Cerpen
Teror

Teror

SUDAH sekian jam, Tallib mendorong gerobak satenya, melewati gang rumah-rumah penduduk, berharap ada seseorang memanggilnya untuk membeli. Kecemasan kian membelukar di hati Tallib yang sejak tadi memegang dadanya, sebab napas mulai tersengal-sengal. Ia khawatir pulang tanpa membawa selembar uang untuk sang istri yang sedang terbaring sakit. Tallib mengelap keringat di dahinya, basah pula bajunya.

Kecemasan Tallib tentu saja berlasan, mengingat saat sekarang orang-orang takut keluar rumah. Mereka memilih mengurung diri dalam rumah, demikian anjuran pemerintah. Tidak ingin mereka mati sia-sia diserang virus yang tak dapat mereka lihat bentuk wujudnya. Wabah bernama corona itu telah menjelma malaikat maut, mengintai dimana-mana.

Terkadang Tallib merasa ada malaikat Izrail membuntutinya, itulah ketakutan yang didengarnya dari orang-orang soal wabah bila keluar rumah. Apalah daya, Tallib membatin, berdiam diri di rumah membuatnya mati kelaparan, dan kalau keluar rumah berjualan, was-awas ia dengan wabah mengerikan itu. Oh Tuhan, Tallib menitikkan air mata, batinnya bicara lagi, bila pun harus mati maka lebih baik mati dalam keadaan berjuang mencari nafkah ketimbang tak berbuat apa-apa.

Ke Jakarta ia merantau, mencari makan dan biaya ketiga anaknya di kampung. Bersama istrinya Tallib tinggal di sebuah kontrakan, hampir sepuluh tahun. Tiga anaknya tinggal bersama nenek, semua itu dilakukan Tallib karena tak ada pilihan. Semua orang di kampungnya mengadu nasib di Jakarta. Pertanian tak lagi menarik, sedikit hasil, sementara kebutuhan kian meningkat.

Bau asap sate menguar ke udara, angin membawanya masuk ke dalam rumah penduduk melalui celah-celah lubang. Sebagian orang mengintip saja dari dalam, menyaksikan Tallib mendorong gerobak satenya. Sebagian lagi menutup rapat semua pintu, khawatir asap sate itu membawa virus. Terus melangkah Tallib, doa pun ia panjatkan dalam hatinya, semoga orang mau membeli.

Sate buatan Tallib terkenal karena kelezatannya yang tiada tara. Sebagai orang Madura, tak diragukan lagi kenikmatan sate yang dijual Tallib. Wajar bila Tallib memiliki pelanggan banyak, tak terhitung jumlahnya. Selalu habis sate yang dijualnya setiap malam, bahkan banyak pelanggan tak kebagian. Namun kini, waktu berubah sangat cepat ketika wabah itu datang. Tallib kehilangan pelanggan, semuanya berdalih tak bisa beli makanan di luar rumah karena adanya virus dimana-mana.

Pada sebuah gang, remang cahaya lampu menerpa tubuh Tallib. Dua orang pemuda memanggilnya dari belakang, Tallib berhenti dan menoleh dengan senyuman. Bersyukur ia ucapkan, akhirnya ada orang yang mau beli satenya. Dua pemuda itu minta dibuatkan sate ditambah lontong. Selesai Tallib mengipas sate di atas arang, ia hidangkan pada dua pemuda itu. Mereka duduk pada kursi plastik yang memang dibawa Tallib.

Dua pemuda berkaos oblong, hitam warnanya, kalung rantai melingkar di lehernya, tato bergambar naga di bahunya. Mereka makan tiga porsi masing-masing, senang Tallib karena jualannya laku sebanyak itu. Tallib menyebutkan nominal yang harus dibayar dua pemuda itu. Mendengar Tallib menyebut harga yang harus dibayar, dua pemuda itu tertawa terbahak-bahak sampai bahu mereka terguncang-guncang.

“Kau belum tahu siapa kami? Hah!” Pemuda berkumis tipis itu memandangi wajah Tallib.

Pemuda satunya menimpali, pisau di tangannya ditodongkan ke Tallib. “Kamu mau saya jadikan sate. Hah!” Gemetar tubuh Tallib. Berlalu saja ia meninggalkan dua preman itu.

Dua preman yang masih muda itu baru saja keluar dari penjara. Tidak hanya itu, masih banyak lagi preman yang dikeluarkan dari tahanan, mereka keluar lantaran adanya wabah. Pemerintah cemas, mereka terkena virus karena kapasitas sel terlalu banyak menampung mereka. Girang mereka dikeluarkan, bersyukur mereka karena ada virus.

Orang-orang yang semula takut dengan adanya virus yang terus meneror sepanjang waktu, bertambah ketakutan itu dengan teror dari para preman. Berkeliaran dimana-mana preman itu, keberadaan mereka sama persis dengan virus corona, mengancam bagi siapapun yang ditemuinya. Pertama kali Tallib bertemu dua preman, sebelumnya ia hanya dengar berita di telivisi tentang ulah preman yang baru keluar dari penjara.

Dua preman itu bernama Jahal dan Lahab, keduanya memang berkawan sebelum sama-sama masuk penjara. Lepas dari penjara, keduanya beraksi lagi. Tidak segan bagi mereka menghabisi nyawa korban, semua dilakukannya ketika si korban menolak permintaan mereka. Sudah banyak orang tahu kelakuan mereka, tak punya nyali orang-orang melawan Jahal dan Lahab.

Ngeri merayapi tengkuk Tallib mendengar cerita soal Jahal dan Lahab dari Muhri, ketua kampung, tempat Tallib biasa berkeliling di kampung tersebut. Kepada Tallib, Muhri menjelaskan siapa Jahal dan Lahab. Muhri menyuruh Tallib lebih waspada kepada dua preman itu, lebih-lebih kalau memungkinkan untuk berhenti berjualan sementara.

“Sekarang ini banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak orang lapar. Dan kalau orang lapar, bisa berbuat apa saja. Apalagi preman seperti mereka.” Muhri menghela napas panjang, satu porsi sate sudah ia habiskan.

“Bukan hanya virus yang meneror kehidupan kita sekarang, tapi preman seperti mereka juga menjadi teror yang tak kalah mengerikan. Mereka ada dimana-mana, bedanya mereka itu tampak sedangkan virus tak berwujud. Tapi keduanya sama-sama mengerikan.”

Muhri berkata lagi, “Kita diserang dua teror sekaligus.”

“Kenapa Jahal dan Lahab itu bisa keluar penjara?” Tallib mencari jawaban dari Muhri.

“Pemerintah yang mengeluarkan mereka. Banyak narapidana dikeluaran karena takut virus menulari mereka.”

“Enak mereka, teror bagi kita.”

“Dilarang protes. Pemerintah itu tahu yang terbaik bagi rakyatnya.”

“Kayak Tuhan saja, tahu yang terbaik bagi hambanya.”

Perbincangan berakhir setelah Muhri membayar satu porsi sate yang dimakannya. Tallib mendorong gerobaknya, sesekali menoleh ke belakang, ia merasa dibayang-bayangi dua preman itu. Tallib menempuh dua resiko sekaligus, mati karena virus atau mati di tangan preman. Tak peduli Tallib, itu semua semata-mata karena ia seorang kepala rumah tangga, bertanggung jawab atas lapar tidaknya sang istri dan anak-anaknya.

Malam semakin tua, banyak preman berkeliaran dimana-mana. Tallib sudah jauh berjalan menjajakan satenya dari rumah ke rumah. Ia teringat dengan istrinya yang sendirian di kontrakan, berhasrat untuk pulang saja Tallib meski hasil jualannya tak seberapa. Tak akan ada lagi yang mau beli, apalagi sudah banyak preman berkeliaran di mana-mana, pikir Tallib.

Dengan sisa tenaga, Tallib mendorong gerobak satenya yang bercat garis merah putih. Lima orang preman menghampirinya, seketika gemetar tubuh Tallib. Semula tak ia hiraukan panggilan mereka, namun akhirnya mereka menghentikan paksa. Tanpa perlu basa-basi, mereka mengambil semua uang dalam kotak gerobak sate Tallib. Sekuat tenaga Tallib mencoba mempertahankannya, sebab itu uang untuk istrinya berobat.

Tallib tersungkur ke tanah, berdarah bibirnya. Berguling gerobaknya, tumpah semua sisa satenya, seorang preman berbadan tegap menendangnya kencang. Tertawa terbahak-bahak mereka, berhasil mengambil hasil dagangan Tallib. Hampir jatuh air mata Tallib, berkelebat wajah istrinya yang sedang sakit.

Berusaha seorang diri, Tallib bangun dan membawa gerobaknya. Ia pulang ke kontrakan, masih sekitar dua puluh menit untuk sampai. Malam telah larut, jam sudah menunjukkan angka satu lewat lima belas menit. Sambil menahan nyeri di bibirnya, tegar Tallib berusaha menerima semua yang terjadi malam ini sebagai suratan.

Tiba di kontrakannya, Tallib membuka pintu. Istrinya sedang terlelap. Tallib ke kamar mandi, membersihkan luka di bibirnya. Kemudian ia duduk bersila di samping istrinya, memegang tubuh perempuan yang dinikiahinya belasan tahun lalu. Tak ada denyut yang Tallib rasakan dari tubuh istrinya, ia pastikan dan betul saja perempuan itu sudah dijemput malaikat maut.

Tidak tahu jam berapa istrinya meninggal, Tallib mengurai air mata seorang diri. Tallib juga tidak tahu, apakah istrinya itu meninggal karena terserang virus atau karena hal lain. Awal mula istrinya sakit memang mengarah pada tanda-tanda adanya virus dalam tubuhnya. Tallib membatin, apakah saya yang membawa virus itu selepas berjualan dari luar?
Namun Tallib melihat ada jejak kaki masuk ke dalam kamar kontrakannya itu. Lemari kecil di samping istrinya terbuka, satu-satunya gelang emas simpanannya raib. Tallib membatin lagi, apakah seseorang telah membunuh istri saya? Preman mana yang tega berbuat demikian? Tallib tidak menemukan jawaban dari dua pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Tallib memeluk istrinya erat. Bila istrinya mati karena virus, maka Tallib mengutuk diri seumur hidup, bersalah karenanya. Bila istrinya mati karena ulah penjahat yang dikeluarkan pemerintah dari penjara, maka Tallib merasa tak punya mulut untuk bersuara. Tallib menangis di samping jenazah istriya, tangis seorang lelaki miskin.[]

~Pulau Garam, 2020.


ZAINUL MUTTAQIN, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura 18 November 1991 dan kini tinggal di Pamekasan Madura. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Cerpennya berjudul “Celurit di Atas Kuburan” terhimpun dalam buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2019. Buku kumpulan cerpennya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019). Email; lelakipulaugaram@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *