Cerpen
Pertemuan Gerimis

Pertemuan Gerimis

INI pertemuan kita yang kedua puluh dan kata-katamu masih membuatku malu. Meskipun begitu, rasa senang pelan-pelan menyusup dalam rongga dadaku. “Kesal? Untuk apa? Bukankah aku milikmu?” Kukibaskan titik-titik gerimis yang kau cemburui agar kerut di keningmu segera pergi.

Berhasil. Kau tertawa. Suara tawa itu agak tertahan. Khas, mengingatkanku pada suara tutup kaleng minuman soda saat dibuka. Mungkin karena aku sangat menyukai minuman soda beraroma buah pada masa lampau. Atau, mungkin pula karena suara tawamu memang terdengar demikian di telingaku.

Sekelebat pikiran lalu singgah dalam benakku. “Bagaimana kalau hari ini aku memang ingin membuatmu cemburu?” godaku lalu menghambur ke arah gerimis yang kini menjelma hujan. Tetes-tetes hujan berlomba menyambut kedatanganku dengan gempita, mengiringi langkahku yang berputar-putar dengan riang.

Kau tercengang sesaat, lalu berlari menghampirku. “Nakal! Masa kanak-kanakmu, kurang gembira, heh?” Kau mengacak-acak rambutku. “Tunggu sebentar, aku akan mengabadikanmu.” Kau mengerjap-ngerjapkan mata dengan mimik serius.

Serta-merta aku berpose di bawah siraman hujan yang tampaknya belum ingin berhenti. Seorang laki-laki tua yang melintasi kita menatap heran. Terserah. Selain kebahagiaan yang sedang melompat-lompat dalam hatiku, aku tak peduli dengan hal lainnya. Bagiku, kebersamaan kita adalah keindahan yang harus kunikmati sepenuh hati.

Kau melihat sekitar sekejap mata sebelum mengedipkan mata. Seberkas cahaya melesat dari sepasang matamu. Sekali, dua kali, dan tiga kali. Aku berganti pose dengan cepat.

“Sudah?” tanyaku memastikan.

Kau mengacungkan jempol dan mengangguk puas. Sesaat kemudian wajahmu berubah cemas. “Ayo, berteduh!” serumu. Kita berlari ke tempat semula.

“Jadi, apakah kecemasanmu hari ini sudah mencapai titik puncak?” godaku kekanak-kanakan. Entah mengapa, aku sangat menikmatinya. Mungkin karena hal itu membuatku merasa bahagia.

“Mencapai level tertinggi,” jawabmu dengan senyum yang membuatku luruh sejak pertama kita bertemu. Kedua lenganmu terkembang dan aku mendarat nyaman dalam pelukanmu. Kita diam sesaat dan melupakan segala hal yang acap kali kita cemaskan bersama.

“Kau benar-benar nakal,” cubitan kecil mendarat di pipiku, “sekarang, kita harus berbelanja karena ulahmu.” Kau menyeretku ke toko pakaian terdekat. “Jangan lama-lama, bajumu basah. Segeralah berganti pakaian.”

“Cerewet,” cetusku. Kusambar sebuah sweter dan celana asal saja. “Cepat, kan?” godaku santai. Tak kuhiraukan wajah pelayan toko yang berdiri di sebelahku berubah masam melihat tetes-tetes air yang tergenang di lantai. “Ruang ganti di mana, ya?” tanyaku tanpa merasa bersalah.

Pelayan toko berdeham, “Silakan, Bu, di sebelah sana.”

Sebelah alisku naik. “Ibu?”

“Sudahlah,” selamu. Kau mendorongku punggungku lembut. “Selesai berganti nanti, kau boleh teruskan keberatanmu. Kutunggu di depan, ya.”

“Tapi…”

Ssshhh…“ Kau menaruh telunjuk di bibirku. “Pergilah, Milana. Sekarang.”

Aku menggerutu sebentar, lalu bergegas menuju ruang ganti. Gigil tiba-tiba menyerangku. Jari-jariku bergetar, pun sepasang kakiku. Kubuka gaun hitam yang melekat di tubuhku. Syukurlah, kaus dan celana itu pas di badanku. Aku mematut diri di depan cermin. Sweter cokelat muda dan celana denim bukan pilihan yang buruk. Suara ketukan di pintu memanggilku.

“Sudah?”

Kubuka pintu dan merentangkan tangan lebar-lebar. “Bagaimana?”

Kau terlihat senang. “Taruh gaunmu di sini,” kau menyerahkan sebuah kantung belanja, “kita pergi?”

“Boleh, asal kau menggandeng tanganku.”

“Siap, Tuan Putri.” Kau meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

Setelah berurusan dengan kasir, kita meninggalkan toko diikuti pandangan iri para pelayan. Hujan telah reda, berganti dengan gerimis yang meningkahi langkah kita. Sepanjang trotoar kita jalani tanpa bicara. Tepat di depan sebuah kafe, kita berhenti, lalu duduk bersisian pada sebuah bangku di trotoar. Lirik lagu The Longer The Waiting menyapa telinga kita dari dalam kafe. Kau tersenyum padaku.

“Aku sedang membayangkan diriku adalah seorang pelaut yang merindukan pulang untuk bertemu denganmu.”

“Kalau begitu berdoalah agar gerimis lebih sering mempertemukan kita.”

Kau mengeratkan genggaman, lalu menarik napas panjang. “Kadang-kadang, aku ingin mencari cara agar aku bisa terus bersamamu.”

