Esai
Indonesia, Teruslah Berpuisi

Indonesia, Teruslah Berpuisi

Dalam setahun terakhir dunia sastra Indonesia, khususnya puisi, menunjukkan kegairahan dalam beraktivitas yang luar biasa. Fenomena kegairahan aktivitas berpuisi muncul justru karena dipicu (atau hanya kebetulan berbarengan saja?) oleh meninggalnya sejumlah sastrawan dan penyair andal.

Dimulai dengan kepergian penyair Sapardi Djoko Damono (SDD) pada 19 Juli 2020, disusul sastrawan Ajip Rosidi 29 Juli 2020, lalu penyair Iman Budhi Santosa (IBS) 10 Desember 2020, dan Umbu Landu Paranggi (ULP) 6 April 2021. Sejak meninggalnya SDD hingga kini, hampir semua media—baik media cetak, media elektronik, media online, terlebih media sosial (medsos)—seakan merayakan puisi. Indonesia mendadak berpuisi. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi ?

Jika kita telisik, sebenarnya puisi sudah cukup lama pelan-pelan (hendak) menghilang dari peredaran. Tatkala peradaban belum mengenal teknologi gawai, lalu lintas informasi pun belum diwarnai penggunaan medsos, gaung puisi terbatas di bangku sekolah/kuliah. Memang puisi masih ditekuni oleh sejumlah komunitas. Namun terkesan hanya sporadis dan bersifat lokalitas.  Pendek kata, puisi hampir diambang kepunahan.

Pragmatisme hidup yang melanda segala lapisan, kemudian dijadikan kiblat hidup manusia, agaknya menjadi penyebabnya. Puisi yang notabene berurusan dengan dunia batin menjadi kurang relevan dengan pragmatisme hidup yang dipompa gerak masif industrialisasi—di mana notabene hanya berurusan dengan dunia materi.

Alhasil, kehadiran puisi tak lagi dianggap memberi kontribusi langsung pada kehidupan manusia sehari-hari. Ketika hidup serba sulit dan kelaparan membelit, puisi tak membuat hidup lapang dan perut kenyang. Saat harga-harga melambung, puisi tak bisa menggantikan fungsi uang.

Terlebih sejak periode awal pandemi Covid-19, ketika kehidupan ekonomi sulit, rubrik sastra di media cetak satu per satu tanggal berguguran. Kalau masih ada yang mempertahankan rubrik sastra, kebanyakan tinggal memuat cerpen dan esai. Pun di media online –terutama yang berhonor—yang awalnya menayangkan puisi secara rutin, di awal masa pandemi menjadi tidak ajeg lagi.

Baiklah, di medsos (misalnya grup facebook para pecinta atau pegiat sastra)  ratusan puisi masih bertebaran. Puisi juga masih mewarnai akun instagram atau acapkali dijadikan bahan cuitan banyak tokoh dan anak muda milenial lewat twitter. Tapi, siapa yang masih mengkonsumsi puisi. Siapa sebenarnya pembaca puisi di Indonesia? Masyarakat umum, kalangan terdidik, pecinta sastra, atau hanya para penulis puisi itu sendiri?

Memang, di era sekarang, medsos tak bisa dianggap remeh. Medos terbukti mampu membentuk opini, sikap dan perilaku publik atau masyarakat (Ardianto, dalam Komunikasi 2.0, 2011: xii). Tapi pengakuan (pernyataan) salah satu pegiat puisi di medsos, Sugiono Mpp kiranya bisa dijadikan salah satu alasan mengapa bertaburnya puisi di medsos belum bisa digunakan acuan perkembangan puisi di tanah air. Tanggal 24 Oktober 2020 ia menulis di group FB Hari Puisi Indonesia:  “Karya dan dialog puisi di FB yang kuikuti mengindikasikan publik literasi FB didominasi pemula dan yang baru kasmaran, penyair mahir jarang hadir.”

Lalu, coba cek di toko buku. Berapa eksemplar buku puisi yang laku terjual dalam sebulan? Atau silahkan tanya pelaku perbukuan, seberapa sering mereka masih mencetak buku puisi? Mencetak di sini dalam arti penerbit membiayai sendiri, bukan dibiayai penulisnya. Hingga kini, penerbit masih memilih prosa, (novel atau minimal kumpulan cerpen) untuk diterbitkan.

Berkaca pada kondisi demikian, eksistensi dan perkembangan puisi sejatinya masih menjadi pertanyaan. Tapi mengapa sejak kepergian SDD hingga kini Indonesia (seakan) merayakan berpuisi. Apa karena keampuhan sajak-sajak SDD, IBS  atau ULP semata?

SDD memang salah satu penyair penting yang dimiliki Indonesia. Sebagai penyair sepuh, SDD mampu menyihir anak muda dan generasi milenial melalui puisi lirisnya. Buku puisi pertamanya, Dukamu Abadi (1969)  langsung mendapat respon positif baik dari para kritikus maupun koleganya. Sejak itu, SDD mulai mencapkan pengaruhnya dalam puisi liris Indonesia modern.

SDD disebut berhasil melanjutkan tradisi puisi liris yang dirintis oleh Amir Hamzah dan Chairil Anwar dalam kesusasteraan Indonesia modern. Puisi-puisi Sapardi menjadi bentuk puisi yang banyak ditiru oleh penyair muda di Indonesia. Barangkali kedudukannya sulit digantikan oleh penyair lain. Tak berlebihan jika Joko Pinurbo menyebut SDD sebagai salah satu rasul dalam kesusastraan Indonesia (Tempo, edisi 12 April 2010).

Menurut A. Teew, peran SDD di kesusasteraan Indonesia sangat penting. Dalam bukunya, Kesusasteraan Indonesia Modern II (1988), ia menulis Sapardi sebagai cendekiawan muda yang patut diperhatikan. “Ada perkembangan yang jelas terlihat dalam puisi Sapardi, terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Oleh sebab itu, sudah barang tentu sangat perlu mengikuti jejak Sapardi dalam tahun-tahun mendatang,” tulis Profesor berdarah Belanda tersebut di Ensiklopedia Kemendikbud. Bahkan Teew menambahkan, “Sapardi seorang penyair yang orisinil dan kreatif, dengan percobaan-percobaan pembaharuannya yang mengejutkan, tetapi dalam segala kerendahan hatinya, boleh jadi menjadi petunjuk tentang perkembangan mendatang.”

Terakhir, SDD memperoleh Anugerah Kepenyairan Adiluhung dari Yayasan Hari Puisi (YHP). Anugerah tersebut sebagai penghargaan dan penghormatan yang luhur dan sepantas-pantasnya bagi penyair yang lebih dari separuh hidupnya ditumpahkan untuk pertumbuhan dan perkembangan perpuisian Indonesia dan kemajuan kesusastraan Indonesia sebagai bagian tidak terpisahkan dari penegakan peradaban bangsa.

Sementara IBS memang “bukan nama besar” di kancah sastra nasional. Tapi, aktivitas kesusastraan dan karya-karyanya tidak diragukan lagi menunjukkan eksistensi kepenyairannya yang tak bisa dipandang remeh. Pada 1968 ia bersama Umbu Landu Paranggi mendirikan Persada Studi Klub (PSK): sebuah komunitas yang bermarkas di kantor surat kabar mingguan Pelopor Yogya, jalan Malioboro 175. PSK pun menjadi kiblat kepenyairan di Jogja waktu itu.

Berawal dari PSK, yang kemudian diteruskan secara lebih intensif pasca ia melepas status sebagai pegawai perkebunan dengan berinteraksi bersama banyak pihak dan lintas generasi di Jogja, akhirnya mengantar IBS  pada posisi dominan, yakni sastrawan terkonsekrasi dalam arena sastra di Yogyakarta.

Dengan derajat tersebut, IBS sering dijadikan sebagai figur yang memberi legitimasi bagi aktivitas sastra di Yogyakarta. Pergulatan IBS untuk mencapai posisi terkonsekrasi—dari kata consecratio (bahasa Latin yang artinya kudus)—dapat disimak di Jurnal Poetika Vol. III No. 2, Desember 2015 hlm 124-131.

Di samping eksistensinya yang telah sampai pada “maqam kudus”, karya IBS juga banyak mendapat apresisasi. Buku puisinya yang mendapat penghargaan diantaranya Matahari-Matahari Kecil (lima besar Katulistiwa Literary Awards, 2005), Ziarah Tanah Jawa (penghargaan Balai Bahasa DIY, 2014), dan Belajar Membaca Peta Buta (lima besar sayembara buku Hari Puisi Indonesia, 2018). Novelnya Pulung Gantung Tali Pati terpilih novel terbaik Sayembara Penulisan Novel Bahasa Jawa Dinas Kebudayaan DIY 2018.

Sedangkan ULP, yang merupakan kolega IBS saat mendirikan PSK, sering dijuluki “Presiden Malioboro”. Umbu juga mendapat predikat sebagai mahaguru para penyair, justru karena ia tidak pernah mengajarkan tentang bagaimana cara mencipta puisi atau membuat kursus menulis puisi. Umbu hanya membawa murid dan orang terdekatnya ke dalam kehidupan puisi.

Menurut Emha Ainun Nadjib, yang menarik dari Umbu bukan karya puisinya tapi kehidupannya, sebab kehidupan Umbu adalah puisi itu sendiri—yang dilakukan Umbu bukan memenuhi puisi dengan kepenyairan melainkan memenuhi hidupnya dengan puisi (Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta, 2001: 517). Dari situlah Umbu justru telah melahirkan banyak penyair andal.

Dari uraian di atas, berpulangnya tiga penyair itu bisa jadi  memang yang mendorong maraknya perpuisian di Indonesia sejak Juli 2020 hingga sekarang.  Kita lihat, pelan-pelan rubrik puisi di media cetak muncul lagi—kalaupun sejumlah media gulung tikar, diganti rubrik puisi di versi online. Juga kian banyak media online membuka rubrik puisi (beberapa diantaranya berhonor).  Jadilah, Indonesia berpuisi. Tapi, apa benar hanya karena kepulangan para penyair itu sehingga Indonesia mendadak berpuisi?

Kalau kita tengok realitas yang lain, narasi tentang penyair yang mampu mendobrak bahasa ungkap, sehingga namanya menjadi fenomena perpuisian di tanah air selama ini (minimal sebelum tahun 2020), suka tidak suka, acapkali masih dialamatkan pada tiga penyair: Chairil Anwar (yang mendobrak bahasa ungkap sastrawan era Pujangga Baru), Sutardji Calzoum Bachri (dengan kredo puisi mantra-nya) dan Afrizal Malna (yang mengusung aliran puisi gelap).  Memang nasib Afrizal “tak semujur” Chairil dan Tardji yang hingga sekarang lebih sering menjadi bahan perbincangan.

Jadi, mengapa Indonesia mendadak berpuisi? Apakah ini karena puisi SDD notabene adalah “puisi kamar”—dalam hal tertentu, puisi IBS juga demikian, meski lebih “berkamar spiritual”. Puisi-puisi yang relatif selaras jika dinikmati dalam kondisi masyarakat kebanyakan saat ini?  Kini, puisi yang menyentuh kesendirian seseorang, kesunyian, juga jatuh cinta dan patah hati, lebih “diterima publik” dari pada puisi berlatar sosial-politik. Coba diingat sejenak lagu-lagu Didi Kempot tentang cinta dan patah hati yang juga digandrungi publik, termasuk generasi milenial.

Kondisi sosial-politik saat ini memang tidak sepenuhnya ideal. Praktik penyelewangan kekuasaan masih terjadi, bahkan “menjadi-jadi” (sekedar mencatat: pengesahan revisi UU tentang KPK dan UU Cipta Kerja yang menimbulkan  protes dan ketidakpuasan publik). Artinya, praktik kekuasaan yang mengingkari nurani publik masih dan sedang terjadi baik di ranah eksekutif maupun legislatif, juga pudarnya wibawa yudikatif. Tapi mengapa puisi kritik sosial seperti yang diusung W.S Rendra, Emha Ainun Najib, Wiji Thulul, dan sejenisnya tak lagi laris atau tidak mendapat respon dari publik ?

Agaknya, hal itu karena kondisi yang sedang terjadi saat ini tidak menghadapkan negara atau pemerintah (yang korup) dengan rakyat (yang kritis). Saat ini, terutama akibat Pilpres yang sejak 2014 head to head, masih terjadi sentimen keterbelahan antara dua pendukung. Dua pihak itulah yang kini berhadapan—dan dikondisikan untuk selalu berhadapan. Kondisi itu yang selalu dipelihara di tingkat grass-root, namun relatif tidak terjadi di tingkat elit—terutama sejak diangkatnya (bersatunya) kontestan Pilpres 2019 dalam “satu kue kekuasaan”.

Sehingga, jika ada puisi sosial yang ditulis, acapkali terjebak pada pembelaan salah satu kelompok, bukan pemihakan pada nilai (sekedar contoh, kita tentu masih ingat puisi berjudul “Doa yang Ditukar” karya Fadli Zon—mantan dewan redaksi malajah Horison yang kini lebih dikenal sebagai politisi). Justru, keterbelahan dua pendukung ini di saat tertentu “bisa disatukan” oleh produk karya seni  (termasuk puisi) yang menyentuh hati, macam “puisi kamarnya” SDD, puisi  spiritualnya IBS atau lagu-lagu patah hatinya Didi Kempot.

Jadi, ketika banyak orang mengutip atau membicarakan SDD, apakah otomatis mereka sedang berbicara tentang puisi? Apakah mereka tidak sedang membincang (nasib) diri mereka sendiri—diri yang sunyi, cemas, dan patah hati?

Memang selama ini praktik yang lazim terjadi, hanya segelintir orang yang peduli secara serius pada puisi. Tapi, mungkin akan ada yang berkata lantang: “Ini era milenial Bung, keadaan bisa saja berubah dengan cepat dan berbalik seratus delapan puluh derajat!!!”

Kita tunggu saja biar waktu yang menjawab. Tapi bagi pegiat sastra, tentu punya harapan besar agar Indonesia akan terus berpuisi sepanjang hayat.[]


Penulis:
Marwanto, lahir di Kulonprogo 17 Maret 1972. Baginya dunia menulis telah ditekuni selama hampir 30 tahun, sejak ia gabung di pers mahasiswa Fisip UNS Solo tahun 1992-an. Setamat kuliah ia menggerakkan aktivitas sastra di Kulonprogo lewat komunitas Lumbung Aksara (sejak 2006), menjadi pengurus Dewan Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo (2010-sekarang), mengetuai Forum Sastra-Teater Kulonprogo (2015-sekarang) serta mendirikan dan membina komunitas Sastra-Ku (2019-sekarang). Beragam jenis tulisannya, mulai dari esai, opini, cerpen, puisi, resensi buku hingga cerkak dimuat sejumlah media cetak dan online, diantaranya: Kompas, Jawa Pos, Meida Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Bernas, Harian Jogja, Solopos,Minggu Pagi, Gatra, Gong, Mata Jendela, Basabasi, Detikcom, Cendananews, dll. Buku yang pernah ditulis antara lain: Kado Kemenangan (kumpulan cerpen, 2016), Demokrasi Kerumunan (kumpulan esai,  2018), Byar: Membaca Tanda Menulis Budaya (kumpulan esai,  2019), Hujan Telah Jadi Logam (kumpulan cerpen, 2019), dan Menaksir Waktu (Pilihan Sajak, 2021). Karyanya dalam berbagai genre masuk di lebih dari 30 buku antologi bersama. Puisinya  yang berjudul “Celengan Jago Warisan Ibu” mendapat penghargaan juara pertama Pekan Literasi Bank Indonesia 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.