Puisi
Puisi Rizki Amir

Puisi Rizki Amir

Lemper

barangkali peringatan dan kemampuan kita untuk membayangkan sejarah sejak mula memang tidak benar-benar ada. meski, kita sama-sama tahu, ada yang tetap lengket dalam hati dan kenyal di hari-hari sunyi. sayangnya kamu masih saja mengakui tragedi di luar imajinasi dengan mengikat-rangkai arwah-arwah dan cerita-cerita lama, menyembah-serahkan campuran segenggam beras ketan, daun pandan, santan, dan cincangan daging ayam tiap datang bulan purnama. berharap pagebluk tidak kembali melanda.

2020

Manco

legit kue manco membuat kepala yang koplo kian lama kian jadi sontoloyo. meski, telah kutemukan krenyes-krenyes masa muda agar terasa maknyes. tapi hajatan telanjur berserak hujatan. sebab yang terlambat aku pahami adalah nasib buruk kerap merubuhkan harapan dalam bentuk lain.

2018

Jubung

selongsong putih. daun pohon pinang. saat orang-orang menyiapkan sarang, kamu justru baru mulai merendam ketan, meredam ingatan di antara gigil demam. menggiling dan membungkus cinta yang tulus, memupus gumpalan dendam supaya halus.

2019

Pudak

dari wuwung wangi makam seorang wali hingga kota yang bunuh diri, kita bawa pulang segumpal kabut asap bus antarkota. tapi katamu, seharusnya kita cangking juga seikat kue pudak serta jajanan lain yang bisa membikin perut kenyang sekaligus menolak peyang dari segala kenang anak lanang.

sebab, katamu lagi, tidak mungkin meminta orang rumah percaya bahwa kini, sudah tidak ada yang tersisa dari singup di sekujur tubuh ini. tentu saja kamu benar. tetapi bagaimana dengan batas yang terbentang antara angan-angan dan wingit kota?

2019

Getuk

1.
kali ini kamu bertemu dengan masa kecilmu lagi. masa kecil yang akrab dengan hal-hal sederhana. sesederhana ketela yang dihaluskan bersama gula. sesederhana jawaban orangtuamu saat kelangkaan pangan ada di pekarangan belakang rumah. kamu, bisa menjadi apa saja –lantaran dirimu dari waktu yang lain bersikeras mengembalikan silsilah

keluarga ke tempatnya. sayangnya, kamu tak bisa, tak akan pernah bisa berlari melewati tahun-tahun paling nyeri, ketika kelaparan menawarkan diri
berulang kali.

2.
kini pertanyaannya adalah seberapa mampu kamu meninggal-tanggalkan pagi di jendela dan sederet huruf-huruf jawa?

2020


Rizki Amir, lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit Rahasia Pasar (2017) dan Sarden yang Ringan (2021). Terpilih sebagai salah satu penulis emerging di Ubud Writers and Readers Festival tahun 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *