Resensi Buku
Manusia Madura di Hadapan Kolonialisme

Manusia Madura di Hadapan Kolonialisme

Judul Buku  : Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon
Penulis        : Edy Firmansyah
Penerbit      : Cantrik Pustaka, Yogyakarta
Cetakan      : I, Agustus 2021
Tebal           : 132  halaman
ISBN           : 978-623-6063-18-7

Tidak dapat dimungkiri bahwa tatanan sosial Madura berpusat pada nilai. Nilai tersebut kemudian mengejawantah ke dalam pelbagai pola kehidupan masyarakatnya. Menjadi ciri khas manusia Madura. Barangkali atas dasar itulah sebagian besar pengarang Madura kemudian menarasikan berbagai nilai kehidupan Madura itu ke dalam karangannya untuk memberikan gambaran secara utuh mengenai sosio-kultural masyarakat Madura. Maka, jangan heran jika kebanyakan pengarang Madura menggarap karapan sapi, pernikahan dini, cinta yang gagal diselamatkan karena terhalang status sosial, prosesi lamaran, carok karena persoalan perempuan hingga harga diri.

Padahal Madura adalah sebuah suku yang kompleks. Sosio-kultural yang tercipta di dalam masyarakat tidaklah terjun begitu saja dari langit. Ia tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat disebabkan pengaruh ekternal maupun internal. Salah satu pengaruh eksternal dari watak masyarakat Madura adalah kolonialisme. Medan ini amat jarang dibahas dan dieksplorasi oleh kebanyakan pengarang Madura.

Nah, Edy Firmansyah adalah salah satu yang jarang tersebut. Ia menempuh jalan yang berbeda. Pengarang kelahiran Pamekasan ini seolah menjadi anomali dari kebanyakan pengarang Madura. Melalui buku kumpulan cerita pendeknya berjudul Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon, ia justru menggunakan sejarah kolonialisme di Madura sebagai amunisi bagi cerita-ceritanya. Premis-premis yang muncul dari sebagian besar ceritanya tidak lagi soal benturan budaya lokal berhadapan dengan modernitas, carok atau pernikahan dini, melainkan penjajahan, harga diri, dan pertarungan hidup dan mati untuk bebas dari cengkeraman kolonialisme. Semua premis tersebut digambarkan ulang ke dalam cerita menggunakan latar masa kolonialisme di Madura, baik di masa pendudukan Belanda hingga Jepang. Kita seolah dimasukkan ke dalam mesin waktu dan dilemparkan ke masa-masa masyarakat hidup dalam kerangkeng penjajahan.

Dalam buku setebal 132 halaman tersebut dan berisi 14 cerita pendek, kita akan bertemu dengan tokoh  Yasima dalam Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon yang terpaksa membuang segala angan muluknya untuk lepas dari jerat kemiskinan dengan menjadi juru masak ketika menghadapi kenyataan ia justru dijadikan jugun ianfu, budak seks di masa pendudukan Jepang. Tapi di tengah kekalahannya mempertahankan harga dirinya sebagai perempuan di hadapan tentara dai Nippon, ia masih berusaha melarikan diri dan berhasil selamat. Meski kemudian terpaksa menyamar jadi laki-laki.

Di sisi yang lain, kita juga diajak bertualang bersama Ladrak, tokoh  yang hampir ada di sebagian besar cerita dalam buku tersebut.  Penggunaan tokoh Ladrak di hampir semua cerita-ceritanya itu mengingatkan kita pada Seno Gumira Ajidarma yang kerap menggunakan nama Sukab, AS Laksana yang sering menggunakan nama Seto, dan Agus Noor dengan tokoh Otok-nya. Tentu saja tokoh Ladrak dalam buku ini tidak selalu berakhir dengan kemenangan laiknya pahlawan super. Tak sedikit yang terpaksa berkubang dengan darahnya sendiri. Seolah-olah Ladrak dalam cerita Edy Firmansyah hendak dijadikan simbol tentang komitmen yang tidak bisa dilanggar dan sudah menjadi konsensus masyarakat Madura: ango’an potè tolang, ètèmbhâng potè mata, lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.

Karenanya tak heran jika saat membaca Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon, kita dibawa pada masa silam, masa di mana lanskap petempuran melawan kolonialisme dan segala pedih perih dan suka dukanya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Madura. Rentetan senapan, tebas-menebas dalam petarungan jarak dekat, darah, dan air mata diceritakan dengan lihai bak seorang pendongeng.

Melalui cerita dalam buku ini kita seolah mendapatkan gambaran lain bahwa potret manusia Madura tidak hanya sekadar bergulat dengan persoalan lokalitas. Tetapi juga persoalan menjadi manusia merdeka yang lepas dari belenggu tirani. Bahwa satu-satunya alasan manusia Madura, baik laki-laki maupun perempuan, berani mempertaruhkan nyawa dan bercanda dengan maut bukan sekedar karena wataknya yang keras, melainkan karena harga dirinya terusik dan diinjak terlalu lama.

Meski dari kebanyakan pengarang Madura buku ini bisa dikatakan anomali, tetapi di jagat yang lebih luas buku ini cenderung terlambat. Banyak pengarang lain yang telah menggunakan latar sejarah sebagai bahan penceritaan. Pada tahun-tahun sebelumnya, sekadar menyebut satu nama, Iksaka Banu, misalnya (sekadar menyebut satu contoh) sudah lebih dulu meluncurkan dua buku kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia (2014) dan Teh dan Pengkhianat (2019). Bedanya, jika Iksaka Banu mengeksplotasi masa kolonialisme membentang dari Batavia hingga Banda Neira, Edy Firmansyah justru menggarap ruang lingkup yang lebih sempit; kolonialisme di Madura.

Apakah buku ini menarik? Jika Anda membutuhkan perspektif lain dari tema cerita kebanyakan pengarang Madura yang cenderung berputar-putar di tema lokalitas, buku ini bisa memenuhi kebutuhan itu. Edy bak seorang arkeolog mencari artefak dengan mengesplorasi Madura dari segi historisnya. Namun jika Anda menyukai cerita masyarakat dengan tema-tema lokalitas, jelas buku ini bukan pilihan yang tepat.

Lepas dari itu, buku ini layak disambut hangat karena memberi warna yang berbeda. Memberi angin segar bahwa memang tak ada yang baru di bawah langit biru, tapi selalu ada yang unik untuk diceritakan ulang. Termasuk manusia-manusia Madura di masa kolonialisme. []


Penulis:

Nurfa Rosanti adalah Pembaca buku sastra. Guru matematika di SMP Negeri 3 Sampang, Karyanya berupa artikel dan resensi buku tersebar di banyak media cetak baik nasional dan lokal seperti: Jawa Pos, Harian SURYA, Surabaya Post, Radar Madura, Radar Surabaya dan Koran Pak Oles Bali. Bisa dihubungi via IG: @nurfarosanti atau twitter: @mawarapi

Leave a Reply

Your email address will not be published.