Puisi
Puisi-Puisi A Warits Rovi

Puisi-Puisi A Warits Rovi

SEKERAT MAYANG DI DADA LELAKI TUA

mendaki takik dari sebuah pagi berbibir asap
rimba bunga asoka jauh melabur subuh dengan doa embun
dan perempuan yang tertidur di dekat gerabah
menuntaskan rasa nyerinya ke dalam tiga babak mimpi
yang tak kunjung usai hingga pagi datang dari bilah pering kuning
menegaskan hening yang runcing

kaki lelaki tua itu telah paham; daki ke daki
pantun nasib didengar matahari
kaki yang berkali-kali tegores dan pecah itu lihai
menempuh waktu walau kuku robek terantuk batu

tangannya yang kerap gemetar tetap kuat memegang salampar
ujung sepuluh jemarinya bermata oase
telah mengirim air lain ke dalam kemarau dadanya
seraya menyapa kulit siwalan dengan ketuk pelan
titah lembut perkampungan; di balik apa yang tak terungkapkan
ada Tuhan dan harapan.

ia terus mendaki dan mendaki
bunyi lesung dan lumpang terdengar di kejauhan
serupa tausiyah ibu melaru hatinya yang berdebu
ia terus mendaki ketinggian dengan setimba harapan
menantang angin dan mata cakrawala hingga ia gapai serimbun mayang
dikeratnya perlahan; bekas keratan yang memancar lahang
diam-diam merampungkan firman ke sudut dadanya
yang ditekuk gelombang dan topan

wahai hidup yang manis di ketinggian; janji takdir di rahim
merentangkan jalan lewat kecup bibir mayang
selagi tanah ini milik ibu tak usah hidup dengan sepanggul ragu

kemudian lelaki tua itu turun dari atas siwalan
seperti prajurit menuntaskan peperangan
dari takik ke takik, ada tepuk tangan dan sorak rahasia
dan bila tiba memijak tanah
; sisa sekerat mayang yang lekat di dadanya
ia tunjukkan kepada istrinya sebagai permata surga
yang lebih dulu jatuh ke dunia.

Bungduwak, 2021

LUKISAN DUA EKOR BURUNG
:Ayah
batas akhir sapuan kuasmu merampungkan formula lembut
warna megenta, urai tikai garis menjelma ranting
dan segala titik absurd telah jadi dua ekor burung
yang ditunggu langit dan udara

ranting dan burung membagi murung
sedang di datar belacu tua kehidupan tak bisa dibagi dua
jantung tunggal terperam warna
mengirim kehidupan kepada mata
dua burung harus sepakat dalam menerima warna
dari tuannya sebagai takdir tak terbantah

apa yang mesti jadi bulu
sudah kaucita-citakan sejak dahulu; klimis dan berumbai
meramu sapa bagi bukit dan lembah
dan di balilk itu dua burung harus menyiapkan sayapnya
bila cakar angin utara datang tak terkira

dua burung oret akhir kuasmu itu telah mengikat
makna lain ke dalam hati seorang penikmat lukisan
: mungkin bermakna tangisan atau mungkin gelak kebahagiaan

dua burung di ranting absurd itu; adalah kau dan aku
melukis kehidupan semu dalam waktu yang kerap berdebu.

Gaptim, 2021


DI MANA SAPI KARAPAN INI HARUS DIPACU?

sejak jatuh terjual ke tangan orang luar
tanah lapang itu memutus nasab dengan kita
pohon-pohonnya lekas diganti besi
daun yang jatuh terperam ke perut bumi
membawa kenangan yang tak berguna lagi
bulan dan matahari menanggung sepinya sendiri
seperti teriris luka bersandar bahu beton dan baja

sejak saat itu, sapi karapan hanyalah miniatur kehidupan purbakala
yang kedua matanya berlumut dan empat kakinya terbenam lumpur
tak lagi punya lapangan untuk dipacu
di kandang yang juga dibidik para kapitalis untuk digusur
sapi itu meruwat dirinya dengan air mata
sebatas mengenang masa lalunya di gelanggang
yang kini telah berubah
: tak ada lagi sorak dan tepuk tangan
derap kaki pejantan ditukar dengan sejumlah uang
dan musik saronen yang dulu menjeritkan puisi ke hati nurani
telah terabaikan dalam ruang penuh debu
bersanding hati yang juga berdebu.

Gapura, 2021

BUNGA ASOKA DI HALAMAN
dengan dekap yang merumpun
tangan-tangan rahasia bunga itu saling berpegang
teguh menjalin rasa dalam keabadian warna merah

kepada angin yang memotong jarak kesepian
ia bersandar, berbedak embun sepanjang malam
sebelum berciuman dengan matahari
melupakan pisau-pisau nyeri

kelopak halus yang digugurkan menjelang subuh
pagi ini menandai pergantian musim
yang diamini iktidal pohon mangga
dan dirasakan hatiku yang mengingat namanya
:nya yang rahasia
yang bersemayam sebagai bunga
dan berkuntum dalam takar musim lain di dalam dada

__semerah bunga asoka.

Gapura, 2021

MAKAM BHAJANG
makam kecil ini adalah rumah bayi
yang cuma sebentar melihat dunia
harta semata hanya nama pemberian orangtuanya
yang kini dipahat di epitaf bata
sebagai tanda kematian paling belia
supaya peziarah mengerti
bahwa mati adalah misteri paling misteri
yang datang dengan cara mencuri

kini, di rumah kecilnya itu
ia mengisap puting waktu
hangat berpopok cuaca
dan ada yang memanggilnya dari surga

“kemarilah, Nak! di sini rumah aslimu
di dunia kau sengaja tak diberi waktu
supaya selamat dari segala tipu,”

bayi itu melirik yang memanggilnya itu
sambil berharap bisa bertemu dengan bapak-ibu

Sumenep, 2021


Penulis:
A Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media cetak dan daring. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018), “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Bisa disapa melalui email: waritsrovi@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *