Cerpen
Kredo

Kredo

DIA seorang pembangkang. Pelawan. Pemberontak. Tak cuma keadaan dirinya, ibunya juga ditaklukkan. Tuhan pun digugat.

Bengal, urakan, mbeling. Sebagian membaptis pembangkangan justru bukti kepintarannya: kehidupannya, pemberontakannya; suatu keasyikkan di dunianya, dunia jungkir balik itu.

Semasa pacaran dengan lelaki yang kini suaminya, ia menentang keras pitutur ibunya. Dengan bersikeras bersikap diam. Diam adalah rahasia sepanjang zaman. Pernikahan itu selaksa badai. Ibunya pun sekadar menyimpan hujannya dalam hati.

“Kamu yang menjalani. Bagiku hidupku, bagimu hidupmu,” tedas ibunya menimpali misteri.

Tapi, gadis itu tahu ibunya takkan melinggis garis darahnya. Apalagi mengutuknya jadi legenda. Sedahsyat apa pun membangkang ibu, cinta tak akan menjelma batu. Menjadi pelawan adalah pendewasaan.

Setelah cinta ada iman. Biarlah orang merutukinya durhaka—melawan perintah agama. “Manusia, apalagi perempuan baik, dialah pemilik hidupnya, kebebasannya,” tepisnya di sebalik larik sajak anak panah terlepas dari busurnya.

Dia mematutkan diri perempuan cerdas; anak cerdas titisan ibu yang cergas. Ingatan menguatkan keyakinan dirinya. Pada senyuman ibunya; rahasia nan tersimpan sepanjang kelam. Tuhan maha tahu.

Tuhan pula yang tahu kenapa Tantri—perempuan itu—terus membangkang. Juga atas larangan dan titah-Nya. Pada ibunya, Tantri bukan lagi anak kecil dalam dongeng sayangilah sebagaimana keduanya menyayangimu di waktu kecil. Tantri mempertahankan keluarga, suami dan anak-anaknya meski Tuhan menitah memberaikannya.

Telah berlebih alasan, keluarganya bisa dibubarkan. Derita hidup, cukup untuk menuntut, mengugat cerai dan memporandakannya. Suaminya, Matrais tak bekerja. Kini pun digerogoti impotensi. Pria itu lebih hebat semangatnya untuk mati ketimbang staminanya untuk hidup. Dan, Tuhan masyuk demi bukti hidupnya yang kekurangan itu.

Tantri selalu cari bisnis baru daripada menekuni yang lama. Begitulah sang pemberontak. Aturan dilabrak. Sistem ditabrak. Meja digebrak. Dia selalu merusak tatanan kehidupan kosmos di tempat kerja. Sejak di yayasan pendidikan anak, lembaga kursus bahasa asing, di perusahaan jasa kesehatan, sampai di industri pengrajin pakaian. Lalu, balik lagi ke lembaga pendidikan anak. Semua berakhir pembangkangan pada pimpinan.

Para pimpinan nan berkeras kepala maupun yang lembut hatinya, senantiasa mengakhiri cakapnya dengan, “Menjadi pimpinan agar perusahaan maju itu gampang, tapi semua pimpinan tak akan tenteram bila karyawannya lumayan pintar. Hidupnya akan terancam bila anak buahnya tak sudi diajak kerja sama. Apalagi jika dia memilih membangkang,” ujarnya.

“Nah, kau pegawai yang tak cuma bikin pimpinan panik. Kau malah bisa membuat saya mati berdiri. Kau tak bisa jadi pegawai. Kau hanya bisa jadi pimpinan atau pembunuh. Jangankan aturan atau pimpinan, bahkan Presiden, Nabi dan Tuhan pun kau lawan.”

Meski pembangkang senyum Tantri tak ketinggalan, sebelum hengkang.
***

Rasanya Tantri menemukan diri. Dia mendapat spiritualitas terkini. Cuma bisa jadi pemimpin atau pembunuh? “Karena kamu masih waras, jadilah pemimpin yang lumrah. Tentu sangat mudah. Menjadi yang sekaligus bukan pembunuh, jelas ampuh. Dan, itu tak gampang. Inilah spiritualitas barumu. Nabi pun belum mampu,” ada yang bersuara dalam dirinya. Entah dalam kemabukannya ataukah bunga mimpinya.

Waktu melaju. Tantri kian meresapi spiritualitas baru itu. Bukan laiknya bangsa Jerman yang membantai Yahudi, Turki membunuh Armenia, atau rezim Stalin memburu orang Rusia. Bukan pula tentara Khmer Merah mencincang bangsa Kamboja, Sadam mematikan suku Kurdi, Serbia menghabisi muslim Bosnia. Lalu, di Amerika, Australia, Orba. Bukan.

Ketika pemimpin adalah yang menggambar hidup dan mati, yang terbit malah lukisan ibunya yang nyaris seabad itu—dengan noda tubuh dan gurat di kulitnya yang tak terhingga. Entah, ia pun tak tahu kenapa. Padahal, ibunya di garis demarkasi seberang dalam pembangkangannya. Anehnya, bayang dan masa lalunya terus mengikuti. Kenapa rahasia masih pula dikandungnya? Kok bukan hantu bapaknya? Dialah bagian dari rahasianya. Tepatnya rahasia itu sendiri.

Punggung tangan lelaki adalah tempat melabuhkan ciuman. Tantri justru mendapati bapaknya buku pelajaran kebrangasan. Pria munafik, pemuja restu orang tua dan penunggang agama—kendara demi menggaet Mak Genah, ibunda Tantri. Genahlah nan pertama mencium tangan pria itu. Sedang pantang bagi Tantri bertingkah serupa. Apa yang dititahkan ibunya pasti dimentahkan. Dan, yang dilarang terang diterjang.

Tantri pun panen tudingan gila. Tapi, baginya, itulah cara menghadapi kebrengsekan bapaknya—yang kedoknya dibongkar Genah; kesantunan, kelembutan, ayat agama, dan segala kemunafikan. Tantri telanjur berselimut kebejatan bapaknya; menelantarkan keluarga, main perempuan, pemukulan, penipuan, perdukunan, menyekutukan Tuhan, dan segala basa-basi penyebab telinga, mulut, mata, dan seluruh wajahnya bagai penuh nganga luka senjata. Dan, Genah tidur dengan laki-laki itu. Sebetulnya Tuhan mengizinkan Tantri menebas leher lelaki itu, namun ia masih hendak melestarikan hidup. Tantri membangkang dalam penderitaan.

Yang sukses membunuh bapaknya adalah ingatan. Sedang Genah terbenam oleh nelangsa kenangan. Kehadirannya cuma serupa sketsa di atas kertas.

Tantri tak lagi butuh kenangan. Suatu cara belajar apa arti syukur, bahwa syukur bukanlah menerima takdir, melainkan mencari dan menempuh jalan lain dari takdir. Dengan begitu dia jadi kuat, sahaja, berkepribadian, segar, dan cantik tentunya. Yang penting bahteranya—di mana Tantri nahkoda nan membawa anak dan suaminya—sepedih apa pun tanpa sepengetahuan ibunya. Tak membebani usia senjanya.

Kadang berhasrat mengabarkan penderitaannya sebagai buah dari pembangkangan pada ibunya. Sekaligus membulatkan kebenaran sang ibu ikhwal laku hidup. Adakah ibu yang bahagia dengan pengakuan putrinya yang memilih jalan sengsara? Ini bukanlah perihal rahasia; seorang ibu berusia senja terang tak menyoal kebenaran, kesalahan, dan dosa. Hidup hanya sekali, mustahil bisa benar seterusnya atau bersalah selamanya.

Dosa pun berubah. Yang terbesar bukan lagi yang menyekutukan Tuhan,  melainkan yang merendahkan sesama. Pun pahala yang tinggi tak lagi yang saleh pada orangtua, tapi orangtua yang mendidik anaknya mencintai sesama.

Hidup adalah perubahan, pikirnya.
***

Ketika kekuatan batinnya dirasa kokoh. Saat itulah puncak kegigihannya memilih jalan pelawan, mulai roboh. Genah bercerai dari Matrais. Apa yang semula tak berhubungan dengan ibunya—tiada bersambung berarti beruntung—menjadi bertali lagi. Tekadnya bulat, atas nama keutuhan keluarganya, meski suaminya tak kalah bangsat dibanding bapaknya. “Inilah prestasiku jalan lain kehidupan terpuruk ibu. Apapun yang terjadi, keluargaku kupertahankan.” Andai Tantri lebih dulu membubarkan keluarganya, terang Genah bersuka cita berkat kebenaran firasatnya.

 “Untuk apa berkeluarga bila akhirnya berpisah?” Tantri berontak atas perpisahan yang dititahkan Tuhan, laiknya keberatan bagi pertemuan yang dilarang-Nya. Ingat, agama melarang pacaran. Maka Tantri kukuh pacaran dengan atau tanpa restu ibunya. Syukur ibunya tak setuju. Maka ibulah contoh yang baik: Tanpa cinta tapi berlimpah restu orangtua dan calon mertua. Alhasil, keluarganya hancur lebur bagai abu. Dan, Tantrilah arang yang masih membara.

Bagaimana rasanya jadi arang? Jawabnya, “Akulah arang dari kayu paling bermutu. Membara sepanjang masa. Hahahahaah.” Tantri mengerti ibunya berbagi ilmu hidup; tanpa didasari cinta hidup hanyalah menambah luka sukma. Artinya, Genah lebih tahu apa arti cinta justru dari kegagalannya. Ia lebih tahu karena menduga putrinya buta peta cinta.

Tantri mengakui tak mengerti. Ia bisa buktikan keraguannya, sejak bersikukuh menikahi kekasihnya—suaminya kini—dan membantah penolakan ibunya. Alhasil, hidupnya begitu harmonis meski suaminya bejat. Lebih bajingan dari bajingan. Pendosa. Penjahat kelamin. Tak ada perasaan jijik, dan Tantri begitu bergairah bercinta di atas kasur, di dalam dapur, di tepi sumur. Membara. Ekstrimis yang berjodoh dengan musuh yang tangguh di kisah penjahat kelas kakap versus polisi paling lihai.

Percintaan yang berujung jumawa. “Tak seorang pun ngerti nikmat hidupnya, kecuali dirinya. Juga ibunya. Tuhan pun, pengetahuan kebahagiaan atas makhluknya tak lengkap. Kukira Dia tidaklah tahu sedang kutipu.” Ia selalu hampir memekik saban kali usai bercinta, berteriak ke penjuru dunia. Ia menikmati suaminya sampai nyaris menelannya mentah-mentah. Si bajingan penjahat yang berkelamin tanpa daya itu.

Bagi lelaki itu, antara bahagia dan derita kian hari kian tipis bedanya. Makin membuatnya banyak menyimpan tanya; gelisah dan gundah yang tak pernah terucapkan.

“Jangan-jangan memang kamu paling cerdas dan waras!”

Sungguh dia tak pernah ucapkan itu. Suaminya, lelaki tak pernah memikirkan dunia. Juga akhirat. Begitulah dia tak pernah berpikir.

Dari sikap suaminya, tepatnya kebodohannya, Tantri menangguk ilmu pembebasan. Pembangkangan hanya bagi yang pintar, yang sanggup melipatgandakan kebahagiaan. Biarpun yang pintar dan bodoh seranjang.
***

Di puncak semangat pemberontakannya, sebuah alasan terkuat membuatnya membolak-balik hati. Ya, ia mengingat kembali masih punya hati. Seperti di bukit dengan tubir jurang nganga. Saat inilah ia menantang Tuhan atau melemparkan diri ke palungnya. Jarak pandang derita dan bahagia yang semula seperti kabut tipis karena suaminya yang gagal menjadi kepala keluarga, kini jarak itu benar-benar lenyap. Penderitaan dan kebahagiaan hilang. Tak ada bedanya.

Juga bukit dan palung. Hidup dan mati. Ia sibuk menumpuk kebesaran jiwanya dalam melawan dirinya sendiri. Tentang tangis. Perihal perasaan sepinya tanpa bapak, tanpa ibu, tanpa babu, tanpa buku. Kenangan, ingatan, juga gambaran-gambaran seperti ratusan kontainer buku yang menimbun ibunya.

“Syukurlah, kau melupakan ibumu. Itu artinya, kau juga tenggelamkan segala rahasianya, juga tentang kamu, bapakmu. Tapi sebagai rahasia dia tetap rahasia bersamamu,” sayup-sayup suara sisa bayang ibunya, mungkin juga suara dari sudut kecil hatinya.

Namun, melupakan itu tak lain menerbitkan bagian kecil dari ingatan. Seperti halnya ia tidak takut menderita karena ia tak takut mati. Caranya dengan menantang segala yang berdiri di mukanya, atau yang ada di dalam tempat yang paling dekat dengan urat nadinya. Yaitu keberanian. Dia sudah berani menjadi pemimpin. Lalu, apakah berani pula menjadi pembunuh? Dia sudah berani berterus terang. Lantas, beranikah ia berterus terang menjadi penipu?

Sudah bukan rahasia, orang yang divonis bejat sesungguhnya khalis jiwanya. Bersediakah Tantri, menjadi Zat Dawahi, nenek jahat yang keji, munafik, yang merampok kuasa Tuhan, lalu bertahun-tahun lamanya berpuasa, menyiksa diri, memuja keagungan Tuhan, dan memalsu diri menjadi wali yang zuhud dengan begitu banyak pengikut?

Di bukit dengan palung, jurang, dan ngarai itu, ia merasa serupa bayi plankton. Lakonnya tak sedahsyat nenek tua renta dari Hikayat 1001 Malam. Tantri sekadar tak jeri mati, tak kuatir dibenci, tak mempan di-bully. Alih-alih yang telah dimengerti ikhwal mati ya hidup itu sendiri. Di dalam hidup ada mati. Tapi, perihal mati dia belum mengerti sama sekali. Kematian tidaklah memutus tali hidup. Laiknya hidup sambung menyambung dengan alam kematian. Ah, betapa misteri pikiran, hati seperti supermi. Serasa teka-teki antara beliung besi dan Sutardji.

Betapapun hebat nyali Tantri, tak berarti sonder kisut hati. Dia bukanlah nenek keji itu. Bayangan buruk berkecamuk atas perintah dan larangan padanya untuk mematikan keinginan, binatang bahkan orang. Meski telah lama dia menduga bakal terjadi, namun baru kali ini dirinya telah sampai di sini. Ketika pada dirinya makin sulit mengerti antara cinta dan benci; rahasia dan misteri; bahkan antara membunuh dan menghidupi. Antara mematikan dan bunuh diri.

Antara diri dan suami. Setelah bapaknya minggat, misteri yang berpusar pada ibunya—orang yang memberinya hidup selama ini—terus menghantui. Matrais adalah pemerkosa istri sepanjang masa, dan Tantri dosa permanen dari rahim ibu yang bungah bila kelak orok betina yang bernyali lelaki ini tak mengakui ibunya. Perkawinan hanyalah sandera. Inilah rahasia terpanjang di dunia, yang tidak pernah diangkat menjadi berita. Dan hanya seorang sanggup membukanya…

Seperti malam pertama perkawinannya, Tantri menatap penuh hasrat paras suaminya. Ia mengenakan gaun tipis berenda, tentu saja tanpa celana. Nafsunya bergolak, seperti ombak terdesak lalu berserak. Satu-satunya sisa rasa takut sebagai pemberontak; tatkala melempar dadu antara membunuh karena perintah dan menghidupi lantaran titah. Sementara lelaki itu, memasrahkan tubuhnya, juga tangga harapannya mendaki puncak tertinggi semesta cinta. Seperti biasa desah pun muntah, lengkingan terbang ke angkasa dan teriakan-teriakan menggema. Malam itu, mereka bercinta sepuasnya meski lelaki impotensi itu tanpa upaya dan harus berakhir tanpa daya.

Lamat-lamat tergambar sebelum darah melukisi permukaan seprai berbunga mawar itu. Pelan-pelan perempuan itu meraih sebilah gunting yang biasa digunakan memotong kain. Itu putusannya meski di samping gunting ada sederet benda lain; sebatang pulpen dan helai kertas untuk mengirim kabar, juga ponselnya untuk tujuan yang sama. Lalu, sebilah pisau. Ia ingin esok pagi diberitakan telah terjadi kecelakaan yang menyebabkan mati ketimbang pembunuhan sengaja. Begitulah Ia masih berusaha menawarkan kompromi di sisa keraguan titah: membunuh sebuah perintah ataukah larangan.

Mungkin adakalanya pemberontak berdamai dengan diri agar tetap menjadi misteri. Terlebih atas pertanyaan sehari-hari putrinya.

“Mama, ayah ke mana?”

“Ayahmu pergi jauh. Sangat jauh. Jangan dinanti. Dia tak kembali!”

Sang penjahat kelamin itu telah mati. Tak ada yang bisa menghidupkannya lagi, bahkan seorang nabi. Hanya pengarang yang mampu membangkitkan kemudian hari. Bahkan, guna menyingkap misteri anak yang membunuh ibunya karena ingin ibunya cepat masuk surga.[]

Ngimbang, 2020-2021


Penulis:

S. JAI. Lahir di Kediri, 4 Februari 1972. Pengarang sejumlah novel—diantaranya, Tanah Api (LKiS 2005); Tanha—Kekasih yang Terlupa (Jogja Media Utama 2011); Khutbah di Bawah Lembah (Najah 2012, Diva Press);  Kumara (DK Jatim, 2013). Gurah (Pagan Press 2015) dan yang terbaru Ngrong (Pagan Press, 2019). Pemenang Sayembara Cerita Panji Dewan Kesenian Jatim (2010), Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jatim (2012), Penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015), Peraih Penghargaan Sotasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik, Postmitos (2019). Kini tinggal di dusun Tanjungwetan, Kec. Ngimbang, Lamongan.

Tags :

1 thought on “Kredo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *