Puisi
Puisi Aditya Ardi N

Puisi Aditya Ardi N

layar tancap di kepalamu
—buat mamat

tak ada burger atau pizza dengan keju mozzarella
pada lipatan ingatan masa kanak-kanakmu
lima potong tahu yang dicelup sambal petis itu
cukuplah untuk berdamai dengan lambungmu yang risau

dengan petromax di tangan
kita retas gelap tuangan
kita libas terjal galengan
demi tontonan, demi tontonan kawan!

jangan lupa bawa koran buat alas duduk lesehan
sarung juga jangan ketinggalan bila tak ingin ditelan malam
dan lagi, jangan lupa minta uang saku pada ibu buat jajan sebelum film berjalan

malam gagah dengan layar tancap yang megah
kita terperangah menyaksikan gambar bergerak
warna-warna dan bunyi-bunyi mengepung kepala
mendedah cerita yang tak bakal habis dirisak usia

“penonton yang berbahagia, inilah persembahan
film terakhir dari kami. selamat menyaksikan!” mc berkata.

aku menoleh ke kanan
di rimbun kebun tak bertuan
kau tertidur bersandar batang pisang
“mat, bangun! ayo pulang,” bisikku.

kini aku menyesal
membangunkanmu malam itu
seperti merobohkan layar tancap di kepalamu
beserta ratusan penonton, penjual gorengan, warung kopi dadakan,
dan mimpi yang tak dapat dikembalikan.

 

ombak banyu

genset menyalakan neon-neon
di lapak-lapak pedagang dadakan
harum maratabak di penggorengan
serupa tangan perempuan
yang melambai di kejauhan

“aku datang sebagai bocah,
mencari wahana pelipur jiwa”

kian dekat dari jantung keramaian
hidungku mencium asap sate dan kuah bakso
aku terus berjalan melewati penjual gorengan
pedagang aksesoris yang ramai pelanggan
dan sebuah lapak kaset cd memutar lagu pop 90-an

sesampainya di loket aku membeli karcis
seorang lelaki gempal mencegatku di pintu masuk lapangan
sembari menyobek karcis, lelaki itu berkata,
“nak, nanti jangan lupa mencoba naik ombak banyu. pasti seru!”

dingin malam memeluk seisi lapangan—sinar laser memecah kelembapan
mataku takjub melihat komidi putar, kuda-kuda kayu bercat biru
para pengunjung yang memandang bianglala dan kerlap-kerlip lampu

“tak ada air di sini, bagaimana bisa ada ombak banyu?” gumamku.

 

bluron
—buat erte

“di atas tanah padas yang kita pijak ini,
segala igauan dan gurauan kita bakal abadi.”

lihatlah bening air itu
di bawah batu-batu udang kali bersarang
lihatlah bening air itu
gatul, keting, dan wader riang berenang

dengan sejumput garam di saku bajumu
dan perangkap ikan yang kau sebut wuwu
segera pasang di situ, lalu kita tinggal bluron dulu.

aku berlari, melompat—nyemplung ke dasar kedung
di kedalamannya kudengar suara ciblon bergaung
dan kau bernyanyi lagu-lagu yang tak kumengerti
yang kupahami hanya bersukaria di sini

sembari mengeringkan badan kita bikin perapian
dengan bambu yang ditajamkan kita tusuk udang dan ikan
beri sedikit garam lalu bakar hingga matang

segera kita santap
sebelum gelap menyelinap
di sela-sela obrolan kita yang terlampau panjang

 

mutasi memori

waktu tak kuasa
membungkam kenangan yang keras kepala
dan prasangka selalu bekerja mendahului ada
maka matikan saja jam weker di kepalamu
yang setia berderak di tiap pagi yang serak
ia tak mengingatkan apa-apa
selain kehilangan yang sama
selain gelap yang sama

tahun-tahun dan nama-nama
merumuskan ulang penyesalan dan luka
ia serupa tuba yang menggenangi kepalamu

maka saat malam mengacungkan kenang
ajaklah ia bersemuka, jabat tangannya
kemudian katakan, “hiduplah di kepalaku, aku takkan terganggu!”

 

soal matematika dalam rumah tangga

diketahui:
kebutuhan buat makan sebulan
token listrik dan paket internet
cicilan rumah dan kendaraan
susu bayi dan bayar arisan

ditanya:
biayanya dari mana?

jawab:
dari gaji bulanan dan pendapatan sampingan
bila kurang ya cari pinjaman.

kunci jawaban:
dari dulu ya begitu.


Aditya Ardi N, Lahir di Ngoro, Jombang. Buku  Puisinya yang telah terbit antara lain Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016), Manifesto Koplo (2019).  Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media dan cetak. IG: @aditya_ardi_n

1 thought on “Puisi Aditya Ardi N

Leave a Reply

Your email address will not be published.