Salam Redaksi
Jurnalisme Sastrawi yang Humanis dan Inspiratif

Jurnalisme Sastrawi yang Humanis dan Inspiratif

Dua pekan terakhir kolom feature di Lensa Sastra mengalami masa kering. Minimnya pengirim mendorong pikiran pendaras dan redaksi berteka-teki. Mungkin penulis feature belum mengerti kelahiran media, belum minat mengirim atau barangkali kebingungan dengan genre tulisan media.

Melalui tulisan, kami menegaskan bahwa Lensa Sastra media yang fasilitatif plus adil. Tidak saja mengakomodasi pengarang yang memiliki keunggulan imajinasi. Namun juga penulis yang peka akan fakta.

Feature, bagi redaksi, merupakan karya yang tak lepas dari pengalaman. Tentunya tidak dibatasi pada pengalaman pribadi. Penulis feature (yang dalam bahasa media Jawa Pos, Kompas dan Tempo dikenal sebagai bokser) bisa menuliskan apa yang dialami orang lain. Mereka bisa menggali segala sesuatu yang inspiratif dan humanis melalui koridor wawancara atau berdiskusi.

Feature, dalam khasanah Lensa Sastra tidak dibatasi pada proses membahas kreativitas atau sisi humanis dari manusia seperti pengalaman hidup penulis Sirikit Syah pada edisi kedua. Namun juga tempat-tempat inspiratif yang turut meramaikan jagat literasi.

Contohnya warung Kopi Sastra di Kecamatan Panceng, Gresik. Warung berukuran kecil itu jadi pusat pembelajaran anak-anak muda di Kota Giri. Tidak saja menyediakan kopi dan camilan. M. Zuhdi, pemilik warung juga melakukan hal inspiratif dengan mewajibkan pengunjung menulis puisi.

Banyak objek yang bisa ditulis menjadi feature. Kami juga yakin ada banyak kreativitas yang belum terekspos media.  Kearifan-kearifan lokal dalam mengembangkan literasi menjadi maha karya yang patut dihargai. Kami optimis, ke depannya akan lahir beragam feature yang tidak saja membikin geleng-geleng. Namun juga menggerakkan pembaca untuk melakoni hal yang lebih inspiratif dan layak diteladani.

Terkait kaidah kepenulisan, melalui catatan redaksi sebelumnya sudah tertulis secara gamblang. Lensa Sastra mengedepankan tulisan berbasis jurnalisme sastrawi. Lebih simpelnya, gaya kepenulisan personal yang tetap berpedoman pada fakta. Tidak harus berbahasa ilmiah yang justru malah membingungkan. Sebaliknya ringan, jelas,lugas, humanis dan  inspiratif menjadi sandaran utama.

Harus ada petikan kalimat langsung sebagai syarat wawancara. Sebab kalimat itu tidak sekadar menguatkan fakta. Namun juga menjadi penilaian redaksi terkait seberapa besar kedekatan penulis feature dan narasumber. Sebab kami yakin persoalan itu juga berpengaruh kuat pada kualitas tulisan.

Sebagaimana media lain, kami juga menghargai kreativitas penulis. Tidak ada proses mematikan ide atau tujuan tulisan. Justru, kami bakal membantu mengarahkan tulisan dalam ruh sejatinya. Yakni tulisan feature berbasis fakta yang humanis dan inspiratif. Kami menanti tulisan anda. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.