Puisi
Puisi Mohammad Cholis

Puisi Mohammad Cholis

MANUSKRIP KEPERGIAN

Ayla,
sebelum kepergian benar-benar menjadi ibu
tempat rindu diasuh dan menyusu
sudah kucatat alamat kepulangan
di dalam dadamu

cantikku,
tidaklah engkau tahu
seberapa jauh nyali seorang bajingan
yang bermimpi menebas leher kesedihan

“tapi, di dalam sepi
kita hanya bocah penakut
yang merindukan peluk,”
bisikmu

Jakarta, 2021

SATU HARI DI JAKARTA

tubuh telanjang terselimut panas
keringat menguap di pori-pori jalan
bising merayap di dinding telinga
dan tubuhku tak lain hanya puisi yang
merindukan sepi

Jakarta, 2021

SEBELUM AKU TERSESAT DI PELUKMU
YANG HANGAT

sebelum aku tersesat di pelukmu yang hangat
di teluk matamu aku diam-diam menyelinap
menyalakan kedap kesedihan

tubuhmu batu-batu yang licin
setapak jalan guru kegagalan
saat kaki kerap jatuh dan tergelincir

rambutmu serabut akar puisi
menanam sepi dalam diri
yang sama sekali tak pernah kita amini

Jakarta, 2021

MERAYAKAN KEMATIAN

kekasihku,
jalan buta, cerita berhenti seketika
mereka tertawa, aku masih memungut bahasa
menjahit doa, merangkai luka

hari telah basi
waktu berputar membelit dirinya
menyalip matahari yang hanya datang dan pergi
dinding kamar menatapku dengan wajah sedih
terlihat potret eric fromm menggigil
di antara deretan buku-buku

Ayla, kekasihku
maukah engkau merayakan kematianku
dengan sebotol kesedihan kesukaanmu

Jakarta, 2021

BIBIT KERINDUAN

bibit kerinduan yang engkau tanam di
musim itu sudah menua
akarnya merentang jauh di antara dada
kita
orang-orang sepakat mengatakan
itu adalah jalan menuju muara telenteyan
muara tangisan di tanah kelahiran

satu per satu daunnya mulai gugur
menerjemah setiap detik yang tugur
di bawahnya engkau menyapu sepi
sambil mendengarkan siul angin
yang ikut menyahut dengan petani

sepi terbuat dari dingin dan berahi
tubuhku telanjang memeluk bayang
melupakan kenangan dan arah menuju pulang

ingin kutulis segala tentangmu
sebagai ranjang peristirahatan
dari rindu yang selalu berlahiran

Jakarta, 2021


Penulis:
Mohammad Cholis, pegiat literasi Garawiksa Institute, selain menulis puisi juga menulis resensi, karyanya tersiar di pelbagai media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *