Puisi
Puisi Amrozzie

Puisi Amrozzie

Satu Hari dalam Kepompong

Dua-puluh-empat jam bersembunyi di punggung wanita tua
Menanggung sepi adalah keseharian di kedua matanya
Lelah beranjak usai detik arloji menunjuk dermaga gundah
Lalu peluh duduk di batasan memori saat cucunya berpulang
Bahagia yang dikehendaki justru tidak menjangkar di kepalanya
Hilang ditelan banjir bah di tengah kaum ingkar Nuh
Dua-puluh-tiga jam berlalu
Dan sendiri memangku zaman serupa kepompong tua
Di ujung daun kering: hemiparesis

Bandung, 2021

 

Di Sebaris Tanggal Kematian
Sederet angka mengalir di baris almanak. Meruap di hari-hari yang berat. Terpelanting pada kening pedagang kaki lima. Empatnya dimakan usia. Satu masih digenggam oleh tagihan bulan-bulan lalu. Saban kali mengenang dua anak dan biaya operasional. Aroma sedih merayap di saku kemeja. Terselip pada rekening usang milik tetangga. Yang diam-diam masuk ke kepala. Merebah di darah. Bau amis. Mengendap di jantung-jantung kecemasan.

Angka itu mulai mengikis kulit keriput. Keringat turun bagai disadap di batang-batang pohon karet. Belum lagi tangis bayi semakin dekat. Lebih dekat daripada nyawa sendiri. Keras. Meraung. Bukan di hutan yang penuh khawatir. Terpendam di balik rawa-rawa hijau gelap. Pekat. Serigala muda menuruni bukit. Siap menerkam darah segar dari aliran sempit di aorta. Menjejak pada suatu masa di hari-hari terakhir.

Adalah hutang dari timbunan kubur tua, tempat matinya segala bahagia. Kini almanak tua masih diliputi angka-angka kekacauan. Sebentar lagi. Tidak lama lagi. Pedagang tinggal menanti hari. Kepalanya dirajam oleh ribuan batu serupa angka tagihan listrik dan makan sekeluarga.

Bandung, 2021

 

Resah dalam Botol

Adakah seseorang terjebak dan hancur di pusaran cinta serupa jam pasir?
Sekian detik pasir itu menuju pensiun, habis dikoyak oleh kenangan yang tak perlu
Menyisakan tempat bernama: kosong dan hampa yang berlanjutan
Di botol kedap suara, dua manusia berteriak tanpa jerit
Terkubur pasir sedalam kasih yang menyeruak. Mengepung.
Dari balik bongkah batu dan gunduk jerami
Terdengar suara pelan, petani membongkar ladang
Sebuah botol berisi pasir kelam, ia sangka hanya jeritan masa
Namun sepasang manusia meraung ingin bebas
Telanjang dalam waktu yang larut karena cinta.

Bandung, di Jalan Braga – 2021

 

‘Pada Mulanya’ Adalah Bahasa Waktu

Di buku cerita manapun, novel apapun, ibu berkisah
Kalau semuanya lahir dari waktu: detik, menit yang mengambang
di sumur kekecewaan, ditimba oleh cemas dan sesal.
Tak pernah ada pertengkaran tanpa alinea ‘pada mulanya’
Menyusuri kronologi yang panas dan penuh dendam.
Bila ada permusuhan salahkan waktu,
Karena tak mungkin musuh lahir di luar waktu
Tapi begitulah hidup, bahasa waktu terlalu sarkas menyebut
Pada mulanya kita berpisah dan hilang selamanya.

Cibiru, 2021

 

Serenade dan Rendezvous

Di gedung-gedung tinggi, jendela terbuka separuh.
Burung merpati menukik bebas mengarungi awan
Sauh-sauh angin berlayar, meniup duka dari zaman dulu
Catatan klise terbentang di muka langit
Serupa noda sepia dalam serpihan mimpi
Waktu itu: rendezvous – pertemuan singkat antara aku dan bayangan
Bertengkar perihal cinta dan disakiti untuk ke seribu kalinya
Berharap lenyap namun terang sore masih mengerjap
Pada saban minggu kedua, kau datang memberi luka
Seolah tak mengerti jika aku membenci lara
Yang sibuk berkeliaran di bola mata dan dunia
Sempit.
Jam bergulir dalam sebuah masa yang melipir
Bak hati yang didendangkan lagu kesepian
Serenade itu adalah dirimu.

Dago – Bandung, 2021


Penulis:

Amrozzie, seorang mahasiswa fakultas Ushuluddin di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Hobi gemar mengarang puisi, cerpen, esai, dan opini sekaligus mendapat inspirasi dari warung kopi sebelah kampus. Bisa dihubungi di Instagram: @amruun_mrun

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published.