Resensi Buku
Rekreasi dalam Kata

Rekreasi dalam Kata

Judul Buku  : Pikinikita (kumpulan puisi)
Penulis        : Kurnia Effendi dan Jauza Imani
Penerbit  : Basabasi, Yogyakarta
Tahun        : Juli 2021
Tebal           : xiv + 80 halaman

Bagaimana membayangkan dua penyair menuliskan puisi-puisi mereka dalam satu buku? Inilah yang terjadi, sebuah buku kolaborasi yang mengajak berekreasi ke pelbagai tempat, tema, dan imaji. Membaca kumpulan ini seperti sebuah tanya-jawab, yang ditelurkan menjadi kelindan diksi, menguatkan ingatan, juga sahut-menyahut yang nyata terhadap sebuah tema besar.

Di sini dapat dibaca bagaimana cara kerja kedua penyair untuk memaparkan sebuah ihwal, yang ternyata membukakan tabir ke lain hal. Mereka (Kurnia Effendi dan Jauza Imani) menuliskan puisi dapat berangkat dari banyak hal, memotretnya dalam pelbagai sisi yang terhimpun di setiap diksi puisi. Maka kita pun turut mendapatkan beragamnya cara pandang yang menyingkapkan ke sebuah metafora.

Inilah asyiknya membaca buku ini. Kita bisa saja bebas melompat dari puisi satu ke lainnya, meraba-raba dan menikmati bagaimana kedua penyair berusaha untuk menyadap metafora yang lebih segar. Setidaknya dengan demikian, pembaca turut pula disuguhi dengan berbagai makna setelah usai membaca satu puisi.    

Buku ini terbagi dari empat bagian: Puisi dari mantra, Puisi Jauza Imani, Puisi Kurnia Effendi, dan Puisi Za & Kef. Setiap bagian semacam menyuguhkan tema besarnya sendiri. Meskipun ada temali yang mengikatnya, bagaimana mereka berdua seperti saling melempar diksi, dilanjutkan satu sama lainnya hingga tercipta wilayah baru dari puisi. Sehingga kita bisa memandangnya dari pelbagai sisi. Bukankah kerja kreatif para penyair sesungguhnya adalah usaha untuk menopang kata demi kata?

Wilayah penciptaan puisi adalah upaya untuk memeras makna kata itu sendiri, membuat arsiran baru dari pengertian—bahkan menciptakan makna yang lain dari apa yang dimaksud. Dan sesungguhnya di situlah metafora bekerja, seperti ingin menyentakkan sisi-sisi paling pribadi dari manusia itu sendiri. Bahkan terkadang menyentil tanpa kita sadari.

Lagu yang Menjelma Puisi
Pada pembuka buku ini kita disuguhkan bagaimana lagu dapat menopang ingatan. Dengan keseriusannya, mereka membingkainya dari sebagian lirik lagu yang sudah familiar  di telinga kita. Mereka memungut dari beberapa lagu populer dan mengikatnya dengan rangkaian diksi, sehingga muncul sebagai potret baru. Potret yang jalin-menjalin dan mengikat antara satu dengan lainnya.

Meskipun kita mafhum, apabila sebenarnya lirik lagu kurang lebih mirip dengan puisi. Sebagian besar lirik lagu mengutamakan ketertiban diksi dan menjaga rima. Setidaknya ini merupakan tamasya kata yang pertama. Mereka menulis: Sebuah rute—mungkin melingkar/ Sirkuit dalam rimba atau peta yang tak terbaca/ Hanya pada mulanya, hanya pada mulanya// Dua hulu sungai, dua serpih awan, dua mata angin/ Dua yang terpisah oleh jarak kemusian menemu saat/ Dua mata yang memandang lurus dan sakti//Tak akan seperti ayah dan ibu kita yang saling mencari/Sebab mereka pernah berbagi kasih di sebuah taman// Namun tak satu di antara kita lahir dari batu/Masing-masing memiliki rajah tangan/Nama yang terukir di daun kehidupan/ Cinta kan membawamu kembali di sini/ Hanya cinta, hanya cinta (hal.1, puisi “Enam Lagu”). Dan mereka pun berkelindan dari lagu Dewa 19, Audy, Sandhy Sondoro, Audi, Kla Project hingga Naff.

Beberapa puisi memang berpijak dari sumber sebelumnya. Semacam ada godaan puitik yang menjemputnya, untuk turut dituliskan. Pemicu turut “menghidupkan” kata demi kata. Maka tak jarang pula ada sumber bagaimana puisi-puisi tersebut dituliskan. Hemat saya, puisi-puisi di buku ini adalah bentuk pemikiran dan pertanyaan terhadap sesuatu hal, yang kemudian menjadikan sebuah tema. Maka puisi-puisi yang hadir turut memberikan perenungan yang dalam terhadap suatu peristiwa.

