Puisi
Puisi A. Warits Rovi

Puisi A. Warits Rovi

EMAK DAN TONGKAT BAMBU

TBC dan diabetes bertamu ke tubuh Emak
di sisa daging yang ada
beruntung—Emak masih bisa
menautkan benang linen dan rayon ke mata jarum doa
hingga koyak kebaya hidupnya terjahit
; apik dalam banjar garis marigold berbentuk bunga

selama tenaganya belum pulih
ia berkarib tongkat bambu; teman baru
yang dikenalnya dari taaruf takdir
—usai potongan induk bambu itu
berbilah merelakan tubuhnya dalam perut tungku
seminggu setelah kapak tua
memisahkannya dari rusuk bukit Ra’as
“begitulah selanjutnya aku-kau
bertemu denganmu, bersampan waktu,
membelah gelombang jemu, di laut yang semi kelabu,”
kata Emak pada tongkat itu.

“tapi tak apalah, yakin setelah ini,
Tuhan akan mengamini ribuan puisi
dari jalan hidup ini, yang masih
berupa potongan-potongan diksi.”

ia mengelus tongkatnya tiga kali
beriring tiga bacaan tasbih.

Gaptim, 2021

SEEKOR LARON DAN LAMPU KECIL

seekor laron dan lampu kecil
malam itu bertemu
dalam peluk dansa angin dan sisir gerimis
menunaikan janjinya yang tersulam di masa lalu
; sebelum ketuk pintu kelahiran terbuka
dan punya nama

di dekat Tuhan—sebelum dunia
saat tak ada sunyi dan gravitasi
laron dan lampu bersepakat untuk saling bertemu
di malam Jumat yang didera suara mesin
yang dimaklumi sebagai kidung zaman maju
hanya untuk membicarakan satu hal
; tentang anak-cucu Adam
yang mencintai bayangannya sendiri
sampai lupa mati.

Gaptim, 2021

 

4.0

bumi terlipat jadi seukuran bola kasti
kehidupan hilang jarak
—dinding-dinding waktu
dirobohkan tangan-tangan digital
dan dikubur di tulang dada peradaban
; payahhh, paaaayah!!!

Tak ada lagi sana-sini, jauh-dekat
kota-kota di kejauhan
telah lekat menjelma peta di ujung kuku
hanya dengan sekali langkah
diri telah memeluk temboknya
menghidu baunya
dan merasakan denyut yang berbeda

kehadiran diwakili gambar, huruf, dan angka
peluk, sapa, dan gerak berbagi
dirangkum padu dalam cahaya

orang-orang terpukau—silau
Tuhan mereka lupakan.

Sumenep, 2021

 

ELEGI WAJAH PANTAI

wajah pantaiku didera tangis panjang
berair mata guguran daun kering
lepas retak dan lantak dari tirus ranting ceking
yang pohon-pohonnya mati
di tangan ahli perang
yang menyamar seekor camar

nganga pasir mendustai senyum langit
—habis dikeruk untuk petak-petak tambak
meludahi laut dengan limbah
habis tapak langkah para pelancong
dikubur jejak roda alat-alat berat
tamatlah babak keindahan lerai angin
yang menyisir daunan
dan ombak yang datang berdebur
memecah kecupnya dengan rintih
; sakit sekali
berkali-kali.

ANALOG

kuamini tekukur yang mengeram
pada lingkar jerami
paruhnya diasah ke tangan hujan
sebab gigil adalah hama hidup
yang mengintai jantung berdegup,

telurnya yang basah
ia lindungi dari sekap suhu
berumpun dalam dekapnya
bagai hidup mujur yang takut hilang,

ia hanya berkarib langit yang bisu
tiga ekor cecak yang mencintai tandan
diajak bicara setiap waktu
membahas hidup yang tergulung
oleh angin pelanun,

bersatulah di sini
menyerahlah yang keji.

Sumenep, 2021


Penulis:

A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Kini menjadi Redaktur NU Online Sumenep. Bisa disapa di surel waritsrovi@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *