Cerpen
Mantan Komandan

Mantan Komandan

Malam itu saya pulang agak malam dari biasanya. Lantaran anjing milik Pak Warnogu, tetangga saya, menyalak 2 kali, saya tahu itu berarti pukul 2 pagi. Memang anjing itu sebagai penanda waktu, banyak orang kami menyebut anjing itu dengan nama Tawalam, atau tanda waktu malam.

Tepat ketika saya masuk ke tikungan sebuah gang kecil menuju rumah, tampak pemandangan di bawah berupa lampu-lampu dan dinding-dinding berdempet yang dijadikan tempat tongkrongan oleh anak-anak muda. Di sanalah saya melihat orang-orang yang kira-kira berjumlah lebih dari sepuluh dalam potongan tubuh siluet, turun dari sebuah mobil lalu bergerak seperti mereka sudah terlatih. Dari balik punggung dan depan perut, mereka mengeluarkan senjata. Saya tidak salah dengan apa yang saya lihat, sebab lima orang yang duduk di bangku menghadap tembok di bawah sana berhamburan ketika tanpa aba-aba dibentak-bentak.

Mereka, anak-anak muda itu berderak-derak melakukan perlawanan saat terlihat oleh saya mereka dikejar, ditangkap lalu ditendang dan digerayangi seperti yang banyak dibicarakan orang tentang penanganan gali, atau gabungan anak liar. Saya yang tidak sanggup melihat kejadian itu, terpaksa melompat pada sebuah dinding dan sesekali mengintip ke sana. Belasan kali saya dengar tembakan meraung serta kilat api pada pucuk pistol yang berhujung pada suara erangan memohon ampun. Saya bersumpah, malam itu serasa saya ikut terkena tembak. Dan ikut dilemparkan ke dalam sebuah mobil yang masih menyala di pinggir jalan itu.

Sampai di rumah, saya ditanyai oleh istri saya. Tapi tentu saja, saya hanya bilang wajah pucat ini saya dapat karena tuak Morbung terlalu pahit dan daging ular gorengannya mencekik leher saya. Istri saya percaya waktu itu. sumpah, saya tidak pernah bilang pada siapa-siapa soal malam itu. pada pagi hari orang sekampung heboh dengan lima mayat dengan tangan terikat tali tambang di belakang telah mengembung di atas sungai. Saya menelan ludah. Jujur saat itu saya ingin memberi kesaksian, tetapi saya tidak tahu kepada siapa.

Hingga di warung tuak Morbung pada malam berikutnya pun juga begitu, saya masih duduk dan minum seolah tidak pernah melihat apa-apa. Banyak teman yang tanya, kenapa saya belakangan diam seperti melihat setan. Dalam hati saya ingin bilang, memang saya telah melihat setan, mereka berbadan tegap dengan senjata di tangan, mereka setan yang menembak manusia. Tetapi, saya takut ketika Morbung menceritakan belum lama ini, keponakannya mati ditembak hanya karena pulang malam. Dari lubang hidung tembus ke ubun-ubun kepala. Mayatnya digantung dan dijadikan tontonan orang-orang. Ia mengeluh tentang keamanan yang tidak tahu harus digantung pada siapa.

Setelah cerita itu, banyak orang menumpang tidur di warung tuak Morbung lantaran tak berani pulang, takut kena tembak, begitu kata mereka.

Saya yang tidak bisa tidak pulang karena istri saya hamil lima bulan waktu itu, terpaksa memberanikan diri untuk melangkah seperti biasa. Memang ada rasa was-was ketika ada bayang-bayang dari kejauhan, atau sebuah mobil melintas, atau suara aneh yang saya takut berasal dari sebuah pistol. Saya bergegas dan terhenti sebelum masuk ke tikungan pada sebuah gang. Entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang aneh, dan benar seperti yang saya duga.

Ketika saya melongokkan kepala ke dalam pagar rumah Pak Warnogu, Tawalam terkapar bersimbah darah dengan lidah menjulur dan kulit kepala terkelupas. Melihat itu, saya terbayang kondisi tubuh keponakan Morbung sebagaimana ceritanya tadi. Alih-alih saya ingin berteriak membangunkan Pak Warnogu, saya keburu takut karena terdengar derap sepatu dari dalam gang. Saya melompat ke bunga dalam pagar rumah Pak Warnogu dalam posisi tiarap.

Untung mereka tidak bisa melihat saya, tapi sayang, mereka melihat orang lain yang saya kenal. Saya tidak salah, itu Morbung penjual tuak. Ia berlarian mengejar seseorang yang saya tahu setelah ia dihadang dan ditanyai oleh komplotan orang bersenjata, Morbung ingin mengembalikan dompet seorang pelanggan yang tertinggal di warung tuaknya. Saya meraba saku dan saya yakin itu dompet saya.

Sebelum Morbung diperbolehkan pulang, ia diminta untuk menunjukan KTL yang akhirnya saya tahu setelah cerita tersebar di mana-mana, bahwa KTL adalah Kartu Tanda Lapor. Morbung yang tidak bisa menunjukkan KTL terlihat pucat ketika kayu pagar rumah Pak Warnogu ditarik lalu diempaskan ke kepalanya. Saya tidak bisa meneruskan apa yang saya lihat, tetapi saya bisa mengatakan bahwa setelah Morbung ditinggalkan saya melihat matanya hilang satu.

Sejak kejadian itu, saya tidak berani ke luar rumah. Saya berusaha menyembunyikan semua ini dari istri saya, saya takut ia memikirkan hal berat yang akan membuatnya stres dalam keadaan hamil.

Dalam minggu yang sama, seorang kerabat jauh datang ke rumah untuk melihat istri saya. Selagi istri saya dan istri kerabat saya bercakap-cakap di ruang belakang, saya pun bercakap-cakap di ruang depan. Obrolan kami  tak jauh berbeda, ternyata, kerabat saya ini pernah melarikan diri saat hendak ditembak. Ia bersama tiga temannya.

“Barangkali mereka memang ingin menembak kepala, bukan kaki seperti alibi di koran cetak atas alasan jalan yang bergelombang, yang kena malah kepala,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa tubuh mereka tumbang dalam keadaan berlari. Setelah pagi hari seorang mayat dari tiga yang ditemukan, tampak bukan hanya bekas luka tembak, tetapi ada bekas tikam yang ia duga, setelah menjadi mayat pun mereka masih bernafsu untuk menyiksa. Ada lagi yang ia katakan cerita dari temannya, bahwa mayat seorang hampir habis dimakan anjing liar. Saya menahannya untuk tidak melanjutkan cerita itu.

Setelah pulang, saya terus terpikir tentang penembakan-penembakan yang istri saya tidak ketahui. Saya bingung setengah mati saat ia meminta saya menemaninya belanja ke pasar. Saya tidak bisa bilang tidak, sebab dari raut wajahnya ia terlihat bosan berada di rumah.

Sore itu kami sampai di pasar. Orang sudah ramai menutup hidung. Istri saya yang penasaran, malah mendekat dan melihat mayat yang tidak diketahui identitasnya bertumpuk-tumpuk dalam selokan pasar. Air saluran yang seharusnya mengalir sampai ke sungai, meluap bersama campuran darah segar, tubuh-tubuh tak bernyawa itu tergenang. Tak ada yang berani memindahkan barang seorang mayat dari sana. Mereka hanya menyaksikan. Setelah melihat itu, saya dan istri tidak pernah lagi ke luar rumah.

Waktu melahirkan, dukun beranak yang membantu persalinan sedang dalam keadaan berduka atas kematian Pak Warnogu. Saya tidak menyangka dan hampir tidak percaya apa yang ia katakan. Bagaimana mungkin lelaki tua itu bisa menjadi salah satu korban. Baru saya percaya, ketika dukun beranak itu tidak pernah kembali setelah berjanji, seminggu setelah melahirkan, ia akan datang untuk memandikan bayi kami dengan air kelapa. Saya dan istri hanya bisa berdoa, semoga ia bukan salah satu korban lainnya.

Setelah kini, saya membaca laporan Tempo tentang pengakuan seorang mantan Komandan Kodim 0420 tentang Petrus—yang dulu saya abai dan tidak ingin tahu menahu persoalan itu—ingatan saya terlempar pada kejadian itu. Saya bergegas membuka-buka barang lama, saya menemukan catatan yang saya tulis beberapa puluh tahun lalu. Saya tidak pernah menyangka, bahwa laporan itu dan catatan saya, telah menyadarkan saya bahwa seorang yang baru pindah ke perumahan kami, adalah ia si mantan Komandan dalam liputan.

Saya tidak pernah salah, memang dulu saya tidak pernah jelas melihat wajahnya, tetapi tubuh tegap dan suara lantang bagaimana ia membentak-bentak Morbung serta orang-orang, saya yakin, ia yang sekarang barangkali seusia saya, adalah ia yang menembak anak-anak muda diduga gali dan tentulah Morbung. Ia baru lewat di depan rumah saya sambil menyapa selamat pagi. Ia bahkan sempat tersenyum pada putra saya yang menyiram bunga di depan rumah.

Andai saya punya senjata serupa yang ia punya, tentu saya akan ikut berlari pagi hari, lalu di sebuah jalan lengang, saya akan menembaknya, seperti ia menembak korban-korban. Atau kalau tidak, saya akan menunggu waktu acara arisan RT, di mana saat ia duduk bersama kami para bapak-bapak, saat ia menyeruput segelas kopi, saya akan memperlihatkan pada orang bagaimana kopi itu bisa ia muntahkan lagi dengan campuran darah dari mulutnya. Saya yakin, bukan hanya saya yang ingin melakukan itu, tetapi tetangga-tetangga saya pun ingin.[]


Penulis:

Beri Hanna. Bukunya akan terbit “Menukam Tambo”, memenangkan sayembara Kelompok Renjana, 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published.