaga satu karya. Artinya setiap sekolah wajib melahirkan satu buku yang diterbitkan. 

Organisasi profesi guru, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Tuban tak mau ketinggalan. IGI Tuban juga konsen terhadap penciptaan kultur literasi di Tuban yang terkenal sebagai Bumi Wali ini. Debut IGI Tuban dalam peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi  setahun terakhir cukup menggembirakan. Ada tiga proyek literasi yang telah dan sedang berlansung.

IGI Tuban melalui pelatihan menulis bagi anggotanya sedang menyusun buku “Pikiran Besar Guru Tuban untuk Indonesia”. Buku yang terdiri atas kompilasi esai guru-guru Tuban anggota IGI  sedang dalam proses pengumpulan naskah. IGI Tuban juga telah menyambungkan silaturahmi antara pembaca sastra dengan penulis muda berbakat  Tuban, Makinuddin Samin.  Mas Makin adalah penulis novel “Ranggalawe Sang Penakhluk Mongol”. Novel yang beredar secara nasional ini lebih terkenal daripada pengarangnya yang asli lahir, tumbuh, dan bersekolah di Tuban.

Mas Makin sekarang tinggal di Brebes Jawa Barat dan berkantor di Semarang, tetapi di lahir dan bermasa kecil di Bancar, Tuban. Oleh IGI Tuban, November yang lalu   novel “Ranggalawe Sang penakhluk Mongol” karya Mas Makin dibedah secara virtual secara nasional. Tempat acara bedah cukup bergengsi: di gedung Korpri Komplek Pendapa Kabupaten Tuban. Yang membuka acara juga keren: Pak Bupati Fathul Huda. Mas Makin memberi ulasan tentang karyanya dari jauh: Brebes. Hal menarik dari acara ini adalah betapa Tuban memiliki potensi yang luar biasa sebagai kota Tua yang memiliki hubungan dengan Majapahit dan Kerajaan Doho Kediri. Jika pun ke depan Tuban mampu berpacu menjadi kota ilmu pengetahuan dan kota kebudayaan dengan membangun basis literasi warganya, maka itu wajar-wajar saja sebagai bentuk mengembalikan kejayaan masa lalu.

Derap IGI Tuban yang terakhir dan masih berjalan adalah program “Pelatihan Menulis Buku” bagi guru-guru se-Indonesia. Proyek ini masih berjalan. Guru-guru peserta pelaihan sedang memeroleh bimbingan nara sumber. Targetnya setiap peserta menghasilkan buku fiksi maupun nonfiksi. Jika pun ada peserta yang tulisannya terbatas, peserta akan menggabungkannya menjadi buku antologi yang merupakan kompilasi tulisan para peserta.

Laju literasi Tuban akhir-akhir ini juga dipicu oleh komunitas literasi yang tidak hanya berbasis di ibu kota kabupaten. Komunitas baca dan  diskusi tumbuh di kecamatan-kecamatan yang jauh dari pusat kota. Hampir di setiap kecamatan terdapat taman baca yang didirikan oleh para guru di sana. Hal ini seiring gencarnya pemda setempat mengembangkan perpustakaan daerah di masing-masing kecamatan.

Di Kecamatan Bangilan juga ada “Kali Kening”. Komunitas ini awalnya banyak berkiblat dengan pikiran-pikiran besar literasi Blora, di mana perpustakaan Pramoedya Antara Toer sebagai sentrum. Kali Kening dalam perjalanannya turut membesarkan nama pengarang-pengarang Tuban karena kerja keras Mas Ikal dan Mas Joyo Juwuto dalam penerbitan karya pengarang Tuban melalui penerbit  Niramedia.

Memang suburnya gerakan literasi tidak terlepas peran penerbit. Mudahnya penerbit indi menerbitkan buku menjadi daya sokong setiap orang untuk mudah melahirkan buku. Maka, Tuban kini semakin kokoh karena banyak penerbit yang dengan mudah memfasilitasi para pengarang, seperti penerbit Caraka Publishing  milik Sanggar Caraka serta  Penerbit Litera Indonesia  sebagai sayap ibadah literasi GTM.

Amunisi literasi Tuban bertambah pula manakala pengarang-pengarang yang tidak terlibat aktif dalam jaringan komunitas, secara mandiri berkreasi dan membangun jejaring antardaerah. Penulis Hery Kustomo misalnya. Mas Hery termasuk penulis  cerita anak garis depan Tuban. Dia tercatat pernah memenangi lomba menulis cerita anak yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Selain Mas Hery, Tuban patut bersyukur memiliki tokoh pendokumentasi buku-buku tua. Namanya Mas Rosyid. Dia tinggal di Kecamatan Singgahan. Lapak warung kopinya, “Waroeng Kopi Rakjat”, dijadikan tempat nongkrong para koleganya untuk mendiskusikan kegelisahan intelektualnya. Mas Rosyid yang masih muda dan pernah mondok di pondok Mbah Hamid Pasuruan ini merupakan aset Tuban ke depan. Mas Rosyid sedang menyelesaikan proyek penulisan buku tentang “Seratus Tokoh Tuban”.  Semoga kiprah para penulis,   jejak jamaah  komunitas literasi, dan sokongan kebijakan birokrasi semakin mendorong Tuban menjadi kabupaten literasi. [] 

[*Cak Sariban adalah kurator buku-buku yang ditulis penulis Tuban]

Leave a Reply

Your email address will not be published.