Resensi Buku
Pengalaman, Puisi, dan Sejumlah Bacaan

Pengalaman, Puisi, dan Sejumlah Bacaan

Judul               : Jorge Luis Borges, Realisme Magis, dan Filsafat
Penulis             : Wawan Kurniawan
Penerbit           : Basabasi
Terbit               : Oktober 2021
Tebal               : 168 halaman
ISBN               : 978-623-305-244-3

Pada mulanya, adalah membaca. Penegasan itu disematkan selintas oleh penulis lewat dua paragraf blurb di halaman belakang buku. Kegiatan membaca terpahami sebagai jeda sekaligus arahan hidup. Sekian buku dan peristiwa usai dibaca oleh penulis dalam kurun waktu tertentu dan upaya mengekalkan interaksi tersebut terikat dalam sepilihan esai dan resensi yang ada di dalam buku ini. Esai dan resensi itu berbicara tentang hal-hal personal, baik terhadap isu-isu terkini yang bersinggungan langsung dengan penulisnya, maupun bacaan-bacaan yang dikonsumsi. Dari sehimpun esai dan resensi esai itu, satu judul pun dipilih menjadi judul buku, yaitu “Jorge Luis Borges, Realisme Magis, dan Filsafat.” Pertanyaannya, apakah pemilihan judul ini tepat dan dapat menggambarkan isi keseluruhan dari buku ini?

Tercatat, terdapat empat puluh dua tulisan yang terhimpun di dalam buku. Tema dalam tulisan-tulisan itu pun beragam, dari perkara bacaan, pengalaman personal, sampai pandangan terhadap isu terkini. Titimangsa tulisan pun tersebar dalam kurun waktu yang berbeda, tulisan terlama terlacak terbit tahun 2014 dengan judul “Peradaban Bangsa dan Buku”, yang mempersoalkan minat baca, kesadaran literasi, dan harapan akan pentingnya literasi yang tinggi sebagai instrumen pemajuan kualitas bangsa Indonesia. Adapun tulisan paling baru, terlacak terbit tahun 2021 dengan judul “Jorge Luis Borges, Realisme Magis, dan Filsafat”, yang mengetengahkan hubungan Borges dengan aliran Realisme Magis sekaligus menelusuri jejak filsafat dalam karya-karyanya. Selebihnya, tulisan-tulisan tersebar antara tahun 2015-2021. Beberapa tayang di kolom Puitika di koran Fajar Makassar, sementara lainnya tersebar di beberapa media cetak dan online di tanah air.

Dari tulisan-tulisan itu, ada dua kecenderungan yang penulis pakai sebagai format dalam upaya “mencatat pengalaman atas bacaan dan peristiwa”. Sekian tulisan terbaca berformat ulasan atau resensi, yang kali pertama pernah terbit di media-media tertentu, tetapi untuk kepentingan penghimpunan dalam buku ini, kolofon dalam tulisan tersebut ditiadakan. Sementara yang lainnya, berformat esai personal yang menggabungkan ulasan atas karya atau penulis dengan pandangan atau perspektif tertentu dari penulisnya. Sekian tulisan itu dikemas dengan gaya populer yang tak njelimet, tetapi dengan isi yang bukan berarti minim telisikan mendalam. Sekian tulisan terhitung pendek mengingat publikasi pertama mempertimbangkan maksimal kata dalam sebuah surat kabar.

Adapun terkait tema tulisan, kendati apa yang dibicarakan beragam, setidaknya kita bisa menarik dua kecenderungan utama atas tulisan-tulisan yang terhimpun. Sejumlah tulisan banyak membicarakan ihwal kegiatan membaca dan puisi. Di tulisan pertama, Borges dan Puisi, ada pengakuan tentang kecemburuan, “Saya selalu cemburu dengan keteguhan Borges untuk menjadi seorang pembaca. Ia lebih senang disebut seorang pembaca dibanding seorang cerpenis atau penyair (Hal.6). Di tulisan-tulisan yang lain, penulis pun menegaskan kalau bagi Borges, kegiatan membaca merupakan laku yang lebih intelektual ketimbang kegiatan menulis itu sendiri. Bahkan, kisah kegigihan Borges yang tetap ingin membaca kendati mengalami kebutaan dengan menyewa seorang pemuda bernama Alberto Manguel yang membacakan sejumlah buku untuknya, disebutkan oleh penulis beberapa kali dalam tulisan-tulisannya. Saya menyadari, setidaknya dalam tulisan-tulisan yang bersinggungan dengan Borges, kisah ini tak luput disebutkan oleh penulis.

Dari situ, saya menduga bahwa penulis meletakkan Borges sebagai primadona dan sosok yang memberi pengaruh terhadap laku menulis yang ia lakukan. Kecenderungan ini yang juga tak bisa dilepaskan saat ia menelisik ihwal perpuisian. Di dalam buku, topik tentang puisi bisa kita dapati dalam banyak tulisan yang ada. Di tulisan lain yang berjudul “Ingatan dan Kematian di dalam Puisi”, penulis membabarkan pendapat Borges terhadap nilai sebuah puisi. Penulis menjelaskan bahwa bagi Borges, puisi bisa menyentuh relung terkelam alam bawah sadar manusia. Persentuhan dan dampak atas pembacaan puisi tidak saja sampai pada penalaran sadar, tetapi juga menyentuh jauh ke dalam diri hingga memancing “permenungan mendalam secara tidak sadar”. Selain itu, ada hal menarik lain yang dibabarkan penulis terkait eksistensi sebuah puisi. Disebutkan, “Jorge Luis Borges dalam sebuah ceramahnya di Universitas Harvard yang berjudul ‘Kredo Seorang Penyair’, pernah menjelaskan hal serupa bahwa dalam sebuah puisi, kata-kata sekiranya adalah simbol-simbol untuk membagi ingatan (Hal. 55).” Dengan kata lain, puisi bisa dipahami sebagai media penyampaian ingatan yang muasalnya datang dari ketidaksadaran, yang saat tercipta dan menemui pembaca, ingatan itu bisa tersampaikan dan menghadirkan keindahan serta kesan mendalam terhadap pembacanya.

Selain itu, pendapat lain yang menguatkan kedudukan puisi dijabarkan penulis dalam esai yang lain. Dalam esai berjudul “Heidegger dan Puisi”, penulis mengutip pendapat Martin Heidegger dalam esai berjudul “What Call for Thinking” yang menjelaskan puisi sebagai cerminan mental seseorang (Hal. 135). Cerminan itu tergambarkan, tetapi tidak sepenuhnya bisa kita pahami. Dari ketidakpahaman sepenuhnya itulah, pembaca terpantik untuk memikirkannya dengan lebih serius lagi. Dengan begitu, kendati puisi diidentikkan dengan kesederhanaan, tetapi proses penelaahannya tidak bisa terlepaskan dari proses berpikir serius itu sendiri. Barangkali itu pula yang cukup menjelaskan bahwa selalu ada kompleksitas dalam sebuah puisi, juga kesan yang terpahami sekaligus belum terpahami dalam proses pembacaannya.

Namun, alih-alih menyurutkan minat pembaca, kompleksitas itu terus membuat pembaca penasaran. Interpretasi dan rasa penasaran itu yang lantas bisa membuat pembacanya membagikan pengalaman pembacaan mereka. Adapun ihwal medium itu, salah satunya adalah esai. Pemilihan medium ini, seperti yang dilakukan penulis, selanjutnya juga dibahas dalam sebuah tulisan berjudul “Para Penyair yang Menulis Esai”. Tulisan itu membabarkan keberadaan beberapa penyair yang selama waktu hidupnya, selain berkiprah dengan penulisan puisi atau cerpen, juga menulis sejumlah esai. Penulis menyebut beberapa nama, dari mereka yang datang dari jauh seperti T.S. Eliot dan Octavio Paz, sampai yang paling dekat seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Afrizal Malna. Tulisan itu mengetengahkan manfaat dan maksud para penulis dalam menulis esai. Dalam hal manfaat, penulisan esai ditengarai bisa mengasah kepekaan dan menajamkan gagasan, juga meluaskan perspektif penulisnya. Dari situ, puisi-puisi yang mereka ciptakan bisa memiliki kekuatan lebih dalam lagi.

Pendapat lainnya, terjelaskan saat penulis menelisik buku George Orwell dan menuliskan tinjauannya dalam tulisan berjudul “George Orwell, Esai, dan Sastra Politik”. Ada kebanggaan yang ditegaskan bahwa esai berkedudukan sebagai genre sastra, seperti yang disebut Michel de Montaigne dalam buku berjudul “Of the Vanity of Words”. Lebih jauh, penulis menjelaskan, “… esai merupakan cerminan, sebentuk meditasi, serta percobaan dalam menjelaskan gagasan yang diekspresikan secara licin dengan bahasa yang ‘lentur’.” Upaya menulis esai menjadi jalan lain pengekspresian gagasan yang patut diapresiasi, sebab sifatnya yang lentur dan menjamah berbagai kalangan pembaca (tidak sebatas hanya kalangan akademis, misalnya).  Dari kesan “sebentuk meditasi” itu, maka kita bisa meraba bahwa sejumlah tulisan dalam buku ini diposisikan sejalan dengan kesan tersebut. Oleh penulis, selain dimaksudkan sebagai medium pencatat gagasan dan pengalamannya atas bacaan serta peristiwa, esai yang ditulis terpahami sebagai penjeda atas hal-hal yang melintas bergegas di sekitarnya.

“Penjeda” itu yang memposisikan dirinya seperti sedang bermeditasi. Ia menangkap hal-hal yang melintas, lalu membawanya dalam ruang jedanya, kemudian mengolahnya dalam permenungan mendalam, kemudian menuliskannya, sampai mempublikasikannya. Proses itu bukan proses yang sederhana, instan, dan tanpa ada penelaahan, sebab kalau dilakukan secara buru-buru, ada kemungkinan hanya kekopongan yang dihadirkan. Penulis telah melalui proses itu sekian tahun dan jejaknya bisa kita simak di dalam buku ini. Namun, kembali ke pertanyaan di paragraf awal, seberapa pas penulis dalam menjadikan esai terakhir yang berjudul “Jorge Luis Borges, Realisme Magis, dan Filsafat” sebagai judul buku? Saya mempunyai beberapa catatan. Di satu sisi, pemilihan esai ini cukup memiliki alasan apabila menimbang kecenderungan penulis yang banyak mengutip ide, menjelaskan proses kepengarangan, dan menunjukkan kekhasan dari Jorge Luis Borges dalam sejumlah tulisan-tulisannya. Kendati begitu, di sisi lain, pemilihan judul esai ini kurang “mewakili” mengingat banyak dari topik tulisan yang ada terkait dengan isu, peristiwa, buku, dan penulis lain selain Jorge Luis Borges.

Namun, buku ini baik dalam artian menjadi rekaman atas persinggungan seseorang dengan ragam bacaan dan pengetahuan yang didapat. Proses menyimak sekian tulisan yang ada pun bisa menjadi pemantik bagi pembaca lain untuk turut mengikuti jejak penulis. Bahwa sesuatu yang “telah” terbaca itu tidak melulu menjadi lampau, sebab kita bisa mengekalkannya dalam medium tulisan yang kelak bisa menjadi bacaan bagi orang lain. Lagipula, bukankah pengalaman dan pengetahuan memang semestinya dibagikan? []


Penulis:

Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.