Cerpen
Diary Keana

Diary Keana

Tiba-tiba ada yang muncul di rak buku kamarku, sungguh tak masuk akal! Seekor kupu-kupu merah hinggap di sana, duduk terdiam, melipat kaki, membiarkan sayapnya terbuka sempurna di rak ke lima dari susunan paling bawah, meski aku sendiri tak tahu bagaimana cara kupu-kupu duduk. Di antara tumpukan buku, sambil sedikit merambat, ke enam kakinya menapaki Kisah-kisah Kecil & Ganjil.

Sebentar, bagaimana bisa seekor kupu-kupu sebesar itu masuk ke dalam kamarku? Meski tidak kota-kota amat, tapi tak pernah ada kupu-kupu bahkan lebah madu yang pernah kujumpai di sekitar rumah. Lagi pula apa untungnya datang ke kamar yang selalu tertutup, gelap, hanya sorot lampu dari laptop saat menulis atau layar handphone dengan penghuni orang sepertiku. Aku bukan orang yang suka binatang, apalagi kupu-kupu, dan tentu saja ia itu tahu.

Tapi apa boleh buat, kupu-kupu itu begitu saja ada. Meski bukan kupu-kupu cantik bermandikan gradasi warna-warni dengan sayap yang beririsan simetris per pasang atas dan bawah. Kupu-kupu dengan kedua sayap selebar telapak tanganku itu hanya berwarna merah tua. Sisanya, dua lingkaran hitam seperti tumpahan tinta membentuk sepasang mata yang seolah-olah tengah memerhatikanku.

Sesaat setelah menarik perhatianku, ia terbang, meski tak jauh. Ia hanya pindah beberapa jengkal hingga kembali hinggap di sebuah Hujan di Bulan Juni.

Sedari awal aku memang hanya akan mendiamkan semua tingkah geriknya. Siang ini aku tengah bergairah dengan novel ketigaku. Jemariku semangat mengetik, melesat mengikuti alunan klarinet dari At The end of The Day di kedua headset yang terpasang di telingaku. Mungkin karena itu atau mungkin karena cerita dari novel ini sudah tiba di babak yang kutunggu-tunggu sejak lama. Babak di mana setelah Keana sang karakter utama di novelku itu merencanakan bunuh diri terpantas untuk hidupnya yang sial.

Meski paling kutunggu, harus kuakui ini adalah bagian paling rumit. Di puluhan bab sebelumnya telah kutulis tentang kemalangan laki-laki itu. Keana lahir sempurna. Lahir di tengah keluarga bahagia. Ibunya seorang perangkat desa membawahi Pak Lurah dan ayahnya menjalankan bisnis persewaan alat berat. Ayah dan ibunya punya berapa saja uang yang Keana mau, ia tinggal membuka mulut menyebutkan nominalnya. Tapi, dari keluarganya pula keinginan bunuh diri itu muncul.

Berkali-kali ia tepis perasaan itu, tapi berkali-kali pula Keana harus menelan bulat-bulat kenyataan bahwa mengakhiri hidup adalah jalan paling masuk akal untuk semua hal yang tidak bisa ia ubah dalam hidupnya.

Barangkali, jikalau dongeng soal reinkarnasi memang benar adanya, ia bisa memulai hidup dari awal dengan keluarga yang tidak hanya menyuguhkan kesepian seperti warna putih gading di dinding kamarnya; utuh dan seluruh.

Sejak kecil ia hanya berteman dengan satu pembantu tua. Selain tertutup dari dunia luar, kedua orang tuanya bukan orang yang bisa diajak berbincang. Seperti mendengarkan radio campursari yang tak ia sukai, tapi keesokan harinya lagu itu juga yang harus ia dengar.

Setiap pagi Keana hanya akan bertemu ayahnya di depan rumah dengan setelan kesukaan laki-laki itu: kemeja kotak-kotak, helm proyek, celana levi’s, dan sepatu. Sementara saat sore menjelang malam bertemu dengan ibunya pulang dari balai desa. Kadang masih tampak segar, tapi lebih sering pulang dengan berantakan, acak-acakan, beberapa kancing baju yang terbuka dan tentu saja aroma asap tembakau Pak Lurah.

Masalahnya adalah aku tak punya cara anti mainstream untuk membunuh atau membuat Keana terbunuh. Membuatnya menggantung diri atau membuat lingkar tangannya tersayat akan membuat kegemparan. Bagaimana pun ibu dan ayahnya adalah orang terpandang, itu akan membuat novel ini gagal di mataku. Ceritanya akan berubah panjang lagi. Aku harus menjelaskan secara logis bagaimana dampak kematian anak 20 tahun itu lagi. Keana harus terbunuh oleh sepi yang ia kandung. Ia harus mati tanpa ada orang yang mengerti sebagaimana orang-orang di sekitar tidak memedulikannya.

Setelah membuat beberapa kandidat cara bunuh diri terbaik di note handphone-ku lalu melakukan voting lewat hati dan kepala, aku menemukan cara paling pas, tentu setelah mencoret beberapa kandidat yang menurutku jelek.

Keana akan mati di kolam renang. Kebiasaan akhir pekan yang rutin ia lakukan tiap dua minggu sekali. Akan kubuat seolah-olah ia salah melompat ke kolam yang terlalu dalam hingga ia kehabisan napas, air memenuhi paru-parunya hingga orang akan menemukan tubuhnya mengambang. Namun, setelah beberapa paragraf, jari-jariku terasa kaku. Aku merasa tak yakin. Peristiwa bunuh diri itu terasa janggal di dalam kepalaku.

Dari sebelah, sekumpulan angin terasa menyapu ujung rambutku. Kupu-kupu merah itu terbang lagi, hinggap lebih dekat di atas Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, jaraknya kini hanya satu jengkal dari kepalaku.

Aku mengumpat, menyumpahi kupu-kupu liar yang membuat buyar runtutan adegan bunuh diri di dalam kepalaku. Kini justru kedua sayapnya yang menarik perhatianku.

Ini kali pertama aku memperhatikan sayap kupu-kupu dari jarak dekat. Ada serat yang saling susun. Serat tipis seperti klorofil dalam daun, mereka terhubung dengan urat-urat kecil, terhubung lagi dengan urat yang lebih besar, mengantarkannya pada tepian sayap. Serat-serat yang kemudian disiram oleh warna merah pekat dan dua lingkaran hitam.

Kali ini ia menatapku. Huh, baiklah!

Kupu-kupu itu berhasil membuatku berdiri dari kursi, menjulurkan dua jari ke arahnya. Seakan mengerti, ia merambat ke atas jariku, menaikinya. Dengan sedikit ragu aku meletakkan hewan berantena itu di dekat mouse komputerku. Barangkali dia suka dengan warna-warni yang muncul dari sana dan menganggap itu sebagai mekar kelopak bunga.

Setelah memastikan kupu-kupu itu diam di sana, aku kembali menatap layar laptopku. Baiklah kali ini Keana harus segera mati, sudah enam paragraf dan sebentar lagi laki-laki delapan belas tahun itu memasuki kolam renang.

Sebentar, kenapa tiba-tiba ide menenggelamkan diri ke kolam renang terasa tidak menarik? Bagaimana bisa seharian penuh waktuku habis memikirkan hal yang jelas tidak masuk akal? Keana anak orang kaya. Sudah pasti di dalam kolam renang ia tetap didampingi bodyguard yang tidak akan membiarkannya mati tenggelam.

Aku menghapus semua paragraf yang sudah susah payah aku tulis. Parah, barusan itu ide konyol dan tidak masuk akal. Apa kata pembaca setiaku nanti?

Setelah menyalakan ujung satu linting tembakau, aku mulai berpikir lagi. Tapi, tampaknya berpikir bukan yang kubutuhkan. Halaman kosong itu masih saja melotot ke arahku. Baiklah, mulai saja dengan narasi.

Halaman kosong dari hidupnya yang sempurna menyeret Keana. Ada sepi yang mencekiknya tiap membuka mata, ada kosong yang merayap juga putus asa yang ingin ia akhiri. Keana punya banyak koleksi baju warna-warni di almarinya. Tapi, hanya satu warna yang ayah atau ibunya suka. Keana punya beragam mimpi di kepalanya. Tapi, hanya ada satu kaca besar di dalam kamar yang selalu memantulkan bayangan kenyataan.

Keana hanya hidup untuk menuruti kemauan ayah dan ibunya. Sama persis dengan cat putih gading yang sejujurnya sama sekali tak laki-laki itu sukai. Saat malam, di rumah yang sama dan hanya terpaut beberapa meter dari tempat pintu terbuka orang tua Keana riuh dengan hidupnya masing-masing. Keana berpikir saat beberapa orang satu darah ditakdirkan hidup dalam satu rumah, namun tak mencoba untuk saling mendengar adalah tanda paling kentara untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia.

Aku menghisap dalam-dalam tembakau yang ternyata sudah tiba pada isapan terakhir. Aku menghempaskan asapnya, pelan dan panjang. Seperti isapan terakhir dalam hidup yang kemudian membuat kupu-kupu itu terbang hinggap di sudut layar laptopku. Kepakkan sayapnya membuat asap beterbangan tak tentu arah.

Hingga kemudian aku menemukan cara bunuh diri terbaik. Aku menulis dengan cepat beberapa paragraf. Takut kupu-kupu merah itu menerbangkan ide dalam kepalaku lagi. Meski hingga tulisanku selesai ia tetap saja diam di sana.

Menatapku dari sudut laptop. Mata kecil dan antenanya seakan berbicara banyak hal, tapi terlambat. Kalimat terakhir dari novel Diary Keana sudah kutemukan. Cara terbaik untuk bunuh diri adalah mengosongkan paru-paru dan membuatnya juga ikut merasakan kesepian. Seperti yang saat ini kulakukan. At The End of The Day bersandar di dinding bercat putih gading. Menahan napas hingga ajal datang sambil menatap sayap kupu-kupu melambai. Mengucapkan selamat tinggal.[]


Penulis:

Saestu Saget adalah anak pertama dari dua berudara yang lahir di Magetan 21 Juni 1996, menyelesaikan study S1 di fakultas Teknik Industri STT POMOSDA Nganjuk. Suka menulis sejak duduk di bangku kuliah.

1 thought on “Diary Keana

Leave a Reply

Your email address will not be published.