Cerpen
Gracella

Gracella

GADIS kecil itu terkurung di dalam tabung kaca raksasa berisi cairan putih kental seperti santan. Ia menggeliat, meronta-ronta, berupaya memecahkan tabung itu sekuat tenaga. Dengan tangan dan kakinya, ia memukul dan menendang, bahkan ia juga membenturkan kepalanya hingga terdengar bunyi ‘dung-dung-dung’ yang menggema panjang, memenuhi lorong-lorong, ruangan demi ruangan di dalam sebuah objek terbang raksasa yang sedang berlabuh di sudut jauh galaksi Andromeda.

Suara itu memancing sesosok makhluk cebol berjubah biru mendekat ke tabung kaca sambil berjalan tergopoh-gopoh. Jari tangannya yang bercabang dua ia tempelkan ke dinding tabung. Si gadis kecil berhenti meronta, beberapa detik ia tertegun dengan sepasang mata berkedip-kedip antusias. Dari balik tabung itu, ia memandangi makhluk cebol dengan saksama.

“Kau sudah bangun?” tanya makhluk cebol sambil menekan tombol-tombol panel yang berada di samping tabung. Saat jemari aneh itu menekan tombol-tombol, terdengar bunyi ‘ssshhh’ yang cukup panjang. Satu persatu selang yang terhubung ke tabung terlepas. Cairan putih keruh yang tadi merendam sebagian tubuh si gadis kecil, kini perlahan menyusut dan mengalir ke sebatang pipa yang tertanam di lantai.

“Keluarlah,” kata makhluk cebol dengan suara seraknya. Ia menjulurkan tangannya yang berjari ganjil itu, menyambut jemari si gadis kecil dari dalam tabung. Si gadis kecil kelihatannya hendak berkata macam-macam, tetapi bibirnya hanya mampu bergerak-gerak saja, wajahnya menampakan kebingungan.

“Jangan dipaksakan,” kata makhluk cebol menyeringai. “Memorimu belum terisi. Masih ada serangkaian prosedur lagi yang harus kita selesaikan sebelum kau betul-betul siap.”

Dari sebuah brankas besi yang terletak di sudut ruangan, makhluk cebol mengeluarkan satu stel pakaian. Si gadis kecil memandangi pakaian itu tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Makhluk cebol tertawa, kemudian mengajari si gadis kecil mengenakannya.

“Penampilanmu sungguh sempurna,” gumam makhluk cebol. Dengan matanya yang berjumlah tiga di pertengahan kening, makhluk cebol itu memandangi tubuh si gadis kecil yang tampak cantik dalam balutan ketat pakaian biru metalik.

“Sekarang tinggal meng-install data yang dibutuhkan,” ucap makhluk cebol. Ia mengangkat tangan dan memberi isyarat pada gadis kecil agar mengikutinya.

Si gadis kecil tidak menjawab. Ia mengikuti langkah makhluk cebol itu menuju pintu yang mengarah ke ruangan lain. Si gadis kecil mengekor sambil melihat ke kiri dan ke kanan, berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya. Langkah mereka berhenti di muka sebuah ruangan yang tertutup pintu yang terbuat dari baja tebal.

Si makhluk cebol menyentuh sebuah tombol di permukaan pintu dan seketika muncul layar hologram dengan aksara-aksara berbentuk simbol-simbol. Pintu baja itu terbuka, menimbulkan suara derit keras yang dingin. Setelah itu mereka lanjut melangkah, menyusuri ruang demi ruang yang menyimpan tabung-tabung raksasa di sepanjang lorong yang mereka lewati. Di dalam tabung-tabung itu meringkuk tubuh anak-anak telanjang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka semua terendam dalam cairan putih keruh, persis seperti kondisi si gadis kecil beberapa saat yang lalu.

“Mereka adik-adikmu,” kata makhluk cebol. Ia seolah mengerti apa yang dipikirkan gadis kecil yang berjalan di belakangnya. “Tak akan lama lagi mereka juga akan keluar dari tabung-tabung sialan itu dan menyusulmu. Sebenarnya, aku mulai bosan dengan pekerjaan ini. Aku harap ini berakhir secepatnya.”

Selepas jejeran tabung kaca, mereka memasuki lorong panjang penuh cahaya. Di kiri kanannya terdapat ruang-ruang kosong yang tak jelas apa fungsinya. Lukisan-lukisan anatomi tubuh manusia bergantungan di dinding. Di tikungan bercabang dua, makhluk cebol membelok ke kiri, berjalan sekitar sepuluh langkah, lalu berhenti.

“Ini ruangan yang akan menjadikanmu manusia seutuhnya.” Makhluk cebol menoleh pada si gadis kecil, sambil menekan tombol dengan simbol aneh di depan pintu. Makhluk cebol itu melanjutkan kata-katanya. “Kau diciptakan sebagai senjata. Ada agenda besar yang harus kaulaksanakan.”

Pintu yang terbuat dari lempengan baja berukir simbol-simbol herioglif itu bergeser ke samping, secara perlahan masuk ke dalam dinding dan menghilang. Si gadis kecil bergumam. Saat si makhluk cebol melangkah ke dalam ruangan, gadis kecil itu tak bergerak. Ia melongok ke dalam, memperhatikan dari luar dengan waspada.

“Sabarlah. Sebentar lagi kau akan mendapat jawaban,” kata makhluk cebol. Ia menuding ke sebuah ranjang besi di sudut ruangan. “Sekarang berbaringlah di situ. Aku akan menyiapkan semuanya.”

Ruangan berlangit-langit tinggi berbentuk kubah putih itu cuma berisi satu ranjang besi. Pada bagian sandarannya, ranjang itu disetel lebih tinggi. Si gadis kecil berbaring setengah duduk di atasnya. Makhluk cebol menancapkan kabel seukuran telunjuk ke belakang leher si gadis kecil. Kabel itu terhubung ke panel persegi empat yang berada di samping ranjang, serta dipenuhi lampu warna-warni. Meski tak terlalu keras, namun bunyi ‘derrrtt’ yang memanjang dari panel itu terdengar jelas. Tubuh gadis kecil bergetar halus ketika makhluk cebol menekan tombol merah pada panel di dekat ranjang.

Cahaya biru redup membungkus tubuh gadis kecil. Sepenjuru ruangan tercium aroma sangit seperti sesuatu terbakar. Pada pertengahan alis, memancar cahaya hijau yang berkedip-kedip. Saat kabel di belakang tengkuk gadis kecil itu dicabut, cahaya hijau itu memudar lalu menghilang.

“Sudah cukup,” kata makhluk cebol serius, “sekarang kau sudah sempurna.”

Setelah proses singkat itu, si gadis kecil tersenyum lebar. Ia merasa dirinya baru saja terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Kemudian, tanpa diminta, ia mulai menyebut nama-nama setiap benda di ruangan itu dengan baik. Jika tadi, sebelum masuk, si gadis kecil merasa kepalanya kosong, maka sekarang kepalanya terasa penuh. Ia duduk menegakkan punggung, bersila di atas ranjang dan mencoba beradaptasi.

“Kau akan terbiasa,” kata makhluk cebol menenangkan. Ia menggulung kabel yang tadi menancap di belakang leher si gadis kecil dan membuka kap kecil di bawah ranjang, lalu dengan sekali sentakkan kuat, ia menutup kap itu.

“Setelah ini, kita akan menemui Dewan tertinggi.” Si cebol mengisyaratkan si gadis agar turun dari ranjang. “Mereka akan memberimu nama dan menentukan apakah kau layak atau tidak untuk tugas besar ini.”

Si gadis kecil mengangguk dan mengikuti langkah si cebol keluar dari ruangan itu. Usai melewati dua-tiga ruangan gelap, mereka kemudian memasuki sebuah ruangan luas berbentuk aula persegi enam. Di sana sudah menunggu tiga orang makhluk cebol lain yang duduk di balik meja dan kursi tinggi. Makhluk cebol yang membawa si gadis kecil menundukkan kepala satu kali sebagai sikap penghormatan. Si gadis kecil duduk ke sebuah kursi, dan setelah itu, makhluk cebol berjubah biru itu pergi.

“Apakah kau sudah tahu untuk apa kau diciptakan?” tanya makhluk cebol dengan janggut putih seperti kapas. Ia mengenakan jubah bludru warna emas. Kepalanya ditutupi sebuah songkok berbentuk kerucut yang juga berwarna emas.

Si gadis kecil mengangguk.

“Kau sudah paham tugas apa yang akan kauemban setelah keluar dari ruangan ini?”

“Kukira aku sudah cukup paham garis besarnya.”

“Aku senang mendengarnya.” Makhluk cebol berjubah emas mengangguk-angguk. “Urusan lainnya sudah beres. Kami sudah menyelundupkan beberapa agen lain untuk mengurus berkas identitasmu. Kita juga punya sejumlah agen yang menduduki posisi penting, tapi tetap saja, ini bukan hal yang mudah.”

“Bagaimana kalau aku gagal?”

“Artinya kau akan dimusnahkan.” Makhluk cebol berjubah perak yang duduk di samping makhluk cebol berjubah emas yang menjawab. Ia menyeringai angker.

“Kau diberi waktu selama tiga puluh tahun untuk membaur dan menyesuaikan diri. Sementara itu, kau akan terus didampingi untuk memastikan program yang kami tanamkan di kepalamu dijalankan dengan benar.”

“Baiklah.”

Makhluk cebol berjubah emas melanjutkan ucapan rekan di sampingnya, “Setiap agen bertugas membuat kekacauan di sektor masing-masing. Mereka akan memicu pertumpahan darah besar-besaran. Persiapan ini sudah sejak lama dimatangkan. Infiltrasi yang dilakukan telah berhasil menaikkan ekskalasi konflik antar negara. Ini kemajuan yang menggembirakan, sebab jika perang besar terjadi, dan perhatian mereka tercurah pada masing-masing kubu. Saat itulah kesempatan paling bagus untuk menyerbu. Ini demi kemakmuran bangsa kita, kau mengerti?”

Gadis kecil mengangguk “Sangat mengerti,” jawabnya dingin. “Aku tak sabar untuk melakukan tugas ini.”

Ketiga makhluk cebol itu tertawa. “Mulai sekarang namamu Gracella,” ucap salah satu dari mereka sebelum memudar.

***

Tak ada satu orang pun yang mengira jika terpilihnya Gracella dalam pemilu Gryfalda adalah awal malapetaka. Bermula dari eksekusi mati seorang Duta Besar yang dituduh sebagai mata-mata, presiden baru dilantik itu menyatakan perang terbuka dengan negara Genesia.

Pertengahan musim dingin yang buruk, dalam sebuah serangan mendadak, militer Gryfalda menembakkan rudal berhulu ledak nuklir ke jantung kota Gryfalda. Pihak militer Genesia membalas dengan menembakkan rudal balistik ke kota Hynatium, ibu kota Gryfalda, namun rudal itu meledak di atas laut, membentur tameng ultrasonik.

Peperangan antar negara besar itu dampaknya semakin hari semakin luas. Pertempuran sengit terjadi di beberapa zona. Gryfalda menggempur Genesia melalui jalur laut, darat, dan udara.  Serangan tiba-tiba itu berakibat sangat fatal bagi pasukan Genesia. Jumlah serdadu tewas sulit diperkirakan, tapi data valid menyatakan sepuluh juta pasukan Genesia tewas dalam sejumlah pertempuran.

Sementara perang terus menggila, sebuah rumor mengerikan berkembang di kalangan pasukan Genesia. Mereka bersaksi dengan bahwasanya pasukan Gryfalda tidak bisa mati—bahkan sekalipun tubuh mereka hancur berkeping-keping oleh hantaman peluru.

“Makhluk ini memiliki kemampuan membelah diri seperti bakteri. Setiap satu yang mati, akan muncul makhluk baru lagi!” Demikian keterangan seorang letnan dari divisi darat putus asa. Keterangan itu memunculkan kengerian dan meruntuhkan mental pasukan Genesia tanpa tersisa.

Pada penghabisan musim gugur tahun ke tiga, Presiden Gracella memaklumatkan kemenangan mutlak. Melalui dekrit langsungnya, mekanisme pembersihan dilakukan. Pasukan Genesia yang tertawan dihabisi dengan serum-serum mematikan, gas beracun, dan sinar-sinar laser yang mampu memotong kepala dalam tempo sekejap mata.

Presiden Gracella memerintahkan balatentaranya menyerbu sampai ke ceruk-ceruk dan gorong-gorong kota yang telah ditaklukkan dengan alasan menyapu sisa-sisa tentara Genesia. Mereka yang masih hidup dianggap berpotensi melakukan serangan balasan.

Berhari-hari bom dijatuhkan dari pesawat-pesawat tanpa awak. Kendaraan perang berbentuk roda bergerigi raksasa melindasi tiap-tiap bangunan yang masih berdiri. Mayat-mayat bertebaran di mana-mana. Sisa-sisa pasukan Genesia yang masih hidup, berlindung, berpencar, dan mencari tempat paling aman untuk menyelamatkan diri.

Akhirnya, hanya butuh tiga tahun saja bagi Presiden Gracella menjadikan Gryfalda menjadi satu-satunya negara yang berkuasa di dunia. Tahun ke tahun selanjutnya adalah aksi penaklukan negara-negara kecil. Selama aksi tersebut, tak ada perlawanan berarti yang mereka hadapi. Siapa pun yang menentang, konsekuensinya adalah mati.

Menjelang tahun ke sepuluh rezim Gracella, seluruh dunia menyatakan takluk sepenuhnya. Tak ada lagi perang. Tak ada lagi pertempuran. Dunia berada dalam satu kekuasaan. Misi telah diselesaikan.

Pada suatu petang yang damai, nun jauh di sebuah kota yang porak-poranda dan tak lagi bernama, di atap sebuah gedung yang menjadi satu dari sedikit bangunan yang masih utuh, perempuan itu sedang berhadapan dengan makhluk cebol berjubah ungu.

“Sekarang tugasmu sudah selesai,” kata makhluk cebol. “Kau bisa kembali ke wujud asalmu tanpa perlu khawatir.” Makhluk cebol bermata tiga itu menyentuh sesuatu di dada Gracella. Sebuah ledakan kecil terdengar, tubuh wanita paruh baya itu terbelah menjadi dua. Sesosok makhluk hijau bertubuh cebol meloncat dari tubuh yang terbelah itu, meninggalkan onggokan kulit kering di belakangnya.[]


Penulis:

ADAM YUDHISTIRA, lahir 1985. Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktifitas bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca. Buku tunggalnya berjudul Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

1 thought on “Gracella

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *