Resensi Buku
Amerika Latin dan Para Raksasa yang Tak Henti Digosipkan

Amerika Latin dan Para Raksasa yang Tak Henti Digosipkan

Judul Asli        : Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal
Penulis            : Ronny Agustinus
Penerbit          : Tanda Baca
Tahun Terbit   : Cetakan Pertama, Juni 2021
Tebal              : x + 166 halaman
ISBN               : 978-623-97149-0-1
Peresensi       : Hari Niskala

Buku di tangan pembaca ini memuat enam belas esai matang seputar kesusastraaan, politik, dan sosio-budaya Amerika Latin. Dalam kata pengantarnya, Ronny Agustinus dengan rendah hati menyebut buku ini—di mana sebelumnya merupakan tulisan-tulisan yang pernah terpublikasi sebagai bahan ajar kuliah, konten web, dan konten blog pribadi—sebagai wadah coretan-coretan dia tentang salah satu minat utamanya. Sekali lagi, “wadah coretan”—barangkali terdengar sepele. Namun, alih-alih menemukan hal sepele, pembaca justru dapat menemukan bongkahan “harta karun penting” yang nyatanya belum banyak digali oleh penulis-penulis Indonesia.

Jauh sebelum terbit, buku ini memerlukan amunisi-amunisi berupa literatur dan surat kabar berbahasa Spanyol. Pembaca mungkin bertanya-tanya tentang bagaimana Ronny Agustinus memperoleh sumber-sumber “primer” itu. Tidak mudah, tentu saja, terlebih jika harus mengaksesnya dalam jangka panjang lantaran berbeda-beda tahun terbitnya. Maka, atas kerja keras itu, layaklah kiranya buku ini disebut sebagai “bukti penjamin mutu” wawasan penulis akan realitas sastra-politik-sosial-budaya Amerika Latin. Demikianlah.

Secara garis besar, esai-esai dalam buku ini dibagi dalam tiga pembabakan. Latar intrinsik dalam Cien años de soledad atau Seratus Tahun Kesunyian dipilih sebagai judul babak pembuka, ialah nama kota imajiner dalam kepala Gabriel Garcia Márquez (Gabo) yang turut membikin novel besutannya itu jadi demikian mengemuka: Macondo. Penulis maupun penyunting (dalam hal ini adalah Mahfud Ikhwan) mungkin punya alasan tertentu di balik pemilihan judul tersebut. Apapun itu, Macondo memang istimewa. Kota yang diliputi rawa-rawa itu digambarkan pernah jadi tempat para Gipsy menggelar sirkus, jadi sarang insomnia sekaligus amnesia yang menyergap para penduduknya selama berhari-hari, dan di suatu masa jadi saksi bisu pembantaian 3.000 buruh perkebunan pisang. Singkatnya, Macondo adalah ingar-bingar berbaur suka-cita, paradoks, dan tragedi yang jalin-jemalin dalam kurun waktu seratus tahun.

Sebagaimana Macondo di kepala Gabo, Macondo-nya Ronny Agustinus bermaksud merangkum beraneka ingar-bingar, paradoks, dan tragedi—khususnya mengenai kesusastraan Amerika Latin. Tentang “ingar-bingar” itu, penulis memasukkan satu fenomena tak terbantahkan pada periode 1960an hingga 1970an. El Boom, demikianlah fenomena tersebut kemudian dikenal.  El Boom atau boom sastra Amerika Latin merujuk pada fenomena lonjakan penerbitan, penjualan, dan pembacaan publik atas karya sastra Amerika Latin baik dalam bahasa Spanyol maupun terjemahannya di aras internasional (halaman 3). Boom seolah jadi nasib baik bagi karya-karya yang terbit pada periode itu. Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, Julio Cortázar, dan Gabriel Garcia Márquez adalah nama-nama penulis yang paling sering jadi sorotan. Tak ada nama penulis perempuan? Elena Garro (mantan istri Octavio Paz) turut menerbitkan novel penting berjudul Los recuerdos del porvenir pada 1963, namun karyanya itu tak menerima sorotan sebagai karya boom (halaman 11).

