Cerpen
Soliter

Soliter

1/

Mata-mata itu mengerkau bagai otoritas yang memberi panggung untuknya menayub lebih liar, serupa kisah perempuan nestapa, Troffea, berabad-abad lampau yang menari dan terus menari membabi-buta selama berhari-hari, berminggu-minggu, hingga telapak kakinya melepuh royak, kelelahan, lalu berhenti—selamanya.

Ini bukan sejenis wabah garib di Alsace. Bukan pula zaman ketika budak Afrika, perempuan tua, dan pengemis beluwek dituduh sebagai penyihir. Ini adalah zaman di mana kau bisa mengintip segalanya lewat sepetak layar tipis berdaya azimat oleh mantra kecepatan paket data serta uang kripto. Dengan amanat kamera, atraksi langsung melesat sepersekian detik ke ujung paling terpencil di dunia.

Tentu Sovia, dan hanya Sovia seorang, bintang dari sekian bintang yang berbinar malam ini dari setiap malam-malam panjang bersabur cela.

 

2/

Alarm pertama memekik saat Qiko masih berkelana setengah siuman di negeri antah-berantah dengan seekor kuda putih bercula dan bersayap di kedua sisinya. Ia menyasar di sebuah hutan aras berisi makhluk jelita pemangsa para perjaka yang hampir membuatnya semaput.

“Perempuan itu, Huldra, adalah mimpi buruk yang terlalu indah untuk membuatmu lelap selamanya,” si kuda sembrani tiba-tiba bertutur, ”anak ranum sepertimu sasaran empuk baginya.” Dengan kecepatan elang mencaplok buruan, tubuh Qiko terenggut saat bibir merah saga baru mengulum racun di ujung lidah, hanya berjarak sejauh dengusan hingga makhluk jelita itu berang, sumpah serapah di bawah mereka yang terlihat mengecil dari ketinggian.

“Makhluk apa engkau sesungguhnya? Kuda bukan, burung pun aneh,” tanya Qiko takjub.

“Aku adalah suka cita bagi jiwa yang sepi.”

“Seperti kado ulang tahun?”

“Ya, seperti ini,” makhluk putih itu melepas cula di dahinya tanpa mengeluarkan darah setetes pun. “Panasea ampuh untuk setiap kesedihan. Ambillah.”

Si kuda sembrani tengah menjelaskan rasam tuah tanduk itu ketika alarm kedua lagi-lagi menggebrak gendang telinganya bagai ingar-ingar barak serdadu. Nyaring sekali. Qiko merutuk. Bukan pada celomes jam beker semata, kecuali pagi dan rutinitasnya yang menjemukan—selain rasa muak di cermin betapa kenangan kerap menghantui, sedang hari esok masih mewujud spekulasi.

Seumpama dahan merengkah akibat angin, gemeretak berbunyi saat ia perlahan bangkit dari tilam. Para pelanggan cerewet itu tak ingin peduli seberapa teruk harimu. Gerutuan mereka di ujung telepon anggap saja harmonisasi konserto.

Di luar jendela, rerintik air melancip. Sewarna kelabu. Musim masih meredup sebelum sasi keagungan datang melelehkan lagi ingatannya.

 

3/

Entah akibat seringnya paparan lampu blitz atau mata yang mulai lamur, slogan-slogan di spanduk dan baliho itu seolah menyabur pirau dalam kerlip lelampu kota, melayang rendah, lalu hinggap di pelupuknya. Perihal mana yang lebih memukau atau membuat bibir merahnya termesem mengawangkan benak pada sengkarut riwayat.

Apakah ia hanya dilihat sebagai makhluk tropis nan eksotis penyulut api hasrat, atau manekin cantik yang kaku serta objek yang dapat diberlakukan sebagai apa saja di balik kaca etalase mal, kulit muka majalah pria, akuarium raksasa, labirin gelap jejaring data? Apakah ia sekadar maujud Venus dalam goresan kuas Titian di abad ke-16 yang masyhur hingga menginspirasi para trubadur palsu menghabiskan sisa malamnya secara menyedihkan?

Ia sulut sebatang rokok mentol. Aroma dingin menyelusup ke rongga dada. Sesuatu tertahan di sana. Sesuatu yang meluruh, jadi residu.

“Anak kecil yang kerap diejek jerapah berhidung bangir dan bersedu-sedu di pelukanmu dulu kini menjelma angsa putih memesona tanpa harus memuntahkan lagi apa-apa yang ditelan atau setengah mati berlari di panas terik, Bu. Usah lagi risau soal kehidupan atau Bapak yang raib entah ke mana. Kita bisa bertahan. Kita bisa seperti orang-orang. Kita bisa ….” kenang Sovia tak bersuara.

Memikirkan Ibu, rasanya ingin ia melesat bagai burak di antara rerimba pencakar langit sampai ke dusun yang hijau bersetapak tanah merah. Belum tiba ambang musim. Ia teringat perkataan seseorang dulu, “Kalau ingin melihat kerlip cahaya abadi, pergilah dari sini. Kunang-kunang sudah pindah ke kota.”

Dihembuskannya asap terakhir pada wajah malam—yang semakin beranjak, semakin tak bisa ditebak. Ribuan kunang-kunang berpendaran. Merayu lentik bersaput temaram.

Sovia gegas turun dari taksi. Menapaki undakan ornamental, kibasannya meruap beraroma asiri. Dan seperti biasa, waktu masih akan panjang malam ini.

 

4/

“Menurutmu berapa banyak manusia yang mati sejak Bumi diciptakan?” tanya gadis bermata bulat itu seolah kematian tak ubahnya karya wisata.

“Entahlah. Pasti banyak sekali.” Ia membetulkan posisi kacamata.

“Mengapa Tuhan menciptakan orang lalu mematikannya? Di mana kira-kira mereka sekarang berkumpul, ya?”

Seketika tebersit ingatan Qiko pada obrolan aneh belasan tahun silam. Bukan dengan anak-anak basket yang kerap menabraknya sewaktu istirahat. Tidak dengan para murid teladan, jagoan sekolah merangkap duta tawuran yang sering menodongnya uang jajan, atau gadis-gadis kenes primadona.

Saat itu guru secara sengaja menukar teman sebangku dalam satu mata pelajaran. Awalnya ia bertanya tentang orangtua, Qiko bilang, ibunya meninggal saat melahirkan adiknya. Tentu ia tak jujur; Ibu minggat dari rumah membawa serta saudara-saudaranya ketika Bapak dipenjara terkait masalah hukum dan ia harus hidup dengan Eyang. Terlalu getir untuk sebuah percakapan dengan gadis penyuka Cinderella. Reporter yang sedang berbicara itu mirip dengannya, kecuali jambon tebal di tulang pipi dan minus kacamata.

Ia ganti saluran berita. Semua mewartakan peristiwa yang sama.

Pandangannya kian lekat ke layar televisi. “Betapa mengerikan,” ia terhenyak. Sebuah rekaman memperlihatkan seorang pria tiba-tiba ambruk begitu saja di pinggir jalan. Pagebluk dahsyat tengah menyeruak, mewujud virus mematikan. Awalnya diremehkan, namun kian menghabisi. Jumlah orang yang tewas menanjak dari hari ke hari, dari satu kota ke ujung batas negara hingga tak berbatas sama sekali. Setiap warga wajib menjaga jarak. Setiap sentuhan bagai kutukan mantra kematian—bak tuah Midas dan Medusa yang tertukar. Para tenaga medis kewalahan. Banyak penguburan massal terpaksa digelar.

“Zaman makin edan!”

Qiko mengambil laptop. Terbayang di kepalanya sebuah larik untuk ditulis.

Malam sunyi, malaikat maut tertawa
Kala sepasang iblis malih rupa
Mewujud lagam berahi.

Seakan Sartre meracau di telinga, “Orang lain adalah neraka.” Tanpa wabah pun ia terbiasa mengisolasi diri di kamar sepulang kantor, setiap kesabarannya habis diperas untuk melayani. Namun, kebisingan bermigrasi ke layar televisi dan media sosial. Orang-orang saling berbalah hukum perihal apa yang sejati dari maut (dan rasa takut).

Jadi inilah perang dunia ketiga itu: distopia bakal sejarah yang muram. Maut bukan barang baru, tetapi selamanya asing*. Lama-lama ia merasa terteror.

Ia buka lemari makanan, “Sial, kopi gula amblas!”

 

5/

Sebelum rumah gedong orangtuanya dijual untuk biaya sana-sini sehabis persidangan dan mereka pindah ke sebuah dusun, ruang pribadi Bapak yang kerap dikunjungi banyak tamu dari partai itu selalu jadi favoritnya. Banyak buku-buku cerita yang ia baca dan masih melekat di kepala, terbawa sampai mimpi, seolah buku-buku itu mewujud Ibu yang meninabobokannya setiap malam; “Syahdan si anak berkacamata itu lejit menghalau para Varangian tengik penyiksa kaum terjajah di atas gelombang bengis Kaspia, dengan kepakan sayap funiksnya melayang di atas langit tanah asing, sungai purba, lembah angker, padang gurun kerontang, bersiterbang dengan sembrani putih, lantas diam-diam merindukan Huldra dan Hetaira, si jalang dari Trakia.”

Di sela waktu yang lompong, sesekali ia untai sepotong cerita pendek dan puisi untuk koran-koran mingguan. Ia pernah punya seorang kekasih. Tetapi, pada suatu hari yang selalu memungkinkan, perempuan itu pergi—sebagaimana laiknya sang Ibu pergi dari kehidupannya.

Ia butuh keheningan lain untuk menetaskan cerita. Lama terkurung bakal menciutkan otak.

Di kesunyian yang telah berganti cangkang, tepatnya di sebuah tepi antara jaga dan mimpi, tiba-tiba ia telah berdiri di persimpangan. Barusan teringat, ia hendak mencari minimarket yang masih buka. Tapi, ia tak ingat waktu.

Waktu serasa asing di celah cahaya seiras gerhana. Tak ingat arah ke mana harus ia layangkan langkahnya di jalanan lengang dan sunyi ini hingga hembuskan rasa masygul pada kerling diorama beku: bangku taman, katedral, musala, pertokoan, kuil, gedung perbankan, warung kopi, halte, dan stasiun kereta yang di pintu masuk gerbangnya terpampang sebuah lukisan wajah perempuan ala Mesir bergaya rokoko.

Mengingatkannya pada kisah Rhodopis; yang ketika mandi di Naucratis, seekor burung liar mengambil sebelah terompahnya hingga jatuh ke tangan raja Mesir yang tak luput dari gelisah akan tanya, “Duhai siapa pemilik terompah cantik ini?” hingga berkaul akan menjadikannya kelak seorang ratu.

Mengingatkannya pada si gadis Cinderella belasan tahun silam di bangku sekolah.

Aku tak mau jadi belatung kalau kelak mati. Aku mau jadi kunang-kunang, ucapan gadis itu melikat dalam kepala.

Tak ada petugas, tak ada satu pun manusia atau malaikat penolong berpakaian hazmat. Apakah ini mimpi? Atau rohnya tengah gentayangan, menyembul dari tubuh yang melunglai di ruangan putih seputih rambut-rambut halus sembrani, ia tak mampu pastikan.

Apakah orang mati menyadari kalau ia telah mati? ia membatin.

Sebelum pertanyaan itu pupus terembus angin yang makin dingin di tengkuk, seiring peringatan  keras yang ia abaikan untuk tetap berada di rumah, lamat-lamat terdengar suara dari kejauhan, selain gemeresik dedaunan kering, menggenta nyaring dalam kesunyian.

Nada-nada melankolis seanggun nomor Vivaldi seperti mata kompas yang menunjukkan arah padanya melangkah semakin gegas menuju sebuah pelataran dekat bulevar yang telah disulap menjadi taman kota.

Ternyata ada orang lain di sana! Seseorang yang senasib dengannya.

Betapa terperangah Qiko tatkala ia dapati sesosok perempuan cantik sedang menari dan terus menari gemulai dengan ujung-ujung kaki lentuk, sesekali meliuk lontai di antara tiang-tiang ayunan, mengikuti irama musik yang berasal dari entah—tiada yang lebih ingin ia ketahui sejak mata bulat itu mengerkau ingatannya.[]

~ Bojongsoang, Maret 2020.

 

Penjelasan
*Dari catatan pendek Goenawan Mohamad bertajuk “Oimeddam”


D. Hardi lahir di Bandung, 26 Agustus. Menetap di Bandung. Karya telah tersiar di berbagai media cetak dan digital seperti Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Solopos, Padang Ekspres, Detik.com, Bacapetra.co, Magrib.id, Satupena.id, dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.