Resensi Buku
Perempuan, Madura dan Sejumlah Cerita

Perempuan, Madura dan Sejumlah Cerita

Judul Buku         : Paraban Tuah (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis               : Elok Teja Suminar
Penerbit  : Basa Basi, Yogyakarta
Tahun                 : Maret 2021
Tebal               : v + 122 halaman

Sebuah cerita, barangkali memang merupakan cuplikan dari realitas di sekeliling kita. Terkadang ada banyak hal yang luput untuk dijemput namun ternyata dari kisah-kisah yang berdatangan beberapanya kerapkali membuat kita kecut. Memang dengan membacanya, kita acap mendapati sejumlah pertanyaan baru; ihwal kenyataan tersebut—mengapa hal semacam itu bisa terjadi dan dekat dengan keseharian kita?

Lalu tokoh-tokoh yang hadir bersilangan, mungkin pula merupakan refleksi yang juga nyata. Bila ternyata ada sifat atau karakter orang semacam itu: pendendam, labil, dipenuhi luka, romantis, tak berdaya, rakus, dsb. Melalui temali kisah yang dinarasikan, cerita-cerita menjadi hidup dengan beberapa kemungkinan lainnya: akan terus terkenang dan berbayang.

Dalam bahasanya Hasif Amini pernah menukilkan ihwal cerita jika memang kita harus tetap utuh dan penuh untuk tetap berkisah:  berceritalah, agar kami mengerti mengapa dan bagaimana dunia ini tercipta, siapa dan dari mana nenek moyang kami gerangan, agar kami maklum di mana kami berada dan ke mana kiranya kami akan menuju. Setidaknya kita akan mendapati sejumlah benang merah yang dapat dikenang dan menjadi penanda bagi diri sendiri.

Dan Elok Teja Suminar, seeorang perempuan yang bermukim di Madura menuliskan pergulatan itu dalam cerita-ceritanya. Kumpulan cerita pendek Paraban Tuah, yang berisi sebelah kisah ini seperti membuka dengan transparan ganjilnya realitas akan hal-hal yang ditemuinya dalam keseharian.

Mungkin juga, Elok ingin melakukan gugatan kecil, bagaimana ia membuka pelbagai hal yang tabu terjadi—dengan meramunya pada tradisi lokal (Madura), yang kental dikenalnya. Beberapa cerita banyak mengambil istilah dan latar kehidupan masyarakat Madura. Suatu hal yang justru membungkus cerita-cerita tersebut terasa lebih nyata. Simak saja dalam cerita “Orok”, “Kawin”, “Mitun” dan “Kambing”, ia menyebutkan beberapa kosakata Madura—yang dekat dengannya. Semacam sengko’reng madhureh. Ango’pote tolang katembeng pote mata (Saya orang Madura, lebih baik putih tulang daripada putih mata) atau ell awes, la mareh. Leggik enomagin pole jhemonnah ma’le derennah ampet (Sudah selesai. Nanti minumkan lagi jamunya biar darahnya berhenti).

Cerita-cerita yang ditulisnya menggunakan bahasa sederhana, mengalir dan tenang. Terasa menghanyutkan namun bisa tiba-tiba muncul dengan akhir yang getir atau tidak diperkirakan sebelumnya. Simak saja cerpen “Kawin”, yang berkisah tentang seorang gadis yang belum dewasa namun terlanjur hamil. Kisah pun bergulir, bagaimana orang tua si gadis yang mulanya tidak setuju untuk dinikahkan, meskipun pada akhirnya tetap menerima laki-laki tanggung yang mengakui perbuatannya itu. Walaupun di akhir cerita masih menyisakan enigma tentang siapa yang membakar rumah calon besannya. Elok membiarkan pembaca untuk menerka sendiri. Kisah inipun hanya ditutup dengan kalimat dari Ayah si gadis: “Berbahagialah putriku, tapi sehari ini saja karena besok dan seterusnya, engkau akan lebih bahagia. Kembali bersekolah dan menjadi seseorang yang lebih berarti dari hari ini.” (hal. 24)

Pun dalam cerpen “Semut” yang mengisahkan tentang ketakutan perempuan terhadap semut-semut di rumahnya. Semut-semut yang kerap menghabisi makanan di meja. Meskipun dirinya telah melakukan pelbagai cara untuk mengusir keberadaan semut itu dan tetap saja semut-semut itu terus mengganggu bahkan turut muncul sebagai mimpi buruk. Elok mengolah konflik itu dengan tenang hingga menutupnya dengan kejadian yang tidak diduga, sosok suami yang memilih untuk membakar habis semut beserta rumahnya:

“Dik, besok kubangunkan rumah yang baru. Rumah yang tanpa semut. Aku telah membakar mereka semua hingga benar-benar habis, engkau tidka perlu lagi menangis. Tidak ada lagi yang akan menghabiskan lauk makan kita. Tidak ada lagi yang membuatmu ketakutan dan tidak bisa tidur. Tidak ada lagi.” (hal.38).

