Resensi Buku
Penerjemahan Sastra, Upaya Sinau, dan Urun yang Amat Berarti

Penerjemahan Sastra, Upaya Sinau, dan Urun yang Amat Berarti

Judul      : Seni Penerjemahan Sastra ; Panduan, Gagasan, dan Pengalaman
Penulis   : Anton Kurnia
Penerbit : Diva Press
Cetak     : Pertama, Maret 2022
Tebal      : 204 Halaman
ISBN      : 978-623-293-650-8

Urun hasil terjemahan sastra amat berarti bagi perkembangan ekosistem sastra kita. Karya-karya sastra sekaliber peraih penghargaan nobel sastra dunia patut ditilik untuk sinau. Laku penerjemahan pun menjadi ikhtiar menimba kearifan di balik semesta sastra dunia agar khalayak dapat sinau dengan baik. Kerja-kerja mulia itu menuntut kesabaran dan mesti bersetia pada proses. Biar bagaimanapun, kita perlu sinau pada karya sastra dunia berpamrih pemajuan sastra Indonesia.

Kita seringkali begitu tertarik membaca karya para sastrawan terkemuka dunia yang merentang dari belahan benua Eropa hingga Amerika macam William Shakespeare, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, Maxim Gorky, Orhan Pamuk, hingga Jorge Luis Borges dan Milan Kundera. Beberapa karya mereka berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh beberapa penerbit tanah air. Disambut pembaca yang antusias membeli dan membacanya hingga tuntas.

Antusiasme itu mesti menepi di antara dua sisi rasa; kepuasan dan kekecewaan. Merasa puas manakala karya sastra terjemahan ampuh menyentuh relung pembaca. Menggetarkan emosi dan membikin diri terpukau pada dunia di ujung belahan sana. Membayangkan bagaimana suatu cerita dekat dengan dirinya atau bahkan sesekali (suatu waktu ) pernah dialami pembaca. Sebaliknya, menepi di kekecewaan tatkala karya sastra terjemahan tak berhasil memantik imajinasi pembaca. Berakhir dalam nir-cita rasa sastrawi.

Atas dasar itu, penyair Sapardi Djoko Damono pun pernah berujar, “Tak ada penerjemahan yang salah; yang ada hanyalah karya (yang disebut ‘terjemahan’) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita”. Pernyataan tersebut menandakan bahwa kerja penerjemahan memang bukan perkara mudah. Pakar penerjemahan dari Rusia, Mikhail Rudnitzky, misalnya, mengibaratkan seorang penerjemah terkadang seperti seseorang yang harus melukiskan rumah indah di negara lain, sementara di negaranya sendiri rumah dengan arsitektur seperti itu tidak ada, bahkan seluruh keadaan alamnya pun berbeda.

Itulah yang ingin ditilik seorang Anton Kurnia. Lebih dari dua dekade, sastrawan cum editor lulusan Teknik Geologi ITB itu bertungkus lumus dengan laku menerjemah. Sekitar 27 judul buku terjemahan dihasilkan di tahun 2005 dalam setahun yang sebagian besarnya merupakan hasil manifestasi kolaboratif dengan Atta Verin. 30 cerpen terjemahan dimuat di Tempo selama bertahun-tahun di awal karirnya. Sementara itu, di tahun 1999, sekitar 70 buku berbahasa asing berhasil diterjemahkan.

Anton tak ingin pengalaman menerjemahkannya itu berhenti di dirinya. Ia bersedia membagi pengalamannya itu pada semua orang yang hendak menjadi penerjemah. Dari situ ia berkelana sembari berefleksi dan berinteraksi dengan para peserta yang antusias menyerap pengalamannya di beberapa lokakarya penerjemahan. Merentang dari Medan hingga Frankfurt, dari kampus-kampus hingga pusat-pusat kebudayaan. Anton bertindak sebagai narasumber atau pemateri.

Dari beberapa tulisan yang pernah disampaikan di beberapa lokakarya itu, lahirlah Seni Penerjemahan Sastra sebagai usaha merekam pengalaman, menghimpun gagasan yang berserak, dan memandu para calon penerjemah menyusuri blantika dunia penerjemahan sastra yang kerap dihadang persoalan kompleks. Sebagian di antaranya berupa artikel yang dimuat di beberapa surat kabar: Jawa Pos, Kompas, Tempo, dan Pikiran Rakyat.

Meniti di Antara Dua Tebing Curam
Dalam banyak hal, Anton melihat kualitas hasil penerjemahan sastra kita masih harus terus diperbaiki hingga mencapai taraf sempurna. Itu terletak pada kompetensi seorang penerjemah. Baginya, penerjemah harus  menguasai empat hal ; teks yang diterjemahkan, bahasa sumber (BS), bahasa tujuan (BT), teknik menerjemahkan, dan referensi yang berkaitan dengan teks (Hal-43).  

Sebagai “kurir sastra”,—meminjam istilah Pushkin, sastrawan terkemuka Rusia saat mengibaratkan peran penerjemah sastra—penerjemah harus mengandaikan bahwa pembaca hanya paham bahasa tujuan. Kegagalan mengalihkan bahasa sumber ke bahasa tujuan membikin hasil terjemahan terasa begitu rigid, sulit dicerna. Karena itu, penerjemah ibarat meniti di antara dua tebing curam, bersetia menepati makna teks asal dan keniscayaan agar teks hasil terjemahan terbaca dengan jelas dalam bahasa tujuan, sekaligus terjaga nuansanya.

Menggunakan kata atau ungkapan yang paling dekat dengan makna bahasa sumber atau menguraikannya, merupakan usaha tak terbantahkan untuk mendekati maksud penulis sedekat-dekatnya. Ini juga merupakan bagian dari usaha agar hasil terjemahan bisa dirasakan sebagai tulisan asli. Seolah-olah nyaris bukan karya terjemahan.

Di sini Anton memberikan langkah metodis untuk mencapai hal itu. Di antaranya ialah menggunakan struktur kalimat bahasa tujuan, kosakata yang beragam dan kaya di dalam bahasa tujuan, dan ungkapan yang tepat dalam bahasa tujuan. Menandakan bahwa penerjemah dituntut sebisa mungkin dapat memahami perbedaan budaya dari mana karya itu berasal. Suatu persoalan mendasar dalam penerjemahan teks sastra. Perbedaan budaya itu terkait dengan ideologi, khususnya dalam pilihan antara “domestication” (mengutamakan BT) dan “foreignization” (mengutamakan BS).

 Dalam hal sapaan Mbak, Mas, dan Bu, misalnya, perlu kah diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Brother, Sis, Mrs (domestication) atau dibiarkan apa adanya dengan maksud mendekatkan nuansa bahasa dengan teks sumber (foreignization) ?. Realitas macam ini merupakan dikotomi ideologis bagi Anton. Ia berusaha mendedah jalan keluar dengan menghadirkan pandangan Lawrence Venuti dalam The Translator’s Invisibility : A History of Translation (1995). Venutti memandang bahwa foreignization merupakan sebentuk pilihan etis yang kudu diambil oleh penerjemah.

Diambang persoalan itulah penerjemah sastra kerap kali menghindar dari pilihan etis tersebut demi mengejar nuansa estetis. Bersetia di tengah kenyataan bahwa tak setiap kata bisa diterjemahkan secara akurat dan selalu ada keinginan untuk menyeleweng demi estetika. Bagi Anton, ini merupakan sebuah persoalan klasik bagi para penerjemah sastra. Jika ia tergoda untuk mengejar nuansa estetis, maka ia serupa telah melakukan sebuah upaya pengkhianatan yang indah.

