Cerpen
Dialog Korona

Dialog Korona

LELAKI itu biasa disapa Endin. Nama lengkapnya Sapradin. Orang Madura tidak biasa mengucapkan sesuatu dalam satu suku kata tertentu. Bis (untuk bus) menjadi ebbis, top diucapkan ettop. Orang Madura juga terbiasa menyingkat sebutan. Wonokromo (salah satu kawasan di Surabaya) yang dimadurakan menjadi Benakrama, biasa disebut sebagai Nakrama. Maka, nama Sapradin menjadi hanya tinggal Din, dan kemudian menjadi Endin. Seharusnya menjadi Eddin, tapi kalah populer dengan Endin.

Sejak pandemi merasuk ke ruang-ruang tubuh manusia di hampir seluruh belahan dunia, Endin berada di barisan depan dalam golongan yang tidak percaya bahwa virus itu betul-betul ada. Ia lebih percaya pada kabar bahwa semua itu hanya permainan. Pada akhirnya, lelaki desa yang hanya tamatan Madrasah Ibtidaiyah di pesantren tradisional di tetangga desanya itu, kini mulai mengenal dan akrab dengan kata “konspirasi”, selain diksi “hoaks”.

Gara-gara kukuhnya pada keyakinan bahwa Covid-19 itu hanya akal-akalan kelompok tertentu, Endin hampir saja terlibat carok dengan kakak ipar yang tempat tinggalnya masih dalam satu area tanean lanjheng (halaman memanjang karena rumah berjajar dengan penghuni satu keturunan dari kakek nenek) itu.  Si kakak ipar sudah tidak tahan dengan “kampanye” Endin yang setiap hari bicara soal konspirasi Covid-19.

Namun, sejak semalam, pertahanan “iman” Endin mulai runtuh. Puncaknya membuncah pada siang yang terik ini.

Semalam, Endin merasakan tubuhnya demam. Otot-ototnya ngilu. Jaket tebal yang mulai kumuh tak mampu lagi melindungi tubuhnya yang merasakan hawa sangat dingin.

Paginya, kondisi Endin tidak malah membaik. Ikhtiar pergi ke ladang untuk menyiram tembakau tak membuahkan setes pun keringat. Alih-alih merasakan hangat, tubuhnya bertambah dingin, napasnya mulai terasa berat. Maka, di ladang ia hanya mampu menyelesaikan penyiraman sekitar 2.000 batang dari 5.000 batang tanaman andalan petani di Pulau Garam itu.

Maunya menyerap vitamin D lebih sempurna dari Matahari, bajunya sengaja dibuka saat menyiram tanaman tembakau itu. Kini, baju itu sudah menempel kembali di tubuhnya ditambah dengan jaket. Di tengah ladang dan hamparan sinar matahari sempurna tadi, demamnya tidak kunjung enyah.

Endin pulang ke rumah dan berbaring di lencak dari bambu hanya beralaskan tikar dari anyaman daun siwalan itu. Ia teringat kalimat yang sering diucapkannya ketika para tetangga membahas tentang Covid-19. “Saya tidak takut virus. Kita tidak usah takut. Saya hanya takut sama Allah.” Suara halus penyesalan mulai berkesiur ketika sesak napasnya semakin mengimpit dada.

Batinnya mulai sadar, “Betul ada virus ini, ya”.

Pada perjalanan pulang dari ladang ke rumah, Edin sempat disapa pertanyaan oleh Pak Klebun (kepala desa).  Endin hanya menjawab pendek karena merasa disinggung soal sakitnya oleh Pak Klebun. Pak Klebun yang tulus menyapa dianggap Endin menyindir dirinya yang tidak percaya korona, namun sekarang justru menjadi pengidap penyakit akibat Sars-Cov-2 itu. Pak Klebun adalah sasaran “kampanye” Endin yang dianggapnya ikut menangguk untung dari isu-isu virus asal Kota Wuhan di China itu.

 “Pak, kapan virus ini habis ya? Benci aku sama virus ini. Aku pingin sekolah.”

Belum hilang ingatan akan sapaan Pak Klebun, suara anak kedua Endin menambah pukulan bagi jiwanya. Ia hanya menoleh pada Cong Mad, bocah kelas tiga sekolah dasar itu.

“Sabar ya, Cong,” jawabnya lirih. Cong merupakan panggilan sayang untuk anak lelaki di Madura, sebagaimana Le atau Tole di Jawa.

Perang di pikirannya, antara korona itu tidak ada dan korona sesungguhnya nyata, bertambah seru. Apalagi, sejak pagi sebelum berangkat ke ladang, hidungnya sudah tidak mampu membaui aroma calatthong (kotoran) sapi piaraannya.

Desau angin yang membelai daun-daun bambu di samping kandang sapi dan dapur tak lagi tersaji sebagai keindahan musik alami. Itu justru menyiksa batin Endin yang tubuhnya juga tertempias angin musim Agustus.

Eatoreh adhe’er dhimen kak,” istrinya mengingatkan Endin dalam Bahasa Madura, yang artinya mengajak makan.

Tak berminat menjawab, Endin hanya menggeleng. Malu sekali pada istrinya yang kini mengenakan masker. Wanita yang umurnya terpaut dua belas tahun itu selalu ia cekoki dengan kalimat bahwa korona itu tidak ada. Jangan takut dan takutlah hanya kepada Allah.

***

Untunglah Endin masih teguh dengan kebiasaan di pondoknya. Setiap menghadapi persoalan, ia terbiasa mengambil wudlu dan melakukan shalat sunah wudlu dua rakaat, dilanjutkan shalat taubat dan shalat hajat.

Dengan napas yang semakin tak sempurna, Endin masih menyelesaikan zikir panjang yang biasanya rutin dikerjakannya pada malam hari usai shalat sunah. Meski telah menyelesaikan wirid satu putaran, ia tidak segera beranjak dari tempat shalat di langgar bambu dan berkaki-kaki seperti rumah panggung itu. Di Madura, hampir semua rumah memiliki langgar terbuat dari bambu. Selain berfungsi untuk tempat shalat, langgar juga biasa difungsikan untuk menerima tamu, termasuk kalau si tamu menginap. Langgar seperti itu juga biasa menjadi kamar santri di pondok-pondok pesantren kuno. Hanya atapnya yang berubah dari daun ilalang berganti genting yang lebih praktis.

Endin masih duduk dengan posisi kaki dilipat ke belakang dan kaki satunya menyilang. Ia merenungkan yang dialami tubuhnya. Semangatnya masih belum kendur untuk sembuh kembali. Ia tidak mau menjadi jenazah keenam yang diantar ke pemakaman di desanya pada hari itu. Hampir tiap hari kabar kematian di desa itu dikumandangkan dari pengeras suara di masjid. Meskipun tanpa menjalani tes swab dan sejenisnya, rata-rata jejak kematian warga desa, selama sepakan terakhir ini, sama. Sesak napas, suhu badan panas tinggi, batuk kering dan indra penciuman serta perasa tak berfungsi. Ya, mereka meninggal lewat lantaran korona.

Endin memilih berkontemplasi sambil bersandar pada salah satu tiang langgar. Ia berupaya bermunajat dengan melafazkan kata Allah dalam setiap tarikan dan embusan napas yang semakin tidak normal. Ia padukan dengan sikap batin pasrah atas hidup matinya kepada Allah. Ia pejamkan mata, menyetel rasa dan pikirannya untuk menerima dan pasrah atas semua yang dialami tubuhnya. Beberapa kali ia gagal karena godaan napasnya yang tersengal-sengal. Ia masih terus memejamkan mata.

“Endin, kamu kenapa?” suara itu muncul dalam kontemplasinya. Kalau dalam ilmu tentang hipnosis, gelombang otak Endin sudah masuk pada alpha (7,5-12,5 Hz), semakin mendalam lagi masuk ke gelombang theta (4-7,5 Hz) yang sangat rileks dan nyaman. 

“Aku sakit karena kamu,” jawab Endin spontan.

“Loh, aku cuma numpang lewat dalam kehidupanmu. Aku ditugaskan Tuhan untuk bertebaran di alam semesta. Tapi, kamu dan manusia lainnya menganggapku sebagai musuh yang harus diperangi.”

Endin tidak berkutik.

“Ingat ya, aku hanya menjalankan perintah Tuhan, dan kalian manusia tidak menyadari hadirku di muka bumi ini untuk menyampaikan pesan cinta Tuhan atas kalian. Agar kalian manusia kembali ke jati dirinya sebagai makhluk yang di dalam dirinya ada keilahian.”

Suara itu berlanjut, “Sebetulnya yang menyebabkan engkau sakit, jiwamu sendirilah yang tidak kamu sadari telah menghasrati rasa sakit itu. Respons jiwamu yang menyebabkan tubuhmu kalah denganku.”

Endin tidak bisa menjawab.

“Endin, aku tanya ya, sejak kapan engkau anggap tubuhmu itu adalah dirimu? Ia kan hanya mewakili dirimu yang sejati untuk hadir di ruang waktu, sebagaimana Tuhan memeragakan sifat-sifat-Nya lewat alam ciptaan-Nya. Kamu kok kalah sama wakilmu sendiri sih?”

“Aku ini dihadirkan oleh Tuhan sebagai mahluk lemah, sementara manusia makhluk paling mulia yang sangat dibangga-banggakan oleh Tuhan saat penciptaan pertama dulu. Aku tidak punya kehendak apa-apa, kecuali memiliki potensi bertahan hidup lebih lama dan berkembang biak ketika menemukan inang yang tepat. Inangku adalah manusia-manusia yang energi jiwanya lemah, dan Tuhan tidak pernah mengingkari hukum alam yang telah diciptakan-Nya. Aku ini ibarat biji tanaman yang buahnya dibawa burung dan kemudian jatuh di tanah tertentu. Kalau tanahnya subur, hidup dan bertumbuhlah biji  yang dijatuhkan burung itu. Sebaliknya, jika jatuh di tanah tandus, maka matilah biji itu karena kering dibakar waktu. Demikian juga aku. Endin, kamu masih memiliki kesempatan, apa mau menjadi tempatku berkembang biak atau aku hanya berstatus sebagai penumpang lewat. Pilih sendiri ya.”

Tiba-tiba muncul sosok lain dalam kontemplasi itu.  Mbah Anwar, lelaki linuwih asal Muna, Sulawesi, yang sering menjadi rujukan Endin menanyakan berbagai masalah, termasuk agama, khususnya tentang kemakrifatan.

“Cong Endin, aku nambahi peringatan dari ‘Syech Korona’ tadi ya. Mari kita ingat-ingat pelajaran yang pernah kita bahas bersama, tentang tazkiyatun nafs. Membersihkan jiwa. Aku sudah lama mendengar kalau kamu selalu berkoar-koar di kampungmu, tidak takut korona. Kamu selalu bilang hanya takut sama Allah. Selama dua tahun ini kita memang tidak pernah bincang-bincang lagi ya. Kamu sudah lama tidak bertandang ke rumahku,” kata si Mbah yang sudah lama tinggal dan berkeluarga orang Madura itu.

“Iya Mbah,” sahut Endin singkat.

“Mari kita telisik lagi ya, Cong. Saat kamu bilang kamu hanya takut sama Allah, adakah energi rendah di situ sehingga pernyataan yang seolah-olah sangat riligius dan menunjukkan kuat iman, ternyata itu keliru? Bahkan, telah mengangkangi salah satu sifat Allah.”

“Loh, kok begitu, Mbah?”

“Coba kamu telisik lagi, apakah ada rasa ingin dipuji oleh orang lain saat kamu mengatakan itu? Agar kamu terlihat sebagai pemberani dan paling beriman.”

“Iya, ada rasa begitu, Mbah.”

“Nah, kamu mengatakan begitu juga karena masih ada dendam kan dengan kepala desa yang menang dalam pilkades, dan kamu mendukung calon yang kalah? Sementara kadesmu sekarang sering keluar ke mana-mana mengingatkan warganya untuk selalu memakai masker dan menaati protokol kesehatan. Di situlah energi halus sombong yang membuat jiwamu berada di energi rendah, Cong.”

“Cong, saya dalam satu tahun ini belajar tentang ilmu level kesadaran yang menurut saya sangat membantu kita yang belajar makrifat untuk mewaspadai energi lembut yang sering tidak kita sadari sehingga kita semakin jauh dari keilahian. Sombongmu yang ke mana-mana mengatakan korona itu tidak ada, itu juga belepotan dengan energi rendah lain, yakni dendam (merendahkan yang lain) dan pride (membanggakan diri). Dan, itu membuat jiwamu rentan, apalagi di masa pandemi yang informasinya membuat banyak orang terjebak dalam suasana batin yang ketakutan. Kita sekarang seperti seekor kijang yang lepas dari kelompok dan menjadi kejaran gerombolan singa.”

“Iya, Mbah.”

“Tapi, tenanglah, Cong. Ilmu level kesadaran dari seorang doktor yang juga psikiater ini sangat menenangkan. Ketika kita terjebak pada level energi rendah, kita tidak usah menghakimi, melainkan cukup disadari, lalu terima itu sebagai keadaan diri saat ini. Kemudian, lampaui untuk menuju ke kesadaran tinggi. Ilmu level kesadaran ini ilmu ilmiah, loh, karena bukunya merupakan ringkasan disertasi S-3 dari si doktor itu.”

“Oh, gitu, Mbah?”

“Di tengah peragaan sombongmu itu, diam-diam jiwamu juga takut kan? Itu juga level rendah sehingga tubuhmu rentan dijadikan ladang untuk berseminya virus. Sebagaimana dikatakan virus tadi, kalau jiwamu tenang tanpa ada rasa sombong dan takut atas keseombongan sebelumnya, maka ‘syech virus’ itu hanya dinumpangkan lewat oleh Allah. Kalau orang Jawa bilang, ndrek langkung. Aku bisa istilah Jawa ya? He hee…. Aku kan pernah lama tinggal di Jogja.”

“Nggih, Mbah. Kulo paham.”

“He hee…. Kamu ngerti Bahasa Jawa juga ya?”

“Oke, kembali ke sikap kita menghadapi virus. Cobalah sikapi dengan level kesadaran tinggi, yakni cinta kasih tanpa syarat, bukan diajak berperang. Ini juga pelajaran dari leluhur Madura, loh. Dulu, kalau tengah malam kita berpapasan dengan orang yang diduga maling di sekitar rumah, leluhur kita bukan meneriaki si maling kan? Leluhur kita mengajarkan kita untuk mengatakan pada si maling, ‘Silakan lewat, tidak usah mampir-mampir ya.’ Dengan sikap itu, maka dapat dipastikan lingkungan dan rumah kita aman, setidaknya malam itu. Tapi, sebaliknya, kalau menunjukkan ketidaksukaan pada si maling yang lewat, rumah kita akan menjadi incaran. Kalau tidak malam itu, malam-malam berikutnya pasti selalu diincar, bahkan dengan jumlah maling yang lebih banyak.”

“Demikian juga dengan doa dan amalan-amalan yang selama ini banyak bertebaran di media sosial, tentang bagaimana kita menghadapi pandemi ini. Telisik juga motifnya apa? Saya merasakan kok motifnya lebih banyak ke rasa takut ya sehingga dalam berdoa dan membaca amalan tertentu itu juga dibersamai oleh ego agar apa yang terjadi sama dengan yang di-kareppi. Bahasa Jawa lagi ini. Karep atau ‘yang diingini’ itu juga level rendah, ego. Maka dalam khazanah Jawa, karep itu harus dipangku, diterima, dielus-elus agar tidak selalu muncul. Ada lagi, kaitan dengan karep ini, yakni kahanan alias keadaan. Maka terimalah keadaan itu dengan tanpa ego. Rasakan pesan cinta Allah dalam setiap kahanan  yang tersaji di hadapan kita. Insya Allah semua akan terharmoniskan. Pasrahkan semua kepada kehendak Gusti, kamu pasti sehat kembali.”

“Masih ada lagi. Sadari selalu siapa diri kita yang sejati, yang disebut-sebut oleh Allah sebagai makhluk paling sempurna, sebagai khalifah fil ardl. Itu namanya maqom spiritual. Sebagai Wakil Allah di muka bumi, kita sebenarnya adalah pengatur dan pengarah pengalaman di ruang waktu. Maka sangat aneh, kalau dalam situasi pandemi ini maqom kita justru turun, bahkan mengalami dampak dari pandemi. Mestinya kan kita yang memberi dampak pada kehidupan. Kini kita semua menjadi korban atau terdampak dari kahanan. Inikan kebalik-balik.”

Mbah Anwar berjeda, mengawasi Endin.

“Caranya bagaimana? Ini yang memang tidak mudah dijelaskan. Ini adalah seni olah rasa, olah jiwa. Sadari rasa ada di dalam dirimu. Kalau menurut Ki Ageng Suryomentaram, filosof dari Jawa, itu disebut sebagai “si tukang nyawang”. Kalau bahasanya doktor yang psikiater tadi, disebut sebagai observer alias pengamat atau penyaksi. Hanya dengan menyadari rasa ada itulah, kita akan terbebas dari kungkungan diri sebagai onggokan daging yang ditegakkan oleh tulang belulang. Manjing-lah terus menerus di kesadaran itu, maka potensi kekhalifahanmu akan semakin termanifestasikan. Jangan larut dalam sensasi tubuh ketika mengalami sakit. Rasa ada itulah yang menjadi penyambung jiwamu dengan Yang Maha Hidup. Itulah yang dimaksud dalam innalillaahi wainnaailaihi rooji’uun. Kemudian, sandarkan pada laahawlaa walaaquwaata illaabillaahil ‘aliyyil ‘adziim. Cukup ya.”

“Oh, ada satu lagi, bisa juga kamu pakai ilmunya sohibku ini, Kang Sejo, dengan doa campuran ala Jawa. Allahumma bejo. Atas bejo, bawah bejo, kanan bejo, kiri bejo, depan bejo, belakang bejo. Bejo kersaning Allah. Bejo itu bahasa Jawa juga ya, yang artinya beruntung. Jangan lupa, kaitkan semua itu selalu pada diri yang transenden, yang aku sebut rasa ada tadi, bukan diri yang ego, loh. Sudah, cukup. Klaras kalareh trebung manyang. Beres mareh, tedung nyaman (sudah sehat, tidur nyenyak). Kalau yang terkahir ini, mantranya leluhur Madura. Sehat, sehat, sehat.”

Endin, tiba-tiba tersadar ketika mulai terdengar istrinya menangis sambil memukul-mukul dinding langgar mengabarkan bahwa ibu mertuanya telah mengembuskan napas terakhir. Sudah 10 hari si ibu mertua sakit dengan tanda-tanda pada umumnya Covid-19.

“Kak, Kak, Kak, Embuk (ibu) sudah meninggal, Kak. Bagaimana ini, Kak?”

“Suruh Endin ngurusi jenazah Ibu ini sendirian. Kan dia tidak percaya kalau korona itu ada. Turun, Din, turun….” terdengar teriakan kakak iparnya di sebalah timur langgar.

Endin menyahut malas teriakan istrinya,” Iya, Dek. Sebentar.”

“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Kali ini aku terima pesan cinta-Mu dengan sepenuh jiwa lewat virus ini.” Endin beringsut dari persandarannya di tiang langgar.

Napasnya mulai sedikit normal. Tubuhnya yang masih berbalut jaket terasa gerah, kaus dalamnya basah berkeringat, sementara di tanean lanjheng, suara orang semakin bergemuruh bercampur isak tangis perempuan.

“Endin, jasad Embuk ini adalah buktinya. Apakah kamu masih terus tidak percaya kalau koron itu ada?”(*)

 


Penulis:
Masuki M. Astro
Wartawan LKBN ANTARA, tinggal di Bondowoso
FB: Marsuki M Astro

2 thoughts on “Dialog Korona

Leave a Reply

Your email address will not be published.