Puisi
Puisi Nafi Abdillah

Puisi Nafi Abdillah

Eric Clapton dan Tears in Heaven

Usai malam yang runtuh pada sudut-sudut New York
kau menumpahkan air mata lewat sepuluh jari tanganmu
sebagai upaya menjatuhkan diri ke dalam palung terdalam jiwamu.
Juga kaunyalakan cahaya lilin dengan sisa-sisa ingatan
tentang siang yang tak sanggup menjaga suara Connor
agar tetap betah berbisik di tengah persimpangan menuju masa depan.

Air mata, sebenarnya adalah kabar baik yang dikepak-kepak sayap Jibril
ketika hendak berusaha menyuburkan ladang hatimu,
meski kehilangan selalu tak memberi pilihan
untuk mengucap ‘tidak’ pada siapapun.
Yang itu berarti akan ada hari di mana
kausibuk melingkari almanak sebagai hari besar rindu.

Selama 9 bulan lamanya, kau merasa tak memiliki kekuatan
untuk tidak tersesat ke dalam medan asing
yang tak tentu di mana letak nasib akan membawamu.
Atap-atap Surrey atau gemuruh suara orang-orang
telah bersusah payah membimbit tubuhmu  dari kepungan keping luka.
Namun, kau tetap tak kunjung mengenali pekik suaramu.

Rindu yang kaupahat pada katarsis yang kudus itu
telah memintamu memetik air mata sebagai penguatmu
melewati lintasan takdir yang gemetar dan menggaung di kepalamu.
Meski kau tak pernah yakin bahwa
perasaan yang terombang-ambing oleh ombak
selamanya sulit menjadi laut yang tenang
atau lebih dekatnya seperti ros merah yang tak kunjung mekar.

Namun, seorang lelaki di dalam dirimu
telah begitu gencar mengibarkan nubuat padamu
bahwa harapan akan tetap melebat bagi yang siap memetiknya,
Ia yang memiliki tawa paling nyaring, hampir tak ada yang sanggup menyainginya.

Would you know my name,
if i saw you in heaven?*

Saat itu juga, kausudahi air matamu menjadi sebuah puisi.
Meski kau masih meninggalkan rerimbun ingatan 
pada tiap kursi yang selalu kaududuki.
Namun kau bisa membuatnya seolah menjadi seekor domba,
dan kau, penggembalanya. 

*nukilan lirik lagu Tears in Heaven – Eric Clapton

John Lennon dan Strawberry Fields Forever

Setelah Penny Lane menguarkan aroma aspal,
selepas hujan yang tak fasih menyebutkan urutan cuaca,
kau diterbangkan oleh rindang pohon
yang juga tekun menghalau matahari di sepanjang Beaconsfield Road.

Matamu bertugas bagai derap langkah para Longbowman
yang bersiap melakukan serangan pertama sebelum giliran para Infanteri.
Segala yang terjaga mengakibatkan kepalamu tak tenang demi memusatkan titik
yang berusaha kautandai setibanya melewati dua pilar batu Strawberry Field.

Mulai dari situ, tembok-tembok victoria telah sempurna menghibur
seorang bocah di dalam dirimu yang tak akan senang
jika sewaktu-waktu kau bersikeras memisahkan masa lalu dan saat ini.
Maka sebagai siasat, kau harus membuat fragmen ingatan
yang bakal membekas pada lembar-lembar kertas dalam kepalamu yang lapar
terhadap labirin hidup seseorang hingga kisah-kisah cinta sepasang kekasih.

Namun setelah belasan tahun, kau berusaha mengelak dari sengat masa lalu
yang rutin membuat benjolan besar pada tiap-tiap jalan tempuhmu,
meski kau tahu itu adalah usaha yang gelap dan gagap.
Di waktu yang sama, kau tak lagi memiliki kekuatan untuk meminta Ibumu
melapangkan dadanya agar seluruh gelisah yang dini dan keterlaluan
mampu rebah dan tak terlalu jauh melebar.

Semenjak itu, selalu kau hindari berbagai keping luka
yang bakal membuat tubuhmu menggigil dan berwarna merah.
Namun, kau pernah mengatakan bahwa dunia adalah ilusi dan
hal yang paling sulit adalah menghadapi diri sendiri.

Let me take you down
Cause I’m going to Strawberry Fields
Nothing is real*

Seperti proses nubuat para Nabi, dua langkah minor tiba-tiba mematuk kepalamu
membuat kau seutuhnya sadar bahwa mendepa ruas masa kecil bukan hal muskil.
Kau bisa mengarahkannya menuju gereja atau meminta domba paling lapar
untuk menghabisi seluruh rumput pada kepalamu yang paling lapang.

*kutipan lagu The Beatles – Strawberry Fields Forever

Antara “Hey Jude”, Paul McCartney, dan Julian Lennon

/1968/
Bibirmu tak kuasa membimbit keterasinganmu melampaui gagang sakramen.
Kupandangi pula jaring laba-laba membentuk sarang bagi suara-suara nyaring
yang rupanya telah bebal memaksa ibumu mencopot isi kepalanya.
Mereka, yang menebalkan namamu atas nama kesucian
telah keliru memecah vas bunga sebagai poros berdirinya tempat tinggalmu.
Terlebih Ibumu, terpaksa memajang duri di dinding-dinding Kenwood.

Di tiap meja kayu yang mereka sebut sebagai hidangan penutup
dengan aroma keju yang kutiup meski bukan yang paling berhak kau hirup,
tapi jawaban benar-benar bukan berasal dari buku catatan yang berwatak katup.                

Menyaksikanmu menjadi seperti bangku di sudut Albert Dock
yang sangat tabah tertimpa botol lager
atau yang cemas saat mencium umpatan perempuan jalang di puncak malam,
merupakan kesedihan yang bersimpuh di depan altar.
Tak pernah kubiarkan kedunguan luka mencacah jejak tempuhmu.
Maka persaksian sepasang tanganku pada jendela yang telah berbalik arah
adalah usaha meloloskan kau dari sekawanan luka agar letak nasib
tidak seperti ketika menempatkan Everton di dalam harapan memenangi liga. 

Di Liverpool, air matamu adalah ros merah paling layu
yang kualamatkan puisi sebagai pagar-pagar pengibaan.
You’re waiting for someone to perform with
and don’t you know that it’s just you*
Tapi tenanglah, tak ada derap yang kabur meninggalkanmu
seperti di lengangnya Halendi ketika kau berusaha merekam arah mata angin.
Meski aku yakin kau mampu menjadi krisma yang utuh
yang senantiasa menguatkan seluruhmu yang telanjur patah.

/1988/
Banyak koran telah melingkari hari-harinya
sebagai bentuk perayaan bagi kebenaran yang sangsi.
Tapi satu pun tak pernah ada yang berhasil memasang telinganya sesuai buku panduan
atau menyiapkan unggun api di atas lidah untuk membakar ujung sumbu
sehingga merambat dari lipatan ke lipatan membangun bencana di dalam kepala.
Satu pun tak ada yang sanggup membuka kacamatanya demi memusatkan titik
pada seorang lelaki di dalam diriku yang mahir menciptakan mitos
di dalam semacam tabernakel yang hanya terbuka ketika benar-benar dibutuhkan.

Di tahun ke 20, kau berusaha menafsir rasi bintang
meski perkataan ahli nujum tak semuanya pernah kubantah.
Aku tak ingin membuat celah-celah yang khusus kubuat untukmu.
Biarlah kau menjadi Musa yang cerdik menghindar dari lolotan mata
sehingga tongkatnya tak gentar ketika dibawa sampai ke rusuk laut.

Garis waktu yang semakin memanjang di sela-sela peristiwa
telah melibatkan kita sebagai busur panah yang dihadiahkan Yonatan kepada Daud.
Namun aku tak bisa menyangkal bahwa bahumu tak selamanya bangga
menahbiskan ayahmu di belakang nama panjangmu
sebab seorang bocah lugu di dalam dirimu
telah tak sempat menerima kecupan oleh suara merdu gitar ayahmu.
*nukilan lirik lagu The Beatles berjudul Hey Jude


Stagnasi di Bulan Duabelas, Led Zeppelin

Kami hanya perlu memarkirkan panggung, gebuk drum, suara-suara melengking
di halaman belakang rumah tua The Old Hyde.
Sejak bunga poppy memiliki wajah sedihnya di perserakan Rushock Parish
dan aroma luka tanah-tanah basah Worcestershire,
kami seperti reremah muffin yang tertinggal dalam meja afternoon tea
atau perihal pintu-pintu yang tak bisa kami jaga untuk mengulangi masa lalu.

Kesedihan adalah denyut jantung yang tak mampu kami hentikan detaknya.
Hingga keputusan terburuk harus dini kami maklumatkan.

Berkat taburan bunga di Rushock Parish,
kami tak lagi memiliki napas yang sama seperti masa lalu.
Seharusnya engkau berdiri di belakang kami
dengan membawa gemuruh dan mencipta degup gebuk drum.
Sebaiknya engkau masih membungkus tanganmu dengan jurang hati
yang mengikat birama, beat, partitur dan denyut tanganmu.
Seperti julukanmu, Bonzo, kau pembuat gaduh paling ulung
bahkan isi kepala kami adalah snare yang tak pernah lepas dari stik kayumu.
Namun, adalah kesia-siaan jika memaksakan takdir
hanya berdasar pada akal dan pikiran.

Meski anakmu, Jason, adalah cermin yang kami pasang
di bawah gemerlap pertunjukan dan berlaku layaknya dirimu,
Namun, tak pernah kami temukan jurang pengertian
yang dinding-dindingnya kedap oleh tinggi-rendahnya suaramu.
Meski mengingati kematianmu adalah mimpi buruk.
Namun, tak pernah ada yang pandai menjadi pemberontak terhadap kehilangan.

Jadi, biarkan kami selalu mengangkat topi untukmu.
menempatkanmu ke dalam museum jiwa
yang tak mungkin tersedia peti kematian dan pemakaman.
Tapi, maafkanlah kami jika kelak kau berkunjung kembali
dan tak kau temukan nama-nama baru setelahmu.

Biarlah kami tetap berjalan di tempat.
dan menyerahkan nasib kepada masa lalu untuk bekerja setelahnya.

 

METANOIA

I am a traveler of both time and space, to be where i have been.
To sit with elders of the gentle race, this world has seldom seen.
(Led Zeppelin – Kashmir)

Usai dentang lonceng atau detak jarum jam tak sanggup menyadarkan pejam,
barangkali ketidakjujuran telah lama menjadi penjarah dalam tubuhmu.
Sesungguhnya ia telah mencuri nurani dalam menulis riwayat hidup.
Ia, yang mengatasnamakan diri sebagai dunia
membuat kau berbohong atas muasalmu.

Kau hanya menemui kursi kosong usai kaudaraskan iktikad meninggikan jabatan.
Mungkin tak salah, hanya saja khianatmu telah membangun kesedihan di sekelilingmu.
Esok hari, kau dapati orang-orang dengan muka masam
mencongkel matanya sendiri untuk dijual ke pasar loakan
hanya untuk menemukan jawaban, “dengan apa hari ini kita hidup?”

Namun, tak usahlah cemas.
Mimbar dan sajadah panjang akan sangat ikhlas menampung kehilangan dirimu.
Bahkan, selalu ada simpul usai kau lewati lubang-lubang jarum.
Rawatlah harapan dan doa, sebaik kau merawat diri dan hartamu.

Jika memang benar-benar tak mampu kau temukan dahaga kehidupan,
syahdan, gegaslah temui tetua yang ikhlas menepuk bahumu,
yang memberimu tapaian untuk kelak kau isi dari telaga Kautsar.


Penulis:

Nafi Abdillah. Seorang pembelajar di Padepokan Sakron. Aktif juga di Forum Malam Sastra Pandawa, dan Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar. Menulis puisi dan cerpen. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring, juga beberapa kali menjuarai lomba menulis puisi tingkat nasional. Bisa dihubungi di surel diannafiabdillah@gmail.com atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *