Resensi Buku
Yang Mati dan Abadi

Yang Mati dan Abadi

Judul         : Kata dan Pengalaman
Penulis      : Goenawan Mohamad
Penerbit    : Circa
Cetakan    : Pertama, Oktober 2020
Tebal         : x + 98 hlm; 12 x 18 cm
ISBN         : 978-623-7624-34-9

Apa yang paling mungkin merentangkan jarak antara dua manusia dalam satu putaran hidup yang sama? Boleh jadi waktu. Atau juga, raga. Goenawan dan Sapardi adalah potret antara dua kutub magnet itu. Rasanya hampir dari kita semua para pembaca khatam, atau jika terlalu berlebihan, cukup tahu mengenai keduanya; baik Sapardi dengan karyanya ‘Hujan Bulan Juni’ atau Goenawan dengan ‘Catatan Pinggir’. Dan saya yakin dari kita semua pasti setuju, meski orang mengenal Sapardi terlahir sebagai Penyair dan orang mengklaim Goenawan sebagai Esais; tak ada beda, dua sosok manusia dan dua buah kepala yang tak sama itu hidup dalam kata—kerap menjelma ‘penyihir kata’.

Setahun penyair itu pergi menyisakan kehampaan bagi saya dan pembaca setia karya-karyanya, terutama jagat sastra tanah air. Hujan memang tak pasti mengabari akan turun di bulan Juni, demikian halnya kematian yang menjemput Sapardi. Tapi buku ini, seolah menolak  kehilangan. Ia membangkang pada takdir jarak yang diutus Tuhan; waktu, dan raga yang telah berbeda. Entah sebuah kutukan, kenangan-kenangan lalu yang dituliskan selalu jadi baru: tak habis—hidup berkali-kali. Pun Sapardi. Ia seolah tak padam, abadi oleh karyanya yang merupakan kenangan-kenangan lalu. Baik oleh sebab ia dituliskan, sebagaimana Goenawan membangkitkannya sebagai tanda penghormatan melalui buku ini. Atau oleh sebab ia dibaca, sebagaimana kita melihat dan memahami isi dari apa yang Goenawan tulis dalam buku ini perihal Sapardi.

Di sini, pokok jauh lebih mengemuka ketimbang tokoh. Satu esai ditulis tahun 1968, saat Goenawan dan Sapardi berusia 20an tahun. Satu esai lagi ditulis Juli 2020, sesaat setelah Sapardi wafat (halaman viii).

Terlepas oleh label yang disematkan untuk mereka, tampak keintiman Goenawan dalam mengenal Sapardi di rentang masa yang tak pendek itu menghantarkan kita pada ‘kupasan’ yang jujur—yang jernih, tanpa menanggalkan atap teoritik yang cair untuk kita pahami dari dunia sastra seperti kerap dan biasa Goenawan tampilkan dalam kolom atau artikelnya di Tempo dan Catatan Pinggir.

Dalam bab pertama buku ini misalnya, ia secara lebar dan dalam meneropong proses dinamika hidup-puisi Sapardi (selepas 60an), seperti sebuah panggung afirmasi yang ingin ia tunjukkan melalui karya-karya penyair itu; bahwa wajah puisi tak hidup dalam rima yang datar, jemu, dan berakhir tragis jadi membosankan. Memang, puisi menjelma garis batas pertimbangan yang atraktif bagi penciptanya sebelum ia dilahirkan kepada mata, mulut, telinga dan rasa setiap pembaca. Kadang ia turun serupa malaikat pencabut nyawa: cepat—tak terencana. Kadang ia mesti dipancing dengan percikan kecil untuk bisa jadi bara, dan percikan kecil itu tak jarang berpijar pada hal-hal yang lalu: pengalaman.

Ketika nafas ditiupkan ke raga, kita tahu saat itu juga semua mulai berjalan dan terekam: hidup mengalami, hidup merasakan, atau hidup menelan pada segala hal yang melintas-lalu. Absurditas, anomali, atau inkonsistensi adalah wajah lumrah yang sewaktu-waktu terlukis pada setiap penulis, setiap penyair, dan manusia secara universal. Sebab mereka menjajaki roda yang berputar, zaman yang terus bergulir, dan warna yang tak tetap. Ada yang mereka ambil kemudian disimpan, ada yang dibuang atau dilewati oleh karena suatu alasan.

Sampai tajuk ‘Nyanyi Sunyi Kedua’ sebagai bab akhir analisis Goenawan kepada sajak-sajak Sapardi itu, kita pada akhirnya memahami dan menerima kesimpulan: waktu boleh berputar melenyapkan raga, merentangkan jarak antara dua sosok manusia: yang hidup dan mati. Tapi kata, sekali lagi mengabadikan. []


Penulis:

Afthon Ilman Huda. Kelahiran Mataram, NTB. Menulis Puisi, Cerpen, dan Esai. Karyanya masuk dalam Antologi Puisi Menenun Rinai Hujan (2019). Bergiat di Komunitas Endonesa Literate, Lombok Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.