Cerpen
Diari

Diari

DINA tertegun di depan gerbang sebuah rumah. Rumah bagai istana. Rumah yang luasnya ratusan kali rumah kontrakannya. Apalagi megahnya. Rumah berpagar besi setinggi dua meter lebih, taman tertata indah, bertingkat entah berapa lantai dan berbalkon. Seperti rumah mewah di sinetron nasional.

Dina mendekap diarinya lebih erat. Ragu untuk memijit bel yang tersembunyi di tembok gerbang. Dia tidak mengira rumah calon kliennya semegah ini. Dina ragu bukan hanya karena rumah megah. Dia tidak tahu materi apa yang mesti disampaikan kepada calon muridnya. Calon muridnya yang bisa jadi lebih pintar, lebih berwawasan, dan lebih berpengetahuan perkembangan zaman.

Tapi, dia sudah bertekad. Apa pun yang terjadi, dia harus berani mengambil pekerjaan ini. Pekerjaan yang tidak terbayangkan cara mengerjakannya. Dan, tentu banyaknya bayaran yang dijanjikan. Dina seperti hidup dalam mimpi.

Semua bermula dari seminggu lalu. Saat dia sedang nyambil jadi asisten Mbak Rum di kios bakso, ada pelanggan yang membicarakan tentang lamaran pekerjaan. Katanya gajinya lumayan tinggi, minimal sepuluh juta rupiah. Tapi hari itu terakhir. Saat membereskan mangkok-gelas kotor, Dina menemukan secarik kertas berisi alamat dan persyaratan lowongan pekerjaan itu. Ingat di rumah punya dokumen yang sudah lengkap untuk melamar, Dina minta ijin pulang, setengah memaksa, tidak memperdulikan Mbak Rum yang menggerutu tidak akan mengajaknya lagi bekerja.

Di rumah Dina tertegun saat membaca persyaratan di secarik kertas itu. Pendidikan S1 dan berpengalaman. Tentu dia tidak akan melepaskan pekerjaan membantu Mbak Rum bila membaca persyaratan itu tadi. Dia hanya lulusan SMK. SMK di pinggiran kota yang muridnya hanya sepuluh orang. Dan hasil ujiannya pun pas-pasan. Pengalaman bekerja juga belum ada. Kecuali menjadi asisten Mbak Rum, pencuci piring-gelas di rumah makan, atau pencuci di laundry. Tapi, setiap teringat begitu butuhnya dia dengan penghasilan besar, cepat-cepat dikirimnya lamaran pekerjaan itu melalui pos.

Tentu saja Dina tidak mengira ketika dua hari lalu ada yang menghubungi. Ibunya yang sedang bekerja di laundry pulang. “Ada yang nelpon kepadamu, sudah dua kali,” kata ibunya. Hari itu Dina tidak ikut bekerja di laundry, karena harus menyiapkan sekolah dua orang adiknya yang masih kelas 1 dan 3 Sekolah Dasar. Dan siangnya harus memasak untuk makan siang sekeluarga.

Hp satu-satunya di keluarga Dina itu berdering.

“Ini betul dengan Dina Mahyana?” tanya dari seberang.

“Betul,” jawab Dina gugup.

“Betul hobi kamu menulis buku diari?”

“Be… betul.”

“Besok ditunggu di kantor pukul sembilan pagi.”

“Ini… tentang lamaran pekerjaan itu?” Dina ragu mengatakannya.

“Iya… tentang pekerjaanmu. Jangan lupa, bawa buku diarinya ya.”

Dan di kantor kontraktor nasional itu Dina diarahkan ke ruangan Bu Aminarti. Ruangan di lantai tiga itu begitu luas dan menyenangkan. Sebuah ruangan kerja yang tidak terbayangkan di kepala Dina.

“Sejak kapan menulis buku diari?” tanya Bu Ami.

“Emh… kelas empat SD,” jawab Dina gugup.

“Sampai sekarang masih menulis diari?”

“Masih.”

“Ow, asyik sekali.”

Dina tidak mengerti, apanya yang asyik? Dia menulis diari karena tidak ada lagi keasyikan lainnya. Televisi 14 inc yang selalu menayangkan sinetron telah rusak. Tidak boleh meminjam hp. Karena setiap dia memegang hp, empat adiknya selalu ikut memegang dan memijit. Dan, Ibu akhirnya marah karena pulsanya katanya habis. Itu hp satu-satunya di keluarga Dina. Kadang dibawa Ibu kadang dibawa Bapak.

Berkali-kali hp itu digadaikan untuk membeli beras. Tapi, Ibu dan Bapak selalu menebusnya lagi. Ya, karena hp itu sangat perlu bila ada yang meminta Ibu atau Bapak untuk bekerja. Dan, suatu hari saat membantu Bapak mengeluarkan barang-barang rongsokan dari gerobak, Dina menemukan diari itu. Diari yang telah terisi setengahnya. Dina membaca diari milik seorang murid SMP itu. Karena tidak ada alamat dan apa pun yang bisa dihubungi, mungkin biodatanya sudah dikoyak, Dina tidak bisa mengembalikan diari itu.

Beberapa minggu kemudian Dina mulai menulis diari itu. Hampir setiap hari. Tidak bisa berhenti.

“Orang tuamu bekerja di mana?” tanya Bu Ami setelah sekian lama terdiam.

“Serabutan.”

“Maksudnya?”

“Kadang jadi tukang cuci di laundry, kadang nyuci piring-gelas di rumah makan, kadang mulung rongsokan.”

“Oh.”

Dina menunduk. Dia sudah terbiasa melihat orang tersenyum sinis, mendengar nada melecehkan, kadang menghina blak-blakan saat tahu pekerjaan keluarganya. Tapi, kali ini dia tidak siap. Dia hanya ingin ditanya tentang pekerjaan. Dan, diputuskan, diterima atau tidak. Karenanya dia gelisah dari tadi, buku harian yang dipegangnya basah oleh keringat.

“Parasit dong,” kata Bu Ami spontan.

“Maksudnya?”

“Ada film terkenal dari Korea, Parasite judulnya, film Asia pertama peraih Academy Award, tentang kemiskinan kronis yang….”

Dina semakin gelisah. Dia tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu. Kemiskinan kronis dekat dengan kriminalitas? Dina harus mengakui, keluarganya babak-belur menolak perilaku jahat. Bapak dan Ibu berani bekerja dari subuh sampai larut malam, berani bekerja saat badan sakit, demi menolak perbuatan jahat. Dina semakin mengerti itu. Makanya dia menulis panjang di diari tentang adiknya yang kelas 3 SD mencuri hp tetangga saat ikut menonton sinetron. Menulis dengan hati hancur saat adiknya yang kelas satu SD memungut bangkai ayam di tempat sampah. Ikut marah saat adiknya yang kelas tujuh SMP mengambil sepeda temannya. Dan, yang paling menyakitkan saat Bapak, malam-malam, mengambil singkong di kebun orang. Ibu merebus singkong itu sambil menangis.

“Apa saja yang biasa ditulis di diari?” tanya Bu Ami lagi.

“Apa saja, Bu,” jawab Dina cepat. Dipegangnya diarinya lebih erat. “Tentang keluarga, sekolah, cita-cita, juga tentang orang-orang nyinyir seperti Ibu.”

“Maksudnya?”

“Ibu sudah menyakiti orang lain dengan komentar seperti itu. Ibu tidak tahu bagaimana babak-belurnya perasaan keluarga saya menolak perilaku jahat. Tapi, keluarga saya bukan parasit. Ibu dan Bapak, juga saya sekarang, bekerja dari subuh sampai larut malam.”

“Oh, maaf. Maaf. Bukan itu maksud Ibu.” Bu Ami cepat juga mengatakannya. “Kamu adalah gadis yang luar biasa, dengan kebiasaan yang luar biasa juga.”

“Jadi, bagaimana dengan lamaran saya?” tanya Dina akhirnya. Diarinya yang dipegang erat semakin basah oleh keringat. Dia tahu, sangat kecil kemungkinannya diterima bekerja. Bukan sarjana, tidak berpengalaman, makanya hanya ditanya mengenai diari yang entah apa maksudnya.

“Kamu gadis yang beruntung. Menulis diari itu kebiasaan yang luar biasa saat ini. Banyak anak yang tersesat sejak kecil, di dunia maya, menjadikan mereka tidak peka lingkungan, rapuh, punya masalah psikologis yang kompleks, stress yang semakin kronis. Hanya karena kehilangan kucing peliharaan, dunia seolah runtuh. Ditinggal pacar, dunia maya sudah linglung. Hobi membully dan hancur saat dibully.”

Dina yang semakin gelisah, gemas, tidak berdaya melihat wajah Bu Ami yang muram. Dia sebenarnya ingin segera pulang. Ingin mengakhiri bincang-bincang tidak berarti ini. Dia menyesal sudah menghabiskan puluhan ribu rupiah untuk memenuhi panggilan kerja tidak masuk akal ini.

“Maaf Bu, saya memang sangat membutuhkan pekerjaan. Tapi, saya tidak punya waktu untuk…,” kata Dina akhirnya.

“Ya, ya Ibu sangat ingin kamu bekerja untuk Ibu. Tapi, tidak di sini. Tidak di perusahaan ini. Kamu bekerja di rumah Ibu, mengajarkan menulis diari anak Ibu. Kamu harus tahu, Ibu ini bukan bagian personalia di perusahaan ini. Ibu adalah ceo sekaligus pemilik tunggal perusahaan ini.”

Dina lemas mendengarnya. Dia memang sudah tahu, tidak akan masuk daftar pelamar yang dibutuhkan perusahaan. Tapi, sebagai guru les menulis diari, paling hanya mendapat ongkos.

“Gajinya masih sepuluh juta rupiah. Tapi, Ibu ingin, kamu pun berteman dengan Rianti, anak Ibu satu-satunya, kelas tujuh SMP. Dia kesepian, tidak punya teman. ”

Dina terpana mendengarnya.

Kali ini, saat hendak memijit bel rumah, ragu itu muncul lagi. Bu Ami memang kaya, tapi Dina masih belum mengerti kesanggupan membayar mahal untuk guru les menulis diari. Dunia mungkin semakin kecil, semakin terhubung dengan jaringan, tapi semakin sulit dimengerti.

“Ini Mbak Dina?” tanya satpam wanita yang membuka gerbang.

“Iya.”

“Sudah ditunggu sama Ibu.”

Dina melangkah melewati gerbang.

“Maaf Mbak, ngomong-ngomong, Mbak ditawarin kerja apa?” tanya satpam berseragam putih itu.

“Memangnya kenapa, Bu?” Dina balik bertanya.

“Sudah lima orang yang bekerja mengurus rumah ini. Padahal Ibu sudah berpisah dengan Bapak.”

“Saya mau mengajar putrinya, Mbak.”

“Non Rianti?”

“Iya.”

Satpam itu tiba-tiba memegang tangan Dina. Tatapannya begitu membingungkan.

“Kenapa, Mbak?” tanya Dina.

“Non Rianti, sudah meninggal, dua minggu lalu. Bunuh diri, meloncat dari balkon tingkat empat, katanya karena stres tidak bisa mengerjakan PR sekolah, tidak bisa menulis buku harian. Mbak tidak tahu, beritanya ramai di internet?”

Dina terpana, seperti arca.[]

~Rancakalong, 13-2-2020


Penulis:

YUS R. ISMAIL, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novel Tragedi Buah Apel terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019. Cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan Media Indonesia, Jawa Pos, detik.com, Kompas.id, Koran Tempo, Kompas, Femina, Nova, basabasi.com, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Lampung Pos, Padang Ekspress, Republika, dsb. Sekarang tinggal di kampung Rancakalong, menanam bunga hias dan menulis.

1 thought on “Diari

Leave a Reply

Your email address will not be published.