Puisi
Puisi Aprillia Ramadhina

Puisi Aprillia Ramadhina

Tubuhnya adalah Konser Musik di Dekat Kuburan

Tubuhnya tersusun
dari panggung
konser musik dan dagelan
di pasar malam dekat kuburan
Seharian hingar bingar
besoknya dirubuhkan
Kadang terdengar bunyi
orang bernyanyi kadang mengaji
di lambung serta ginjalnya
Orang menari sambil menangis
di usus dua belas jari
Merambat getaran mantra juga doa
Kehilangan dan dihilangkan
Dialah ramai yang mencari sunyi
Bersama gerombolan cacing
setengah hidup setengah mati
(2021)

Bertemu Puisi

Saat tersesat di sebuah toko buku, dia ditemukan oleh puisi. Puisi berwajah polos seperti bayi. Setelah mondar-mandir menelusuri rak dari pinggir ke pinggir. Mencari apa dan bagaimana dan mengapa. Tapi selalu lupa kapan.

Kapan waktu diciptakan? Hingga kita bisa menghitung bahwa detik bertumpuk enam puluh kali maka menjadi menit dan angka di jam dinding hanya sampai dua belas.

Lalu kita jadi tahu bahwa kemarin, kini dan nanti bisa saja saling putar balik.
Bagaimana jika “Kapan kita jumpa lagi” bukanlah sebuah pertanyaan melainkan harapan? Tapi sayang tidak dijawab dengan kejelasan melainkan dengan bayang-bayang.

Berjam-jam berkeliling dan berjalan. Labirin semakin menjulang. Semak belukar tumbuh menjalar. Langkahnya terjegal kalajengking yang telah kehilangan racunnya. Apalah arti sengatan jika tidak mematikan?

Lagi-lagi, dia ditemukan oleh puisi. Dalam keadaan tak sadarkan diri. Hilang ingatan tentang siapa yang kemarin datang menjelang petang?
(2021)

Ketika Tirai Tertutup

Kita semua kembali
Menjadi orang-orangan
yang tak lagi bisa dikenali

Mengapa kita lebih pandai bersandiwara
di dunia nyata
melebihi di atas panggung pertunjukan?
(2020)

Mari kita Berkelana

Mari kita berkelana
ke belakang gedung-gedung tinggi
Menyingkap kumuh dan gelap di balik gemerlap
Gang-gang kecil menyempil
Ayam, bebek berkeliaran
lengkap dengan tahi-tahinya
Mari kita nikmati keindahan
dari senjang yang kian panjang
di jarak selemparan pandang
Lalu kita menulis sajak dari pinggiran
tentang Semalam di Senayan
atau Sendirian di Sudirman
(2020)

Menggoreng Keributan

Settingan dan keributan
dimasak di atas wajan
Taburi bumbu racik
satu sendok teh polemik
seliter gimmick
Goreng sampai absurd
Jangan lupa dirasa-rasa,
sudah cukup busuk belum?
Sajikan dengan hiasan daun pandan
petik dari kolom komentar Selebgram
Bikin tampilan makin ciamik
sebuah hidangan pembuka hidup yang pelik
(2021)

Pengejar Achievement

Saat perut sudah terisi
baru kita bicara aktualisasi
Bagaimana mimpi dikejar
jika kita masih diburu lapar?
(2021)

Boneka Beruang Berwarna Merah Jambu

Beruangku warna merah jambu
menggenggam bantalan hati
bertuliskan “I Love You”

Dia paling setia
dibanding si kelinci
atau si kuda nil

Dia paling senang memelukku
seperti bapak-ibu dulu

Di malam hari
dia sering duduk depan pintu
Katanya,
“Aku selalu ingin pergi,
tapi tak pernah jadi.”

Lalu ia kembali meringkuk
di balik selimut

Menumpahkan warna merah jambu
setumpah-tumpahnya


Penulis:
Aprillia Ramadhina, Lahir pada bulan April 1989. Lulus dari jurusan Filsafat Universitas Indonesia pada tahun 2011. Buku pertamanya adalah Turn on the Radio (2015) yang berisi kisah-kisah sukses para penyiar radio. Tahun 2019, ia terpilih sebagai salah satu Pemenang Harapan Sayembara Kritik Sastra yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Tahun 2020 ia menjadi co-writer bersama Agus Noor menulis naskah pertunjukan musikal alih wahana dari lagu-lagu Sheila On 7 berjudul Anugerah Terindah produksi Titimangsa Foundation yang tayang di Mola TV. Puisinya telah dimuat di media cetak dan daring, juga dalam buku antologi puisi bersama Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian (2021) yang diterbitkan oleh Solusi Buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.