Cerpen
Satiman Ingin Ganti Nama

Satiman Ingin Ganti Nama

Pagi-Pagi sekali, matahari baru saja muncul, seorang pemuda tengah melamun di dipan depan rumahnya. Bukan saja melamun, ia juga menggigit-gigit jari. Nama pemuda itu Satiman. Warga asli kampung Rangkek. Disebut warga asli karena ibu-bapak Satiman dua-duanya asal kampung itu. Orang-orang kampung dulu, karena tak pernah sekolah dan tak pernah pergi ke mana-mana selain bertani, maka mereka menikah dengan tetangga dekat. Paling jauh, dengan warga kampung sebelah.

Sebab Satiman melamun dan menggigit-gigit jari sepagi itu bukan karena ia kepingin kawin, tapi ia sedang berpikir untuk mengganti namanya, dengan nama yang terdengar tidak kampungan.

***

Ketika mendengar bunyi grasak-grusuk di dapur, ia bangkit dan melayangkan protes ke ibunya yang tengah menggoreng nasi sisa semalam.

“Kenapa nama saya Satiman, Bu?”

“Itu pemberian mendiang kakekmu. Kata kakekmu nama itu bakal beruntung,” jawab ibunya ketus sembari tetap menggoyang-goyangkan sodek, merasa tak begitu penting menjawab pertanyaan aneh Satiman.

“Apa artinya?”

“Ibu juga tidak tahu.”

“Aku kepingin mengganti nama.”

Ibunya melengos dan menatap anak semata wayang itu dengan bingung.

“Mengapa? Apakah nanti kau bakal kaya atau jadi Kiyai setelah mengganti nama?”

“Bisa jadi begitu. Menurut teman-teman saya di kampus, nama Satiman itu nama kemiskinan. Sulit untuk jadi kaya.”

“Memang apa hubungannya? Kita memang sudah miskin.”

“Coba perhatikan. Nama ibu Sarmiah. Nama bapak Sarmudi. Nama kakek Satimin. Semuanya miskin. Perhatikan nama-nama orang kampung kita yang juga miskin. Membunyikan nama-nama mereka itu, kemiskinan seperti ikut bunyi.”

Ibunya mengernyitkan dahi.

“Berbeda dengan nama lurah kita. Aryadi Saputra. Ditambah ada gelar S.E. Kedengaran lebih enak di telinga. Aryadi, S.E,” ujar Satiman lagi sambil tangannya mengeruk nasi goreng yang masih ngebul dan mulutnya menirukan mulut Pak Lurah ketika menyebut namanya sendiri.

“Sudah cepat sarapan. Lalu mandi dan berangkat kuliah. Siapa tahu, kuliah membuatmu kaya dan lebih baik. Kalau kamu sekolah tinggi dan kaya, orang tidak perduli soal namamu Satiman, Satimun, atau Satimin,” ujar ibunya ketus kemudian nyelonong  membawa tumpukan baju kotor ke belakang.

***

Protes Satiman soal namanya bukan tanpa alasan. Saban hari, di kampusnya, Satiman selalu diejek teman-temannya bahwa nama “Satiman” kampungan, bodoh, sulit mendapat perempuan, jelek, dan miskin. Sialnya, semua itu melekat pada diri Satiman.

Nama teman-temannya di kampus bagus-bagus dan panjang, selain itu kebarat-baratan; Agus Reynaldi Permana, Andre Kevin Haryadi, Wiliam. Bahkan, ada juga yang nama belakangnya diambil dari nama ayahnya seperti Rian Hutabarat. Oleh sebab itu, lantaran namanya Satiman, ia kepikiran untuk mengganti namanya.

Tetapi ibunya tak menghiraukan protes Satiman. Sebab, ini bukan kali pertama Satiman meminta yang aneh-aneh. Sebelumnya, Satiman minta dibelikan ponsel dengan harga yang mahalnya minta ampun dan merek yang bahkan ibunya sulit mengejanya. Setelah itu, Satiman juga meminta dibelikan baju, celana, tas, yang mereknya harus Erigol. Tidak mau tahu, harus Erigol.           

“Sudah bisa kuliah saja syukur harusnya, Man. Jangan minta yang aneh-aneh begitu,” kata ibunya.

Satiman bisa kuliah tentu saja bukan dari biayanya sendiri. Berkat bapaknya, ia bisa begitu. Lima bulan lalu, ketika bapaknya sedang mengikat kayu bakar di dekat jalan persawahan, ada mobil pemerintah lewat jalan itu dan tak sengaja. Ketika bapaknya bangun, spion sebelah kiri mobilnya menempel ke tubuhnya dan menyeret tubuhnya hingga lima puluh meter jauhnya. Karena sudah tua dan penyakitan, napasnya tak bertahan lama sebelum dilarikan ke rumah sakit kecamatan.

Untungnya, pemerintah bertanggungjawab, memberikan sejumlah uang damai ke ibunya Satiman dan memberikan beasiswa Kartu Indonesia Pintar kepada Satiman untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadilah Satiman yang waktu itu kebetulan saja baru lulus dari Madrasah Aliyah di kampungnya menerima beasiswa dan kuliah tanpa biaya sepeser pun sampai lulus nanti. Bahkan, segala keperluan, seperti buku, bolpoin, dan tetek-bengek lainnya ditanggung oleh Kartu Indonesia Pintar. Saban semester juga Satiman mendapat uang saku dengan jumlah yang lumayan besar. Maka dengan uang saku itu, ia gunakan untuk membeli sepeda motor butut agar ia lebih mudah mondar-mandir dari rumah ke tempat kuliahnya.

Saat ia mengurus administrasi di kampus, ia bingung memilih jurusan yang ditawarkan lantaran Satiman tak mengerti persoalan yang begitu-begitu. Ia kemudian ingat Pak Lurah yang mempunyai gelar Sarjana Ekonomi.

“Jurusan Ekonomi saja, Bu,” katanya pada pelayan yang mengurusi administrasi kampus. 

“Apa alasan Anda memilih jurusan itu?”

“Supaya seperti Pak Lurah. Aryadi Saputra, S.E. Nanti saya jadi Satiman, S.E.”

“Baiklah.”

Meski ibunya sedih ditinggal mati suami, ia merasa tak terlalu sedih lantaran anak semata wayangnya, Satiman, dikuliahkan. Biar bapak kamu mati, yang penting kamu sekolah tinggi. Ibunya kemudian menyambung hidupnya dengan menggunakan uang damai pemerintah untuk membuat usaha kue dan menjual kue itu dari rumah ke rumah. Dan ibunya merasa bahwa hidupnya satu tingkat lebih baik sepeninggal suaminya.

Namun keinginan Satiman mengganti nama membuat ibunya cemas. Ia merasa bahwa Satiman telah teracuni pergaulan orang-orang kaya di kampusnya. Setelah keinginan-keinginan Satiman yang lalu coba ia turuti lantaran masih dianggap wajar, keinginan mengganti nama ini dirasa cukup serius. Selain ia melihat Satiman akhir-akhir ini jadi sering melamun, ada kepercayaan, yang ia lupa apa itu, soal nama Satiman.

Benar saja, keinginan Satiman untuk mengganti nama itu dipikirkannya setiap hari. Sebelum ibunya benar-benar mengizinkannya dan mau mengurusnya ke kantor desa serta mengadakan selamatan, ia mencari-cari nama yang pas untuk pengganti nama Satiman. Awalnya, ia berpikir untuk mencatutkan nama ayahnya di belakang namanya tanpa mengganti total namanya. Namun setelah ia coba tempel namanya dengan nama bapaknya di belakang, ia merasa geli. Satiman Sarmudi. Dua nama yang sama-sama miskin menjadi satu. Kedengaran lebih aneh dan mengerikan.

Lantaran merasa buntu, tak mendapat nama yang cocok, ia pun memutuskan untuk meminta bantuan Wiliam, kawannya yang ia anggap paling punya wawasan luas, punya nama bagus, pacar banyak, kaya, dan orang pertama yang menyebut nama Satiman kampungan serta menganjurkan untuk mengganti nama.

Esoknya, subuh-subuh sekali di mana ayam dan matahari pun belum bangun, ia sudah rapi. Ibunya yang baru saja bangun heran dengan Satiman yang bangun sesubuh itu.

“Tumben.”

“Saya ingin ke rumah Wiliam, kawan saya.”

“Ada perlu apa sesubuh ini?”

“Sebelum ke kampus, saya ingin bertanya soal nama padanya.”

“Jadi mengganti nama?”

“Harus jadi, Bu. Saya yakin, dengan nama baru itu kesialan lekas menjauh dan tidak ada lagi orang yang mengejek saya.”

Ibunya diam. Mengingat-ingat.

“Bagaimana, Bu?” tanya Satiman sebelum ibunya nyelonong meninggalkannya.

“Terserah!” ujar ibunya ketus.

Karena berpikir bahwa ibunya nanti juga setuju, ia berangkat tanpa memperdulikan jawaban ibunya. Ia kebut motor bututnya melewati jalan persawahan yang masih diliputi kabut. Satu jam menahan dingin di atas motor, sampailah ia di rumah Wiliam yang besar. Wiliam sudah siap di depan rumahnya karena sebelumnya Satiman telah menghubunginya.

“Bagaimana, Man?”

“Saya sudah berpikir panjang dan jadi mengganti nama, Wil.”

“Apa kata saya. Nama Satiman itu, selain norak, juga bikin apes. Belum lagi nanti aneh kalau ditambahi S.E. Kedengarannya tidak enak. Satiman, S.E.,” ujar Wiliam meyakinkan Satiman.

“Saya setuju,” balas Satiman mengangguk-angguk.

“Satu lagi. Kalau kau mau nyalon wakil rakyat, nanti spanduk yang memasang wajah dan namamu akan terlihat tidak memikat. Aneh dan kampungan. Perhatikan wakil-wakil rakyat kita, nama-namanya keren dan berwibawa.”

“Saya setuju. Kau memang cerdas. Siapa kira-kira nama yang tepat untuk saya?”

“Saya sudah memikirkannya. Abdul Hadi. Bagaimana, keren ‘kan?”

“Abdul Hadi. Abdul Hadi, S.E.,” Satiman membunyikannya kemudian tersenyum.

Jadilah ia pulang membawa nama Abdul Hadi dan mengabarkan ke ibunya. Ibunya yang semula alot untuk diminta persetujuan pergantian nama Satiman menjadi Abdul Hadi, luluh setelah Satiman mengancam akan mundur dari kuliahnya.

“Kalau itu maumu dan itu membuatmu senang, lakukanlah!”

“Tapi harus diurus ke kantor desa dan didoakan.”

Ibunya mengangguk sambil memendam cemas. Ia mengingat-ingat sesuatu. Tetapi ingatan-ingatan itu terbentur dengan jenis-jenis kue, suaminya yang mati, dan umur. Jadilah ingatan itu samar.

Satiman kemudian mengurus pergantian namanya ke kantor desa dan membuat acara selamatan nama barunya. Ia mengundang Kepala Desa untuk memberikan pidato, kiai untuk memimpin doa, dan orang-orang kampung untuk membantu menghabiskan makanan.

“Semoga pergantian nama Satiman menjadi Abdul Hadi menjadi berkah dan diselimuti keberuntungan,” ucap Kepala Desa.

“Aaamiin…,” sahut orang-orang yang menghadiri selamatan.

“Illa hadaratin Nabi Mustafa Muhammad Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam Wa ila Ambizi ajmain, Wasyuhada, Washolihin, Waustazina, Wa Amina, Wa imatil…Alfatehah.”

“A’udzubillahiminasyaitanirrajiim….”

Di sela gegap-gempita prosesi selamatan pergantian nama Satiman menjadi Abdul Hadi, ibunya yang tiba-tiba teringat sesuatu menyelinap masuk ke kamar dan menangis. Seluruh kecemasan tumpah mewujud air mata di kamar itu, tapi tak ada yang tahu. Perasaan senang dan sedih bertarung di rumahnya. Kemudian ibunyia diam, hanya tinggal sesenggukan, mengelap air mata dengan ujung bajunya. Ia ingat soal nama Satiman itu tapi tak mungkin mengatakan itu sekarang. Dulu, Satimin, kakek Satiman bukan hanya mewariskan sebuah nama, tetapi juga nasihat dan sebuah lipatan kain putih yang entah berisi apa. Ia mengingat-ingat lagi di mana ia taruh lipatan kain putih itu.

“Beri nama anakmu Satiman, Sar, kalau ia lahir laki-laki,” ujar Satimin kepada Sarmiah, ibunya Satiman.

“Saya dan Kang Sarmudin sudah punya nama untuk anak ini,” jawab Sarmiah sembari meringis pasca melahirkan.

“Siapa nama itu?”

“Arif Rahman Hakim, kalau ia lahir laki-laki.”

“Jangan. Nama itu bagus, tapi asal-asalan. Cuma kepingin ikut orang-orang,” Satiman menghela napas, “Buyutmu yang telah memikirkan nama Satiman, bahkan sebelum kakekmu ada di dunia ini,” sambungnya.

“Apa artinya itu?”

“Tidak tahu persis. Juga tidak penting. Yang penting saya percaya.”

“Apa yang Bapak percaya?”

“Buyutmu namanya Satim. Ia memberi nama kakekmu Satimun. Lalu suatu hari, kakekmu bertanya soal arti namanya. Buyutmu memberi tahu bahwa tidak penting mengetahui arti dari nama itu. Karena kakekmu tidak sekolah, dia mengangguk-angguk saja, tak lanjut memprotes.”

“Lalu?” tanya Sarmiah bingung.

“Buyutmu kemudian mengatakan kepada kakekmu bahwa yang perlu kakekmu lakukan adalah mempercayai sesuatu. Kakekmu bingung, tapi tak berani bertanya. Buyutmu lanjut memberi tahu bahwa kakemu harus memberi nama anak laki-lakinya nanti Satimin, jadilah bapakmu ini namanya Satimin. Dan kelak, bapak harus memberi nama anak laki-laki bapak Satiman.”

“Satimun, Satimin, Satiman? Kenapa nama saya Sarmiah, Pak?”

“Karena kamu perempuan. Hajat buyutmu itu cuma buat laki-laki. Mungkin karena perempuan itu bakal di rumah saja, jadi tak penting perempuan dilibatkan begitu-begitu. Toh, apa arti sebuah nama kalau pemiliknya di rumah saja. Laki-laki mengembara ke seluruh penjuru. Jadi dia harus punya nama yang cocok yang menempel ke tubuhnya.”

“Jadilah Bapak memberi nama anak saya Satiman?”   

“Iya. Untuk menyelesaikan hajat buyutmu.”

“Kalau nanti Satiman punya anak laki-laki?”

“Sudah terserah anakmu. Hajat buyutmu cuma berlaku buat tiga generasi. Lagi pula zaman anakmu mungkin sudah sangat canggih. Ini pusakanya. Jangan dibuka selain oleh pemilik nama itu.”

“Kalau dibuka?”

“Sudah jangan banyak tanya. Perempuan kok banyak tanya,” ujar Satimin, bapaknya Sarmiah, kakeknya Satiman yang kemudian nyelonong dan mengelus-elus bayi Satiman.

             ***

Mulanya Satiman senang namanya telah berganti menjadi Abdul Hadi. Ia merasa bahwa nama itu terdengar lebih berwibawa, lebih islami, dan lebih enak jika ditambahkan S.E di belakangnya. Namun, baru sebulan nama itu menempel padanya, ia mengalami lebih banyak kesialan dibanding saat namanya masih Satiman. Ia tak lulus di beberapa mata kuliahnya, ia dikejar-kejar preman, ia dipukuli orang, dan yang paling terbaru, motor bututnya hancur diserepet truk dan ia harus memakai bantuan tongkat untuk berjalan lantaran mengalami patah tulang pada kaki kirinya.

“Apa kata Ibu. Nama bagus juga tak selalu punya keberuntungan yang bagus,” ujar ibunya ketika melihat Abdul Hadi alias Satiman sedang meringis di dipan depan rumahnya.

“Baru satu bulan, Bu. Mungkin belum nempel betul ke tubuh saya.”

“Sebentar. Ibu akan tunjukkan sesuatu.”

Ibunya buru-buru masuk ke rumah sebelum Abdul Hadi alias Satiman bertanya. Tiba-tiba dua orang dari kepolisian datang menghampiri rumahnya.

“Selamat siang!” ucap salah satu polisi.

“Siang,” jawab Abdul Hadi alias Satiman merasa bingung mengapa polisi datang ke rumahnya.

“Kami dari kepolisian. Apakah betul Anda pemilik nama Abdul Hadi?”

“Betul. Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Menurut laporan dari saudara Wiliam, atas nama Abdul Hadi diduga telah melakukan penipuan dan penyelundupan obat-obatan terlarang di kampus Anda.”

“Apa-apan ini? Saya tidak melakukan itu, Pak. Sumpah. Sialan si Wiliam itu!” Abdul Hadi ketakutan.

“Ikut kami dulu. Jelaskan nanti semuanya di kantor.”

Dua orang polisi itu memapah Abdul Hadi alias Satiman dan kemudian memborgol tangannya. Abdul Hadi alias Satiman berusaha membela diri, namun karena ia sedang pincang, jadilah ia pasrah diborgol dan dibawa dua orang polisi itu sembari berteriak-teriak memanggil ibunya.

Mendengar teriakan Abdul Hadi alias Satiman, ibunya kemudian keluar dari rumah dan kaget melihat anaknya diseret polisi.

“Sebentar, Pak, sebentar. Apa yang terjadi?”

“Menurut laporan dari saudara Wiliam, kawan kampusnya, anak Ibu yang bernama Abdul Hadi diduga melakukan penipuan dan penyelundupan obat-obatan terlarang.”

“Gusti Pangeran. Apa Ibu bilang. Nama anak saya Satiman, Pak, bukan Abdul Hadi. Heh tolol! Iya kan namamu Satiman, bukan Abdul Hadi?” ibunya menangis semakin menjadi-jadi. Satiman tidak menjawab, tapi menangis.

“Nanti biar Saudara Abdul Hadi menjelaskan semua di kantor. Selamat siang.”

“Sebentar, Pak. Jangan bawa anak saya dulu. Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada anak saya,”  kata ibunya kemudian, sembari masih terus menangis meraung-raung. Dua orang polisi yang membawa anaknya menoleh dan berhenti.

“Waktu kamu baru saja lahir, kakekmu memberi nama Satiman dan pusaka ini kepada ibu. Pusaka ini hanya boleh dibuka oleh pemilik nama. Jadi ibu tak tahu isinya apa,” ibunya menyerahkan sebuah kain putih kecil yang dilipat-lipat kepada Abdul Hadi alias Satiman sambil sesenggukan.

Abdul Hadi alias Satiman kemudian menangis sejadi-jadinya ketika melihat lipatan kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya berisi nama dirinya yang lama: Satiman, S.E.(*)

~ Tirtayasa, 11 September 2021.


Penulis:

Sul Ikhsan lahir di Serang, 18 Mei 1998. Menulis prosa, puisi, dan esai. Beberapa karyanya telah tersebar di berbagai media dan pernah memenangkan lomba. Buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul Nadran dan Cerita Orang-Orang Kalah Lainnya (2020). Kini tengah dipercaya menjadi Pimpinan Redaksi Ngewiyak.com.

1 thought on “Satiman Ingin Ganti Nama

    • Author gravatar

      Tapi ketika Satiman bertanya tentang arti namanya itu menurut saya wajar. Kan setidaknya ia tahu arti nama Satiman yang telah dilekatkan padanya. Tapi karena orangtuanya merupakan orang yang menurut sama nasihat kakek dan buyutnya, maka nama Satiman akhirnya disetujui. Kedua orangtua Satiman sendiripun juga tidak mengetahui apa arti nama yang melekat pada diri mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.