Resensi Buku
Sejenak Bermain Resensi

Sejenak Bermain Resensi

Judul Buku   : Inilah Resensi
Penulis          : Muhidin M. Dahlan
Penerbit        : I;Boekoe
Tahun Terbit: I, Februari 2020
Tebal Buku   : 256 Halaman
ISBN              : 978-974-1436-60-1

Dunia literasi adalah dimensi yang penuh ambiguitas, mengingat segala interpretasi lahir dari setiap gagasan baru untuk kemudian menjadi terobosan dalam melakukan aktivitas yang progresif, agar memiliki relasi dengan masa sekarang sebagai bentuk pengabdian terhadap idiologi beragama.

Keberadaan literasi untuk saat ini seolah telah menemukan punjak kejayaan, sebab banyak manusia sekarang yang sudah kegandrungan untuk menulis baik berbentuk ilmiah ataupun fiksi. Realitas ini terbukti ketika banyak media yang menerima tulisan meskipun dengan embel-embel honorium. Bukan hanya itu, minat dan kontribusi penulis diakhir dekade ini mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini seolah menandakan bahwa sepuluh tahun lagi Indonesia akan menjadi negara maju jika kebiasaan membaca dan menulis tetap dipertahankan secara optimal dan maksimal.

Begitupun yang didedikasikan oleh penulis kawakan—Muhidin M. Dahlan—sebagai resensator ulung yang mencoba menerbitkan buku terbarunya, Inilah Resensi; Tangkas Menilik dan Mengupas Buku. Yang ia sumbangsihkan kepada bangsa agar kegiatan dan aktivitas menulis terjaga dan selalu berjalan pada porosnya. Sehingga kelak dengan kehadiran buku ini akan banyak melahirkan penulis-penulis andal yang menekuni dunia resensi. Mengingat beckgraund penulis buku ini sendiri lebih banyak di resensi buku, walau pada dasarnya sebelum buku ini lahir, Gus Muh—sapaan karibnya, sudah menerbitkan buku serupa akan tetapi lebih fokus pada esai.

Meskipun pada kenyataannya buku semacam ini—yang menyajikan teori dan contoh konkret—banyak bahkan malang-melintang atau tidak terhitung jumlahnya. Akan tetapi buku ini terasa berbeda dari buku-buku panduan resensi kabanyakan. Pasalnya, buku ini dengan jeli memberikan contoh-contoh komperatif dan komprehensif yang sesuai dengan topik universal buku ini. Misalnya buku ini dibuka dengan pembahasan Sang Fajar (Sang Proklamator)—Ir. Soekarno yang juga meresensi buku pada masanya. Bung Karno meresensi buku untuk tahu dan terlibat secara jauh memahami apa yang terjadi dalam perang dunia kedua sepulangnya dari pembuangan politik (halm.19). Muhidin M. Dahlan tidak hanya mendeskripsikan bahwa Soekarno resensator amatiran, tetapi ia juga menyuguhkan potongan resensi Soekarno yang masih menggunakan ejaan Soewandi, Mentri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1947) kala itu.

Melalui buku ini—Gus Muh—menyuguhkan pengetahuan baru (terhadap penulis pemula) akan dunia resensi buku. Di beberapa bagian buku ini, ia menghidangkan sub-bab bagaimana menaklukan pragraf pertama, membuat judul, dan menulis resensi dengan berbagai macam teknik. Seakan buku ini menjadi asupan untuk menambah wawasan baru bahwa meresensi buku tidak hanya sebatas menilai dan memuja buku saja, tetapi lebih dari itu.

Dalam menulis resensi, tentu seorang penulis resensi harus netral, tidak boleh memihak kepada penerbit apalagi penulisnya. Sebagai orang yang netral, kritis seolah menjadi dasar utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Agar apa yang semestinya diperbaiki oleh penerbit dan penulis benar-benar ditindaklanjuti. Seorang peresensi adalah penimbang, sebagai penimbang ia tetaplah bersifat kritis (halm.167). Maka profesionalisme dalam meresensi buku adalah kebutuhan pokok yang harus dieksekusi.

Lebih dari itu, keistimewaan buku ini terletak pada penulis resensi yang sengaja dihadirkan penulis sebagai dokumentasi sejarah. Sekurang-kurangnya nama peresensi yang ada dalam buku ini telah menyumbangkan 250 resensi yang tersebar di pelbagai media massa. Data ini, penulis sendiri mengambil dari yang paling tua sampai yang paling muda 2015. Hal ini seolah menjadi menjadi bukti bahwa setiap tehunnya resensator tanah air terus mengalami peningkatan yang sangat pesat.

Kehadiran buku panduan resensi ini seolah semakin memiliki peran penting mengingat kilas sejarah resensi yang turut mewarnai literasi Indonesia. Buku ber-cover putih ini sangat layak dikonsumsi oleh siapapun, terlebih bagi mereka yang ingin menjadi resensator, atau meminjam istilah Soekarno “menilik” buku. Akan tetapi buku ini akan semakin bermanfaat bila diimplementasikan dan diterapkan sehingga tidak hanya menjadi sebuah narasi kritis belaka, sebab dalam dunia literasi harus ada manifestasi berbentuk karya tulis, resensi!


Muhtadi.ZL adalah Pengurus Pepustakaan  PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah. Aktif di Komunitas  Cinta Nulis (KCN)-Lubsel, Lesehan Pojok Sastra (LPS)-Lubangsa dan Komunitas Penulis Kreatif (KPK)-Iksaj.

Tags :

4 thoughts on “Sejenak Bermain Resensi

Leave a Reply to Arif Rahman Hakim Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *