Puisi
Puisi Imam Budiman

Puisi Imam Budiman

Mencari Nyawa dalam Kitab Almanak

\I\

segaris hikayat musim lekas ditoreh ketika malam belum seutuhnya runtuh di kelopak keladi yang membasah akibat terjang-dera kekanak gerimis yang bersikejar. tidak seperti para pendongeng tak berumah yang kerap menyediakan cerita-cerita kuntil, kuyang atau hantu banyu.

sebongkah senja penuh luka yang ranum petang kemarin telah hampir rubuh, beserta sekawanan gagak hutan yang pulang dari utara, seonggok senja malang itu setengah menggantung di ujung dahan mangga depan gubuk yang dijejali kerak bantalan. kelebat cakar-cakar kesunyian akan datang menggerusnya dengan brutal dan tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

seorang anak lelaki malang berayah batu itu kian renta –sebab ibunya yang sejak silam lumat diterkam ajal dini hari, dipersaksikan pula oleh umat-umat bulir peluhnya yang putus, membaca lirih dengan nagham sepaling sendu dan khidmat dengan suara penuh isak sebuah kitab almanak yang diwarisi pertapa pemilik rahasia pencipta pintu-pintu kepala, jendela-jendela mata.

betapa waktu digenapi jutaan lelumut dan pakis. usai usiaku di segenggaman mata pisau ketika tengah bersiap memeluk urat leher, meretasnya, menggerakannya teratur ke atas –ke bawah. ia berteriak sehabis titik. ia pun mengaduh seledak serak. nyawanya menggeliat-geliat melesak dari muncratan selang-selang kecil berwarna padam merah. semerah marah di matamu, ratusan tahun lalu, yang menyimpan dendam purba.

\II\

tunai sudah geram yang ruah tumpah di jantung bajing, hardik bocah dengan melepaskan mesiu dahak ke bangkainya. betapa kini orang-orang langit tak lagi mengenali wataknya yang santun. aroma pahit kengerian itu segera lenyap tersapu berbatang-batang angin sebelum semua fana.

nyalang sorotnya di ujung jalan, sungguh tiada pengganti duka memeram dendam. nyawa kelak diantar luka nyawa, gelinding kepala dipenggal kelicikan kepala, remuk tulang bergesek dengan parang. menantikan saat yang tepat, kapan kita akan menyerah saja, lalu memilih pulang. sebutir beras yang lesat dalam lubang hidung si bayi merah dapat menghentikan laju napasnya tanpa musykil. pun sebiji kelereng kecil jika sedia menginginkan, dapat menggantikan bandul testis yang kadung pecah. katamu, “di tengah upaya menunggu waktu yang tepat tiba, kita hidup hanya sekadar menakar nyawa di ujung mata perahu.”

Ciputat, 2021

Kampung Kami
dalam Sebuah Puisi

Fragmen, I

cara paling arif meneduh selaksa ranum hujan ialah dengan meminakkannya pada sepadang rumput bertubuh semak yang bermuasal dari pendar-pendar titah dewata. anak-anak tanpa pernah mengenal alas saling menghalau dengan lincah arah terbang sekelompok dewangga.

dahan kecil pepohonan yang menerbitkan suara gemerisik adalah ayat-ayat yang lebih nyata dari sekadar kitab suci yang ditafsirkan secara banal, membabi-buta oleh mereka yang pura-pura beragama. ibu pohon masih setia merajut rasa tabah; memeranakkan segala macam jenis dedaun surga, akar-akar petala. serunai laut yang dilenguh oleh sekerat prajurit angin adalah bentuk sabda yang tiada pernah usai bermuara.

maka, tidak seharusnya kita ini meranggaskan serampai kata pada segenap cuaca. menuding sepihak musim yang mendadak berubah dengan tiba-tiba. tidak pula selaiknya mendengkurkan keserakahan lambung-lambung kita pada tubuh bumi yang menguarkan harum pandan tanah. betapa jika sahih demikian, sungguh kita rupa hamba yang tak tahu syukur dan posisi diri.

Fragmen, II

setiap berlalu lukisan ladang, sungai dan sawah di petang senja saga, anak-anak selalu ingin tak mesti pulang cepat ke bubungan demi mengejar cahaya mata lelayang. lelayang tangkai bambu. lelayang tua yang hidup dari gumam suara para lembu. mereka penjaga tanah-tanah huma dari kepungan kemarau. mereka penandas sejarah batu-kisaran manakala hujan menempur lantak lorong-lorong penduduk akar. anak-anak dusun dilahirkan di hariba dunia menjadi juru selamat bagi hutan jejaka dan bukit cendara. tidaklah laik sesekali kita caci rambut gimbal mereka.

di remang satu sudut rumah bercermin anyaman bambu, para perawan enggan terlelap setelah menahan nyeri dalam dada yang kian buncah. setelah menyasak-sanggul rambutnya, mereka memutuskan untuk bungkam. betapa hutan sudah tak lagi nyaman untuk memberi isyarat tentang sebab menelungkup ilalang sebagai pertanda datangnya haturan jiwa dari tempat nun jauh di kelam sunyi belantara. hutan yang kini ditebang-tumpas keji para budak proyek demi memuaskan orgasme mereka terhadap jelita tubuh pertiwi. mereka pemerkosa perawan-perawan kami!

maka, tiba saatnya kita menyemai kesadaran dalam benak, dengan segala tulus yang perdu. bumi tak lagi sekadar merupakan tempat kita melabuh sebaya luka. bumi adalah semangkuk wadah untuk meminumi janin-janin kasih kita.

Ciputat, 2021

Kuda-Kuda Perang
dalam Padanan Aksara Tuhan
; QS. al-Adiyaat, ayat 1-5

/I/

adalah kuda-kuda perang kami, tuan, yang berderak gerombol lesat seumpama laju ribuan rintik mengguyur tanah pusaka, di suatu waktu yang tak tentu, di suatu musim kemarau dengan terik berhamburan. menggenapi aksara-aksara yang nyaris tak terbaca dirayapi zaman.

menyambangi dahan-dahan paling muda agar bertunas gandasuli dan berputik mata delima. kedua belah kaki kuda-kuda kami kokoh; sama menderap dalam laju di pacuan prajurit Tuhan.

deru desah napas kami sama terengah-terbelah-tersinggah, namun kami tak menyatakan tunduk dan payah. kuda-kuda kami, tuan, sungguh lesat tak terbendung halau meski selangkah.

/II/

maka hikayat laju lesatnya yang purba, bukan hanya sekadar pekabar samar menurut ujaran 23 orang; ladam-ladam keras di waktu dini hari memercikan bunga api berpendaran manakala terantuk sebilangan berbatu, sepanjang riwayat jalan serta takaran bulan, sepanjang usia sabda dan musim tak berbilang. kuda-kuda kami tak serupa kuda pejantan paling perkasa milik tuan sekali pun. kuda-kuda kami ini, tuan, kuda yang telah termaktub difirmankan Tuhan sepaling kuat dan tangguh dari segala jenis pejantan.
/III/

sepagi ini embun belum benar-benar kering di pelataran, daun-daun sirih itu menguarkan harum asing. O, ringkik kuda-kuda kami tak sabar ingin menyerang tengkuk-tengkuk musuh. mencerai-beraikan susunan rusuk, mengilirkan bebahu dan mematahkan lutut pasukan durja dengan sekali hentak yang teramat nyeri. mereka lalai dalam buaian dunia tak seberapa. maka serbuan kita yang sungguh rahasia, seperti sudut runcing

bintang yang dihujam telak ke lambung-lambung mereka. sedini hari sepi ini, kuda-kuda kami ingin segera beradu di medan laga dengan berlipat-lipat tenaga. lesat lari kami, tuan, adalah amuk lari sepenuh pengabdian diri kepada sang maha penguasa tujuh lapis bumi dan langit.

/IV/

berjuta debu-duli membumbung naik bertangga-tangga menyesaki udara hingga menjadi serupa kelam kabut, mengukuhkan langkah kuda-kuda kami yang terus berlari menuju ke arah ufuk. langkah-langkah itu mengaburkan ingatan kami yang akan menantang sepasukan musuh, tentang apa-apa yang kami tinggalkan, jauh beribu-ribu jengkal dari tempat kami kelak akan menyatu dengan tanah bercampur wangi darah dan sisa-sisa jejak tunggangan para pelaku syahid.

/V/

pedang beradu pedang, menjatuh-lumpuhkan musuh dengan jarak tak lebih selengan. 9 perisai menghantam 43 perisai, mempertahankan posisi agar tetap seimbang, sebab terkandung dalam tubuh kami makna laa ilaaha illallaah.

ada yang menyaksikan pertarungan di tengah berkobarnya bara perang, kecamuk yang kian memuncak hingga lenguh penghabisan, aroma darah menyeruak, membumbung ke cakrawala. satu pasukan besar yang mendurhakai tuhannya berlari tunggang-langgang, sedang pasukan lain yang tiada seberapa, menggumamkan puja-puji yang tak henti dibacakan dari dalam sanubari prajurit para penunggang kuda.

Ciputat, 2021

Identitas Lidah Bagi
Masakan Tak Bertu[h]an

datang dan terdampar seorang tubuh dari pulau jauh antah berantah. sebuah piring terbang milik seorang pramusaji andal keturunan arwah Sanji, mengantar saya jatuh sampai ke tempat ini, ke sebuah lembah di mana lidah saya tersesat dan kehilangan identitas; ah, mana tahu antara rasa kelat murka 72 orang tua yang kehilangan anak dan rasa asin air mata sebab kabar kematian.

lidah saya pandai berbohong dan sembunyi,
“makanan enak tak boleh disantap sendiri.”

masakan tanpa rempah, lidah saya pun merajuk. gorengan tanpa renyah, lidah saya mengamuk. namun ibu, setulus waktu –sehalus terigu, pandai segera memeluk dan membujuk.

lidah sungguh tak berhak menyeleksi, tak berhak menelaah dan mengoreksi, bila tiba kenyang di ujung lumbung lambung, merupakan stasiun akhir tanpa sisipan atau persinggahan.

bukan masalah terjajah gula dan lemak,
perut juga sudah lupa cara menyimak

: mana kain malu mana tali tamak

Ciputat, 2021

Sajak Pendek Leluhur Kambing Hago
yang Diadopsi dari Tiga Riwayat
Sahih Baginda Nabi Saw

/satu/

masuk hari ketiga pembuatan parit Khandaq
perbekalan habis, lapar telah sampai ke ubun.

Jabir mempunyai beberapa kerat gandum,
seekor anak kambing kurus akan dimasak.

Oh, hanya cukup untuk nabi seorang saja
serta pekerja dalam hitungan terbatas.

namun nabi mengajak semua pekerja
menyantap jamuan tak terkecuali,
semua turut makan kenyang.

/dua/

separuh perjalanan
Mekkah-Madinah

rombongan nabi singgah sebentang kemah
Qudaid beratap terik, musim sedang paceklik.

seekor kambing betina milik keluarga Ma’bad
tiada air susunya; tulang berbungkus daging.

nabi yang mulia memerah dan berdoa
air susu pun berlimpah; memenuhi bejana.

/tiga/

seekor bangkai anak kambing
teronggok di pojok pasar,
cacat telinganya.

dunia lebih rendah dari itu.

/penutup/

: arwah ketiga kambing itu pun
kini berkandang di layar ponsel.

Ciputat, 2021
Catatan: Satu: H.R. Bukhari dan Muslim;
Dua: H.R. Hakim; Tiga: H.R. Muslim)

Maklumat Ceruk Mata,
Landai Hidung, Taman Kening

yang asyik hanya ceruk matamu, bagai danau di situ, tempat kaum kijang, anak kampung serta malaikat silih berganti: datang telanjang, pulang penuh gembira. sebab mereka, mandi beramai-ramai, bersama menanggalkan penyakit sepi.

yang asyik hanya landai hidungmu, serupa laju perosotan anak TK. menjelang sore, bocah angin gemar bermain di sekitar perosotanmu.

“tiba giliranku, telah tiba giliranku, menyerahkan tubuh pada segenap gravitasi, segenap ngilu dan nyeri, segenap luka anak-anak di bumi.”

yang asyik hanya taman keningmu, seumpama savana luas di mana kuda-kuda liar tak bertuan itu dapat berlari bebas. savana luas tanda marak rahim para ibu mendambakan bayi tanpa mengenal tangis. bayi-bayi yang kelat lidahnya, sebab menyusu di ujung ilalang waktu.

Ciputat, 2021


Penulis:
Imam Budiman, menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Dirasat Islamiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan S-1 Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Puisi-puisinya dimuat di pelbagai media. Kini mengabdikan diri sebagai Pendidik di Madrasah Darus-Sunnah, SMA Adzkia Daarut Tauhiid, dan Salemba Group (SG).

Leave a Reply

Your email address will not be published.