Puisi
Puisi Anindita Buyung Pribadi

Puisi Anindita Buyung Pribadi

Batas Perjalanan

sebab setelah pagar tanaman ini
adalah padang yang luas
dan perjalanan yang panjang

ada jalan beraspal di depan sana
yang mana teriknya seperti neraka di tapak kaki
orang-orang kewalahan mengejar waktu yang tak peduli
kita jatuh atau menunggu
untungnya ada trotoar
kau bisa istirahat di sana
mengecap keringat yang kering
seringkali sebab putus asa

di sana kau akan bertemu
muka orang-orang bersembunyi di lipat ketiaknya
sebab kejujuran sudah serupa
artefak yang dipertontonkan
dalam museum keangkuhan
perjalanan adalah kesendirian merawat waktu
sementara orang-orang menyaksikan
sembari sesekali bertepuk tangan

tidak ada batasan di depan sana
hanya ada di sini, saat kau kembali
berbagi cerita dengan secawan kopi
dan sore yang sepi

Magelang, 2021

Riwayat Jari

ibu jari memberi petuah bagi si kecil
jangan mau kau diremehkan
sebab separuh harapan kau genggam
di bumi yang kau pijak kau menopang keseimbangan

ibu jari berpesan kepada si manis
supaya kesadaran tumbuh pada dirinya
bahwa banyak kehidupan bermula darinya
romansa dikecap begitu manis dari hidup yang mesti harmonis

ibu jari mewanti-wanti sang tengah
jangan kau meninggi melampaui kebencian
kau harus menjaga harga diri
angin mengembus abai, kakimu tak boleh gontai

ibu jari memberi petunjuk pada telunjuk
bahwa di matanya ada tujuan
yang diwariskan orang-orang
kau harus selalu fokus agar segala sesuatu rapi terurus

ibu jari menasihati dirinya sendiri
segala sesuatu perlu apresiasi
agar kebenaran berjalan benar
meski kebetulan masih jadi rahasia

Magelang 2021

Di Atas Balkon Menua

di atas balkon menua bocah kecil menatap sore
yang menuntaskan nasib pertandingan bolanya
satu per satu lawan dipanggil mamaknya pulang
lalu dia kembali sendirian

di atas balkon menua remaja tanggung menanggung kesepian
pada gadis muda yang lama diidamkan
namun sang gadis tak jua takluk
sebab semesta tak mudah dibujuk

di atas balkon menua camar kecil tersesat jauh dari jangkaunya
dari bibir pantai yang tak mau lagi diciumnya
ia mengeluhkan perjalanan yang ditempuhnya
ternyata tak merimbakan apa-apa

di atas balkon menua aku dan selongsong peluru
yang melesat menembus mataku
menganak sungai ke muara di pantaimu
lantas tertegun pada pesan dalam botolmu 

Magelang, 2021

 

Daun yang Gugur di Atas Kanopi

sepi melesap
angin luruh sendirian
bau kesibukan mengendap di aspal
pohon-pohon menghitung dosa
dari dedaun yang berjatuhan
gugur layaknya perang

di medan kanopi
dahan-dahan merajuk sesal
dedaun telanjur pergi
tak mungkin direkat lagi
tinggal memori bagi embun esok pagi
tinggal cerita bagi ego yang menggerutu
sebab coba melawan waktu, melulu

Magelang, 2021

 

Bibirmu Sayap-Sayap Sunyi

tak ada yang bisa dikecap
bibirmu kelu mengeja rindu
yang khianat kepada waktu
dan pertemuan
ruang-ruang lengang
jarak yang kini diukur jengkal
tetapi dibentang waktu
gerimis lahir
dari rahim kemarau
sebab penghujan
ingkar pada janji
kata-kata lesap dari makna
sayap-sayap sunyi
berhenti mengepak
melayang diembus angin
memejamkan mata
pasrah 

Magelang, 2021

Di Geming Sungai

di sungai ini tak ada ikan-ikan yang berenang
melawan arus menuju mula
atau ikan-ikan yang hidup memantaskan diri pada alir
hayat yang terus menghilir

riakmu ialah permadani yang panjang nan luas
tempat dikisahkannya perjalanan bagi makhluk-makhluk pasrah
gamang ditiup angin, meremang ditipu resah
matamu sebimbang permukaan sungai
yang seringkali melihat yang datang lantas melintas hilang
sebab tidak ada batasan pada salur-salur hidup
yang dijanjikan gunung pada samudera

wajahmu adalah geming sungai yang hening dan pasrah
pada perahu kertas yang memintas tanpa permisi
dan kata-kata yang tertulis di tubuhnya adalah doa
yang lahir dari dosa-dosa 

Magelang, 2021


Penulis:

Anindita Buyung Pribadi, lahir di Banyumas. Kini tinggal di Magelang. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak, daring, dan antologi puisi bersama. Penulis bisa ditemui di @aninditabuy dan [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published.