Puisi
Puisi Ian Hasan

Puisi Ian Hasan

Hikayat Ratu Adil
surya muram,
kehangatannya lindap di ketiak sejarah
dan air kemenungan sublim menguap
mengutuk kesaksian giri mahendra

merah,
jawadwipa compang-camping
serupa rakyat jelata mati rasa
bersama anyir bau ampo yang menguar
selagi dendam menggenangi darah mataram

berserak,
ketika para ksatria berdiaspora
mengombang-ambingkan takdir
rintihan suket, otek dan pari menuntut semi
dan niscaya wahyu kertagama di ujung nadir
hanyut bersama gonggongan anjing

saksi,
ke mana hendak kembali
anak-anak negeri sedang menggumuli luka
hasrat perih tertusuk sembilu yuta
silap angan menanti erucakra
menggendong radu dalam kandungan cerita

sengkarut,
brahmana ulama mengotori tangan
anjing-anjing risau kebingungan
menerka mana tuan mana lawan
merestui benih kesumat yang beranak turun
dan manikam kebijaksanaan pun pergi menepi

benggala,
hikayat purba jadi teladan
memberi jalan jalinan kesadaran
menuju liang nastiti yang sedang kita cari
meski jauh dari api

mirat sunyi.

Karanganyar, Januari 2019


Langit Genangan

hujan,
adalah kenangan yang meresap sedia
menembus pori-pori menunda pergi
kembali ke pelukan bumi, membawa
syukur yang sederhana serupa rindu
yang terbalas sepenuh sedia

angkasa,
menghampar teduh oleh mendung
harapan dan keluh berebut gemuruh
pada dedaunan pesan dititipkan
tentang kabar kemenangan tertiup
angin yang berderap bersama awan

pelangi,
ke mana pergi saat jatuh ke perangkap janji
kepada pucuk gumam yang menyimpan
akhir yang samar, mengalirkan serangkaian
kesima pada simpul kenangan, terpantul
setumpuk rindu yang menggenang

Karanganyar, Oktober 2019


Merawat Hujan

hujan banjir pujian
milyaran penantian dipertemukan
semarak ampo turut memeriahkan

rindu bumi tersudahi
meski beberapa di antaranya terhalangi
seperti mantelku dan pelataran semenmu
atau selokan yang membuatnya gegas berlalu

rindu bumi direstui
meski kemudian bentuk cinta tak sama lagi
seperti jemuran yang diangkat suami
atau sepeda motor yang kerap dicuci

pada pertemuan pertama
kadangkala aku pun masih sering lupa
atas gerutu sebelum musimnya berlalu

rindu hujan di haluan
meski lebih banyak tak dipersilakan
seperti tamu atau mertua tak tahu malu
yang berlama-lama goyahkan kesediaanmu

Karanganyar, November 2019


Kelahiran Kata

benih kata,
kerap bersemai pada setiap rasa terkurung
hanya saja di antara mereka ada yang
angkuh ketika disapa, liar ketika dipungut
seringkali mengelak ketika dipasung

seorang kawan,
pernah jatuh kecewa sebab
kehilangan kata pada ujung kalimatnya
sekalipun ia masih beruntung
telah mendengar bisikan alam
selagi kata belum selesai terangkai

satu leksika,
yang hilang tetap saja tak tergantikan
sekalipun perih mengapung saban malam
ia masih bersemayam di rahim makna
seraya menanti takdir kelahirannya

Salatiga, November 2019

Nubuat Ajal Para Pelari

subuh merebah di kedamaian pagi, sebelum
gelisah dan gesaan hari mengajakmu bersekutu
mencerca jiwa-jiwa terpasung arunika
mencaci nyali-nyali terkebiri mimpi

sejak kau terkurung di kandungan masa
mereka sibuk berburu kelamin, antara
pemenang atau pecundang sesekali terpaksa
menerima jenis kelamin berbeda
sembari mengutuk kesialan dan derita
mereka yang rajin berderma

persidangan meja makan berangsur sepi
para napi terlunta dikejar pertandingan rebutan nasi
otak-otak sunyi mereka terisi mimpi yang bukan milik sendiri
kau bersiasat mengelak, berlindung di belakang alibi para pelari
demi waktu, demi perlombaan menjemput nasib
demi meliburkan gairah kemalangan

anak-anak waktu bergegas,
tunas-tunas mimpi terlepas
dari induk kearifan yang gagal ditetas
kepungan asap dari tungku dan periuk kosong
sekadar mengepul penuhi rongga dada mereka
mengelabui kenyang tak kenal tuntas
berdamai dengan senja yang terkapar kehabisan napas

jika nirwana jadi tempat kembali, kedamaian lupa diri
karma kebencian mengantar mereka pergi
ke haribaan kasih sayang, ke pangkuan penyesalan
kehadiranmu dirayakan bersama tangis dan ratapan
tanpa keharusan berlari, tanpa bekal ketergesaan

Karanganyar, September 2020

Perempuan Kehidupan

bumi yang menumbuhkan, alam yang menghimpun
dan pelenting harapan-harapan yang terlambung
seringkali terkumpul pada satu sosok
: ibu

sentuhan cinta dan ketulusan doa mereka
membuka aliran kebijaksanaan dari leluhur
merestui jalan kehidupan sang buah hati
meredam segala hasrat yang membakar diri

kesucian hati dan kelembutan tangan mereka
merawat jiwa sebuah rumah, sebuah keluarga
dari setiap tetes dan kucuran air sejak dini hari
serta kepulan asap tungku-tungku di permulaan hari

bukanlah rumah jika tanpa dapur yang menyala setiap hari
bukanlah makanan jika tanpa kecakapan dan sentuhan jemari
yang mengalirkan keberkahan pada setiap suapan
sampai ke mulut anak-anak kehidupan

Karanganyar, Desember 2020


Penulis:

Ian Hasan, kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Penulis dapat dihubungi lewat surel: opussociety@gmail.com dan Instagram: @ian_hasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *