Cerpen
Aku Sudah Dijemput

Aku Sudah Dijemput

Sudah lama ia menagih janji itu. Janji yang selalu aku tunda, “Sebentar, jangan cepat-cepat.” Betapa baiknya ia yang selalu sabar dan tak membantah. Entah ia marah atau tidak tapi wajahnya memang selalu gelap. Aku tak takut sebab dia sudah seperti Buto Ijo yang menagih Timun Mas. Bedanya, aku hampir setiap saat bertemu dengannya. Di Taman Kota, di swalayan, di rumah makan. Ia ada di mana-mana. Ia datang padaku tanpa jadwal, entah Tuannya yang menyuruh atau memang dirinya sendiri yang ingin datang.

Karena seringnya kami bertemu, kami menjadi akrab. Seperti manusia yang sudah bertahun-tahun berteman. Ia ceritakan padaku tentang dunianya yang tak mampu kulihat. Ia katakan padaku mana yang terlihat baik namun salah, mana yang kelihatannya salah namun ternyata baik. Ia mengatakan semuanya padaku, kuharap begitu. Tapi pada kenyataannya ia selalu menyimpan rahasia, entah milik Tuannya atau miliknya sendiri. Aku selalu melihat ruang di tubuhnya yang tak mau ia buka pada siapa pun. “Itu adalah kesepakatan untuk tidak membicarakan apa pun pada siapa pun. Jika bersifat umum, dengan ringan aku akan memberitahumu.” katanya suatu hari. Suaranya menggelegar setiap ia bicara, tapi tak apa. Toh, aku sudah terbiasa. Terlampau terbiasa.

Meskipun kami telah akrab, rasa takut tetaplah ada. Bukan karena janji itu. Bukan. Bukan sama sekali. Janji itu malah seperti hadiah untukku. Tapi, wujudnya-lah yang selalu membuatku takut. Ia mudah berubah menjadi orang lain. Maksudku bentuknya saat ia bertemu denganku. Ia tetaplah ia. Ia kadang memakai wujud laki-laki, kadang perempuan. Ia juga bisa menjadi anak kecil, nenek tua, kakek yang genit, bahkan wanita cantik sekalipun. Aku tetap mengingat wujud aslinya, wujud yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah waktunya untuk menepati janji. Wujud yang lebih tak terduga dari bayangan orang lain. Tak akan ada yang mampu menceritakan wujud aslinya karena saat janji itu datang, mereka langsung dibawa. Tak sempat bercerita pada siapa pun.

Dan di sini, mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana aku menegnali sosok ia? Mudah saja bagiku! Aku selalu dapat merasakan wajah gelap dan ruang pada tubuhnya yang penuh rahasia. Dengan ia berada di sampingku, aku langsung mengenali ia. Dosa apa yang ia lakukan sehingga aura gelap selalu berada bersamanya? Jika bisa, aku ingin menyelamatkanmu. Aku dan kamu. Berdua. Bersama.

Pagi itu aku sengaja tak berangkat ke sekolah. Aku harus mempersiapkan diri untuk menepati janjiku besok. Janji yang selalu kutunda. Besok aku harus memenuhinya. Maka dari itu aku ingin melakukan kegiatan yang aku sukai, seperti minum kopi di cafe mewah, yang memiliki jendala kaca menghadap ke arah jalan, yang memiliki pohon hijau dan halaman luas pula. Kemudian, kulanjutkan dengan menonton film sendiri agar bisa menghabiskan popcorn ukuran besar dengan minuman soda favoritku, sprite. Dan yang terakhir, melihat langit dengan pulasan oranye. Pada penghujung hari itu, ia datang.

“Mau mengundurkan janji lagi?” Tak terkejut sama sekali dengan wujudnya, auranya terlalu tercium.

“Tidak. Sudah terlalu sering. Kukira besok sudah waktunya.” Kutengok ke arahnya. Seorang lelaki tampan tepat berada di sampingku. Wujud yang ini sama sekali belum pernah kulihat. Mungkinkah ini hadiah?

“Kau sudah melakukan yang terbaik. Itulah mengapa Tuanku memperbolehkanmu memiliki banyak waktu.” Secara bertahap matahari meninggalkan langit yang mampu kupandang, ia telah meninggalkan warna oranye yang tersisa untuk kutelanjangi. Tidak. Aku tidak akan berkedip bahkan sekali.

“Ah.. kukira kau yang memohon pada Tuanmu.”

“Itu juga tugasku, bukan? Kau tidak salah.” Aku tak akan jatuh pada wajahnya, wujud aslinya sungguh menyala di pikiranku.

“Jadi mengapa kau mau? Tugasmu bukan bernegosiasi.” Ia diam. Entah menikmati langit yang sama, atau tak mau menjawab. Atau ia tak tahu ingin menjawab apa untuk menutupi kebenaran.

“Kadang kebenaran tidak baik untuk diungkapkan. Aku telah memutuskan bagaimana kamu akan menepati janji, tapi itu nanti juga tergantung padamu. Aku belum tahu bagaimana ke depannya tentang dirimu nanti.” Jawaban yang sama sekali tak terhubung dengan pertanyaan. Aku bingung mengapa kebenaran kadang tak baik diungkapkan, sedangkan sejauh ini ia selalu mengatakan apa pun padaku dengan jujur dan tanpa ragu. Aku percaya ia tak pernah berbohong.

Karena aku ingin percaya.

Karena aku telah percaya.

Aku diam tak membalas jawabannya.

“Kau mau bonus?” tanyanya. Tanpa ragu.

Aku berpikir, mencerna apa yang ia katakan, mengolah apa maksud di balik perkataan itu. Bukankah aku selalu menunda janji adalah bonus? Mengapa ia menawariku bonus lagi? Apa yang aku lakukan sampai ia selalu berbaik hati pada aku yang begini?

“Jika boleh, aku ingin bercinta dengan pria tampan.”

Kau

 Lirikanku telah mengungkap semua maksud.

“Kau tahu aku tak bisa.” Tawaku pecah. Seharusnya itu tak menjadi hal yang menyedihkan, mengingat bahwa wujudnya tak seindah penyamarannya.

“Aku memang tidak bisa, tapi aku tahu pria tampan.”

“Dia juga dapat bonus? Apa pria itu juga akan menepati janjinya padamu?” Ia diam. Memastikan tawarannya adalah benar. Bahwa, yang ia katakan adalah tidak menentang Tuannya.

Kupandangi lagi langitku, langit yang telah ditinggalkan oleh matahari, namun bulan tak pernah pergi. Warnanya tak lagi oranye, oranye juga telah meninggalkan langit. Tega sekali mereka. Di kehidupan selanjutnya aku ingin menjadi bulan saja, begitu pikirku.

“Mengapa kau tak bisa? Kau malu dengan wujud aslimu? Sebenarnya aku tak masalah dengan hal itu.” Aku tak akan menyerah, bercinta dengan orang asing bukanlah persoalan mudah. Tapi dengannya, kupikir aku akan baik-baik saja.

Ia tak menjawab hingga langit berubah mejadi hitam. Entah sejak kapan aku dan ia duduk bersama hanya untuk berdiam diri. Dan malam itu, aku menyaksikan perubahan wujud yang berlangsung secara terus menerus, tanpa peringatan, tanpa kesakitan, ia berubah seolah itu bukan persoalan yang besar. Ya. Karena ia memang telah terbiasa dengan itu. Memang begitu. Namun, bagiku itu hal baru, aku selalu menemuinya dalam satu wujud tetap. Dan kali ini aku hampir dapat menemui semua penyamarannya.

Dan sejenak aku berpikir, selagi kami diam aku memikirkan satu hal.

Tidak bisakah ia meminta izin pada Tuannya untuk bisa menyetubuhiku? Aku terlanjur jatuh cinta dengan segala wujudnya.

Namun, aku tahu itu hal yang mustahil.

Puas dengan memandang langit. Aku pulang dengan membawa beberapa bungkus roti kesukaanku. Coklat, blueberry, melon, keju. Semua uang sakuku kuhabiskan untuk hal tersebut. Roti memanglah kesukaanku. Dan ia tahu pula hal itu.

Ia selalu berkeliling ke toko roti di setiap sudut kota bersamaku. Ia selalu menunjukkanku mana toko roti yang paling enak dan memiliki rating bagus. Dan telah lama pula ia menjadi peta bagiku. Ia tahu segala arah. Seolah ia sedang melihat dari atas awan. Tentu jika aku pergi dengannya, aku selalu pergi dengan wujud yang berbeda. Bahkan pernah dalam wujud om-om.

***

Pernah sekali aku pergi dengannya dalam wujud om-om dan betapa tidak beruntungnya aku saat itu. Aku bertemu dengan teman satu kelasku. Dia memakiku habis-habisan di tempat, mengatakan bahwa aku menjual tubuhku, mengatakan dengan benar bahwa aku simpanan om-om, mengatakan bahwa aku adalah pelacur bagi om-om, tidak satu katanya, banyak. Aku hanya menertawainya dan mengatakan padanya, “Aku tidak tahu wujud apa yang akan ia berikan nanti saat waktumu menepati janji.” Tentu temanku tak mengerti apa yang aku ucapkan, namun aku berterima kasih padanya karena ia adalah orang yang mau berbicara padaku saat orang lain enggan. Itu sudah sejak dua minggu.

Awalnya memang aku ingin berterima kasih, tapi gosip bahwa aku simpanan om-om telah tersebar di seluruh sekolah. Bukan di kelasku saja, seluruh sekolah! Juniorku tahu, senior pun tak mau ketinggalan. Setiap tatapan mereka terhadapku terlihat menjijikan, bahkan mereka tak mau menyentuhku. Pada awalnya mereka tak mau bicara padaku, dan sekarang tak mau menyentuhku. Tapi anehnya aku tak masalah lagi dengan hal itu. Aku membiarkannya begitu saja. Aku tak ingin menejalaskan apa pun. Selama ada ia, aku akan baik-baik saja. Ya! Aku akan baik-baik saja. Meskipun mereka selalu meneriakiku, “Anak pembunuh.”

Aku tak akan berkutik, karena manusia pada zaman apa pun akan tetap sama. Mereka hanya ingin percaya dengan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Tanpa mau mencari kebenaran.

***

Sampai di rumah, aku melihat sosok pria berdiri di pintu masuk rumah, ia telah melewati pagar yang tak pernah kukunci. Ia menggunakan setelan yang rapi, seperti hendak pergi ke kantor. Bukan dia. Mataku mencari-cari kendaraan yang mungkin ia tumpangi, namun bersih. Wajahnya gugup, kakinya kadang mengentak pelan, kadang tangannya ia gunakan untuk membenarkan rambut. Bukan dia. Jelas bukan!

Beberapa menit aku memperhatikan perilakunya dari luar pagar, akhirnya mata kami bertemu. Ia memandangku dengan tegas. Seketika tubuhnya diam. Seolah mataku adalah remote. Aku bertanya-tanya apa yang ia pikirkan, apa yang ia inginkan, apa yang ia butuhkan, apa yang ia lakukan. Jika ia ada disini bersamaku, ia akan memberitahuku. Sayangnya ia pergi meninggalkanku dan memutuskan untuk menemuiku saat janjiku telah tiba waktunya untuk kutepati.

Kakiku melangkah, mendekat dan menyuruhnya untuk masuk. Kutanyakan padanya apa yang ia lakukan di luar rumahku, tapi kebisuan masih menjadi jawabannya. Jika ia ingin merampok, akan aku persilahkan untuk mengambil apa saja yang ia butuhkan di rumahku. Lagi pula sejak Ibu meninggalkanku, aku jarang merawat barang-barang di rumah. Sendiri terlalu melelahkan. Jadi kubiarkan benda-benda di rumahku ditelan oleh debu dan mengarat. Aku bahkan tak bisa menghitung berapa orang yang masuk ke dalam rumahku untuk mencuri. Dan itu seperti tak mengurangi properti di rumahku, akhirnya aku membagi-bagikannya atau menjual kepada pengepul.

Hingga ia datang ke dalam hidupku dan menagih janji, janji yang selalu kutunda sebab aku mengetahui ada yang tak beres pada perasaanku terhadapnya.

***

“Apa yang harus aku lakukan untuk bisa bersamamu?” suatu hari aku bertanya padanya.

“Kau harus melakukan dosa besar.”

Aku tahu, setelah janji itu terpenuhi, aku tak akan bertemu dengannya, tapi aku tak bisa menunda janji lagi. Terlalu sering, Tuannya akan marah padaku, atau pun padanya.

***

Aku biarkan ia berkeliaran sesukanya di rumahku. Ia tiup-tiup sofa buruk yang telah lama kutelantarkan. Tapi akhirnya ia tak mengambil duduk dan mengampiriku.

“Aku ingin bercinta denganmu.” Napasnya tak teratur. Sudah berapa lama ia menahan?

Mulutnya pelan menciumi leherku, telinga, kemudian mulut. Ia melakukan hal tersebut dengan rapi, pelan dan mampu membangkitkan birahiku. Sekarang aku bisa mendengarkan embus napasnya. Suara kecupannya juga masuk memenuhi telingaku. Lidahnya telah bermain di sekitar mulutku. Ia paksakan masuk meskipun aku tak menanggapi. Wahai, apakah ini orangnya?

Ini adalah kesempatanku!

Pagi, aku terbangun oleh cahaya rakus yang memenuhi ruang tamu. Matahari telah kembali bersama langit, bulan meredup. Dan warna oranye sedang menanti. Tugasku adalah menjemput warna tersebut. Dengan bergegas aku menuju sekolah. Ia telah datang ke mimpiku hendak memberitahukan bahwa ia akan datang sore nanti.

Aku tak sabar. Aku seperti orang gila yang tersenyum tanpa sebab. Dan senyum itu seperti tak peduli saat orang-orang tetap menghinaku bahwa aku semakin gila. Memang sebenarnya tidak ada yang lebih tahu tentang diriku selain diriku sendiri. Dan aku tak pantas disebut gila, sebab aku masih berpakaian rapi, seragam SMA.

Bel pulang seperti bel pengingat bagiku. Aku melompat keluar kelas. Seperti kera yang lepas. Sebelum janji itu kutepati, sekali lagi aku melihat matahari meninggalkan langit. Warna oranye sungguh baik karena ia memberikan warna yang lebih pekat lagi bagiku. Dari hati ke hati aku berbicara dengan warna oranya. Kurasakan ia juga tersenyum padaku. Aku membuat janji padanya bahwa ia boleh meninggalkan langit jika pagi dan siang, tapi ketika sore ia harus berjanji akan selalu bersama langit. Karena aku akan mengawasinya. Seharusnya ia takut. Tapi warna oranye tertawa. Seolah berkata, “Itu memang takdirku, tapi kau satu-satunya yang memintaku untuk tidak pergi. Aku berjanji akan pamit padamu jika aku akan meninggalkan langit, tapi itu tidak untuk selamanya, hanya sementara.”

Lamunanku terlalu jauh sehingga ada seseorang yang memanggilku aku pula tak mendengarkan.

“Mau pulang denganku?” tawar seorang laki-laki yang dulu kukenal sebagai sahabat baikku, ia tak pernah meninggalkanku dulu. Tapi akhirnya ia pergi karena gosipku dengan om-om. Kubilang manusia tak pernah berubah meski di zaman apa pun. Dan itu benar adanya.

“Terima kasih.” Senyum kuberikan padanya. Ia tampak bingung.

“Berbicara padaku tidak membuatmu kotor. Tapi kau mengotori dirimu dengan gosip murahan itu..” Aku menjeda kalimat.

“Tapi, tetap di detik-detik terakhir aku dijemput. Aku akan berterima kasih padamu.” Tak pernah aku tersenyum selebar ini. Lagi-lagi dia bingung, merasa bahwa dirinya akan kehilanganku sebelum ia mampu merperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki.

Sekali lagi ia menawariku untuk pulang bersamanya, aku menolak.

“Tidak. Aku telah dijemput.” Aku tak melihatnya lagi.

“Aku sudah dijemput.”

“Ini adalah waktuku.”

“Aku bisa bersamanya sekaramg.” Dari kejauhan aku dapat mencium kehadirannya. Lambat laun aku mampu melihat wujud aslinya, wujud yang benar-benar ia, wujud yang ia perlihatkan padaku saat pertama kali kami bertemu. Ia adalah ia. Aku benar.

Langkahnya mengibaskan dedaunan, membuatnya bertaburan terbang tak beraturan.

“Kau telah melakukan dosa besar,” katanya. Kurasakan aku kehilangan tubuhku. Saat itulah aku benar-benar lepas dari tubuhku.

Beberapa hari setelah aku terbangun dan bekerja seperti yang ia lakukan, aku mengetahui ada mayat pria ditemukan di sebuah rumah lawas yang tak terurus tersedak roti coklat.


Penulis:

Khawwaliyya Nor Khamidah, lahir pada tahun 2000 di Ponorogo. Penulis merupakan mahasiswi STKIP PGRI Ponorogo Progam Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis selain suka membaca juga menggemari film misteri thriller.

2 thoughts on “Aku Sudah Dijemput

Leave a Reply

Your email address will not be published.