Cerpen
Sang Presiden

Sang Presiden

Yang pertama membawa cerita ke Lelenggo adalah seorang pedagang untuk-untuk. Ia bercerita sambil berdiri, menyunggi bakul, dan tangan kanannya terayun-ayun ke sana-kemari. Laki-laki tua yang sering dipanggil Maq Kecubeh, tengah duduk di dekat tungku, mendengarkan dengan menelengkan kepala, karena dengan cara itulah ia dapat mendengar dengan lebih baik.

“Presiden cari orang-orang kebal peluru,” kata pedagang untuk-untuk. “Katanya akan ada perang.”

Maq Kecubeh terbatuk-batuk. Urat lehernya menegang. Selama pedagang untuk-untuk bercerita tentang pencarian orang-orang kebal, bahwa sebentar lagi akan ada perang, dan betapa disediakan uang yang sangat banyak untuk mereka yang dapat menyelamatkan sang Presiden, Maq Kecubeh terus menelengkan kepala, persis seperti tingkah seekor ayam yang mendengar lengking elang di udara.

Setelah pedagang untuk-untuk pergi, ia tetap menelengkan kepala selama beberapa saat. Tangan kanannya menggaruk lengan kirinya. Menyisakan garis-garis putih. Begitu kepalanya normal, ia langsung berdiri, dan berjalan menuju rumah Maq Colaq.

Di kejauhan terdengar gonggongan anjing. Suara orang memanggil. Berteriak hanya dengan ‘wooee’ beberapa kali tanpa menyebut nama. Lebih jauh lagi terdengar suara orang menebang kayu. Barangkali dengan kandik. Maq Kecubeh terus berjalan dengan sedikit terbungkuk, menyusuri jalan setapak di tengah kebun kopi, menuju rumah Maq Colaq, di puncak bukit.

Biasa, ia tidak pernah mendatangi rumah Maq Colaq pagi hari. Hanya menjelang malam, membawa lauk pauk untuk sedaq minum tuak. Lalu duduk berdua hingga tengah malam. Membicarakan tentang apa pun, dan yang paling sering adalah tentang orang-orang sakti yang pernah mereka temui atau yang hanya pernah mereka dengar dari cerita. Malam sebelumnya, sebelum tuak membuat mereka mabuk, mereka membicarakan tentang seorang laki-laki yang tinggal di Lombok bagian timur. Ia tampak ringkih dan hidupnya seperti akan berakhir tidak lama lagi, tetapi ia mampu menghabisi lima orang perampok yang mencoba merebut dua ekor sapi miliknya.

Maq Colaq tengah duduk di berugak, mengayun-ayunkan kedua kakinya, ketika anjing peliharaannya yang tengah meringkuk di jebak, tiba-tiba menyalak. Ia langsung menoleh ke kanan, dan tampak Maq Kecubeh berjalan masuk.

“Ndak ke sini dagang untuk-untuk tadi?” kata Maq Kecubeh, sebelum ia sampai di berugak.

“Mana ndak ada. Dia ndak pernah ke sini. Dikira saya ndak punya uang mungkin.” Maq Colaq sedikit geram. Kedua tangannya menekan tepian berugak. Kedua kakinya masih terayun-ayun. Anjing miliknya masih menyalak, mencakar-cakar tanah. Bulu-bulunya tampak berwarna keemasan terkena cahaya matahari pagi.

“Katanya sebentar lagi perang.” Nada bicara Maq Kecubeh seperti ancaman. Urat-urat lehernya menegang. Setelah duduk di dekat tiang, ia melanjutkan, “Mungkin akan benar-benar perang. Kemarin atau ndak kapan itu, saya ketemu sama empat orang pengangkut kayu di Sungai Keditan, katanya juga gitu, akan ada perang.”

Maq Colaq menaikkan kaki kanannya, menginjak tepian berugak. Lututnya begitu dekat dengan mulutnya. Tangan kanannya mengelus-elus lutut, dan sesekali menggaruk-garuk betis. Luruhan berwarna putih melayang turun dan jatuh ke tanah. Tepatnya, jatuh ke atas sandalnya yang telah berlubang di bagian tumit. Maq Kecubeh bersandar di tiang, dan membentur-benturkan dengan pelan kepala bagian belakangnya ke tiang. Pandangannya tertuju ke atap yang berwarna jelaga, tempat sarang laba-laba yang telah ditinggalkan berayun-ayun ringan.

“Perang kayak dulu itu lagi mungkin ini,” kata Maq Colaq setelah terdiam selama beberapa saat. Ia memang sering begitu. Terdiam selama beberapa saat, memandang jauh, seolah berusaha mencari kata-kata yang tepat, atau mengingat-ingat sesuatu.

“Ya, kayak yang dulu itu. Mungkin sama Nipong juga sekarang ini.”

Maq Colaq berdecak-decak dan menggeleng-geleng. Entah apa yang dia pikirkan. Maq Kecubeh masih membentur-benturkan kepalanya dengan pelan ke tiang.

Lalu, seolah baru teringat, Maq Kecubeh berkata, “Dan dicari orang-orang kebal peluru.”

Maq Colaq langsung menoleh. “Kebal peluru?”

“Ya, ada uang besar katanya.”

“Saya ndak percaya, presiden sekarang berhenti percaya sama begituan.”

“Dagang untuk-untuk yang kasih tahu saya.”

“Dia tahu dari mana?”

Tanpa berkata apa pun, Maq Kecubeh turun. Berjalan dengan sedikit terpincang-pincang ke bagian belakang rumah. Berdiri menghadap bukit yang menjulang di seberang, dan berteriak lantang. “Dagang untuk-untuk! Beli untuk-untuk! Beli untuk-untuk!” teriaknya. Anjing yang tadi telah terdiam, mendengar suara Maq Kecubeh, menggonggong lagi. Dari seberang, terdengar suara orang yang sama dengan yang tadi. Berteriak ‘wooee’ berkali-kali. Mungkin orang-orang iseng, yang berusaha menghilangkan rasa lelah mereka. Sedang pedagang untuk-untuk entah tengah berada di mana. Tetapi lama setelah Maq Kecubeh kembali ke berugak, dan pembicaraan mereka telah sampai ke orang yang kebal peluru dan pernah menjadi pelindung presiden pada jaman perang, pedagang untuk-untuk akhirnya datang. Ia membangunkan anjing yang tengah meringkuk; menghangatkan diri.

Ia berjalan pelan sekali menuju berugak. Tubuhnya gempal. Dadanya penuh, tampak susah bernapas. Salah satu tangannya memegang tepian bakul, tangan lainnya memegang kain, hingga sedikit terangkat, dan terlihat lututnya yang begitu hitam.

“Apa dibicarain?” tanyanya.

“Apa ndak ada. Ngomongin apa buat sedaq nanti malam,” jawab Maq Kecubeh.

“Ini beli untuk-untuk.” Pedagang untuk-untuk menurunkan bakulnya persis di antara Maq Colaq dan Maq Kecubeh. Beberapa lalat datang entah dari mana. Hinggap di untuk-untuk yang digelontorkan begitu saja di bakul. Merayap ke sana-kemari.

“Dari siapa epe dengar ada perang itu?” tanya Maq Kecubeh akhirnya.

“Yok! Di rumah saya semua orang bicarain itu. Katanya Maq Darni sudah siap-siap mau pergi. Tau Maq Darni kan?”

“Yang di Puntian itu?”

“Ya, itu dah.”

“Siapa yang kasih tahu kalian?”

“Ada bapak-bapak datang. Sudah ditulis nama-nama orang di dekat rumah saya. Mereka yang ndak bisa luka kena peluru. Uangnya banyak katanya. Sebentar lagi perang. Perang sama apa mungkin, saya ndak ingat.”

“Sama Belanda mungkin,” terka Maq Kecubeh.

“Bukan. Dulu itu sama Belanda.”

“Sama apa dong?”

“Sama apa mungkin katanya. Lupa saya. Saya ndak sekolah, ndak tahu gitu-gitu.” Pedagang untuk-untuk berkata sambil berdiri. Kedua tangannya memegang tepian bakul. Jari-jarinya gemuk. Di jari tangannya, melingkar cincin berwarna emas yang tampak kekecilan. Mencekik pangkal jarinya.
Maq Colaq kembali memandang kejauhan. Tangan kanannya mengelus-elus lutut dan betis. Ia memikirkan sabuk miliknya, yang tersimpan di bawah bantal, dan telah lama sekali tidak pernah ia pakai. Ia membayangkan akan berangkat, dengan sabuk itu terikat di pinggangnya, dan menghadapi ratusan tembakan. Peluru-peluru ditembakkan ke tubuhnya, dan tubuhnya tidak tergores sedikit pun. Peluru-peluru itu terpental seperti terbuat dari karet. Membayangkan itu, senyum tersungging di bibirnya. Tampak giginya yang berwarna cokelat kemerahan, seperti besi berkarat.

Maq Kecubeh juga membayangkan hal yang serupa. Ia berangkat ke tempat pertempuran, setelah sebelumnya mengolesi tubuhnya dengan minyak kebal pemberian ayahnya, yang ayahnya terima dari kakeknya, yang kini tergantung penuh sarang laba-laba di atas pintu rumahnya. Peluru-peluru ditembakkan ke tubuhnya, namun peluru itu tidak sedikit pun mampu melukai tubuhnya. Peluru-peluru itu mendarat di tubuhnya tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

Mereka tersenyum. Mereka sama-sama mengharapkan benar-benar terjadi perang.[]

Catatan kaki:
Jebak : gerbang.
Sedaq : makanan pendamping/tambahan.
Untuk-untuk : jajan yang terbuat dari tepung dengan pisang di dalamnya.
Epe : kamu (sopan).


Penulis:
Arianto Adipurwanto lahir di selebung, lombok utara, 1 november 1993. Kumpulan cerpennya berjudul bugiali (pustaka jaya, 2018) masuk 5 besar prosa kusala sastra khatulistiwa tahun 2019. Nomor kontak yang bisa dihubungi 082339209367 atau media soal arianto adipurwanto.

1 thought on “Sang Presiden

Leave a Reply

Your email address will not be published.