Resensi Buku
Kliping Sayembara dalam Majalah Sastra

Kliping Sayembara dalam Majalah Sastra

Judul Buku : Tulisan dan Kehormatan
Penulis : Bandung Mawardi
Penerbit : Bukukatta, Solo
Cetakan : April 2021
Tebal : 116 halaman, 13 x 20 cm
ISBN : 978-623-7245-65-0

Sejak dulu, Sapardi Djoko Damono meyakini bahwa keberadaan sayembara dapat memajukan sastra. Hal itu merupakan respons perihal maraknya sayembara yang digelar berbagai pihak, mulai dari novel, cerpen, puisi, hingga naskah drama. Keberadaan sayembara memang mewarnai perjalanan sastra Indonesia. Agaknya itulah yang dipahami Bandung Mawardi sehingga ia mengumpulkan lembaran saksi sejarah berupa majalah yang memuat penyelenggaraan sayembara.

Kabut—begitu Bandung Mawardi karib dipanggil—mencantumkan majalah-majalah lawas dari bentang tahun 1950-an hingga 1980-an dalam buku Tulisan dan Kehormatan ini. Tercatat antara lain: Basis, Gadis, Femina, Keluarga, Panji Masyarakat, Budaja Djaja, Medan Bahasa, Kartini, Prisma, Hai, Citra Yogya, Tjerpen, Mekar Sari, Panjebar Semangat, Djaja Baja, dan Kedjawen.

Kekhas-an seorang Kabut memang begitu. Ia mempertahankan keistimewaannya yang akrab dengan literatur lawas. Itu bisa kita jumpai bila pernah membaca esai-esainya barang dua atau tiga judul. Komparasi antara teks lawas dan konteks kekinian—menurut saya—menjadi kekuatan Kabut sebagai penulis ulung. Ia menarik benang tipis antara keduanya, lalu mendedahkan bahwa ‘yang lawas’ dan ‘yang baru’ memiliki kesinambungan.

Buku gubahan Kabut ini memuat sebanyak 28 esai pendek dengan penekanan tertentu yang tidak jauh dari urusan majalah, sayembara, juri, dan hadiah. Dalam esai Masa Menggubah Balada, misalnya. Kabut memulai dengan nukilan kalimat majalah Basis edisi Juli 1963, berbunyi: “Legalah rasa dada kami waktu membuka kotak sajembara ‘Mendjalin Tjeritera Rakjat dalam Bentuk Ballada’ karena ternjata dari nama dan alamat masing-masing peserta terbuktilah bahwa sajembara ini telah berhasil memikat perhatian dan minat para sastrawan dari seluruh Nusantara”. (hlm. 30)

Setelah terbiasa membaca balada-balada Rendra sejak masa 1950-an, sayembara tersebut seakan memuat misi tandingan dari puisi politis yang sedang marak melantun di Indonesia. Kendati begitu, pertanggungjawaban dewan juri yang digawangi oleh Dick Hartoko, A. Brotowiratmo, dan Andre Hardjana, dibuat sedemikian rupa sehingga tampak bersih dari polemik politik dan ideologi. Nama Sapardi Djoko Damono dengan ‘Ballada Seorang Pemberontak’ keluar sebagai pemenang pertama dan mendapat hadiah Rp 750,-. ‘Ballada Kek Lesap’ gubahan Sjarif Suwondo sebagai pemenang kedua dan mendapat hadiah Rp 400,-. Sementara pemenang harapan diterima CM Tri Soedarsi Widagdo dengan ‘Ballada Rorodjonggrang’ yang mendapat hadiah buku-buku.

Ternyata, nama sastrawan besar mutakhir tak luput dari keikutsertaan mereka dalam sayembara. Suatu misal yang lain ketika membaca esai berjudul Sayembara Memoncerkan. Sebuah iklan tercantum di sampul belakang majalah Budaja Djaja edisi Maret 1974, tertulis: “Pemenang Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Roman – Panitia Tahun Buku Internasional 1972 DKI Jakarta.” Pada sayembara tersebut tak lain masa awal kepengarangan I Gusti Ngurah Putu Wijaya—sastrawan yang dikenal luas dengan nama Putu Wijaya—sebelum kondang seperti saat ini. Keahlian Putu Wijaya lantas belanjut dengan memenangi sejumlah sayembara cerpen, novel, dan naskah drama. Sampai akhirnya lahirlah dari tangannya novel Telegram, pemenang sayembara yang dipinang Badan Penerbitan Pustaka Jaya dan terbit pada tahun 1973. (hlm. 42)

Dari sudut lain, sayembara tentu sepaket dengan keberadaan dewan juri. Aktor yang mempunyai hak penuh atas naskah peserta: memilah, menentukan pemenang, dan mempertanggungjawabkan. Meskipun dengan mekanisme yang dianggap paling profesional, tak jarang keputusan dewan juri menuai tanya di kalangan publik. Maka kata Kabut, dewan juri setidaknya memegang dua prinsip: jeli dan tabah.

Dalam esai Juri: Jeli dan Tabah, Kabut memisalkan seorang Umar Kayam, juri sayembara majalah Femina sejak 1979 sampai 1987. Setiap tahun Umar Kayam menjadi tempat berlabuh ratusan naskah. “Pada bulan Desember, saya sudah harus dapat menyisihkan 10 hingga 15 naskah yang menurut pertimbangan dan kesimpulan saya pantas untuk diperdebatkan dengan anggota juri lain.” Jeli yang dimaksud Kabut seperti halnya kata Umar Kayam, “Tentu saja dalam susastra yang penting bukan masalah ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ melainkan ‘bahasa yang pas’. Pas di sini berarti tidak berlebih dan tidak berkurang. Penggunaan bahasa yang pas dengan demikian akan mencakup pemilihan kata serta pembangunan kalimat yang kemudian akan diharapkan membentuk suatu susunan serta relevansi ceritera.” (hlm. 55)

Merampungkan esai-esai dalam buku ini tidak membutuhkan waktu lama. Bahkan mungkin sekali duduk bisa tuntas. Perihal gaya menulis, Kabut seperti menyesuaikan tema yang diangkat: dokumen lawas. Sebab itu kita serasa sedang membaca klipingan majalah dengan edisi tertentu yang sekarang sukar ditemui. Keluasan literatur Kabut memang pantas diakui. Seorang yang kerap menyebut diri sebagai kuncen Bilik Literasi—wadah baca yang ia dirikan di rumahnya. Di sana koleksi buku, koran, dan majalah bertumpuk-tumpuk. Hal itu, sekali lagi, menyiratkan kalau Kabut tak ubahnya lembaran, halaman, dan sekumpulan tulisan dalam tiap buku-buku.

‘Begitu’, tulis Kabut di setiap akhir tulisannya.


Penulis:

Indarka P.P, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Alumni Fakultas Syariah IAIN Surakarta. Saat ini bermukim di telatah Kartasura, dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published.