Cerpen
Kuni dan Dua Hilya

Kuni dan Dua Hilya

KUNI seakan tidak percaya rumah tangganya yang baru berjalan dua tahun bubar di tengah jalan. Demikian juga dia tidak percaya atas tabiat lelaki yang menjadi suaminya, tega menyakiti dirinya. Masalah itu bermula saat suaminya mengetahui hasil tes lab atas diri Kuni yang dinyatakan mandul. Tak lama setelahnya, tanpa meminta pertimbangan Kuni, tiba-tiba suaminya membawa pulang perempuan lain yang ingin dijadikan istri. Derita Kuni menjadi bertumpuk-tupuk. Kuni akhirnya memilih pergi karena dia merasa tidak punya harga diri lagi di rumah itu.

Kuni sudah berada di gerbong kereta yang akan membawanya ke sebuah kota kecil, sebelum nantinya menuju desa tempat orangtuanya tinggal. Meski apa yang diputuskan akan membuatnya malu kepada orangtuanya, hal itu masih lebih baik daripada tetap bertahan di rumah yang baginya sudah seperti neraka.

Kesedihan itu membuat Kuni seperti tidak memedulikan keadaan sekeliling saat dirinya sudah duduk di kursi kereta. Bahkan, dia tidak benar-benar menyadari ketika di depannya, duduk seorang perempuan hamil tua, dan seorang anak perempuan kira-kira belum genap satu tahun. Kuni terjaga dari lamunan ketika anak kecil itu memegang lutut dan memandangi wajahnya dengan mimik lugu. Mungkin anak itu melihat sesuatu di wajah Kuni yang membuatnya heran.

Tingkah anak kecil itu seketika membuat kedua ujung bibir Kuni yang semula melengkung ke bawah, berubah menjadi melengkung ke atas, lantas tangan kanan Kuni mengelus rambut anak itu. Setelahnya, Kuni memandang perempuan hamil di depannya. Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk.

“Putri Ibu?” tanya Kuni.

“Maafkan anak saya, Mbak,” sahut perempuan itu.

“Tidak apa-apa,” tanggap Kuni.

Bahkan, batin Kuni justru mengucap terima kasih karena sejenak dia bisa berhenti memikirkan kesedihannya. Kuni dan perempuan itu sering bercakap, terlebih setelah tahu mereka akan menuju ke kota yang sama. Karenanya, mereka mudah menjadi akrab. Mungkin karena alasan sama-sama perempuan, keduanya merasa nyaman berbincang, bahkan perempuan itu tak segan menceritakan perihal pribadinya. Dari situlah, akhirnya Kuni tahu perempuan itu bernama Hilyani.

Dari cerita Hilyani pula, Kuni mengerti alasan kepergian mereka. Hilyani diusir suaminya, yang katanya telah menikah lagi. Kata Hilyani, dia tidak terima dan marah, tetapi suaminya malah ganti marah, bahkan akhirnya mengusirnya pergi. Hilyani merasa beban hidupnya sangat berat, terlebih karena dia anak tunggal dan kedua orangtuanya sudah tiada. Satu-satunya jalan, dia pulang ke desa untuk menempati rumah peninggalan orangtua.

Kisah menyedihkan itu mengingatkan tentang dirinya.  Semula, apa yang dia alami dianggap sebagai kesedihan yang paling malang. Kisah Hilyani  memberi perbandingan yang lebih parah. Dari situ Kuni mendapat pengertian, dia harus kuat untuk meneruskan hidupnya. Sejenak Kuni merasa malu dengan Hilyani yang tetap tegar meski beban hidupnya begitu besar, bukan sekadar harus menjaga jiwanya, melainkan juga merawat putri dan bayinya yang akan dilahirkan. Mungkin karena alasan itu, ketika Hilyani bertanya perihal dirinya, Kuni tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Kuni hanya menjawab, sehabis berkunjung ke rumah kerabat, dan saat itu waktunya pulang.

Perut Hilyani sudah tampak besar sehingga ketika melakukan sesuatu agak repot. Kuni yang melihat hal itu menjadi prihatin hingga di dalam dirinya ada keinginan untuk membantu setiap kali anaknya rewel. Ketika anak itu merasa lapar, Kuni membantu menyuapinya. Kuni juga menemani anak itu ketika merengek minta jalan-jalan di lorong kereta. Semua itu Kuni lakukan dengan perasaan tulus. Bahkan, ketika anak itu tiba-tiba berak di celana, Kuni juga membantunya. Dibawanya anak itu ke toilet untuk dibersihkan kotorannya, baik yang ada di tubuh anak itu, maupun di celananya. Kuni tidak merasa jijik ketika melakukan semua itu. Usai Kuni membantu mengenakan celana yang baru, bersamaan dengan itu kereta berhenti sejenak di sebuah stasiun.

Mereka keluar dari toilet, anak itu seperti melihat sesuatu yang menarik di luar gerbong. Tanpa Kuni sadari anak itu sudah mengikuti beberapa orang yang keluar dari gerbong kereta. Ketika Kuni menyadari anak itu keluar gerbong, gegas Kuni menyusul untuk mengajaknya kembali masuk gerbong. Ketika Kuni sudah berada di dekatnya, anak itu menunjuk-nunjuk sesuatu ke arah deretan kios yang ada di stasiun itu. Di sana terlihat beberapa balon yang ditali di pintu salah satu kios. Kuni melihat ke arah kereta, berharap kereta tidak lekas berjalan. Setelahnya, Kuni menuruti permintaan anak itu.

Kuni membantu memilihkan balon yang akan dibeli. Mungkin saking asyiknya memilih hingga Kuni tidak memperhatikan ketika ada suara yang mengingatkan bahwa kereka itu segera melanjutkan perjalanan. Pada saat Kuni sedang mengurus pembayaran pembelian balon, Kuni baru menyadari kereta sudah mulai berjalan. Kuni sempat berlari untuk memberi tanda agar kereta berhenti. Namun, usahanya sia-sia, kereta itu terus bergerak, meninggalkan mereka berdua. Sementara, anak kecil itu tidak menyadari bahwa dia telah berpisah dengan ibunya, terlebih dia sedang girang karena mendapatkan balon yang diinginkan. Sedangkan Hilyani, tentu saja dia tidak menyangka apa yang sedang terjadi. Pastinya Hilyani berpikir, anaknya masih di toilet bersama Kuni.

Kuni langsung berpikir, bagaimana caranya agar dia dapat menyusul Hilyani, selain ingin mempertemukan anak itu kembali kepada ibunya, juga perihal barang bawaannya yang masih berada di kereta. Dari keterangan petugas stasiun, kereta dengan jurusan ke kota yang dia akan tuju masih menunggu agak lama. Karena dia merasa hanya itu yang bisa dilakukan, terpaksa Kuni memilih menunggu. Agar tidak merasa bosan, Kuni mengajak anak itu bermain balon.

Baru beberapa lama Kuni menunggu, tiba-tiba terjadi gaduh di ruang kerja petugas stasiun. Karena penasaran Kuni mendekat, dan pada saat itu, Kuni mendengar kabar yang membuatnya kaget. Salah satu petugas stasiun mengatakan bahwa baru saja terjadi kecelakaan kereta. Menurut penjelasan petugas, kereta yang mengalami kecelakaan itu adalah kereta yang ditumpangi Hilyani. Kereta itu menabrak sebuah truk di salah satu perlintasan. Ketika Kuni ingin mendapatkan keterangan yang lebih detail, petugas stasiun belum bisa memberi kejelasan.

Kuni mendekati anak kecil itu, lalu duduk di sampingnya. Anak itu masih asyik bermain balon, dan Kuni memperhatikannya dengan lekat. Sadar ketika diperhatikan, sejenak anak kecil itu memadang wajah Kuni. Lantas, Kuni mengelus rambut anak itu. Tak lama kemudian, Kuni seperti menyadari sesuatu. Kuni mengajak anak itu keluar dari stasiun, lalu naik mobil yang dipesan melalui aplikasi ojek online untuk mengantarkan mereka ke tempat kecelakaan kereta.

Sampai di tempat kejadian, Kuni mendapat informasi bahwa sebagian besar penumpang meninggal dunia. Seluruh gerbong kereta terjungkir, bahkan Kuni melihat sendiri ada beberapa gerbong yang terbakar. Kuni sangat bingung bercampur sedih, terlebih setelah tahu bahwa salah satu gerbong yang hangus terbakar itu adalah gerbong yang ditempati Hilyani.  
***

“Ibu tampak sedih, ada apa?”

Kuni melihat ke arah gadis itu. “Ibu tidak bersedih, Nak. Ibu sedang mengingat sesuatu,” jawab Kuni kemudian.            Maafkan aku, Nak. Dulu aku tidak mengusahakan kamu kembali kepada ayahmu. Entah mengapa, aku tidak rela jika saat itu kamu harus hidup bersama lelaki yang telah membuat ibumu menderita. Dan, untuk menghargai ketabahan ibumu, kuberi kamu nama Hilya, penggalan dari nama ibumu, batin Kuni.[]


Penulis:

YUDITEHA. Pegiat Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 17 buku. WA: 085647226136  Email: yuditeha2@gmail.com  IG: @yuditeha2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *