Puisi
Puisi Tonny Tokan

Puisi Tonny Tokan

LUBANG
Tiga Pertanyaan dalam Keheningan Para Perempuan

Perempuan Pertama
Aku tahu ini sulit bagimu. Tetapi pun sulit bagiku. Tubuh yang dipotong-potong,
Dipatahkannya seratus sembilan puluh enam tulang secara bersamaan,
Menangis dan mengerang, meratapi sendirian nyawaku di tempat tidur.

“Mengapa perempuan perlu melahirkan?”

Aku meratapi diriku pada suatu masa tanpa kau ketahui. Air mata itu—entah bagaimana
Bentuknya merengut seluruh diriku. Di dada itu, kebencian tumbuh
Menemani telapak tanganku dan malam-malam kesunyianku, selepas kepergianmu.

 

Perempuan Kedua
Aku kenal betul jenis kesulitan itu. digugurkannya musim waktu serta kekasihnya.
Di beranda itulah pertama kali kau mencium bibirku sebagai bentuk lain dari ikatan.
Kau bilang padaku, cinta tanpa ciuman adalah kesia-siaan.
Sebagai manusia tak luput dari dosa, mencium dan dicium adalah hal-hal biasa.

“Mengapa lelaki tak menyusui bayi mereka sendiri?”

Semisal aku dapat mengatakannya, kelelahan itu tak dapat dijumlahkan jikapun ia dapat
Diartikan sebagai perbuatan baik. Kesengsaraan itu meliputi daging dan darah,
Luka dan derita, membela tubuhku dari sana, mengeluarkan tanggal yang tak dapat dicatat
Dan hari yang tak dapat dibaca dengan baik kapan akan tiba.

 

Perempuan Ketiga
Tetapi tubuhku adalah tebing curam itu. Dicabutnya pepohonan tua dari sana,
Menjawab seluruh kekecewaan manusia.
Barangkali tak ada yang dapat menerka kapan akan datang hari ini
Sama seperti dadaku. Lubang di dadaku itulah air mata matahari.

Tetapi darah itu, darah yang mengeluarkanmu dari lubang,
Berisi seluruh keluh kesah dan teriakan, berisi waktu dan puisi,
Syair-syair tua yang tak dapat dibacakan kembali.
Ibumulah perempuan perkasa itu, menceritakan kembali seluruh perjalanan hidupmu.

“Mengapa untuk membentuk perempuan harus diambil dari tulang rusuk seorang lelaki?”

Kau di teras, aku di dapur. Menanak kegelisahan tentang pertanyaan-pertanyaan itu.
Aku lupa buatkan kau kopi, kau meneriakiku. Tetapi bukankah tugasmu adalah
Merawat kegelisahanku bukan memerintah ini dan itu.
Sebagai ganti aku buatkan kau susu, lalu kau menamparku.

Kekerasan adalah wajah dari anak serigala dalam dadamu. Tatapanmu itu,
Membatalkan matahari terbit, melahirkan ribuan kisah-kisah setelahnya,
Membuat anak cucumu menggali lubang dan memeriksa deritaku di sana.
Sebagai bahagia, juga sebagai duka, dari dalam lubang.

Yogyakarta, 2021

 

Kepada Tuhan yang Pemalu

Tak ada lagi siut angin atau derit gesek bambu di depan rumahmu. Di sana, di antara
Debu-debu menyedihkan itu, ada kabung berkepanjangan pada duka seorang perempuan
Yang entah, bertanya pada Tuhan yang pemalu, enggan menjawab setiap ratapan.

Kesedihan adalah nama lain dari debar dada. Mengganti bahagia menjadi kedukaan.
Melibatkan dirimu yang dahulu dan hari ini, membuatmu merasa jika hidup adalah kesia-siaan.
Harapanmu adalah doa-doa itu. Tetapi tak jarang Tuhan terlalu gerah.

Ia harus mandi dan ganti baju terlebih dahulu. Ia mengatakan
penderitaan membentuk manusia. Kau duduk dan memintanya menjadi manusia
Merasakan penderitaanmu, tetapi Ia tak menjawab. Barangkali Ia tak mau atau Ia tak siap.

Ia tak pernah mengunjungimu selepas itu. kau masuk ke kamar, menutup setiap pintu
dalam dirimu. Kepada Tuhan yang pemalu atau Tuhan yang entah.

Yogyakarta, 2021

 

MAUT
Lautan tunduk di kelopak matamu. Angin itu, angin timur perkasa.
Berisi Jumat pagi dan Minggu subuh. Ayahmu merantau ke laut, merebut maut dari sana.
Di hadapanmu, di depan matamu. Melupakan air matamu yang membatu.

Yogyakarta, 2021


Tonny Tokan, asal Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Sedang asyik menulis di blog pribadi www.eraarqiel.com dan menggelola akun instagram @indonesiatimurbicara. Suka jalan-jalan dan foto-foto. Penulis bisa dihubungi melalui instagram @Tonny_Tokan dan Facebook, @Tonny Tokan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.