Elok menutup hampir di sebagian besar ceritanya dengan hal-hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Suatu hal yang mengingatkan saya pada perkataan yang terkenal itu, jika cerita yang baik akan berakhir dengan menang K.O. di hadapan pembaca.

Berpihak Kepada yang Lemah
Barangkali peran sastrawan kurang lebih sama dengan cendekiawan, yang harus berpihak pada yang lemah. Setidaknya dengan demikian karya yang dihasilkan mampu memberikan lecutan—untuk menggugat setiap lingkup kehidupan. Dengan keberpihakan terhadap kaum lemah, karya yang ditopang memberikan semacam pengingat, meskipun tidak bermakna verbal layaknya khutbah.

Dalam cerita “Orok” misalnya, Elok menyentil budaya patriarki tentang peran istri terhadap suami yang begitu marjinal. Ia menulis: “Sebelum gossip itu beredar, apa yang engkau tahu tentang diriku? Bukankah aku hanya tukang masak makananmu, aku hanya tukang cuci pakaianmu, aku hanya seorang pengasuh untuk dua orang anakmu dan aku, aku juga adalah objek pelampiasan hasrat seskual di saat kamu menginginkanku. Apa pernah kau bertanya padauk perihal kepuasan yang kurasakan setelah selesai kautiduri? Apakah aku juga merasakan orgasme? Tidak! Engkau tidak pernah bertanya. Aku ini ibarat makanan yang harus selalu terhidang di meja makan. Tak peduli engkau mau menyantapnya atau tidak, aku harus selalu tersedia!” (hal.1-2)

Mungkin juga apa yang dituliskan Bambang Sugiharto, agaknya ada benarnya, jika kekuatan sebuah cerita terletak pada daya puitiknya, dalam artian: hemat, tepat, dan dasyat. Cerita yang baik, mampu membangun efek maksimal dengan upaya minimal. Dengan singkatnya teks, sebuah cerita lebih berfokus pada kekuatan kata, alur, juga berbagai kejutan di dalamnya. Sebuah cerita pendek, merupakan upaya dari penulis untuk menggali semua daya kreativitasnya.

Sekadar ilustrasi, karya sastra membutuhkan kejernihan pembaca untuk memilah seluruh ilustrasi baik yang didapatkan dari kesadaran batin, ataupun dunia pengalaman. Kejernihan pembaca ialah bagaimana dirinya memasrahkan diri untuk masuk ke dalam teks, dengan membaca keutuhan teks secara sentral. Kefokusan pembacaan merupakan tugas yang dipikul pembaca, untuk tidak larut ke dalam teks. Meskipun dalam sastra, perpaduan perasaan (emosi) lebih banyak, sehingga dunia yang dibangun terutama melalui imajinasi dalam karya lebih terasa. Mengingat sebuah karya sastra kerapkali menampilkan sisi-sisi yang berlainan. Setidaknya, Elok telah merangkum segalanya dalam cerita yang ditulisnya. Ia berusaha untuk “menyentil” kehidupan yang terasa ganjil dan terkadang di luar nalar pikirannya. Sebagaimana yang diungkapnya, baginya ternyata kehidupan orang kampung lebih rumit dari paradigma berpikirnya. Dan melalui cerita yang ditulisnya, Elok telah memaparkan segala kejadian dengan rinci tanpa harus menghakimi. []


Penulis:

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, Majalah Basis, Koran Merapi, Indo Pos, Minggu Pagi, Bali Post, News Sabah Times (Malaysia), Surabaya News, Suara  Merdeka, Pikiran Rakyat (Bandung), Tribun Jabar, Analisa, Radar Surabaya, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, Tabloid Cempaka (Semarang), Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Analisa, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, www.detik.com, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published.