Resensi Buku
Senyum Tuhan dan Hati Ibu

Senyum Tuhan dan Hati Ibu

Judul        : Senyum Tuhan di Hati Ibu
Penulis      : Dian Ardianto, M. Pd.
Penerbit    : Kamila Press bekerja sama dengan CV. Pustaka Ilalang
Cetakan    : Juni 2021
Tebal      : 72 halaman
ISBN   : 978-623-6253-58-8

Sejak kali pertama membaca judul, ada dua hal menarik yang memantik rasa untuk menelisik. Hal yang pertama adalah frasa ‘senyum Tuhan’ dan yang kedua adalah frasa ‘hati Ibu’. Tuhan adalah ungkapan untuk membahasakan kelemahan manusia, sebuah hal yang tak dapat dijangkau oleh mata dan telinga. Namun Dian Ardianto justru dengan berani menyebutkan bahwa Tuhan bisa tersenyum. Sisanya adalah rasa penasaran yang diselimuti berbagai pertanyaan ihwal cara Tuhan terseyum. Kesan kontradiktif ini kian terasa provokatif dengan tambahan ungkapan di hati Ibu. Muncul pertanyaan sederhana setelah judul ini terbaca utuh: Bagaimana bisa senyum Tuhan bersemayam di hati Ibu? Agaknya Dian Ardianto menganut paham pembuatan judul yang kontroversial dan provokatif untuk membuat calon pembaca penasaran sejak pandangan pertama, lalu berlanjut untuk membelinya agar bisa dibaca di mana saja.

Ketika Tuhan Tersenyum
Gaya tulisan yang ditampilkan oleh Dian Ardianto adalah pola deduktif. Pada bagian pembuka dijelaskan hakikat senyum secara umum terlebih dahulu, lalu mengerucut membahas senyum Tuhan, hingga kian spesifik mengungkap senyum Tuhan di hati Ibu. Lagi-lagi tampak jelas bahwa Dian Ardianto sedang menggiring pembacanya untuk terus mengikuti halaman demi halaman jika ingin mengetahui maksud dari ungkapan senyum Tuhan di hati Ibu. Sedikit bocoran, Dian Ardianto di halaman 5 langsung membuktikan kepada pembaca bahwa Tuhan benar-benar bisa ‘tersenyum’. Diceritakan ulang sebuah kisah dari Nabi Muhammad yang pada saat itu sedang menjelaskan tafsir surat Yasin ayat ke-65. Tak hanya kala menjelaskan tafsir salah satu ayat dari Al-Quran, kisah Tuhan ‘tersenyum’ juga pernah terjadi ketika seorang Sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah dengan tulus hati memuliakan tamu Sang Nabi.

Setelah menguatkan gagasannya dengan cerita, Dian Ardianto kembali membuat penguat dengan model kalimat tanya-jawab seperti dalam kutipan berikut ini,

Senyum lebih disandarkan pada makhluk Tuhan yang bernama manusia. Apakah Tuhan bisa tersenyum? Berarti sama seperti manusia? Kalau kita berfikir senyum Tuhan seperti manusia, jelas tidak. Karena sifat wajib Allah yang harus kita ketahui dan yakini itu ada 20. Di antaranya “Mukholafatu lil hawadisi” artinya Tuhan tidak akan sama dengan ciptaan-Nya. (halaman 8)

Melalui model tanya-jawab ini, Dian Ardianto seolah menjawab keraguan pembaca sejak awal bahwa senyum Tuhan dan senyum manusia adalah dua hal yang jauh berbeda. Ada empat hal yang diungkapkan oleh Dian Ardianto untuk menjelaskan manifestasi dari senyum Tuhan, yakni rahmat; hidayah; ridho; dan inayah.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Kini (Bukan) Guru
Banyak alasan yang membuat Dian Ardianto dengan berani menempatkan senyum Tuhan di hati Ibu, di antaranya adalah karena sosok Ibu lah yang pantas menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bagi Dian Ardianto, guru sebagai sosok yang dianugerahi sebutan mulia pahlawan tanpa tanda jasa gegara baktinya mengentaskan kebodohan anak bangsa nyatanya kini sudah mendapatkan ‘tanda jasa’ dari profesinya⸻meskin belum merata untuk seluruh guru di Nusantara. Justru yang jauh lebih layak menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa menurut Dian Ardianto adalah Ibu. Sosok yang tak akan pernah meminta tanda jasa atas pengorbanan cum perjuangannya yang dilakukan sepanjang masa, atas kasih yang tanpa pamrih, atas doa yang tanpa batas.

Tak berlebihan jika ada ungkapan yang menyebutkan bahwa surga terletak di bawah telapak kaki Ibu. Ada empat makna yang diuraikan oleh Dian Ardianto dari ungkapan tersebut. Pertama, posisi anak dianalogikan sebagai sebutir debu yang menempel di kaki sang Ibu. Setinggi apapun kedudukan anak, ia tetaplah debu saat di hadapkan dengan perempuan yang bertaruh nyawa untuk melahirkannya. Kedua, ungkapan metaforis untuk menyebut kemuliaan total seorang Ibu. Senada dengan yang termaktub di dalam Kalam Suci bahwa setiap orang harus merendahkan dirinya kala berhadapan dengan orang tuanya. Ketiga, sebagai gambaran perjalanan seorang Ibu. Melalui istilah ‘kaki’, setiap anak diharapkan mengingat perjalanan sang Ibu dalam mengandung; melahirkan; membesarkan; hingga mendoakan. Keempat, lambang kekuatan seorang Ibu. Selain gambaran perjalanan, kaki juga digunakan sebagai lambang kekuatan dalam menopang berat badan seseorang. Mengamini peribahasa yang berkata, Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan.

Yang Sedikit Mengganjal
Tema yang diusung oleh Dian Ardianto memang menarik, namun tidak berarti karyanya ini terbebas dari kritik. Jika tak ada gading yang tak retak, maka tak ada pula karya yang sempurna. Akan ada bagian-bagian yang ‘sedikit’ mengganjal sebagai bukti bahwa penulisnya hanya manusia biasa. Jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Sang Pemilik semesta. Sebut saja seperti salah ketik yang kerap terjadi hingga pengulangan kajian teoretis yang telah disebutkan di pembahasan sebelumnya. Pada halaman 3, Dian Ardianto menjelaskan kajian teoretis ihwal urgensi membiasakan diri tersenyum di hadapan orang lain dari pelbagai perspektif. Sayangnya, Dian Ardianto kembali mengulang penjelasan ini dengan redaksi yang sama persis di halaman 33. Agaknya hal ini bisa terjadi karena jalinan antarbab yang memang saling berhubungan. Akhir kata, hal-hal yang ‘sedikit’ mengganjal ini hanyalah bagian dari proses kreatif membuat karya tulis. Tanpa hal yang mengganjal, perjalanan menulis bisa saja hanya akan terasa hambar. []


Penulis:

Akhmad Idris. Seorang lelaki lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang terdampar di Bumi dengan selamat Sentosa pada tanggal 1 Februari 1994. Saat ini menjadi seorang dosen bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya. Seorang lelaki pecinta wanita, tetapi bukan buaya; sebab tiada kesalahan dalam mencintai. Seorang lelaki yang mencintai dunia kepenulisan, meskipun tulisan-tulisannya biasa-biasa saja. Dapat dihubungi di 082139374892 (akun gopay) dan 089685875606 (WA), fb Akhmad Idris, dan ig @elakhmad & @wnkuri_official. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.