Para penulis perempuan baru muncul, bahkan sangat menonjol, di era pasca-boom, yakni pada periode 1980an. Isabel Allende, Laura Esquivel, Ana Maria Shua, Laura Restrepo, Rosario Ferré, dan Giannina Braschi adalah sebagian di antaranya. Sebagian kritikus kemudian menyebut fenomena tersebut sebagai boom femenino, sekaligus menggarisbawahi bahwa lonjakan penulis perempuan Amerika Latin yang sangat populer sejak 1980an ini tidak menerima bahasan dan pemberitaan yang sama dibanding El Boom. Sebagian lagi menolak istilah boom yang dirasa sangat macho (tiruan bunyi ledakan) dan memilih memplesetkannya menjadi b(l)oom, yang berkonotasi “mekar” (halaman 33).

Seusai bahasan mengenai boom dan b(l)oom, penulis ganti memaparkan serangkaian kerja antikomunisme yang dilakukan Congress for Cultural Freedom (CCF). Boleh dibilang CCF adalah kepanjangan tangan dari Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat. Dalam suatu kerja antikomunisme-nya di Amerika Latin, CCF menerbitkan majalah kebudayaan. Mula-mula Cuadernos pada 1953, namun hanya bertahan hingga tahun 1959. Pada tahun 1963, CCF membikin lagi, yakni Mundo Nuevo yang ternyata lebih “sastrawi” (halaman 39). Mundo Nuevo berusaha menempatkan Amerika Latin ke dalam “akar universal”-nya di Eropa—mirip sekali dengan proyek “humanisme universal” di Indonesia dengan klaim universalisme dan ketidakberpihakannya (halaman 40). Dengan misinya yang kosmopolit dan kontemporer, serta peluang untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa selain Spanyol, Rodriguez Monegal (redaktur Mundo Nuevo) berhasil menarik banyak penulis Amerika Latin dari pelbagai kecondongan politik untuk mengirimkan karyanya ke majalah tersebut. Tersebutlah nama-nama yang sedang naik daun seperti Carlos Fuentes, Jos Donoso, Augusto Roa Bastos, Guillermo Cabrera Infante, Octavio Paz, Gustavo Sainz, Gabriel Garcia Márquez, Mario Vargas Llosa, dan Julio Cortázar—nama-nama yang mendunia semasa boom sastra Amerika Latin (halaman 41). Namun, sebelum berjalan lebih jauh, reportase The New York Times dan Ramparts menguak sekelumit “borok” di balik keredaksian majalah tersebut. Sudah tentu penulis yang kadung pasang badan pada haluan politik kiri seperti Gabriel Garcia Márquez di kemudian hari merasa “dikadali” dan menyesalkan kontribusinya pada majalah itu (halaman 42).

Di babak kedua, pembaca akan melihat bagaimana Para Raksasa melakoni kerja-kerja hebat, termasuk juga sisi lain mereka. Carmen Balcells, nama yang barangkali terdengar asing dan kurang familiar. Siapa sangka bahwa ia adalah tokoh kunci di balik fenomena boom. Kiranya tak salah jika penulis menempatkan namanya sebagai “raksasa” di urutan pertama. Ia adalah agen sastra yang mengorbitkan nama-nama penulis besar Amerika Latin yang—bagaimanapun—masih dibicarakan hingga kini dan hingga entah kapan. Para penulis era boom—dan kesusastraan duniamerasa berutang budi pada tangan dinginnya. Xavi Ayén, dalam satu tulisannya, menjuluki Carmen Balcells sebagai la dueña del boom (induk semang boom sastra Amerika Latin). Manuel Vázquez Montalbán menyebutnya sebagai la liberadora de autores (pembebas para penulis). Dan Gabriel Garcia Márquez menjulukinya penuh takzim sebagai “Mama Grande” yang berarti Mama Besar (halaman 54).

Nama “raksasa” lain yang tak luput dari bahasan penulis adalah Gabriel Garcia Márquez dan Mario Vargas Llosa. Keduanya telah jamak dikenal sebagai penyabet hadiah Nobel di bidang kesusastraan. Dimulai dari halaman 61, penulis lalu memaparkan secara intim cerita persahabatan keduanya sebelum akhirnya berkutat pada perseteruan panjang yang dipicu oleh hal di luar kesusastraan. Hal apa gerangan? Saya kira tak perlu disinggung di sini, sebab ada perihal yang lebih mendesak untuk disinggung, yakni tentang sebuah buku tebal yang baru dicetak ulang setelah setengah abad (halaman 66). Obituari penulis untuk Gabriel Garcia Márquez pun jadi terasa amat penting (halaman 71). Satu lagi yang juga penting adalah penilaian beberapa orang pada Mario Vargas Llosa yang menua dan dianggap terjebak pada konservatisme (halaman 83).

Setelahnya, di luar Garcia Márquez dan Vargas Llosa, penulis turut membicarakan penyair Pablo Neruda. Satu pembacaan penulis pada puisi Neruda kala melancong ke Pulau Paskah sedikit memberitahu kita bahwa si penyair adalah “ksatria asing, datang mengetuk pintu-pintu hening” (halaman 85). Dua raksasa lain menghuni satu bab berikutnya. Mereka sama-sama bernama Jorge dan sama-sama menjadi pembaca yang lahap: Jorge Luis Borges dan Jorge Mario Bergoglio. Jorge yang disebut kedua kemudian lebih dikenal dunia sebagai Paus Fransiskus (halaman 89).

Babak ketiga menghadirkan kejutan-kejutan tak kalah gahar ketimbang babak pertama dan kedua. Revolusi Chavez dan usaha-usahanya menyembuhkan Venezuela dari rongrongan “oligarki nasional” (halaman 98) boleh dibilang bersisian dengan keberadaan Pahlawan Bertopeng luchador dari Meksiko (halaman 108). Ya, mereka sama-sama mengusahakan “pembebasan”. Setelah dua esai “kepahlawanan” tersebut, ada bahasan mengenai Joaquín Murrieta, sosok legenda bandit atau bromocorah yang di kemudian hari menginspirasi pembuatan film The Mask of Zorro (halaman 125). Upaya “melawan lupa” dengan arpillera (kain perca) pernah dilakukan kaum ibu-ibu di Cile. Semasa pemerintahan Jenderal Augusto Pinochet, Cile jadi semencekam Indonesia kala berada di bawah kendali rezim Orde Baru (halaman 127). Upaya memantik revolusi lewat puisi pun jadi bahasan amat menarik. Para penyair-aktivis di El Salvador telah melakukannya beberapa tahun lebih awal ketimbang kelompok Subcomandante Marcos di Meksiko (halaman 134).

Di esai pamungkas, penulis mencoba menjelaskan pembentukan Amerika Latin dari perspektif sastra. Konon, faktor utama pembentuk kesadaran “regional” Amerika Latin adalah Revolusi Kuba yang berangka tahun 1959 (halaman 142). Sebelum kesadaran “regional” itu terbentuk, para penulis pendahulu telah menancapkan tonggak kesadaran “nasional” pada tanah tumpah darah masing-masing. Menyitir Benedict Anderson, perkembangan “kapitalisme cetak” turut memberi sumbangsih penyebaran nasionalisme. Menyitir Benedict Anderson lagi, penulis kemudian menyebutkan novel pertama yang dihasilkan di Amerika Latin, yakni El Periquillo Sarniento (1816) karya José Joaquin Fernández de Lizardi dari Meksiko (halaman 144). Kiranya benarlah kata kritikus Ángel Rama: “Sastra awalnya dirumuskan sebagai bagian kecil tetapi istimewa dalam pembangunan kebangsaan”. Di periode berikutnya, novel-novel dari negara lain—dalam rumpun Amerika Latin—pun menyusul terbit, antara lain pada tahun 1841; 1845; 1862; 1867; 1870; 1877; 1879; 1929; dan 1934. Setelahnya, yakni setelah Revolusi Kuba pada tahun 1959, kita dapat lihat solidaritas antar bangsa-bangsa Amerika Latin dan tempatnya di dunia luar kemudian terbentuk (halaman 156). Demikianlah.

Terlepas dari kekurangan kecil berupa salah ketik dan pembabakan yang acak, buku ini amat kaya sehingga mampu membuka wawasan pembaca terhadap realitas sastra-politik-sosial-budaya Amerika Latin. Kalimat-kalimatnya jernih, tenang, gampang dicerna, dan memungkinkan pembaca betah berlama-lama membacanya.

Setelah itu, Amerika Latin terasa makin dekat. Maka tak berlebihan jika kemudian sekelompok orang tertarik menggosipkannya—menggosipkan Amerika Latin beserta perihal-perihal yang meraksasa di dalamnya, lagi dan lagi. Di ruang kuliah. Di forum diskusi. Di kedai kopi langganan. Dengan cara paling bermutu, tentu saja. []


Penulis:

Hari Niskala, tinggal di Tulungagung. Bukunya yang telah terbit berjudul “Vita Brevis, Suwung Longa” (kumpulan cerita pendek) serta “Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai” (novel). Dapat dihubungi di nomor telepon 085785578109.

Leave a Reply

Your email address will not be published.