Resensi Buku
Muazin yang Mendobrak Kemapanan

Muazin yang Mendobrak Kemapanan

Judul Buku    : Muazin Pertama di Luar Angkasa
Penulis           : Kiki Sulistiyo
Penerbit         : Diva Press
Tahun Terbit : Desember 2021
Tebal             : 140 hlmn (13 x 19 cm)

Dalam menulis cerpen ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, bobot cerita dan bobot penceritaan. Kebanyakan penulis terlalu fokus pada yang pertama, namun kurang dalam menggarap yang kedua. Akibatnya plot dalam ceritanya menjadi biasa, perwatakan miskin, ceritanya penuh drama demi mengejar konflik, dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa cerpen sebagai genre dalam sastra adalah seni bercerita. Bukan hanya ceritanya saja yang perlu diperhatikan, tapi bagaimana cerita itu disampaikan.

Akhir-akhir ini sukar rasanya menemukan kesegaran dalam cerpen-cerpen Indonesia. Hal ini disebabkan penulis kurang rajin dalam mengeksplorasi strategi penceritaan. Namun,  Muazin Pertama di Luar Angkasa (Diva, 2021) sebagai kumcer kedua Kiki Sulistiyo mampu menawarkan kesegaran di tengah hiruk-pikuk teks. Ia seperti oasis di tengah padang pasir yang mengupas dahaga di kerongkongan pembaca yang haus akan cerita-cerita segar.

Lewat delapan belas cerita dalam kumcer ini, pembaca dibuat merasa seperti sedang berada di atas perahu, mengalir mengikuti liukan arus cerita yang, tanpa bisa ditolak, membawa pembaca tiba di hilir cerita yang seringnya mengejutkan. Hampir setiap cerpen dalam kumpulan ini memiliki twist di akhir cerita. Namun, agaknya terlalu sederhana jika dikatakan twist di akhir cerita adalah keunggulan dari kumcer ini; ia hanya satu dari sekian teknik yang digunakan Kiki sebagai strategi penceritaan.

Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini menggunakan teknik plot yang tidak biasa, yakni teknik plot circular. Lewat teknik ini pembaca dibawa mengulangi kembali peristiwa yang telah terjadi, di mana tokoh yang sebelumnya muncul sebagai subjek yang melakukan tindakan, ketika peristiwa berulang, ternyata adalah objek yang dikenai tindakan. Menariknya, kebetulan yang berulang ini tidak terasa dipaksakan, dan ia mengalir begitu saja hingga pembaca mempercayainya sebagai rangkaian cerita yang logis.

Selain itu, Kiki juga kerap menggunakan interteks sebagai strategi penceritaan. Lewat strategi ini Kiki memanggil-ulang cerita dongeng, kisah-kisah nabi, dan fakta dari peristiwa besar yang benar-benar terjadi. Kesemua ini dicampur-padukan dengan berbagai cerita lain yang umum terjadi pada keseharian kita, diramu sebaik mungkin, hingga teks-teks yang dipungutnya terasa autentik. Autentisitas mungkin tidak hadir sebagai cerita, tapi jalinan ceritanya sendiri terasa autentik.

Nuansa eksperimen juga terasa kental dalam kumcer ini. Misalnya pada cerpen Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang?, Kiki menabrak pakem dalam menulis cerita. Ia menulis cerita semau-maunya. Ceritanya cenderung datar, nyaris tidak terasa ada konflik, dan bergerak liar ke sana kemari. Ada satu bagian yang kelihatan akan menabrak pakem fiksi harus masuk akal, tapi diselamatkan dengan cerdas. Dalam cerpen ini dikatakan Tukang sol sepatu itu tersenyum, sedang ruangan tempat terjadinya adegan sangat gelap. Kemudian Kiki menambahkan, Bagaimana aku bisa melihat ia tersenyum? Aneh juga. Pokoknya bisa saja (hal. 69).

Lalu ada juga nuansa parodikal yang dibungkus satir kental. Misalnya pada cerpen berjudul Bahtera Nuh yang menceritakan kisah seorang bapak yang ingin membangun sebuah rumah di tanah luas warisan orang tuanya. Kecuali judul dan beberapa properti dalam cerita, hampir tidak terasa nuansa biblikalnya. Cerita ini diletakkan pada setting kontemporer, di mana anak paling bungsu bekerja sebagai aktivis lingkungan, anak ketiga bekerja di Badan Penanggulangan Bencana, anak kedua adalah guru agama, dan anak pertama adalah seorang pengangguran. Kecuali anak pertamanya, anak lainnya setuju dengan ide si bapak. Anak pertama menentang dan menyarankan agar sebaiknya membangun perumahan yang kemudian bisa disewakan untuk para pekerja yang datang dari kota lain. Sangat jelas kepada siapa sindiran ini ditujukan.

Ada satu hal yang terasa betul diperjuangkan oleh Kiki, yakni upaya melawan kemapanan. Pada cerpen yang menjadi judul dari kumpulan ini, diceritakan tentang seseorang yang bercita-cita menjadi muazin. Sesuatu yang sangat sederhana memang, tapi mustahil untuk tercapai karena tokoh dalam cerita ini adalah seorang perempuan. Kiki dengan pandai menyembunyikan jenis kelamin tokoh dalam ceritanya. Baru di akhir cerita, ketika si tokoh meninggal, dari putrinya pembaca tahu bahwa ternyata si tokoh ini adalah perempuan. “Mungkin saat aku lahir Ibu ingin sekali membisikkan azan di telingaku, tapi itu tak mungkin. Jadi pasti ayah yang melakukannya. Tahu kan, sepanjang hidupnya Ibu hanya ingin menjadi muazin. Ia bahkan ingin menjadi muazin di luar angkasa,” kata Adzani (hal. 102).

Jika dibaca lebih dekat, sehimpun cerpen Muazin Pertama di Luar Angkasa ini berupaya mendobrak segala hal; kisah-kisah mapan yang dipercaya sebagai kebenaran, aturan-aturan hukum yang kaku, bahkan sampai cara berpikir yang mapan. []


Penulis:

Aliurridha adalah esais dan prosais. Ia tinggal di Gunungsari, Lombok Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.