Puisi
Puisi Mahdi Idris

Puisi Mahdi Idris

Bagi yang Jauh
– Aduen Arafat

Berkeping-keping doa kukirimkan
bagimu yang jauh dari tanah serambi
agar kau ingat kami yang senantiasa
berharap kepulanganmu;
menjenguk siapa yang masih merawat cinta.

Biarlah kenangan luka itu mengalir
ke samudera terjauh, menemukan
kesembuhan sendiri. Sebab kami
adalah orang-orang yang tak mungkin
kaujauhi sejarak apapun perjalanan
rahasia yang kaurencanakan.

Lhoksukon, 2019

 

 

Doa Seorang Anak Laki-laki

Anak itu sudah lama berdoa,
sejak kakek dan ayahnya pergi
ke rimba. Kepada Tuhannya, ia lengkingkan doa-doa.
Sesekali ia bingung untuk apa berdoa. Dan bagi siapa
ia persembahkan doa.

Tuhannya telah menyusun doa-doa itu
dalam lemari kayu lapuk. Semakin hari,
doanya bertambah banyak.

Ia selalu berdoa yang sama. Doa agar kakek dan ayahnya
kembali dari belantara, meskipun jeritan arwah mereka
sering menyusup dalam tidurnya.

Tanah Luas, 2019

 

 

Bagaimana Melupakannya

Aku percaya, kau takkan lupa tahun-tahun
diburu peluru dan waktu yang berjalan lamban
di jalan perkampungan, menunggu malam
menjemput kita satu per satu.

Salah satu dari kita adalah tubuh yang diseret-seret
menuju lubang kematian yang selalu digali
untuk membungkam rahasia
atau sebagai pemberontak yang enggan melunak.

Kau tak mungkin melupakannya
jiwa kita adalah sebutir peluru
yang tertimbun di lubang ladang subur,
kelak ditembakkan ke tubuh-tubuh lugu
yang tak mengerti mengapa jiwa pemberontakan
tak pernah lenyap di tanah ini.

Bagaimana melupakannya?

Tanah Luas, 2019

 

 

Serunee Kalee

Nyanyian-nyanyian itu selalu muncul dari mulutmu
tiap kali Serunee Kalee berbunyi dari yang entah
sebab peniup tak pernah berwujud di panggung
atau di mana engkau sering menyanyikan lagu kesayangan
kepada siapa yang masih setia pada tanah kelahiran.

Suaramu kian parau menyanyikan lagu
atau menghikayatkan riwayat
seorang pengkhianat tak ingat tanah kelahiran.
Kau iringi Serunee Kalee dengan cara sendiri,
tanpa musik lain.

Dan kau terus belajar
mendengar suara Serunee Kalee yang bijak
menidurkan tubuh dalam dengung petuah
nenek moyang.

Tanah Luas, 2019

 

 

Jadwal Pertemuan

Di lembah kawah matahari, kutenggelamkan bulan serta halaman
kalender yang makin tua. Ke ruang cahaya, kutuju jadwal perjalanan
yang tersendat dalam kepadatan pertemuan. Beribu musim,
matahari naik turun, mengantar pagi ke ruang malam. Aku duduk
di antara mulut yang berbicara.

Hari terus melangkah, melewati pertemuan
yang ganjil dan genap, serupa titah yang patah menjadi
sebatang pohon dan ranting-ranting berserak diranggas angin.
Satu per satu berhimpun, menjadi ladang kering.

Setelah tubuh-tubuh raib di penghujung petang, aku menghimpun
kata-kata. Tenggelam dalam kalimat panjang, kadang terpenggal
tanda baca. Tubuhku terhenti di tengah jalan lintas waktu.
Bulan mengoyak-ngoyak baju dan celanaku. Selalu ada
yang muncul setelah kutambal pada satu bagian.

Tanah Luas, 2019

 

 

Memburu Geureuda

Telah kukejar tubuhmu di rimbun hutan. Kuburu kau
dengan hasrat kuat, ke mana bayang berlari. Tak kutakuti
kutuk sayap, juga paruh tajam yang mendatangkan maut.
Sebab aku Malem yang tahu siapa mangsa yang kauburu.

Bertahun-tahun aku saksikan kau mencengkeram tubuh utuh,
menerbangkan ke hutan bakau. Paruhmu mengoyak kulit,
meretakkan kepala. Orang-orang menjerit, menangisi kehilangan.

Aku tak lagi mempertimbangkan kita saudara seibu.
Telah kupatahkan batang persaudaraan. Sebab kau telah menjelma
Geureuda; burung raksasa yang tak kenal budi. Jiwamu yang karang
tak runtuh dihempas ombak.

Di Tanoh Timoh aku tunggu kau. Sebilah pedang oen jok
kuselipkan di pinggang. Kita berperang sampai tubuhku
melaut darah. Sampai tubuhmu kehilangan sayap.

Tanah Luas, 2019


Mahdi Idris, lahir di Aceh Utara, 1979. Karyanya sering dimuat berbagai media lokal dan nasional. Buku puisinya antara lain Kutukan Rencong (2018) Sebatang Pena di Meja Penyair (2018) Doa dalam Tidur (2019), Membaca Tanda (2019), dan Rawi Tanah Serambi (2020). Saat ini bermukim di Tanah Luas, Aceh Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.