Pun tak jarang kita diajak untuk rekreasi dari wilayah kerja berbagai kata baru. Dalam puisi “Tiga Haiku Tentang Jentera”, saya tergoda untuk merenung dalam. Ada jeda dari dalam diri dan lingkungan luar yang membentuknya. Cinta seperti sebuah kepasrahan pada bentuk, namun tidak terjajah. Mereka menuliskannya begini: di luar kincir/nasib terus diputar/hangat cintamu// hanya cahaya/ setia pada iklim/jentera rindu//air dan angin/memusar rahasia/ke lubuk batin// (hal. 21) atau dalam puisi pendek lainnya: kau/aku/menyatukan/tatapan/mata/berbeda// (Puisi “Bahasa Cinta”, hal. 32).

Bahasa puisi acapkali meninggalkan pertanyaan di benak. Apa yang ditulis oleh penyair, seringkali menimbulkan tafsir yang baru. Penafsiran yang barangkali berbeda, dengan apa dimaksudkan oleh penyair itu sendiri. Sapardi Djoko Damono, ihwal ambiguitas puisi ini pernah bilang, bila puisi maunya begini, maksudnya begitu. Dan memang tak pernah ada makna tunggal. Segalanya bekerja dengan ragam tafsir dari pembaca.

Ambiguitas ini, sesekali menyebabkan tersendatnya aliran bahasa. Setiap frasa yang dibentuk kerapkali menabrak kaidah baku. Tentu dengan lingua franca yang dimiliki, puisi tersebut sah-sah saja. Justru beberapanya dianggap memperkaya kerja bahasa yang baru.  Maka puisi, dengan prosesnya yang juga panjang itulah, dianggap sebagai penemu bahasa itu sendiri. Puisi bermain dengan sejumlah simbol, imajinasi, atau diksi yang membentuknya, sesungguhnya merupakan bahasa murni. Bahasa yang sublim dengan penyaringan yang mendalam. Pada akhirnya si penyair yang sesungguhnya membentuk bahasa itu sendiri, dengan memperkaya khazanah kata yang baru. Dan jauh hari, kita pun telah diingatkan oleh James Reeves, jika puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat.

Untuk itu pula kita mencatat pelbagai unsur pembentuknya. Secara garis besar, diyakini bisa memenuhi setiap kaidah yang terkandung di dalamnya. Setiap tipografi, diksi, imaji, gaya bahasa, rima—merupakan sehimpunan yang saling menguatkan. Dengan begitu, kata-kata yang melingkupinya merupakan kepadatan segala unsur berbahasa.

Membaca puisi adalah membaca kata. Ketika isi kepala bercampur dengan segala pengetahuan, menyulingnya dari segala macam kisah, mendedahkan makna yang terkandung di dalamnya. Semacam masuk dalam labirin yang panjang. Mengetuk di pelbagai pintu. Syukur bisa masuk dan bertemu dengan ragam makna dan kisah. Itulah, terkadang saat membaca sebuah puisi terasa berbeda antar pribadi para pembaca untuk meresapinya. Mulanya adalah rasa, kemudian berlanjut dengan ketegangan. Jarak antar kata yang rapat, sepenggal paragraf yang sekejap menggugah kesadaran. Tak heran, setiap kali membaca sebuah puisi, justru pembaca menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang dibangun dari pusaran kata-kata itu sendiri.

Pada akhirnya puisi ditulis sebagai eksplorasi terbesar dari bahasa. Setiap jeda antar kata seperti menghidupi “ruh” yang tertinggal di dalam bagunan puisi tersebut. Dan, Jauza maupun  Kurnia telah piawai merangkainya. Menghidupkan diksi yang segar lalu menggambar kembali setiap getar yang masih ada di dalam dada. Sebuah pengembaraan dan pencarian yang tak pernah henti. Dan mereka menuliskannya: kau menunjuk sau bintang/aku membacanya/dalma narasi yang sama/kita melintasi awan bersama// tiada letih bagi/pengembaraan penuh kasih/jauh dari gelap untuk/setiap langkah penuh harap// (Puisi “Arah”, hal. 131) []


Penulis:

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila.
Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016).
Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah di antaranya: Juara II Krakatau Award Lomba Penulisan Puisi tingkat Nasional yang ditaja Dinas Pariwisata Provinsi Lampung (2017), Puisi Umum Terbaik tingkat nasional yang ditaja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov. DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Hari Puisi (2019), Juara II Lomba Cipta Puisi HB Jassin yang ditaja Bengkel Deklamasi Puisi dan Dispursip Prov. DKI Jakarta (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published.