“Hidup kita hanyalah serangkaian episode. Sayangnya, kita tak diizinkan untuk memilih episode yang kita inginkan,” ujarku pelan. Kita pun terdiam, hingga Josh Turner menyelesaikan lirik terakhirnya. “Saat kita dipertemukan bertemu dua tahun yang lalu, episode-episode berikutnya sudah ditentukan,” lanjutku getir.

“Kau benar.” Kau mendesah pelan sambil menatap langit kota yang mulai kelam. “Syukurlah, kau tak melihat apa yang kualami di masaku. Wabah itu telah merenggut orang-orang di sekitarku tanpa ampun, tapi aku tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikannya.”

Aku menoleh, mendapati wajahmu berubah muram dan sepasang matamu berkaca-kaca. Kau pernah menceritakan tentang wabah itu padaku. Kotamu telah menjadi kota mati. Hanya kau satu-satunya yang tersisa. Rasa sepi membuatmu tersiksa. Karena itu kau bekerja keras menciptakan gerbang menuju masa lampau agar dapat bertemu seseorang. Saat kau bertemu denganku, aku merasa sangat bersyukur.

Kita masih duduk bersisian dalam diam hingga senja mulai menghampiri malam. Adakalanya, kebisuan terasa lebih menenangkan. Hingga tiba-tiba kau berdiri dan mengacak-acak rambutku.

“Kita terlalu serius hari ini, Milana.”

“Hentikan, rambutku jadi berantakan,” keluhku.

“Biar saja, kau tetap cantik di mataku.”

Aku pura-pura mendengus meskipun hatiku membuncah bahagia. Kita melangkah menuju taman kota lalu duduk berbincang di depan air mancur. Di depan kita, penjaja mainan sedang menggoda kanak-kanak yang baru tiba bersama orangtuanya. Sepasang remaja tanggung berjalan melewati kita sambil saling merangkul bahu. Serombongan pengunjung yang terlihat seperti keluarga besar duduk memenuhi bangku-bangku di pojok taman. Semua orang tampak bergembira.

“Kau ingat? Kita dulu bertemu di sini.”

“Pertemuan tak terduga,” kataku tersenyum mengenang.

“Tak kusangka aku bertemu denganmu pada masa ini.”

“Aku juga tak mengira akan bertemu lelaki dari masa depan.”

“Lantas…. apakah pertemuan itu membuatmu bahagia?” Lagi, kau mengajukan pertanyaan untuk mengujiku.

“Aku takkan menjawabnya,” elakku sambil menadahkan tangan, “ah, gerimis mulai reda.”

“Ikutlah bersamaku ke masa depan.” Kau menatapku sungguh-sungguh. “Jika kau bersedia, aku akan berjuang memulihkan duniaku. Kita akan bahagia, Milana.”

“Jangan memulai harapan itu.”

“Kau takut kecewa?”

Selalu begini, kita tiba pada akhir pembicaraan tanpa pernah mendapatkan titik temu. Seperti utara dan selatan yang selamanya akan saling mengingkari. Sementara gerimis memberikan aba-aba perpisahan, lidahku terlalu kelu untuk menjanjikan kepastian.

“Baiklah, aku takkan memaksamu. Terima kasih, untuk pertemuan hari ini,” kau menatapku dalam-dalam, “pasti menyenangkan jika bisa bertemu setiap hari.” Kau menuturkan sebuah penyesalan.

“Tak ada yang bisa kita lakukan selain bersyukur dan mengenang,” kataku pelan.

“Kau benar.” Kau mengalah dan mengeratkan genggaman tanganmu. “Bagiku, setiap pertemuan kita sangat berarti. Kita masih beruntung, setidaknya kita masih menghuni planet yang sama.” Kau lalu tertawa pahit.

“Aku masih merindukanmu.” Kutatap kau dengan perasaan berbaur. “Tapi… sudah saatnya untuk pergi.”

“Entah kapan kita akan bertemu lagi,” keluhmu.

“Berdoalah agar gerimis berikutnya segera turun.”

Kita melangkah bersisian meninggalkan taman kota. Saat tiba di jalan yang tadi kita lalui, lampu-lampu jalan telah dinyalakan. Saatnya untuk menempuh jalan masing-masing menurut takdir yang telah ditentukan.

“Biarkan aku pergi lebih dulu. Aku tak ingin melihatmu pergi.”

Kau mengangguk pelan. “Pergilah, Milana. Sampai bertemu lagi.”

Setelah berjalan dua langkah, aku menoleh sekali lagi. Kau masih berdiri mematung menatapku. Kulambaikan tangan dan kau membalasnya dengan anggukan. Gerimis kini benar-benar telah usai. Ketika orang-orang mulai lalu-lalang merayakan kemegahan malam, kita malah merayakan luka. Kumantapkan hati dan melangkah cepat hingga berhenti di depan sebuah kafe yang sepi. Sebuah potret hitam putih berukuran besar tergantung di dinding kafe itu, potret seorang gadis bergaun hitam yang sudah berusia puluhan tahun. Sedetik kemudian, seberkas cahaya redup menyelubungiku. Selepas pertemuan, aku harus selalu kembali menjalani takdirku, begitu juga kau.

Di sini, aku hanya bisa memandangi langit dari dinding kafe ini. Karena itu, aku takkan pernah bisa pergi bersamamu. Juru potret itu telah mengikatku dengan sebuah mantra. Sebelum dia tiada, dia telah bersumpah takkan pernah melepasku. Dari sini, aku hanya bisa berdoa, semoga gerimis segera turun dan kita akan bertemu lagi.[]


Penulis:

Fitri Manalu penulis cerpen dan puisi. Cerpen dan puisinya termuat di media daring dan cetak. Pernah meraih penghargaan “Best in Fiction” pada Kompasiana Award tahun 2016. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Saat ini menetap di Medan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.