Resensi Buku
Saroni Asikin dan Imajinasi Liarnya

Saroni Asikin dan Imajinasi Liarnya

Identitas Buku
Judul : Striptis di Jendela
Penulis : Saroni Asikin
Penerbit : Beruang Cipta Literasi
Cetakan : November 2020
Tebal : 91 halaman
ISBN : 978-623-93938-5-4

Satu di antara hal yang membedakan antara sastra dan non-sastra adalah unsur imajinatif yang terkandung di dalamnya. Sastra mampu mencipta ruang khayal yang khas, sedang non-sastra tidak. Oleh sebab itu, Rene Wellek & Austin Warren (1977) dalam karya legendarisnya Theory of Literature mengungkapkan bahwa dunia kesusastraan dibatasi dengan karya-karya sastra yang bersifat imajinatif, sebab karya sastra merupakan olah kreasi seorang pengarang yang terinspirasi dari kehidupan di sekitarnya lewat rekaan dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Uniknya, beberapa pengarang bahkan melampaui batasan imajinasi itu sendiri. Salah satunya adalah Saroni Asikin lewat kumpulan cerpennya yang bertajuk Striptis di Jendela.

Imajinasi-Imajinasi Liar
Ada 6 judul cerpen dalam kumpulan cerpen tersebut, 5 di antaranya pernah diterbitkan oleh beberapa media cetak ternama. Memang terkesan terlalu sedikit, namun pihak penerbit memiliki alasan yang logis dalam hal ini. Dalam catatan penyuntingan kumpulan cerpen ini, penyunting mengungkapkan bahwa ‘penipisan’ perlu dilakukan untuk menyesuaikan dengan selera pembaca Indonesia yang cenderung menyukai buku-buku yang tipis. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih berpikir sepuluh kali untuk membeli buku yang mahal dan hanya berpikir satu kali guna memiliki pakaian dari merek terkenal. Mau setipis apapun, kumpulan cerpen ini tetap menghadirkan cerpen-cerpen yang menarik.

Pada bagian pembuka, Saroni Asikin langsung tancap gas menghadirkan imajinasi liarnya lewat kisah seorang manusia yang menjadi ‘wadah’ untuk benih-benih aurelis. Jika pada umumnya bayi dilahirkan gegara persetubuhan dua manusia, maka kali ini bayi dilahirkan dari persatuan antara bangsa manusia dan bangsa aurelis, sehingga bayi yang dilahirkan pun menjadi setengah manusia-setengah aurelis. Saroni Asikin juga mendeskripsikan sosok aurelis dengan imajinasi yang pas, tidak berlebihan sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

Walaupun tidak bisa dibedakan menurut jenis kelamin, tetapi dalam pemahaman sebagian besar makhluk manusia, mereka para aurelis berjenis kelamin laki-laki. Tubuh mereka memiliki sayap berwarna putih hingga mereka bisa terbang. (halaman 11)

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, sumber imajinasi pengarang adalah kehidupan di sekitarnya. Cerpen pembuka ini, diilhami dari kisah di dalam film Prophecy II. Sisi menarik lainnya dari cerpen ini–dan lima cerpen yang lain–adalah pilihan ending yang tak terduga.

Berlanjut pada cerpen berikutnya yang berjudul Rumah Pengigau, Saroni Asikin kembali menyajikan imajinasi liar lewat kisah dua frame antara sepasang suami-istri, Laksita dan Aria. Dua-duanya melakukan adegan dan kalimat yang serupa, hanya bagian nama; posisi tidur; dan kesukaan yang membuatnya sedikit berbeda. Ide berkisah seperti ini mengingatkan saya pada cerpen Eka Kurniawan yang berjudul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, sebuah cerpen yang terinspirasi dari The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream–bagian dari The Arabian Nights yang diterjemahkan oleh Sir Richard F. Burton. Baik Eka Kurniawan maupun Saroni Asikin sama-sama menampilkan cerita dua frame yang pada akhirnya bertemu menjadi satu, namun Saroni Asikin memberikan porsi yang seimbang, sedangkan Eka Kurniawan memberikan porsi yang jauh lebih besar pada tokoh perempuan karena tokoh laki-laki hanya muncul pada bagian penutup.

Di antara imajinasi-imajinasi liar Saroni Asikin, agaknya bagian yang paling liar adalah cerpen Striptis di Jendela yang dijadikan judul kumpulan cerpennya. Dengan luwes dan ‘santainya’, Saroni Asikin menampilkan cerita tentang sosok Eva yang tiba-tiba merasakan sensasi puas saat melakukan striptis di jendela hanya gegara ia merasa ada sosok yang memperhatikannya di seberang apartemennya sebagaimana disebutkan dalam kutipan berikut ini,

Setelah malam itu, setiap malam Eva hampir selalu tergoda untuk menari tanpa busana di dekat jendela kamarnya yang terbuka. Dirinya seolah-olah dihinggapi perasaan sangat bergairah ketika berpikir bahwa dengan menari telanjang di kamar apartemennya dan dinikmati oleh orang tak dikenal di apartemen seberang, dia serupa seorang diva yang memesona. Ada perasaan puas memberikan suguhan hiburan pada orang lain. (halaman 56)

Jika pada umumnya striptis dilakukan di klub-klub malam, Saroni Asikin justru memiliki imajinasi di luar nalar, yakni dilakukan dalam sebuah kamar apartemen di dekat jendela yang terbuka. Merasa menjadi primadona, meskipun yang memperhatikan hanya satu orang. Sialnya lagi, semua yang terjadi tidak seperti yang dibayangkan oleh Eva. Termasuk sosok yang memperhatikannya dari apartemen seberang tersebut.

Kritik: Sebuah Kontradiksi
Ada satu hal yang mengganjal pada satu di antara 6 cerpen yang disajikan oleh Saroni Asikin, yakni kontradiksi antara tujuan dan isi cerita dalam cerpen terakhir: Menyihir Penyihir. Melalui cerpen Menyihir Penyihir, menurut hemat saya, Saroni Asikin bertujuan untuk membebaskan perempuan dari belenggu laki-laki sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

Bertahun-tahun hidup dalam kekuasaan lelaki itu menyadarkan aku bahwa sehebat apa pun atau sejahat apa pun seseorang, dia pasti punya kelemahan untuk ditaklukkan. (halaman 82)

Cerpen Menyihir Penyihir secara garis besar mengisahkan perjuangan seorang perempuan yang bernama Kirei dalam menaklukkan laki-laki yang telah menyihirnya menjadi semacam liliput, sehingga si lelaki penyihir tersebut bisa melakukan hal sesuka hatinya pada Kirei yang telah disihir. Pada akhirnya, Kirei berhasil menemukan kelemahan lelaki tersebut, lalu menaklukkannya. Semula cerpen ini seolah berhasil merusak dominasi kuasa lelaki atas perempuan, namun di penghujung cerita Saroni Asikin–entah disadari atau tidak–kembali menyudutkan perempuan sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

Dan seperti yang telah kupikirkan jauh-jauh hari, aku menginginkan dia menjadi seorang perempuan. Sederhana saja alasanku. Sebagai lelaki yang selama ini menganggap perempuan sepertiku semata boneka atau hanya sejumput daging pemuas berahi, bagaimana kalau dirinya yang jadi perempuan? (halaman 90)

Alih-alih membuat perempuan tetap tampak tangguh, Saroni Asikin justru kembali menjatuhkannya dengan kalimat ‘Bagaimana kalau dirinya yang jadi perempuan?’. Seolah menjadi perempuan adalah sebuah hukuman yang tidak dinginkan semua orang. Dengan ending yang seperti ini, secara tidak langsung Saroni Asikin telah merobohkan usahanya dari awal cerita yang ingin menghentikan kuasa laki-laki dengan menampilkan keberanian dan ketangguhan perempuan.

Sungguh ironis sekali.


Penulis:

Akhmad Idris. Seorang lelaki lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang terdampar di Bumi dengan selamat Sentosa pada tanggal 1 Februari 1994. Saat ini menjadi seorang dosen bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya. Seorang lelaki pecinta wanita, tetapi bukan buaya; sebab tiada kesalahan dalam mencintai. Seorang lelaki yang mencintai dunia kepenulisan, meskipun tulisan-tulisannya biasa-biasa saja. Dapat dihubungi di 082139374892 (akun gopay) dan 089685875606 (WA), fb Akhmad Idris, dan ig @elakhmad. Karya solonya yang telah diterbitkan adalah buku kumpulan esai dengan judul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020). Baru-baru ini ia lolos dalam seleksi terbuka peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) yang ke-3 yang diadakan oleh Balai Bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.