Esai
Cerpen Indonesia dalam Arena Sastra Pasca Perang

Cerpen Indonesia dalam Arena Sastra Pasca Perang

Kedudukan cerpen dalam arena sastra sebelum perang dianggap oleh berbagai pengarang–khususnya sastrawan pujangga baru–sebagai kerja sastra yang tidak cukup penting. Secara kausalitas, tema-tema cerpen yang diangkat dianggap stagnan dan hanya berkutat mengenai lelucon dengan tujuan untuk mengajak pembaca tertawa tanpa maksud lain. Terlebih saat itu, dominasi roman dan puisi masih terasa kental dan kuat. Tidak ada ruang bagi cerpen untuk bergerak leluasa.

Ajib Rosidi dalam esainya Pertumbuhan dan Perkembangan Cerpen Indonesia (1962) secara implisit juga membenarkan, dengan menjelaskan bahwa keterbatasan orientasi terhadap lelucon atau cerita humor dilandasi oleh kegemaran masyarakat terhadap cerita-cerita penglipur lara semacam Si Kabayan dari cerita lisan Sunda, atau Jaka Dolog dan Si Lebai Malang di daerah lainnya. Kultur dan semangat ini disadari para penulis, sehingga mempengaruhi dua pendahulu pengarang cerpen untuk mengaktualisasikan dalam cerita-cerita yang mereka buat.

Sumardjo mencatat lebih terinci melalui Mencari Tradisi Cerpen Indonesia (1975), tradisi cerpen diawali oleh dua nama besar, yaitu M. Kasim dan Suman Hs. Dua nama ini menyuguhkan aspek cerita yang berakar dari khasanah sastra tradisional Indonesia. Melalui bukunya, M. Kasim dengan Teman Duduk (1936) dan Suman Hs menerbitkan Kawan Bergelut (1938), mereka menjelajah segi-segi humor, mencari tokoh cerita rakyat yang bodoh untuk dijadikan bulan-bulanan berseloroh.

Dua nama ini praktis menjadi penghubung khasanah ‘sastra baru’ saat itu dengan cerita rakyat tradisional kita. Sayangnya, seperti skeptisisme kaum pujangga baru, kultur cerita humor itu tidak diminati dan diteruskan oleh generasi penulis cerpen sesudahnya. Sebab ada yang lebih menarik bagi mereka sesudah perang, yaitu seutuhnya berkiblat dan merunut konsep Barat. Inilah yang akan mematahkan skeptisisme kaum pujangga baru sekaligus menunjukkan perubahan besar perspektif kita terhadap cerpen di Indonesia.

Seperti ungkapan Sumardjo (1975), dua pola lain yaitu Hamka dan Idrus dengan orientasi sosial zamanya, dilanjutkan Arminjn Pane dengan orientasi ide kedalaman, telah menggiring cerpen mencapai posisi yang tinggi bagi sastrawan ataupun pembaca. Kemajuan kualitas itu selanjutnya juga didukung dengan giatnya usaha-usaha menghidupkan majalah yang dimaksud khusus memuat cerita pendek. Sejak saat itulah, perjalanan panjang cerpen dalam arena sastra Indonesia pun dimulai.

Dari Arena Majalah ke Sastra Koran
Pasca Perang Dunia Kedua perspektif terhadap cerpen jauh berbeda. Cerpen menjadi entitas dominan, lebih-lebih mampu menarik banyak pembaca. Hal ini memungkinkan bagi pengarang untuk mengukir nama, menapakkan jejak lebih jauh, dan menambatkan pengaruh.

Dominasi cerpen di kalangan pembaca disebabkan sekiranya melalui beberapa hal; efisiensi, orientasi sosial sezaman, perkembangan majalah. Pertama, kesadaran bahwa secara kuantitas membaca cerpen sekali duduk dapat selesai, ringkas dan hemat waktu. Hal ini menjadi alasan di kemudian waktu bagi cerpen untuk menemukan pasar yang lebih luas dari roman.

Kedua, kemauan pasar tersebut didukung dengan muatan-muatan cerpen yang lebih dekat kepada pembaca, yakni masalah sosial zamannya. Kecenderungan faktor kedua tersebut, menurut Sumardjo, menunjukkan adanya spesialisasi daerah dalam dekade tahun 50-an, yang menggambarkan ragam kehidupan sosial, baik kota besar semacam Ibu Kota maupun daerah pelosok dan desa-desa. Idrus dan Muchtar Lubis menulis masalah sosial dan politik di kota, begitu pula Pramodya Ananta Toer dalam Korupsi. Trisnoyuwono menggambar kehidupan militer pasca revolusi, Yusach Ananda mencatat kesunyian hutan Kalimantan, Bastari Asnin menyuguhkan kehidupan pemburu di belantara Palembang, dan sebagainya yang kian menunjukkan keberagaman. Kecenderungan ini bertahan satu dekade sebelum kelak mulai padam (berganti pada corak ide kedalaman-Armijn Pane) dalam dekade 60-an, sewaktu Horison mulai mengudara.

Ketiga, karya-karya mereka yang demikian itu kemudian berkorelatif dengan gelagat berkembangnya berbagai majalah secara pasang surut dan estafet. Kian bertambahnya jumlah penulis cerpen secara masif, maka munculah keinginan untuk menampung karya mereka dalam sebuah majalah khusus cerita pendek. Dalam catatan Rosidi, pemilik pertama ide itu tidak lain adalah Chairil Anwar. Namun pemikiran itu terbengkalai sejalan dengan matinya maestro puisi tersebut. Jalan itu kemudian dirintis oleh beberapa orang yaitu Sudjati S.A., sebagai direktur, kemudian M. Balfas sebagai redaktur diikuti HB Jassin dan Idrus, dengan mendirikan majalah yang serupa dengan cita-cita Chairil yaitu Kisah yang berdiri pertengahan tahun 1953 (1962).

Perjalanan majalah Kisah sebagai majalah yang memuat khusus cerita pendek, telah melahirkan banyak penulis cerpen yang cukup berkualitas. Dalam catatan redaksi, kira-kira sekitar 600 cerpen asli telah diterima, dengan 100-an cerpen yang dimuat, diikuti terjemahan kurang lebih 30 karya (Jassin, 1959). Akan tetapi, dalam perjalanannya tidak dapat dipungkiri bahwa majalah ini mengingkari dirinya sendiri dengan memuat studi, kritik, kemudian puisi, yakni Puisi dan Persada yang menjadi tempat kegiatan sastra dan kesenian umumnya. Hingga meskipun setelah tiga tahun lebih, tepatnya Maret 1957 majalah ini mati mendadak, majalah ini telah mendapat tempat yang cukup dihormati layaknya Pujangga Baru, Panca Raya, Arena, Seniman, Zenith dan Seni.  

Sepanjang berdirinya Kisah, muncul pula jenis majalah yang serupa yaitu Prosa tahun 1955. Sejak kemunculannya, Prosa telah menemukan musuhnya, baik berkaitan dengan materi (minimnya apresiasi dari masyarakat), maupun dalam konteks kualitasnya. Rosidi memaklumi dengan kesulitan faktor terakhir itu, bahwa menemukan sepuluh sampai dua belas cerpen yang cukup baik bukan perkara mudah, sekalipun dalam penyaringannya tidak melepaskan kompromis. Setelah empat kali penerbitan, majalah ini kemudian mati.

Selanjutnya, sejak matinya Kisah, berdiri majalah Cerita di bawah pimpinan Nugroho Notosusanto. Meski lebih sedikit jumlah halamannya, ada anggapan bahwa Tjerita memiliki kualifikasi nilai estetetik dan kualitas yang kebih baik. Namun seperti halnya Prosa, majalah Cerita juga terbit seumur jagung. Bahkan semenjak tutupnya Cerita, cukup lama tidak ada majalah berpretensi terbit. Kekosongan ini kemudian pecah tatkala majalah Sastra yang merupakan reinkarnasi Kisah terbit. Bukan hanya karena diasuh oleh sosok yang sama yaitu HB Jassin dan M. Balfas, namun juga materi di dalamnya yang selain memuat cerpen, juga memuat puisi, esai, kritik, dan terjemahan.

Dari penjelasan Jassin melalui bukunya Kesusastraan Modern dalam Kritik dan Esai IV (1985) selama perjalanan menjelang tahun keempat, Sastra dirundung berbagai persoalan dan konfrontasi. Dimulai dengan tudingan bahwa Humanisme liberal mewakili segala sikap dan sifat yang negatif: a-nasional, anti-rakyat, pro-kolonialisme, pro-neokolonialisme, pro-imperialisme, dll. Satu tuduhan lagi yang dikemukakan orang ialah bahwa Sastra punya semboyan Vart pour l’art dan karena itu antiaspirasi rakyat. Persoalan berikutnya adalah heboh hadiah sastra 1962 mengingat penolakan resmi dari para penulis. Keberadaan majalah ini sangat penting, bahkan kematiannya menandai sebuah era baru dalam angkatan kesusastraan Indonesia. Seusai berakhirnya era Sastra, estafet majalah sastra khusus cerpen diemban oleh majalah Horison.

Pada era inilah, menurut Sumardjo, penulisan cerpen berorientasi ide kedalaman milik Armijn Pane kembali tumbuh subur (1975). Dekade mutakhir ini, para penulis lebih banyak bergulat dengan ide filosofis atau psikologis. Inilah yang menjadi ciri kental Horison. Di samping itu, keberhasilan Horison ditandai dengan citra yang merekat terhadapnya. Sebagai sebuah majalah sastra, Horiosn menjadi legimitasi bagi nama besar sastrawan, semacam penobatan sebagai seorang penyair, cerpenis, ataupun kritikus yang sah. Namun seperti majalah sebelum-sebelumnya, Horison pun juga memiliki usia yang terbatas. Katrin Bandel mengatakan bahwa tahun 2000-an pamor Horison mulai menurun sedangkan posisi itu diambil alih oleh hegemoni ‘sastra koran’ (Bandel, 2013).

Sisi Lain: Skeptisisme Terhadap ‘Sastra Koran’
Herfanda dalam Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran mencatat penetrasi sastra koran telah dimulai jauh-jauh waktu. Sekitar dasawarsa l980-an, peranan majalah sastra mulai terbagi oleh rubrik-rubrik sastra yang menjamur di hampir semua surat kabar pusat dan daerah, semisal surat-surat kabar harian seperti Suara Karya, Berita Buana, Kompas, Sinar Harapan, dan Media Indonesia (2005). Rubrik sastra surat kabar memegang estafet yang sebelumnya diemban oleh majalah sastra, yaitu sebagai legitimasi sastrawan muda sekaligus membentuk mainstream kecenderungan tematik maupun gaya bersastra.

Namun peralihan dari sastra majalah menuju sastra koran ini bukan tanpa skeptisisme. Jika Ajip Rosidi dalam esainya mengkritik keras terhadap legitimasi sastrawan yang sebelumnya harus sekurang-kurangnya memiliki satu karya roman–apalagi jika diterbitkan Balai Pustaka, menjelang penetrasi sastra majalah, seorang dinobatkan sebagai sastrawan saat hanya satu dua cerpennya diterbitkan oleh majalah sastra saja (1962). Hal yang sama juga terjadi ketika eksistensi sastra majalah usai dan munculnya dominasi sastra koran dimulai.

Bandel mengungkapkan bahwa majalah sastra sebenarnya jauh lebih selaras bagi media sastra daripada koran, karena selain pembatasan halaman koran, halaman budaya bagaimanapun tidak mandiri karena ‘numpang gengsi’ pada korannya (2013). Faruk dalam Beyond Imagination (2001: 217) menganggap sastra di dalam koran tidak mandiri karena harus hidup dengan banyak hal lain yang tidak berhubungan dengan dirinya. Hal ini yang membuat keberadaan sastra kurang bernilai.

Dengan begini, sebagai sebuah media umum dengan mobilitas publikasi yang lebih baik, koran bukanlah jurnal atau majalah khusus sastra yang memiliki kualifikasi sastra yang baik dalam konteks sistem pemuatan. Setidaknya, selain keterbatasan halaman, sebagian besar koran tidak melibatkan kritikus sastra sebagai redaktur.

Namun demikian, inilah realitas sastra koran, khususnya cerpen di Indonesia mutakhir. Berbeda dengan sastra majalah yang meski dikeluhkan oleh Ajip Rosidi, mereka adalah media khusus karya sastra yang diisi para kritikus sastra, sedangkan sastra koran tidak pernah dan tidak akan mencapai kualifikasi yang didapatkan sastra majalah. Mereka tetaplah media umum, dengan segala pembatasannya.

Pertanyaannya kemudian, kenapa sastra koran tetap mampu menjadi entitas dominan bagi publikasi karya sastra di Indonesia. Pandangan Iwan Kurniawan melalui esainya Sastra Cyber vs Sastra Koran dalam acara Anugrah Litera (2019) telah menjelaskan hal itu. Menurutnya, kecenderungan minat terhadap media cetak lebih disebabkan karena pertimbangan sastrawan terhadap ‘prestise’. Mengingat surat kabar mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas daripada majalah sastra yang lebih terbatas. Lebih jauh, Herfanda (2005) mengatakan kualifikasi honor pemuatan yang lebih besar dari majalah dan intensitas terbitnya lebih tinggi, menjadi alasan kuat bagi sastrawan untuk mengirimkan karyanya ke media koran.

Fenomena itulah yang bertahan begitu lama menemani penulis Indonesia dalam kerangka arena publikasi karya.

Ketika Sastra Koran Sekarat, Bagaimanakah Nasib Cerpen Indonesia?
Sekalipun mendapat serangan dari berbagai sisi, dominasi sastra koran tidak dapat kita hindari. Puluhan tahun penulis mulai menempatkan penerbitan, majalah, dan koran sebagai arena publikasi yang eksklusif sekaligus menambatkan nilai gengsi dan prestise. Kini dengan ancaman kematian dan proses transisi menuju platform digital, wajar jika kemudian perubahan ini memberi ‘rasa’ kekhawatiran yang besar.

Mahayana dalam Anomali Generasi Milenial Sastra Indonesia (Lensasastra.id, 2021) menunjukkan kekhawatiran yang terjadi dalam lingkup perubahan sosial. Persoalan yang dimaksud tatkala perkembangan teknologi informasi ternyata turut berdampak pada perubahan cara berfikir dan paradigma sosial dari generasi pertama dan kedua, menuju generasi ketiga yang dianggap berkemungkinan mengalami degradasi nilai budaya, ketunasejarahan, dan pada akhirnya matinya kualitas nilai berkarya. Kritiknya ialah akankah masyarakat generasi ketiga kelak masih akan perlu legitimasi kualitas nilai dari otoritas tertentu? Apakah aspek itu akan digantikan dengan kuantitas followers atau viewers belaka?

Tentu saja apa yang disampaikan tersebut masih dalam tahap ‘spekulatif’. Yang jelas, di hadapan kita saat ini telah terjadi transisi menuju wilayah digital yang disadari (sekaligus diperjuangkan) dengan tujuan agar sastra tetap memiliki otoritas bagi kualitas nilai itu sendiri. Saya pernah menuliskan kemungkinan itu dalam esai ‘Vis a Vis’: Sastra Koran dan Sastra Digital (Kedaulatan Rakyat, 2021). Transisi ini akan sepenuhnya tuntas melalui beberapa gejala perkembangan pesat teknologi informasi (digital), yaitu pertama, munculnya platform online khusus sastra, baik yang dimiliki oleh korporasi maupun personal dan komunitas; kedua, peralihan kolom sastra media massa cetak menuju digital.

Wilayah digital tersebutlah yang akan menjadi ruang otoritas bagi sastra di masa depan. Dengan demikian, cerpen (secara khusus) dalam arena sastra Indonesia saya kira akan menemukan ruangnya melalui ‘media sastra digital’ yang saya maksud, bukan media sosial layaknya Facebook, Twitter, Myspace, Instagram, WhatsApp, Youtube, Tumblr, dan semacamnya. Yang perlu dijaga ialah eksistensi media digital sastra itu sendiri. Sejauh mana mereka dapat berkembang, bertahan dari tekanan zaman, sembari tetap mempertimbangkan nilai kualitas, sekaligus fasilitasi honor yang memadai. Dengan begini, tonggak estafet legitimasi dan nilai prestise dapat benar-benar diambil alih dengan penuh tanggung jawab. []

Jejak Imaji, 2021


Penulis:

Angga T Sanjaya (Pendekar Bukit Kapur), alumnus Univ. Ahmad Dahlan dan Pascasarjana Univ. Negeri Yogyakarta lahir di Wonosari, Gunungkidul pada 7 Juni 1991. Kini tinggal di Yogyakarta dan sesekali pulang ke Membalong, Bangka Belitung. Bergiat di komunitas  “Jejak Imaji”.

Leave a Reply

Your email address will not be published.