Translator is a traitor”, demikian adagium terkenal berujar. Penerjemah adalah seorang pengkhianat, menyiratkan seorang penerjemah tak lebih dari seorang pengkhianat ketika ia hendak berusaha menyeleweng dari teks sumber yang dapat mengaburkan makna demi tujuan estetis. Untuk tidak berkhianat, maka penerjemah harus rela bersusah payah menguasai padanan kata yang tepat dalam bahasa tujuan. Di sisi lain, bisa pula menerjemahkan suasana, rasa bahasa, makna yang tersirat, dan ekspresi bunyi merupakan tangga yang harus dilalui penerjemah sastra menuju puncak kenikmatan estetis.

Biar bagaimana pun “sastra mengandung nilai seni yang di dalamnya terdapat keindahan”, kata Koesalah Soebagyo Toer dalam sebuah wawancara pada Mei 2004. Karenanya penerjemah sastra harus menguasai banyak hal. Di antaranya sejarah, tradisi, dan situasi masyarakat. “Tanpa itu, terjemahan akan kering atau banyak kesalahan”. Lanjutnya.

Anton tak hanya sekadar mampu mengurai tetek-bengek persoalan dalam menerjemahkan karya sastra, melebihi itu ia juga memerikan sejumlah teknik penerjemahan, proses penerjemahan, tahapan penerjemahan, dan metode penerjemahan. Kesemuanya dijelaskan secara gamblang dan apa adanya. Memosisikan dirinya bukan sebagai seorang motivator, tapi sebagai orang yang sudi berbagi pengalaman menerjemah pamrih peningkatan kualitas karya sastra terjemahan kita hingga mencapai taraf sempurna. Itu saja.

Menggalang Kerjasama
Berbagi pengalaman menerjemah turut bertaut keinginan kerja sama semua pihak. Anton getol mewacanakan agar Indonesia memiliki lembaga khusus penerjemahan sastra. Sebagai bentuk usaha mengenalkan khazanah kesusastraan kita pada dunia dan sinau , menggagas lembaga khusus penerjemahan sastra merupakan kunci yang tak boleh diabaikan begitu saja. Karenanya, ia merupakan tanggung jawab kolektif. Banyak negara beradab di berbagai belahan dunia punya lembaga yang mengakomodir promosi karya sastra dan penerjemahan karya sastra mereka ke berbagai bahasa.

Di negara-negara Eropa Tengah dan Timur, misalnya, melalui program pendanaan penerjemahan (translation grant) mereka membangun jembatan antar peradaban, budaya, dan antar bahasa. Seperti di Slovenia, melalui Javna Agenciaza Knjigo—badan perbukuan Slovenia—mereka mempromosikan para penulis dan karya mereka diterjemahkan secara besar-besaran ke 15 bahasa yang dipelopori dan didanai lembaga tersebut (Hal-60).

Pemerintah Korea Selatan mendirikan Literature Translations Institute of Korea (LIT Korea) untuk mempromosikan karya sastra Korea Selatan di panggung sastra dunia. Alhasil, setelah sekian lama lembaga ini berdiri, para penulis Korea Selatan kian dihormati dunia. Salah satunya lewat Han Kang yang meraih penghargaan The Man Book Prize 2016 dengan menyisihkan Orhan Pamuk dan Eka Kurniawan.

Di Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016 silam merintis Komite Buku Nasional yang bertujuan mempromosikan karya sastra di pentas internasional. Para penulis tanah air, melalui lembaga ini, didelegasikan untuk mengikuti residensi di berbagai negara, aktif menghadiri berbagai festival buku internasional, dan pendanaan penerjemahan yang dinamai LitRI.

Dorongan positif itu mesti terus berlanjut. Tak sekadar menjadi program musiman sesaat. Tak perlu sungkan mencontoh program serupa yang telah dilakukan negara-negara lain. Sebab laku penerjemahan kunci memperkenalkan kekayaan kebudayaan kita dan upaya sinau karya sastra dunia agar khazanah kesusastraan tanah air bertumbuh ke arah lebih maju yang berkeadaban dan adiluhung. Semoga. []


Penulis:

Muhammad Ghufron. Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga dan Pembaca Buku di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.