Puisi
Puisi F. Rizal Alief

Puisi F. Rizal Alief

Layangan Rea 1

rautan bambu halus ini, Nak adalah tulang doaku dan doa ibumu. Kuraut hanya tiap saat selesai rakaat seratus qulhu, sebelas yasin, dan seribu selawat. Dan hanya ketika bulan benar-benar purnama di dada ibumu. Agar ketika ia terbang tak takut angin kencang, tak waswas hujan, tak khawatir kepanasan. Bila kauinapkan, malam akan memberimu bintang berjalan. Bila siang, sepanjang matahari akan menunjukkan hari depan.

pegang talinya. Jangan sampai lepas, Nak. Semakin tinggi, ia akan semakin bisa menyentuh awan-awan tipis di angkasa dadamu. Kau akan tahu rahasia hujan dan ketinggian. Kauulur lebih tinggi lagi, sampailah di bulan dan matahari. Di sini benar-benar akan kaupahami, betapa di puncak segala yang tinggi hanya ada dirimu dan Ilahi Robbi.
Bandungan, 2021

Layangan Rea 2

kamu tak butuh lapangan luas dan keramaian, Nak. Layangan ini bisa terbang hanya dengan sentuhan angin paling sederhana sekalipun. Maka cukup di halaman rumah ini saja. Kamu gerak-gerakkan talinya dengan lembut, ia akan akan merayapi langit-langit dadamu yang tak berawan. Singgah di langit dadaku dan dada ibumu yang tak pernah berantakan. Tapi tak perlu cemas bila ada angin kencang. Kedua sayapnya akan berkepak lebih tinggi lagi.

bila sudah sore, kamu boleh menariknya kembali ke bumi, ke tempat kakimu berpijak pertama kali. Atau tetap membiarkannya di langit. Sampai malam berdua dengan bulan, bertiga dengan bintang.

Bandungan, 2021

Sungai Ghàngsèyan

batu besar itu masih mengilau, Rama. Airnya mengalir begitu tenang dari hulu hatimu ke unjur hatiku. Dan malam ini, bulan kembali membuka warangka celuritmu di tanganku. Sudah tanggal lima belas bukan? Kebetulan sekali malam Jumat manis. Kubawa kembang seribu dan dupa wangi rindu. Akan kuasah mata celurit ini kembali. Hingga kilaunya mengerling malam dan siang lagi. Dan yang paling penting, ia tak hilang dari dalam diriku.

Di sungai ini pula, Rama, tempatku mandi, menghanyutkan kotoran hati. Hingga seluruh diri wangi puisi.

Bandungan, 2021

Gerhana Bulan

dan bulan gerhana di atas atap rumahku. Ia meruntuhkan cahaya kuning perih sebelum sempat kubangunkan pohon, rumput, tanah, dan batu di dalam dadaku. Agar mereka tahu, bulan sedang dirundung ngilu. Ia tak mampu menyalakan cahaya di bulat bola mataku. Malam semakin terbenam bersama suara-suara parau yang berserakan dan tak sempat kubersihkan.

perlahan kuraba dada. Detak jantung terbata berjalan dari bekas reruntuhan. Kuhirup suaranya dalam-dalam. Ia menyusup ke dasar jiwa. Kubuka kelopak mata; darah mengalir ke akar-akar, pasir juga batu. Langit mengembalikan bulan ke mataku. Lalu kupantulkan pada malam, sepanjang malam. Agar nyala di hatiku tak padam, sepanjang jalan.

Yogya-Bandungan, 11/21

Selepas Hujan

selepas hujan deras itu aku berlari ke dalam matamu dengan baju basah, tubuh kuyup, dan hati yang gigil. Aku berteduh di bawah pohon besar sambil kuhangatkan tubuh dan hatiku di dekat tumpukan reranting kering bekas pembakaran semalam. Sampai matahari terbit dari sisa hujan yang berhenti menetes dari kelopak matamu.
selepas hujan menyapu gubukku yang lapuk, kubangun rumah di dalam jiwamu yang sepi, di antara reranting pohon yang merangkang ke langit. Juga daun-daun kering yang menyimpan desah napasmu setelah menerbangkan doa-doaku. Bulan, bintang, dan matahari bergantian beredar dalam jiwaku dan kuedarkan kembali ke dalam jiwamu.
ya, selepas hujan deras mendera, langit melukis tujuh macam warna. Kau ajak aku ke sana. Dan kita berjalan bersama.

Yogya-Bandungan, 11/21


Penulis:
F. Rizal Alief, belajar menulis sastra semenjak nyantri di PP Mahasiswa Hasyim Asy’arie Yogykarta asuhan Gus Zainal Arifin Thoha. Beberapa puisi, cerpen, dan novelnya terbit di media massa, antologi bersama dan buku tunggal. Buku puisinya Pengantar Kebahagiaan (basabasi, 2017) menjadi pemenang di Banjarbaru’s Rainy Day 2018. Buku puisinya yang baru Latar Belakang Kebahagiaan (CMG, 2020).

1 thought on “Puisi F. Rizal Alief

Leave a Reply to Rizky akmalsyah Cancel reply

Your email address will not be published.