Resensi Buku
Fahrul dengan Teknik Bercerita yang Unik

Fahrul dengan Teknik Bercerita yang Unik

Judul Buku : Artefak Rindu
Penulis       : Fahrul Khakim
Penerbit     : Jagat Litera
Cetakan     : I, Agustus 2021
Tebal          : ix + 198 halaman
ISBN           : 978-623-97602-0-5

Saya merasa yakin kalau  nama Fahrul Khakim cukup familiar di kalangan para penulis yang kerap mengikuti lomba kepenulisan. Tak heran, karena cerpenis kelahiran Tuban, 02 Maret 1991 ini memang kerap memenangkan lomba-lomba kepenulisan mulai regional hingga tingkat nasional. Tak hanya lomba cerita pendek (cerpen) yang berhasil ia menangkan, tapi juga genre tulisan lain seperti opini dan resensi buku.

Selain itu, Fahrul juga telah menerbitkan sejumlah buku solo dan antologi. Ia pernah terpilih sebagai peserta sponsor Gagasmedia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2015 serta menjadi penulis undangan dalam Borobudur Writer Cultural Festival 2018. “Artefak Rindu” merupakan buku terbarunya yang berisi 15 cerpen yang ia tulis dalam kurun waktu 2010-2015 dan kesemuanya pernah memenangkan lomba menulis cerpen tingkat regional sampai nasional.

Terbitnya buku ini tentu menjadi kabar gembira bagi para penulis yang kerap memburu lomba-lomba menulis cerpen. Ya, karena saat kita membaca cerpen-cerpen Fahrul dalam buku ini, secara otomatis kita sedang  belajar banyak tentang cara menggali ide dan teknik bercerita yang unik, sehingga membuat para dewan juri tertarik untuk memenangkannya.

Cerpen “Artefak Rindu” misalnya. Cerpen yang pernah memenangkan lomba cerpen nasional (2021) dan sengaja dijadikan sebagai judul buku ini, memiliki teknik bercerita yang terbilang unik. Dilihat dari judulnya saja sudah sangat unik. Selain itu Fahrul juga membubuhinya dengan referensi. Kata “artefak” yang memiliki arti perkakas, alat; benda atau barang ciptaan manusia, misalnya, ia ambil dari buku Kamus Bahasa Indonesia (Penerbit Mekar, 2008). Sebagian latar cerita juga terinspirasi dari berita di surat kabar Surya (3/10/2012) yang mengabarkan tentang persoalan ‘Tambang Pasir Rusak Situs Tondowongso’.

Cerpen tersebut berkisah tentang cinta sekaligus persahabatan yang diwarnai kepiluan. Kisah bermula ketika Rinda berniat mewujudkan impian Bram, suaminya, yang tertunda. Ia ingin sekali menyelesaikan penelitian Bram tentang situs Candi Tondowongso. Bram meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan sebelum sempat menyelesaikan penelitian situs kuno yang dulu pernah menjadi bangunan suci umat Hindu dari masa kerajaan Kadiri (hlm. 170).

Tempat bersejarah tersebut kebetulan berada di area penggalian pasir yang dikelola oleh Danu, sahabat Bram dan Rinda, yang telanjur ditikam kecewa karena merasa telah dikhianati oleh mereka berdua. Ceritanya, sejak lama Danu naksir berat sama Rinda. Sayangnya, bertahun-tahun lamanya menunggu, ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Rinda menolak karena di hatinya tak ada rasa cinta untuk Danu. Lalu, tanpa sepengetahuan Danu, Rinda dipertemukan dengan Bram, sahabat Danu yang dulu pernah berjanji tak akan merebut Rinda darinya. Tapi rupanya benih-benih cinta tumbuh di hati Rinda dan Danu hingga akhirnya mereka memutuskan menikah tanpa sepengetahuan Danu.

Dalam cerpen tersebut, Fahrul begitu piawai meramu alur cerita dan tekniknya. Fahrul membagi alur cerita menjadi tiga bagian dengan menggunakan tiga tokoh ‘aku’ yang berbeda. Yakni, Rinda, Danu, dan batu bata yang rapuh. Tokoh ketiga inilah yang menurut saya cukup unik; sebuah benda (situs kuno) yang mampu menyuarakan isi hatinya. Berikut ini sedikit kutipan tokoh ketiga dalam cerpen tersebut: mata cangkul itu begitu menyilaukan saat terangkat ke langit. Debu tanah galian terbang dari kulit tubuhku yang ringkih. Para penggali tanah urug itu menginjak-injak tubuhku dengan kasar (hlm. 177).

Cerpen dengan tema dan tokoh unik lainnya bisa ditemukan dalam cerpen “Ode Pohon Desa”. Cerpen bernuansa religius ini mengisahkan perdebatan ayah dan anak yang memiliki prinsip berbeda. Mereka tak ada yang mau mengalah, saling ngotot dengan prinsip dan keyakinan yang sangat berseberangan. Sejak Mahmud duduk di bangku kuliah, ia memang menjadi sosok berbeda dan kerap menentang keyakinan ayahnya yang dianggap syirik.

Jadi ceritanya, di kampung kelahiran Mahmud, tumbuh pohon beringin yang sangat besar. Pohon yang juga menjadi batas antara desa dengan hutan daerah Jombang itu diprediksi berusia satu abad. Telah lama pohon beringin itu diyakini warga memiliki tuah, melindungi desa sehingga harus dilestarikan. Sementara menurut keyakinan Mahmud, mempercayai pohon itu bertuah sama saja dengan berbuat syirik, atau menyekutukan Tuhan.

Tanpa sepengetahuan ayah dan warga desa, Mahmud dan teman-temannya menyusun rencana untuk menebang pohon itu. Sebuah bencana besar kemudian melanda desa ketika pohon beringin tua itu akhirnya berhasil disingkirkan. Saat hujan turun dengan lebat, tempat berdirinya pohon tua tersebut mengalami longsor parah dan menyebabkan sebagian rumah warga tertimbun longsoran tersebut. Seperti cerpen sebelumnya, dalam cerpen ini Fahrul juga menyematkan tokoh unik sebuah benda (pohon beringin) yang mampu berbicara. Berikut petikannya: aku sudah berusaha untuk menjaga desa ini ratusan tahun dari longsoran bukit. Mereka malah membunuh dan mengoyak tubuhku. Kini aku hanya potongan kayu dari pohon beringin besar yang pernah menjadi legenda di desa ini (hlm. 128).

Masih banyak cerpen-cerpen unik dan menarik lainnya yang bisa disimak dalam buku yang akan memperkaya pembaca menemukan ide cerita sekaligus meneliti keunikan gaya bercerita cerpenis yang kerap memenangkan lomba menulis ini. Misalnya, cerpen Menyusu Kenangan yang mengambil latar cerita kerajaan masa silam, mengisahkan tokoh Brata, pria yang berjanji tak akan menikah dan memiliki keturunan, sebagai bentuk penghormatan dan balas jasa kepada Durgandini, ibu tiri yang telah mengasuhnya sejak kecil. Jadi, ketika ayah Brata menikahi Durgandini, perempuan itu mengajukan syarat agar penerus tahta Hastinapura kelak berasal dari rahimnya.

Secara umum, Fahrul merupakan salah satu cerpenis yang memiliki ciri khas dan teknik bercerita yang baik dan unik. Karkono Supadi Putra, dosen di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, dalam kata pengantar buku ini berpendapat, “Fahrul mengukir identitasnya sendiri, menjadi penulis beragam gaya dan tema tanpa harus meremehkan kualitas. Melalui tulisan-tulisannya, Fahrul berhasil membagi pengalaman, gagasan, pengetahuan, dan inspirasi pada setiap kita”. []


Penulis:

Sam Edy Yuswanto. Lahir dan berdomisili di kota Kebumen Jawa Tengah. Penulis lepas di berbagai media. Ratusan tulisannya (cerpen, opini, resensi buku, dll) tersiar di berbagai media massa seperti: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Radar Bromo, Radar Banyumas, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain: Percakapan Kunang-Kunang, Kiai Amplop, Impian Maya, Kaya dan Miskin, dan Filosofi Rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.