Cerpen
Pengarang Telah Mati

Pengarang Telah Mati

Saya mendongak. Langit sedikit mendung, tapi sinar matahari masih bisa menerobos jatuh dan menyebar di mana-mana. Ada suara rekaman dari masjid—orang gotong royong, kendaraan melintas, dan seekor capung tampak murung di pucuk daun. Saya perhatikan capung itu, sayapnya runduk, mata palsunya sesekali bergerak waspada, awas pada apa yang ada. Barangkali serangga itu merasa satu-satunya ancaman adalah saya. Tapi, saya tidak berniat mengancamnya, saya berniat mengancam seorang pengarang yang baru-baru ini menyiarkan sebuah cerita yang menyinggung perasaan saya. Bayangkan, dalam ceritanya itu saya digambarkan sebagai orang yang luar biasa kejam, bodoh, dan cabul. Saya tidak terima, saya harus menemuinya dan sedikit banyak memberinya pelajaran sopan santun.

Sebetulnya saya mau berangkat pagi-pagi sekali, tapi karena semalam saya sibuk memburu tikus yang masuk rumah saya jadi terlambat tidur, akibatnya saya bangun hampir tengah hari, mendongak dan melihat langit sedikit mendung. Hujan pasti turun. Saya tidak suka hujan, sebab hujan disukai para pengarang, terutama pengarang puisi. Mereka selalu bikin repot padahal tidak melakukan apa-apa, kecuali merangkai-rangkai kata yang tak ada gunanya.

Hujan juga mengingatkan saya pada perang. Ketika pasukan sedang terdesak dan hujan tiba-tiba turun, medan tempur jadi jauh lebih berat. Tanah licin berlumpur membuat tiap prajurit jadi sasaran empuk para penembak jitu yang siaga di menara-menara, terlindung dari hujan. Situasi bisa tidak terkendali dan kami akan mirip anak-anak burung di hadapan pemburu yang punya nafsu membantai lebih cepat dari peluru. Saya pasti akan tertembak. Kalau kena kepala mungkin tak mengapa, saya akan langsung mati dan ketika terjaga saya sudah berada di surge. Tapi, bagaimana kalau kena perut atau kaki, kemudian salah seorang dari mereka menyeret saya ke markas lalu berpura-pura menjadi malaikat siksa kubur dan menjadikan saya orang kafir yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang Tuhan.   

Terus terang sebetulnya saya tidak pernah berada dalam situasi semacam itu, tapi saya bisa membayangkannya. Itu membuat kejengkelan saya pada si pengarang kian menjadi-jadi. Saya akan mengancamnya, saya akan bilang: “Cabut cerita busukmu itu atau aku akan menggodamu untuk makan buah khuldi supaya kau dibuang dan terlunta-lunta di bumi lata. Aku akan belah laut, aku akan buat bahtera besar, aku akan bangkitkan semua neandhertal, aku dirikan kamar-kamar gas dan memulai perbudakan!”

Pengarang itu pasti takut dan buru-buru menelepon redaksi koran yang telah memuat ceritanya. Redaktur koran itu pasti akan bertanya-tanya terlebih dulu, tapi setelah si pengarang mengulang ancaman saya, si redaktur pasti juga akan takut dan buru-buru menelepon kepala redaksinya, kepala redaksinya pasti juga akan bertanya-tanya terlebih dulu, tapi setelah si redaktur mengulang ancaman yang diucapkan si pengarang yang merupakan ancaman saya, si kepala redaksi pasti juga akan takut dan buru-buru menelepon bagian sirkulasi, bagian sirkulasi itu pasti juga akan bertanya-tanya terlebih dulu, tapi setelah si kepala redaksi mengulang ancaman yang diucapkan si redaktur yang didengarnya dari si pengarang dan merupakan ancaman saya, bagian sirkulasi itu pasti juga akan takut dan buru-buru menelepon siapa saja.

Sayang rencana itu belum bisa saya laksanakan. Langit makin mendung bagai cerita Kipanjikusmin. Hujan mulai turun, mula-mula tipis saja, lama-lama kian lebat seakan-akan ada hutan yang dijatuhkan. Capung tadi sudah terbang, daun tempatnya hinggap bergoyang seperti biduan. Tempias melompat ke teras laksana pengungsi yang akhirnya melihat tanah suaka, tanah yang mungkin saja bisa membuat mereka jadi kaya raya atau sebaliknya mengembalikan mereka jadi hewan belaka.

Secara gradual pikiran itu membuat saya sedih. Tidak tahu kenapa. Mungkin saya ingat para pengungsi itu, mereka yang membayar untuk bisa keluar dari negaranya tanpa rencana apa-apa. Pergi dari moncong senapan satu negara ke moncong senapan negara lainnya tanpa tahu bahwa senapan kedua negara itu diproduksi oleh negara lain yang sibuk mencetak iklan perdamaian.

Mungkin juga kesedihan itu timbul karena saya tiba-tiba memikirkan nasib si pengarang setelah nanti mendengar ancaman saya. Barangkali dia akan meratap-ratap, mencium kaki saya sambil berkata, “Tuan, itu kan cuma fiksi. Saya tidak bermaksud menyakiti. Lagipula Tuan kan pernah dengar Roland Barthes berkata, ‘pengarang telah mati’, jadi sebenarnya saya ini sudah mati, Tuan.”

Saya batalkan kesedihan itu ketika membayangkan jawaban si pengarang. Jadi dia sudah mati? Seperti prajurit di tengah medan tempur waktu hujan turun dan jadi sasaran empuk penembak jitu? Kurang ajar. Setelah mencemarkan nama baik saya, sekarang dia menganggap dirinya sama dengan prajurit-prajurit itu? Memang saya bukan prajurit dan tidak pernah bertempur, apalagi di tengah hujan dan jadi sasaran empuk, tapi prajurit yang mati di medan tempur banyak jumlahnya. Mereka menjalani latihan yang berat sebelum dikirim ke garis depan, menyeberangi laut, memanggul senjata, berjuang menegakkan perdamaian. Dan, sekarang seorang pengarang yang kerjanya cuma duduk-duduk telah mensejajarkan diri dengan mereka?

Benar-benar tak bisa dibiarkan. Saya harus mengancamnya dengan lebih keras, saya harus bilang padanya, “Hapus pernyataan busukmu itu atau aku akan menganiaya diriku sendiri, lalu berdoa siang dan malam, memohon pada Tuhan seru sekalian alam agar surga diharamkan buatmu. Ingat doa orang yang teraniaya akan segera dikabulkan bahkan jika orang itu menganiaya dirinya sendiri!”

Dapat saya pastikan dia akan sangat ketakutan. Tubuhnya akan gemetar, keringat sebesar granat akan keluar dari pori-porinya. Dia akan mengalami serangan panik dan buru-buru menelepon Roland Barthes. Tapi, karena Roland Barthes sudah mati dalam arti sebenarnya, dia akan pergi ke toko buku dan membeli semua buku-buku orang Prancis itu dan membakarnya. Mungkin juga jika rasa takutnya belum sirna, dia akan terbang ke Prancis, lantas diam-diam membongkar makam sang filsuf lalu memaki-makinya.

Membayangkan itu sekonyong-konyong perasaan sedih merayap lagi. Dari ujung jari kaki ke telapak, tumit, betis, dengkul, paha, sampai selangkangan, Begitu rasa sedih itu mencapai perut, segera saya remas-remas, saya tahan supaya tidak makin menjalar. Saya berlari ke kamar mandi, lalu sambil duduk di kloset, saya tumpahkan seluruh rasa sedih itu. Rasa sedih itu terapung-apung sebentar, saya perhatikan sesaat sebelum dengan dingin saya tekan tombol kloset. Air bah tumpah melenyapkan seluruh rasa sedih itu.

Sekarang, pemandangan tampak jernih.

Saya merasa lega dan kembali ke teras. Saya mendongak. Langit masih mendung, tapi hujan tak lagi turun. Saya lihat genangan kecil-kecil terbentuk di tanah. Saya bayangkan itu genangan darah. Perang baru saja terjadi, saya tak tahu apakah sedang berada di pihak yang menang atau kalah. Saya berjalan menyapu teritori bekas pertempuran, mencoba memilah mana mayat kawan mana mayat lawan. Dalam keadaan mati, mereka kelihatan sama saja. Demikian murni, tanpa nilai.

Sisa-sisa sedih masih membelit perut saya, samar bagaikan bayangan dalam mimpi. Entah kenapa sekarang saya yang merasa seseorang akan datang mengancam saya. Sedari tadi saya sudah berpikir dan membayangkan. Dua tindakan itu sangat berbahaya, bukan saja saat ini, tapi juga setiap saat di setiap zaman. Dari teras, saya perhatikan sekeliling; udara yang sedingin bayonet, langit yang seloreng muka prajurit, angin yang sekeras sepatu lars. 

Capung yang tadi pergi kini datang kembali. Tetap sendirian. Berputar-putar sedikit di atas tanah seperti bagian dari pasukan yang selamat. Sesekali ia hinggap, tapi cuma sesaat, seakan terkena trauma atau merasa pertempuran belum benar-benar rampung dan tiap saat pasukan musuh bisa saja menyergap. Atau barangkali ia hanya mencoba mencari jejak daun yang tadi dihinggapinya. Karena air hujan sudah menghapus jejak itu, ia jadi linglung. Ia tidak tahu di bagian mana dari bumi ini ia mesti mendarat.

Saya bisa dengar suaranya berdengung persis pesawat tempur. Di dalam pesawat itu saya lihat dua orang tertawa-tawa, itulah Roland Barthes dan si pengarang. Filsuf Prancis itu berseru-seru pada saya dengan bahasa yang tak saya pahami. Si pengarang melambai-lambaikan bendera pada saya. Saya balas lambaiannya.

Di sini, di atas semua kehancuran dan genangan darah ini. Kami akhirnya berdamai.[]

Blencong, 15 November 2020


Penulis

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok.Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020) sedang kumpulan cerpennya berjudul Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2017).

1 thought on “Pengarang Telah Mati

Leave a Reply

Your email address will not be published.