Cerpen
Perempuan di Teras Rumah

Perempuan di Teras Rumah

Kembali perempuan itu sudah berada di teras rumah ketika aku pulang. Dengan senyum khas yang melilit bibirnya, dia mulai mengajakku berkomunikasi. Namun aku selalu menghindarinya dengan senyum yang sengaja kupaksakan keluar dari bibirku. Bukan apa-apa, tapi lebih pada ketakutanku, aku jatuh cinta padanya. Aku sudah paham betul cara perempuan itu mengajakku menautkan hatinya.  Mula-mula ia selalu datang sore-sore ke rumahku. Tentu rumahku masih tertutup karena aku selalu pulang setelah gelap menenggelamkan senja.

Para tetanggaku sudah sangat paham jadwal kepulanganku. Namun perempuan ini, aku tidak tahu persis, apakah memang tidak tahu kebiasaanku pulang atau memang sengaja mendahuluiku supaya bisa selalu menyapaku malam-malam ketika aku pulang. Aku sendiri tidak tahu dan awalnya tidak ingin tahu, siapa perempuan ini. Yang sampai saat ini aku tahu, ia selalu sudah berada di teras rumahku ketika aku pulang. Itu saja.

Barangkali ini malam keempat perempuan itu duduk di kursi butut teras rumahku. Ia lantas menatapku tajam, tapi sedetik kemudian tatapan itu melembut. Lembut sekali, seperti tatapan bayi pada ibunya ketika ia ingin dipeluk.

“Baru pulang Mas?” sapanya pendek sambil menjulurkan tangannya berusaha meraih tas di tanganku. Aku masih diam, berusaha memarkirkan motor butut pada tempatnya.

“Kok pulangnya malam, Mas?” tanya perempuan itu lebih keras.

“Ya, seperti biasanya!” jawabku sekenanya.

“Mas Gandi kok ketus, padahal aku sudah menunggu di teras rumah ini sejak sore tadi” tuturnya kemudian menahan kejengkelan. Bibirnya mengatup. Ternyata perempuan ini mengenal namaku, bahkan nama pangilanku. Aku diam saja. Lantas tetap masuk ke dalam rumah. Perempuan yang masih terlihat kecantikannya itu masih tetap di teras sambil terus memelihara kepenasarannya.

Aku tak peduli karena aku tak kenal dengan perempuan itu. Badanku capek. Kubaringkan tubuhku di kursi lusuh di depan televisi. Aku tak peduli lagi dengan perempuan itu. Sementara di luar ada suara lembut dan manja memanggil-manggil namaku. Tapi lama-lama nadanya mulai meninggi. Barangkali perempuan di teras rumah itu mulai jengkel.

Aku berusaha mengingat-ingat sosok perempuan itu tapi lagi-lagi tak ada memori yang bisa menuntun ingatanku untuk mengenali perempuan itu. Semakin kuingat, otakku semakin terbebani. Ah, sudahlah. Aku tak mengenal perempuan itu. Barangkali perempuan berambut panjang itu hanya ingin cari perhatian dariku. Cari perhatian? Salahlah simpulanku? Ini malam keempat perempuan itu menungguku malam-malam di teras rumah.

Malam perlahan merambat. Angin berebut masuk lewat sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Aku pun sudah tak kuat lagi menahan kantuk. Kopi yang kubuat sejak selesai mandi tadi baru separuh kuteguk. Panasnya sudah menghilang bersama melemahnya kesadaranku di sofa depan televisi. Sementara perempuan yang sedari tadi duduk di teras rumah masih kudengar gelisahnya.

***

Kesunyian di tempat kerjaku ini sudah sedari tadi tercipta. Namun aku masih enggan beringsut dari kursiku. Seorang lelaki, penjaga kantor tempatku bekerja beberapa kali melintas dengan sedikit melirik ke arahku. Aku tahu, lelaki setengah baya itu sudah mau pulang, tapi tertunda karena aku belum juga beranjak dari ruanganku. Aku tidak meragukan tanggung jawab lelaki itu, sebelum membersihkan kantor dan menutup semua pintu, ia tak akan pernah mau pulang. Sebenarnya aku merasa berdosa dengan menunda kepulangannya.

Aku enggan pulang. Rumah yang biasanya kurindu kali ini tidak. Bayangan perempuan yang mencegatku di teras rumah masih saja mengusikku. Aku tak enak dengan tetangga-tetanggaku, apalagi Pak Rt. Pak Rt pernah menanyai bahkan sudah menjurus menginterogasi tentang keberadaan perempuan yang malam-malam selalu berada di teras rumahku. Ya memang sebagai warga yang relatif baru di kampung itu, Pak Rt belum terlalu mengenalku, apalagi mengenal perempuan itu.

Akhirnya aku pulang juga meski agak malam. Aku menduga perempuan itu pasti tidak lagi menungguku di teras rumah. Namun dugaanku keliru. Perempuan cantik itu masih setia duduk di kursi di teras rumah menunggu kepulanganku. Gila. Siapa sih perempuan itu? Sekali lagi aku tak mengenalnya. Angin malam menyambut kepulanganku. Barangkali hanya anginlah yang sedari tadi menemani perempuan itu.

“Kok pulang sampai malam, Mas?” sambut perempuan itu dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah kuduga. Tapi aku kaget juga suaranya yang masih kelihatan tertata meski wajahnya sudah kusut tampak terlalu letih. Aku menduga perempuan itu sudah menungguku sejak sore tadi. Wajahnya masih menyiratkan kesabaran. Pantulan lampu yang tipis menerpa wajahnya tidak bisa menyembunyikan pancaran kesabaran perempuan itu.

Aku belum berniat menjawab. Kupandangi sekali lagi perempuan itu. Ia justru tersenyum. Tidak ada guratan kemarahan sedikit pun. Siapa sih perempuan itu? Ada keperluan apa kok selalu menungguku di teras rumah bahkan sampai malam.

“Sebenarnya Anda siapa dan apa keperluannya?” jawabku dengan pertanyaan balik. Dalam hitungan detik perempuan itu tergagap tapi sejurus kemudian ia justru tersenyum. Senyum yang tulus. Kini aku yang justru tergagap.

“Mas Gandi masih saja tidak mengenaliku” keluhnya. “Padahal aku sudah mengalah” tuturnya lagi setelah beberapa saat ada jeda sepi. Mengalah? Mengalah masalah apa? Aku makin tidak mengerti. Perempuan itu seakan sudah mengenaliku luar dalam. Ia lantas bercerita banyak hal tentang aku dan keluargaku. Namun sekali lagi, aku belum juga paham dengan ceritanya.

Aku justru berprasangku buruk dengan perempuan itu. Jangan-jangan ia hanya cari perhatianku, jangan-jangan ia berniat menipuku, jangan-jangan dan banyak jangan-jangan yang lain. Aku makin pusing.

Tampaknya perempuan itu tahu kegelisahanku. Ia lantas mendekatiku, menyentuh punggungku dengan lembut. Jujur, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar dalam hatiku. Ia bahkan berusaha memegang tanganku tapi dengan sigap aku menghindar. Perempuan itu kembali mundur beberapa langkah. Rambutnya yang terurai dipermainkan angin malam. Dalam sekejap bau wangi menyentuh hidungku. Aku membiarkan saja bau wangi itu perlahan-lahan mengalir dalam kesadaranku, hal yang sudah agak lama tak kurasakan.

“Kalau Mas Gandi masih merasa terganggu dengan kehadiranku, aku bisa memakluminya kok” ujarnya setelah beberapa saat terdiam.

“Ya sudah, sekarang Anda pulang saja dan besok tidak usah menungguku seperti malam ini dan malam-malam sebelumnya” pintaku pada perempuan itu. Perempuan itu lantas menggelengkan kepalanya dengan lembut.

“Tidak Mas, izinkan aku memastikan dirimu baik-baik saja” pintanya. Aku terdiam.

“Besok dan seterusnya aku akan tetap menunggumu di teras rumah ini” katanya lagi berterus terang. Aku mulai jengkel.

“Terserah kalau itu memang kemauanmu, tapi yang jelas aku tak pernah mengundangmu” timpalku lagi. Aku sekilas melihat ada nada kecewa terpancar dari wajahnya. Tiba-tiba ada guratan-guratan tipis keraguan menggaris di wajahnya yang cantik. Bibirnya mengatup. Tanpa pamit ia lantas meninggalkan teras rumah dengan tergesa-gesa. Aku menghela nafas panjang. Jujur, aku masih penasaran dengan sosok perempuan itu. Siapa perempuan itu? Berkali-kali kuingat, berkali-kali pula gagal, sama sekali tidak terlintas bayangan sosok perempuan yang selalu berada di teras rumahku. Kembali aku jadi makin pusing.

***

Malam ini, entah malam keberapa perempuan itu menungguku di teras rumah. Ternyata perempuan itu membuktikan ucapannya. Bahkan acap kali ia datang dengan setumpuk makanan kesukaanku. Aku tak habis mengerti, ternyata perempuan itu juga tahu makanan kesukaaanku. Aku bingung mau berbuat apa. Serba salah memang. Jujur, aku tak mengenal perempuan itu. Tapi sebaliknya ia sangat mengenaliku.

Kini aku sudah lebih lunak kepadanya. Kubiarkan ia duduk menungguku di teras rumah, bahkan ketika aku pulang kubiarkan juga ia ikut masuk ke rumahku. Terus terang aku kasihan dengan perempuan itu. Dari gelagatnya perempuan itu adalah perempuan yang baik. Aku jadi malu dengan dugaan-dugaan yang sangat tidak masuk akal.

“Kubawakan makanan kesukaanmu Mas. Semoga Mas Gandi tidak menolaknya” katanya penuh harap. Ia lantas menyodorkan makanan itu ke arahku. Aku terkesiap. Sejauh inikah perhatian perempuan itu kepadaku? Kupandangi makanan yang masih ada di tangan perempuan yang duduk di depanku ini. Aku belum berniat mengambilnya. Aku malu. Masih ada rasa enggan yang menyeruak dari dalam hatiku.

“Ambillah!” katanya lagi dengan lembut. Aku mengambilnya sepotong. Tak ada alasan lagi untuk menolaknya. Aku pun sudah kangen dengan makanan itu. Sudah agak lama aku tak mengunyahnya. Perempuan itu lantas ke dapur. Aku berniat mencegahnya karena aku belum kenal dengan perempuan itu. Namun tampaknya perempuan itu ingin melakukan apa saja untukku. Tatapan lembutnya membuat aku tak kuasa menahannya. Dalam sekejap ia lantas membuat kopi untukku.

“Ini kopinya Mas, tanpa gula seperti kebiasaan Mas Gandi”. Segelas kopi panas disorongkan ke arahku. Sekali lagi aku tak kuasa menolaknya. Kopi panas itu kuterima dan kudekap gelasnya dengan kedua tanganku. Ada rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Kupandangi kopi itu bergantian dengan perempuan yang telah membuat kopi dan mencipta kehangatan dalam tubuhku.

“Minumlah Mas, kalau kopi itu bisa membuatmu makin lega”. Aku masih belum berniat menyerutupnya. Aku masih ingin menikmati kehangatannya. Kuaduk-aduk kopi itu meski aku tahu tak ada gula dalam secangkir kopi itu.

“Terima kasih kamu telah membuatkan secangkir kopi untukku”

“Apa saja akan kulakukan untukmu kalau kemudian bisa membuat Mas Gandi sembuh. Jangankan secangkir kopi” sambungnya lagi sedikit tercekat.

“Sembuh? Siapa yang sakit?” kataku kemudian agak meninggi. Aku tak terima divonis sakit. Perempuan itu kemudian bangkit, mendekatiku dan berusaha menenangkanku. Tapi aku sudah telanjur tersinggung.

Aku tak lantas percaya dengan ucapan perempuan itu. Agaknya perempuan itu tahu kegelisahanku. Ia berusaha mendekat bahkan memelukku tapi dengan halus kutepis tangannya. Aku tahu perempuan itu pasti kecewa. Namun aku tak peduli.

Kesunyian lantas menjadi jeda kami berdua. Bahkan ketika perempuan itu pamit pulang, aku sama sekali tak menanggapinya. Kubiarkan saja perempuan itu meninggalkan rumahku dengan tetesan air mata.

Kini aku sendirian seperti biasanya. Malam mulai menghadirkan sepi. Sebelum aku beranjak tidur, mataku tiba-tiba tertuju pada kelender yang mengantung di sebelah televisi. Pada angka penanggalan yang menunjukkan esok hari kulingkari dengan tinta merah dan ada tulisan ‘jadwal terapi di rumah sakit’. Aku masih saja tak ingat, juga tentang penyakitku, apalagi tentang perempuan itu.

Lembah Bulusari, Mei 2021


Penulis:

Hari B. Mardikantoro adalah dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Beberapa cerpen telah dimuat di Suara Merdeka, Solopos, Cendananews.com. Kini ia tinggal di Ungaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published.