Esai
Spiritualitas Pengelana

Spiritualitas Pengelana

Rasulullah ‘alaihi wasallam pernah berpetuah pada Ibnu Umar RA, “Jadilah engkau di dunia seperti seorang asing atau musafir!” Seorang pengelana, seorang pengembara, atau seorang musafir adalah penghikmat perjalanan. Perjalanan dalam arti luas yang tak hanya bermakna jarak dan tempat namun juga bermakna mengarungi kehidupan yang tak terbatas. Seorang pengelana selalu berjalan untuk mencapai sebuah tujuan. Tujuan yang dimaksud tak hanya berkait dengan duniawi namun juga dalam artian filosofi.

Seorang pengelana adalah orang yang tangguh dalam menghadapi setiap risiko perjalanan. Seorang pengelana dalam perjalanannya tak hanya menempuh jarak secara fisik namun juga berupaya menemu sikap berpikir sekaligus sikap spiritual. Benturan-benturan dalam perjalanan fisik dan jiwaninya akan menghasilkan sikap hidup yang tangguh serta menjadi proses belajar yang terus-menerus.

Di usia SMP, saya tersihir pada kisah-kisah perjalanan yang ditulis oleh seorang pengarang bernama Karl May. Pengarang ini berjilid-jilid menuliskan pengembaraan seorang Old Saterhand dengan sahabatnya, seorang ketua suku Indian Apache bernama Winnetou. Mereka berkelana di padang prairi Amerika Serikat dengan menempuh berbagai persoalan, berbagai konflik yang tak hanya menantang ketahanan fisik namun juga merangsang sikap berpikir, sikap kritis bahkan kesadaran humanitas.

Keterpesonaan serupa pun saya temui dalam petualangan Robinson Crusoe, Sinbad, Don Quisot, Ali Baba, kisah jagoan-jagoan kung fu Cina karya Kho Ping Ho hingga riwayat-riwayat para pendekar silat pada serial Api di Bukit Menoreh, Keris Naga Sasra Sabuk Intan, dan lain-lain yang ditulis oleh SH Mintardja. Pada awalnya, ketertarikan itu muncul saat melihat sikap heroisme, kegagahan dan kesaktian para tokohnya, namun lambat laun berkembang pada kekaguman sikap kejiwaan, sikap kemanusiaan, dan sikap rohani para tokohnya.

Selepas remaja, saya tersadar bahwa pengembaraan ternyata telah menjadi sikap spiritualitas yang berabad-abad lalu dihayati dan dilakukan oleh para manusia unggul. Di khazanah kebudayaan Jawa tersebutlah tokoh Panji yang selain melakukan petualangan untuk mendapatkan jalan cinta atau eros, juga untuk menempa diri membentuk kepribadian sebelum menjadi raja di Kediri. Dengan kata lain, pengembaraanya adalah masa mesu diri atau penggemblengan, menyiapkan diri lahir batin. Dalam petualangannya, Sang Panji (dengan banyak nama: Panji Asmara Bangun, Panji Jayengrana, Panji Jayeng Tilam, Panji Inu Kertapati) ini tak hanya diwarnai kisah romantisme tapi juga diwarnai dengan sikap tapa ngrame, yaitu laku menolong manusia sebanyak mungkin.

Di belahan dunia lain, para nabi sebagai manusia mulia dan unggul juga melakukan pengembaraan untuk mematangkan proses religiusitas, dakwah, dan kemanusiaan. Tersebutlah dalam kitab-kitab suci, perjalanan Adam yang mengembara di permukaan bumi,Yunus yang mengarungi samudera, Musa yang menyeberangi laut merah, Nuh yang berlayar, Isa yang musafir, dan  Muhammad Rasullullah yang berhijrah.

Di Yunani para shofis atau filsuf, seperti Socrates dan Plato juga melakukan pengembaraan untuk mengembangkan dan menularkan ilmunya. Pun demikian dengan para sufi yang berkelana untuk memperdalam ilmunya serta memberi pencerahan ke manusia lain.

Di paruh zaman lain yang lebih purba, dua buah epos besar yaitu Ramayana dan Mahabarata melukiskan kemuliaan perjalanan para pengelana. Ramayana karya Walmiki mengisahkan perjalanan panjang Rama dari Ayodya menuju Alengka yang tak hanya menempuh perjalanan panjang karena cinta namun juga menempuh dharma seorang ksatria untuk menumpas kejahatan.  Adapun Mahabharata karya Wiyasa yang ditulis beberapa puluh tahun kemudian, juga mengisahkan perjalanan pengembaraan keluarga Pandawa selama 18 tahun untuk mendapatkan kemuliaan.

Kisah pengembaraan untuk melakukan pencarian spiritualitas dan religiusitas bisa kita amati pula dalam relief-relief Gandawyuha di candi Borobudur lorong dua, tiga dan empat dengan 460 panel. Relief Gandawyuha ini merupakan relief-relief yang berdasar pada teks Sutra Gandavyuha pada abad ke-2 masehi. Disebut juga sebagai Dharmadhatupravesana-parivatra atau Acintavimoksa yang mengisahkan perjalanan Sudhana dalam pengembaraannya mencari ilmu pencarian ilmu kebenaran (the ultimate truth). Pengembaraan Sudhana dalam pencarian ilmunya melewati 110 kota dan menemui 110 Kalyanamitra atau mita handal (guru), di antaranya ada 54 mitra handal dengan latar belakang berbeda, antara lain bhiksu, biksuni, perumah tangga (ratnacuda), pedagang, brahmana, raja (anala), anak laki-laki, anak perempuan, pelaut, wanita penghibur, tukang emas, dewa-dewi, ratri dan juga budhis.

Dalam plangkan-plangkan Borobudur itu dapat kita temukan pula kisah Sidharta Gautama dari Kapilavasthu yang memilih menjadi seorang musafir daripada menjadi penguasa. Ditinggalkannya kemewahan menjadi raja dan kegemerlapan duniawi untuk berkelana menempuh perjalanan panjang demi menemukan sikap spiritual menjadi Budha Gautama.

Relief naratif perjalanan Sidharta Gautama dan Gandawyuha yang berkisah perjalanan Sudana ini merefleksikan nilai-nilai religiusitas, metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), mudita (simpati), bebas dari belenggu ketamakan, arhat (pemadaman nafsu). Nilai-nilai yang menonjol adalah nilai untuk semangat belajar tanpa kenal lelah, sikap keterbukaan dalam mencari ilmu dengan berbagai sumber tanpa pandang bulu kedudukan sumber tersebut di masyarakat, dan sikap toleransi dalam belajar spiritual.

Dalam proses pengembaraannya, para pengelana itu menempuh perjalanan yang agung dan panjang. Sebuah perjalanan yang sarat dengan penderitaan. Melalui penderitaan ini mereka menghayati kehidupan, menempa kesabaran dan ketabahan, menumbuhkan daya hidup, meneguhkan sikap spiritual, sekaligus mengembangkan sikap humanitas terhadap sesama. Para pengelana itu tidak takut pada penderitaan, justru dari penderitaan itu mereka membuka dan mengembangkan dirinya seluas mungkin, seperti apa yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa bila manusia ingin mengembangkan dirinya maka ada lima  jalan yang bisa ditempuh yaitu melalui jalan religi, jalan pengetahuan, jalan kesenian, jalan filsafat dan, yang terakhir: jalan penderitaan.

Akhirnya, berbahagialah mereka yang sudi mengikhlaskan dirinya menjadi seorang pengelana. Seorang petualang yang tak hanya mengelana dalam fisik, namun jiwa dan intelektualitasnya  pun mengembara jauh menjelajah ke setiap kemungkinan-kemungkinan. []


Tjahjono Widarmanto. Penulis adalah sastrawan yang tinggal di Ngawi. Salah satu buku puisinya “Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi  Para Pemuja Sajak” meraih salah satu lima buku puisi terbaik versi Hari Puisi Indonesia (HPI) 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published.