Resensi Buku
Suara Perempuan dalam Realisme Psikologis

Suara Perempuan dalam Realisme Psikologis

Judul                  : Kumpulan Cerita B
Penulis               : Sasti Gotama
Penyunting        : Holy Adib
Penerbit             : Diva Press
Tahun                 : Januari, 2022
Tebal                  : 180 hal (13×19 cm)
ISBN                : 978-623-293-627-0

Modernisme bekerja atas dua atau tiga dasar pikiran besar. Pertama, gagasan sains relativitas Einstein, dan kedua, gagasan psikologis Erns Macht tentang struktur fundamental pikiran dan pengalaman subjektif manusia, serta gagasan Sigmund Freud bahwa semua realitas subjektif didasarkan pada permainan dorongan dan naluri dasar, yang melaluinya dunia luar dirasakan. Sastra modern adalah bagian dari antitesis dari sastra abad 19, ‘realisme’ yang berangkat dari kesadaran individu menghayati masalah kemanusiaanya. Maka, berangkat dari tesis Ernst Mach dan Sigmund Freud dan juga Albert Einstein di atas, sastra modern mencoba meresonansi suara manusia dari dalam. Selain melahirkan ciri individual, sastra modern bekerja atas keyakinan eksperimen atas bentuk estetika.

Dalam seni dan sastra, dua gagasan itu menghasilkan pelbagai bentuk estetika modern. Salah satunya yang berkembang adalah aliran kesadaran (stream of consciousness) seperti Virginia Woolf, James Joyce, dan sebelumnya adalah realisme psikologis, seperti disematkan pada Fyodor Dostoevsky, Henry James. Kedua aliran ini bertumpu pada narasi, monolog interior, dan karakter untuk menggerakan cerita, bukan pada plot. Sasti Gotama, adalah cerpenis yang berlatar kedokteran – tentu saja memiliki dasar untuk pijakan karya-karya sastranya condong pada corak realisme psikologis.

Kumpulan cerita B, yang terbit di bulan Januari 2022 oleh Diva Press, dan berisi 25 cerita pendek, kurang lebih memiliki lanskap psikologis ala Freudian. Dalam kumpulan cerita ini, kita mendapatkan gagasan tentang konsep ‘personality‘ Freud yang dikenal sebagai tripartit ‘id, ego, dan superego’. Konsep itu menjadi dasar atau biang konflik hampir seluruh cerita Sasti. Meskipun sebagian juga dirangsang oleh faktor luar.

Dalam cerita pertama, misalnya, berjudul “Tak Ada Donat Kentang di Bulan”, Sasti memulai dengan menulis: “Walaupun sadar dirinya masih bocah, Er menginginkan Nin.”  Dalam kalimat itu, secara semantik dan subteks memberikan pengertian bahwa Er, meskipun masih bocah sudah pada fase kesadaran ‘id’ (insting) yang merupakan tahap seseorang diliputi hasrat untuk memiliki kesenangan termasuk cinta. Sementara Nin juga membawa hasrat pada seni dan pengetahuan serta kesenangan lain seperti donat kentang. Semua unsur dalam tripartit itu kemudian saling berbenturan ketika Er menolak menikahi Nin yang hamil. Di sini, ketidakadilan gender mulai muncul (wacana feminisme), di mana Nin menjadi korban atas ego laki-laki Er. Pada akhirnya, Nin kehilangan kontrol atas realitasnya ketika anaknya terbunuh tanpa sadar oleh dirinya sendiri.

Pada halaman 33 cerita berjudul “Ceritakan Mimpi-Mimpimu Kepada Freud” kita menemukan bentuk estetika aliran kesadaran dalam model realisme psikologis. Dalam cerita ini pembaca mendapatkan bingkai yang menghubungkan pada cerita-cerita yang mengalir dari pikiran tokoh Lin yang tengah dihipnotis Freud masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Mimpi pertama adalah kecemasannya atas dunia faktisitas, alam di luar dirinya yang dirasakannya sebagai dunia tirani seperti halnya dogma agama yang berbenturan dengan kehendak bebas manusia (wanita). Wanita yang hanya menjadi subordinasi dari kaum dominan (pria, agama).

Mimpi kedua Lin berhadapan dengan kecemasan yang sama, tetapi lebih pada penegasan kecemasan eksistensialis-faktisitas ala Jean-Paul Sartre yang berhadapan dengan dunia yang terasa absurd. Sebuah dunia yang mengancam akan melenyapkan sepenuhnya identitasnya sebagai manusia bebas. Semua kecemasan itu kemudian mewujud dalam sebuah gambaran seperti ijazahnya yang terancam menjadi sia-sia, tak lagi akan berguna, atau, kebebasannya untuk bisa menikmati kesenangan senja, kafe, musik, warna-warna akan hilang dalam ketiak dominasi negara tiran, pria, dan dogma agama.

Pada mimpi ketiga adalah tentang keinginan bawah sadar Lin tentang kehendak bebas (free will) seorang wanita. Kebebasan tanpa syarat seperti yang dilihatnya dalam masyarakat barat modern menikmati kehidupannya sebagai manusia bebas yang egaliter dan demokratis. Meskipun kemudian ada pertanyaan, apakah setelah semua mimpi itu terwujud, berarti wanita Eropa tidak punya mimpi lagi? Dan jawabannya tentu saja selalu ada, karena mimpi adalah realitas lain di luar realitas itu sendiri yang akan terus berlangsung. Setidaknya demikian retorika yang hendak diucapkan Sasti.

Pada halaman 47, pembaca juga akan menemui cerita yang menjadi judul buku kumpulan ini, “B”. Tak jauh berbeda dengan lainnya, dalam cerita ini Sasti membawa kita pada kenangan masa lalu tokoh utama ketika seorang pria muda memberinya nama “B”, meskipun namanya Sin. Inisial B bisa berarti apa saja, seperti halnya B yang senantiasa dikurung oleh ketidakpastian dirinya sendiri, antara membenci dan menginginkan dirinya.

Membaca seluruh cerita dalam kumpulan ini, selain mendapatkan alas psikologis sebagai tema besarnya, kita juga melihat perspektif perempuan dalam wacana feminisme. Pada setiap cerita, tokoh utama adalah selalu seorang perempuan yang tak berdaya dan cemas akan eksistensinya. Sasti secara gamblang masih membawakan problem klise seputar posisi perempuan yang mewarisi jejak kekerasan sejarah, epistemik dan ekologis yang dilakukan pria. Sudut pandang feminisme ini menyatu bersama masalah ‘personality‘ seperti uraian di atas. Misalnya, dalam cerita “B”, Sasti juga kembali membawa kritik feminisme, terutama pada penonjolan maskulinitas pada iklan kopi, sebagai ‘jantan’ yang bermakna ancaman patriarkis.

Tiga contoh cerita di atas, pada dasarnya mewakili seluruh cerita, terutama bagaimana Sasti mencoba membangun cerita dengan gagasan psikoanalisis dengan perspektif suara perempuan. []


Penulis:

Ranang Aji SP adalah penulis fiksi dan esai. Tinggal di Magelang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.